Aila Ability

Aila Ability
PHASE 15: Mutant Vs Elementor



Gedung asrama wanita UG lantai 2.


 


 


“Kalian dengar itu?” celetuk Bintu. Matanya mengarah pada sumber suara. Namun dinding tebal menghalangi pandangannya.


Ryan menanggapi, “Ya, aku mendengarnya. Aku tidak tuli.”


Selagi mereka berdua saling bicara, aku sibuk mengatur si gadis periang untuk tidak bersikap manja menempel padaku. Sungguh, bakat teleportasinya membuat dirinya menyebalkan. Bagaimana tidak? dia muncul begitu saja, di saat yang tak tertebak, sesampainya aku memijak lantai dua dan tiba-tiba dia melompat memelukku dari belakang.


Di sisi lain, Bintu mendekat pada dinding sebelah barat. Dia menyentuhkan tangannya pada permukaan itu lalu menggesernya seperti menyapu dan dinding itu lekas bereaksi meretak menjadi persegi kemudian terbuka selayaknya daun jendela. Memperlihatkan keadaan apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.


Ryan dan Bintu melongokkan kepala dari lubang dinding itu. Aku bergegas mendekat dan menyaksikan lantai bangunan sektor H runtuh beberapa bagiannya ke dasar halaman. Sementara halaman itu luluh lantak oleh puing, terdapat sebuah lubang longsoran seukuran kolam renang di muka tanahnya. Samar-samar kukenali bagian dasar lubang itu adalah salah satu lorong dari sektor pengasingan Q-Floor.


Aku melirik Ryan. Dia tersenyum menyeringai dan dua jarinya berkobar api. Nampaknya kekuatannya telah aktif kembali dan akan melakukan hal nekat lagi.


Namun, yang membuatku kawatir, bukan keadaan dirinya yang masih babak belur melainkan karena sekarang dia tak memerlukan pemantik api. Ditambah dengan kesembronoan dirinya, kemampuannya sekarang jika diandaikan akan seperti memberikan petasan kepada berandalan.


Tebakanku tepat, dia tiba-tiba berbalik pergi dengan tergesa.


“Hei! Ryan! Kau ingat kita ditugasi Ketua Andreas untuk melakukan evakuasi!?” ujarku keras selagi menyusulnya.


Ryan menoleh dengan tatapan penuh ambisi dan seringainya yang membuatku muak, “Jangan pernah halangi jalanku lagi. Level tiga! Kamu ini kenapa mengikutiku terus?”


Begitu ucapnya. Merendahkanku yang secara formal masih berpangkat sebagai ketua regunya. Lisa mencoba mengikuti Ryan namun aku segera menggapai tangannya, dan dia sedikit terkejut, menoleh padaku dengan kening berlipat dan tatapan sinis. Aku membalasnya dengan tatapan benciku lalu kataku, “Lisa, biar aku saja yang menyusulnya. Kamu disini bersama dengan Jian dan Bintu membantu evakuasi.”


Aku menoleh kepada Bintu dan dia mengangguk setuju. Seperti memberitahuku untuk menyerahkan masalah di sini kepada dirinya. Terimakasih Bintu, kau memang sahabatku yang terbaik!


Maka setelah kuyakinkan Jian bahwa situasi sedang gawat dan bukan main-main, sehingga dia tak akan mengikutiku, aku menyusul mengikuti jejak kenekatan si bocah api.


***


Ruang ICU Sektor H.


 


 


Kepulan debu yang pekat mengubal dalam sebuah ruangan kamar perawatan. Retakan bagian plafon gipsum yang ambrol perlahan berhenti jatuh. Menggantung dengan rangkaian instalasi listriknya. Beserta percik tegangan rendah dan lampu neon yang hidup-mati salah satu ujungnya menyentuh lantai.


Dalam kejelasan pandang yang berselimut debu keruh itu, sesosok bayangan pria dewasa yang gelap dan tinggi besar berotot perlahan bangkit berdiri di tengah-tengah ruangan yang berantakan. Dia terbatuk beberapa kali seraya mengamati sekitarnya yang dipenuhi perabot tempat tidur pasien yang terguling.


“Jadi ... kamu, ya, penyebab kekacauan ini?” tanya seorang pemuda pirang berpenutup muka masker respirator hitam. Dia beranjak turun dari tempat tidur pasiennya. Melepas beberapa perangkat medis rekam denyut jantung serta infus yang menempel pada dirinya. Darah yang menetes turun dari lubang infus di sekitar pergelangan tangan kirinya tidak dia pedulikan.


Sang pria asing berdiri tegak menghadap pemuda yang menyapa. Bagian depan tubuhnya mulai nampak jelas. Seragam pelindungnya retak parah ibarat cangkang telur yang dibanting keras. Dari retakan itu tersingkap perut sixpack-nya yang terbalut wujud hitam solid batu obsidian.


“Apa yang kau cari di tempat ini? sepertinya kau juga sama dengan kami. Penyandang AA. Jenis bakat elementor kelihatannya.” Lanjut Abraham dengan hembus napas yang lemah dan serak. Respirator hitam pada wajahnya menambah kondisinya yang nampak menyedihkan.


“Dari gaya bicaramu ... kau sepertinya orang yang berwenang di tempat ini, ya?” tanggap sang pria hitam. Dia mencopoti rekahan helmnya yang sudah terlanjur parah. Hingga seluruh kepalanya terkuak. Namun, tak ada bedanya ketika dia masih menggunakan pelindung kepala yang ringsek telah dijatuhkan ke samping dirinya itu. Kepalanya terbalut semacam lapisan padat hitam pekat. Hanya wajahnya saja yang nampak masih menyerupai manusia. Sosoknya, yang tinggi besar dan berparas seram, tak ubahnya menyerupai iblis dari kerak neraka terdalam.


Abraham memejamkan mata kemudian menatapnya seksama, “Kenapa kau melakukan semua ini? apa tujuanmu? apa kau bersama RR atau Anti-Crisis?”


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu itu ... seperti tidak asing bagiku. Mirip sekali dengan orang yang ingin aku habisi dua tahun lalu. Orang yang telah membunuh ayahku. Itukah dirimu?” balik tanya pria hitam dengan menggeram. Tombak kerucut pipih di mewujud di kedua tangannya, “Isaac―!” serunya betapa murka dari tempatnya berdiri.


Abraham tak kalah terkejut, “Kau bertemu dengannya!? katakan di mana dia sekarang?”


“Dia? jadi kau bukan **** yang merenggut ayahku?”


“Apa yang telah dia perbuat?”


“Perbuatan kejinya pada ayahku tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata! Sepertinya kau mengenal baik orang itu! Biar kuhabisi dirimu sekalian di sini!” Seru sang pria hitam sembari menghunuskan kedua tombaknya kepada Abraham.


Beruntung Abraham dapat menghindar dengan mentrasformasi dirinya menjadi burung elang. Terbang membelakangi pria itu lantas mewujud menjadi gorila besar. Menindih punggung sang pria hitam.


Pria hitam tak berkutik terpuruk terkunci gerakannya oleh berat ratusan kilo tubuh gorila Abraham. Namun, sesuatu yang mengerikan baru saja dimulai.


Sang pria hitam perlahan merubah wujudnya menjadi cairan solid kental dan liat pekat laksana magma. Mencair dan meluber terbebas dari tindihan Abraham kemudian mewujudkan kembali tubuhnya seperti semula di sudut ruangan.


Abraham yang masih dalam wujud gorilla tertegun menyaksikan kemampuan musuhnya dalam mengendalikan transformasi wujud.


“Kau bukan mutan biasa ... levelmu pasti lumayan tinggi.” Ungkap Abraham. Dalam kewaspadaan berdiri mengambil beberapa langkah mundur menjaga jarak.


“Masih belum ... sampai aku mendapatkan batu itu. Aku baru merasa cukup.” Timpal sang musuh.


Ekspresi wajah gorila Abraham menguat. Matanya memicing tajam. “Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya.”


Abraham mentransformasi kembali dirinya. Kulitnya menebal dan mengeras. Wujud fisiknya merunduk lantas berubah sepenuhnya menjadi badak bercula satu.


Dengan serangan mendadak dia menyeruduk sang pria hitam hingga menerobos dinding tembus ke ruangan lain. Sesampainya tujuh meter lajunya terhenti, sang pria hitam menahan tubuh badak Abraham dengan melakukan transformasi kedua kaki hitam solidnya. Tungkak kakinya melengkung mencengkeram beton lantai.


Ketika sang pria hitam hendak menusukkan sepasang tombak pipihnya, Abraham telah mewujud sebagai kucing dan melarikan diri menerobos melalui kedua kaki sang pria hitam dan berbalik berhenti, diam menghadap sang musuh di batas ruangan.


Sebelum sang pria hitam berbalik menghadap, Abraham telah berubah sebagai elang, terbang melesat menyongsong musuhnya itu hendak melakukan serangan kejutan lagi.


Darah merah terciprat. Bulu-bulu hitam kecoklatan melayang jatuh beberapa helai. Sepotong sayap terhempas ke samping dan terseret di atas keramik putih bersama darah yang mengucur. Sedang tubuh utamanya terlempar melewati atas kepala sang pria hitam, mendarat di lantai yang dingin.


Jeritan sekarat menggema di ruangan itu. Wujud Abraham kembali menjadi manusia namun tanpa tangan kirinya. Baju pasiennya bersimbah darah. Empat meter darinya, tertinggal di belakang di atas lantai ruangan perawatan, darah berceceran dari sayap elangnya yang terpotong mengekor ke posisinya yang kini meringkuk.


Sang pria hitamg dengan punggung durinya yang dengan cepat menjulang nyaris mencapai langit-langit berhasil menumbangkan Abraham.


“Betapa lemahnya. Membosankan.” Celetuknya memandang rendah Abraham dengan mata ungu kelamnya.


Sang pria hitam lantas mengacuhkan pemuda yang masih mengerang menahan sakit luar biasa pada tangan kirinya yang putus di siku. Dia melangkahkan kaki mutan-nya kembali ke ruangan di mana dia datang sebelumnya.


Abraham yang merasa terhina, menatap sengit pada sang musuh, napasnya meningkat dan jantungnya berdegup kencang memompa darah ke seluruh tubuh. Memperparah aliran darah dari luka buntung tangan kirinya, tetapi berikutnya keajaiban bakat Abraham terjadi.


Gumpalan daging meletup-letup bertumbuh pada lengan kirinya yang putus. Dalam hitungan detik tangan kirinya teregenerasi. Abraham memasuki mode kontamin level lima.


“I will show you who is the predator!” Pekik Abraham seraya berlari kencang menerjang sang pria hitam sembari merubah wujudnya menjadi T-Rex dengan tato aktivasi mode kontamin level lima menyerupai kupu-kupu berpendar merah di dadanya.


Derap langkah serta tubuh besarnya menggetar-hancurkan sekitarnya.


***


Aku menceramahi Ryan berharap dia akan tobat segera dari sifat semenanya, ketika kami tiba di jalan masuk jembatan penghubung ke bangunan sektor H. Tetapi seperti sebelum-sebelumnya, dia tetaplah pendosa yang tak acuh.


Ryan mengangkat jari tengahnya kepadaku tanpa menoleh. “Sudah kubilang jangan ganggu aku lagi, Level Tiga. Masa bodoh dengan semua ocehanmu! Heran aku denganmu. Selalu saja mengusikku. Kamu ini jangan-jangan homo dan suka padaku, ya?”


Ketika aku hendak menyentuh pundaknya, akan mendebat kesangsiannya atas ketertarikanmu pada perempuan, kegaduhan menghampiri kami.


“Awas!” secara reflek kuseret diri Ryan ke samping kananku. Menghindarkan tubuhnya dari kematian instan.


Bangunan utama sektor H yang akan kami tuju lima meter lagi mendadak jebol dengan puingnya terlempar ke arah kami. Begitu kuat hempasannya hingga terlempar membentur atap kaca asrama wanita di belakang kami.


Sedang yang lebih dahsyat lagi, sesosok kadal raksasa berekor melesat di antaranya. Bersamaan dengan runtuh-ambrolnya separuh bangunan sektor H oleh kekuatannya.


Sang T-Rex yang menanduk sesosok hitam di kepalanya itu meringsek ke lantai dua asrama wanita bersamaan dengan puing dinding yang didobraknya. Namun, sedetik kemudian mereka jatuh kembali ke lantai satu beserta runtuhan lantai dua karena masa mereka yang besar tak kuat ditahan oleh konstruksi lantai.


Aku dan Ryan menghirup napas kalut beberapa kali. Dadaku berdetak terlalu cepat. Terkena serangan kaget. Rasanya lebih tegang ketimbang dari mendapatkan kejutan ulang tahun atau tertabrak mobil.


“Hei! Ryan!” Seruku, ketika aku masih berusaha untuk menenangkan pikiran dan dadaku.


Sesudah beberapa helaan napas, aku berhasil menenangkan paru-paruku. Kemudian, setelah mengumpulkan keberanian, aku melompat dari tepi jembatan penghubung antar-gedung dengan mengurung diriku dalam bola kristal bakatku. Melayang jatuh perlahan menyusul Ryan.


Aku mendarat di lantai satu. Gempa kecil derap langkah T-Rex menyambutku. Mengguncang lantai tempat kami berpijak. Hewan prasejarah itu menyeruduk sementara rahang besarnya terbuka kepada sosok hitam yang badannya tinggi besar dan nampak keras berbalut lapisan hitam pekat.


GDBRAK!!


Sesuatu yang diluar nalarku terjadi. Tubuh T-Rex itu dibanting betapa mudahnya oleh sang sosok hitam yang mirip iblis hingga menghantam hancur dua balok kolom bangunan.


Sial. Apa yang harus aku lakukan? perbedaan kekuatan jelas terlihat. Makhluk prasejarah yang pada dadanya berpendar tato mode kontamin level lima itu saja tidak berkutik. Aku yakin, dia adalah Abraham. Jika dia, yang wakil pimpinan UG tak berdaya melawannya, bagaimana denganku yang level tiga ini? Apa aku hanya dapat menonton saja!?


Sementara diriku berperang dengan batinku sendiri, Ryan memasuki mode kontamin level 4. Sekujur tubuhnya berkobar hebat. Semacam manusia obor. Bukan, lebih mirip seperti manusia burung api. Dengan garangnya Ryan melesat layaknya komet menghantam sang sosok iblis hitam.


BLARRR!!


Kemelut kobaran api menyebar dari baku hantam mereka berdua. Aku berlindung dalam perisai kristal pipihku. Setelah seluruh api merebak hilang, aku mengintip kembali dan kudapati sosok hitam itu mencengkeram si bocah api dengan satu tangan.


Ryan dalam situasi yang sangat berbahaya! Kali ini pasti sosok iblis hitam yang kuduga pria dalam seragam militer cyborg yang kami lawan sebelumnya tak akan menahan diri lagi untuk benar-benar menghabisi Ryan. Sedang kelihatannya, Abraham yang masih dalam wujud T-Rex masih tak sadarkan diri terbaring dengan rahang sedikit terbuka.


Iblis hitam solid itu lantas berlari menghantamkan tubuh Ryan kepada sebuah pilar di dekatnya. Berkali-kali hingga pilar itu remuk dan jebol lalu tubuh Ryan dihempas-hantamkan ke langit-langit dari beton begitu keras dan jatuh menimbuk lantai.


Apa aku bodoh!? menonton anggota reguku tengah dibantai di depan mataku!? tidak adakah yang dapat menghentikan monster itu selain ... diriku?


Pergolakan keputusan dalam kepalaku membuatku depresi. Kuremat rambutku seraya menggeleng. “Tidak, ini bukan saatnya untuk berpikir. Ini saatnya untuk bertindak!”


Hawa dingin menjalar di kulit leherku. Kumasuki mode kontamin level tiga. Kedua tanganku kuarahkan pada monster hitam keji itu.


Aku kurung dia dengan bola kristal padat. Kutambah ketebalan lapisannya beberapa puluh kali. Kuyakin sangat kuat bahkan untuk menahan tembakan peluru meriam tank dari jarak sepuluh meter. Lalu perlahan namun pasti, kuperkecil bola kristal yang mengurungnya itu. Mempersempit ruang geraknya. Tidak, tidak sampai di situ. Aku akan membunuhnya dengan tekanan kemampatan ini.


Kusaksikan sosok iblis hitam itu terdesak. Tubuhnya tak bergerak. Namun, tetap kuperkecil bola kristal yang mengurung dirinya hingga tubuhnya kini seumpama meringkuk dalam cangkang telur.


“Apa aku menang?”


Ya, aku harap begitu. Namun itu bukanlah perkataanku.


“Itu yang kau pikirkan, kan? bocah?” lanjut sang iblis hitam itu dalam suara yang besar, berat dan menggetarkan batinku.


Tunggu dulu, apa tubuhnya membesar?


Bola kristalku meretak dan terbelah selapis demi selapis. Tubuh sosok itu membesar demikian cepat hingga akhirnya, bola kristalku yang mengurungnya, pecah berlontaran. Sesosok wujud hitam legam berdiri tegap di atas serpihan bakatku yang berserakan di sekitarnya. Kini, dirinya, benar-benar layak disebut monster iblis. Dengan dua tanduk hitam mengkilap itu serta duri-duri hitam di punggungnya. Dua tangan besarnya yang nampak dapat meremukkan beton dengan mudah membuatku merinding.


Lebih buruk lagi, dua matanya yang berpendar ungu kelam menyematkan kegelapan ngeri di hatiku. Dia, makhluk itu, menatap tajam diriku.


Seharusnya aku membuat surat wasiat sebelum kemari ....


Rasa takut terus bergumul di hatiku seiring dengan langkah kakinya yang mendekat. Bola-bola mortir kristal kuhempaskan kepadanya dengan sekuat tenaga. Semuanya sia-sia. Bakat yang kubanggakan, yang dapat kubentuk hampir sesukaku itu, pecah bagai suvenir murahan dari kaca ketika menghantam tubuhnya.


Aku coba kerahkan semua kemampuan yang kukembangkan sendiri. Satu jurus yang sangat ampuh dan cuma sekali pernah aku gunakan sewaktu misi di Jerman dulu.


“Coba yang satu ini!”


Aku berteriak histeris. Meluncurkan ribuan keping tajam keping kristal pipihku kepada dirinya. Terus begitu. Entah sampai kapan aku tidak akan berhenti sebelum dia tumbang. Walau tubuh hitamnya itu begitu kerasnya sampai-sampai semua seranganku laksana rintik hujan baginya. Hancur, pecah dan pias jadi serpihan.


Kurasakan gemetar kakiku. Akal sehatku memintaku untuk berhenti melakukan tindakan sia-sia dan memintaku untuk segera lari.


Tidak! Aku tidak akan berhenti! Mati sekarang atau nanti itu sama saja! Perbedaannya terletak pada mati secara terhormat atau menjadi pecundang yang meninggalkan kawannya untuk mati!


Sampai jaraknya tinggal dua meter dariku, rahangku bergemeletuk. Aku mendongak menatap sosok tingginya yang memandang rendah diriku dengan senyum remeh bertaringnya. Keteguhan hatiku luntur sesampainya dia berhenti di hadapanku.


Dalam hati, aku telah siap mati.


Apa ini saatnya aku dapat menyusulmu ke sana, Kak Nadia?


Mataku terpejam sewaktu kurasakan kukunya yang tajam dan dingin lamat-lamat menyentuh leherku. Lututku yang gemetar seolah-olah kehilangan tenaganya sehingga aku terduduk jatuh dan kudengar dengus gelinya atas sikapku. Suaranya, yang terkekeh menggema terdengar mengerikan.


Ketika aku membuka sedikit mata, penasaran akan bagaimana cara nyawaku direnggut, dalam sekedipan mata, saat itu juga, ekor kadal raksasa berpalu martil menghantam monster iblis di hadapanku.


Dentumannya hebat! Tubuh iblis hitam itu terhempas sangat kuat enyah segera dari hadapanku. Dinding beton serta atap kaca tak dapat menahan tubuhnya untuk tidak terlempar lebih jauh lagi.


Cahaya mentari masuk menerangi lantai satu ini melalui lubang runtuhan di atap tempurung kaca itu. Dugaanku dari sudut serta tenaga terlemparnya, monster iblis hitam itu akan jatuh di danau buatan seberang Kebun Kaca.


Aku menghela napas lega. Sangat dalam hingga mengenyahkan rasa takutku menjelang kematian sadis yang batal terjadi. Sementara Abraham, yang telah tersadar dalam wujud kadal prasejarahnya segera keluar dari tempat ini dengan menjebol dinding. Lantas sepasang sayap besar menyerupai kelelawar membentang pada punggungnya. T-Rex yang kini telah bersayap itu terbang menyusul sang iblis hitam. Meninggalkan diriku bersama Ryan yang tak sadarkan diri.


Tenaga bagai menguap dari punggungku. Aku lemas terpuruk.


Apa kemampuanku memang cukup seperti ini? Level tiga Death Freeze. Tidak akan berkembang lagi? kalau begitu, bukankah berarti aku tidak layak lagi sebagai pemimpin regu? melindungi diri sendiri saja tidak bisa ....


“Diaz!”


“...”


“Ketua Diaz!?” suara cempreng Jian mengembalikan kesadaranku dari keremangan.


Bintu, Jian serta Lisa. Apa mereka bertiga telah selesai melakukan evakuasi? Melihat Lisa yang menjerit histeris memeluk tubuh Ryan membuatku mengurungkan niat untuk bertanya.


Si gadis periang menubruk diriku. Beberapa bulir tetesan hangat menimpa wajahku.


“Ji... Jian, kenapa kamu menangis?” ucapku lemah sembari mendorong pelan kedua pundaknya untuk membuatnya duduk.


Jian sesenggukan. Menyeka beberapa kali airmatanya namun terus saja basah. Bibirnya yang tipis dan mungil bergetar terisak. Walau bicaranya agak sedikit kurang jelas, dia mencoba bicara.


“Bo... bowdoh! Ketua Diaz bodoh!” isaknya melanjut.


“Kenapa?” kataku. Suaraku goyah di ujung.


“Jangan memaksakan dirimu untuk melindungi kami!” Jian kembali menyeka airmatanya. Kali ini mereda. “Pikirkan juga dirimu sendiri! Jangan mengorbankan nyawamu!” Katanya kemudian sesenggukan hebat.


Ucapannya barusan menyentak batinku. Membuatku merenungkan tindakan yang telah kuperbuat.


Aku menoleh pada Bintu yang berdiri di dekatku.


“Dia melihatmu bertarung melindungi Ryan.” Ujarnya pelan.


Aku berpaling kembali menatap gadis yang menaruh perhatian padaku. Kepalanya ku-usap lembut, “Iya, maaf. Tidak akan ku-ulangi lagi. Terimakasih, Jian.”


Jian mengangguk. Masih menyeka sepasang matanya yang basah. Kemudian aku membantunya berdiri. “Kalian bertiga, jagalah Ryan. Bawa dia ke tempat semuanya berkumpul. Sector H telah hancur. Tidak ada pilihan lain selain menunggu bantuan medis di tempat yang aman. Di lapangan utama.” Jelasku.


“Eh!? Ketua Diaz mau kemana? bukannya tadi sudah bilang tidak akan melakukan hal berbahaya seperti tadi lagi!?” keluh Jian kedua tangannya menggenggam jubahku. Mencegahku pergi.


“Ini sangat penting. Maaf Jian, jika aku tidak ikut membantu mengalahkan monster iblis itu ... aku ragu tidak akan ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.”


Kedua binar mata Jian menatapku berkaca-kaca. Bintu menyentuh pundak kecilnya. Memintanya untuk mengerti. Walau dengan berat hati nampak dari ekspresinya, akhirnya,  Jian melepaskan genggamannya.


“Ketua Diaz. Berjanjilah untuk kembali kepada kami!” Ucapnya penuh harap. Menatapku sayu.


Aku menghadapnya. Menatap matanya lekat selama dua detik lalu mengangguk. Kemudian, dengan sisa keberanianku, dan kakiku yang terberati oleh kegentaran, aku berbalik dan melangkah menuju babak baru.