Aila Ability

Aila Ability
PHASE 7: Fase Freeze Death



“Sepertinya hobimu adalah pingsan, ya?” ungkap Dokter July seraya mengukur tekanan darahku. Aku tidak menanggapi perkataannya.


“Atau ... kamu sangat menyukai masakanku sehingga kamu memingsankan diri supaya dapat menikmati resep specialku lagi?” lanjutnya tersenyum genit.


Aku setengah bangun dari pembaringan dan berkata, “Jangan membuatku makan makanan itu lagi!” lalu mendadak kepalaku berkedut, “Aduduh.” pusing berpusar-pusar separuh bagian di sisi kepala kananku.


“Seharusnya hari ini kamu sudah sembuh, mungkin akibat duel kemarin sehingga trauma rasa sakit di kepalamu bereaksi. Tapi untung tidak ada pendarahan di otak. Tapi untung juga kalau memang ada jadi saya bisa memeriksa apa isi kepalamu” Jelas Dokter July usai melepas alat pengukur tekanan darah dari lengan kiriku dan mencatat hasilnya pada kertas pemeriksaan. Aku melototinya karena perkataannya namun dia hanya melanjutkan, “Pemeriksaan sudah selesai ... kamu mau sarapan dengan masakanku?” tawarnya berpose menempelkan pulpen pada bibir merah pudar itu kemudian mengedipkan sebelah mata.


Tiba-tiba aku terkena serangan merinding. “Aaa ... tidak-tidak terimakasih. Aku akan sarapan di ruang makan besar saja.” Balasku disertai mengipas-ngipaskan telapak tangan kiriku.


Aku beranjak turun dari tempat tidur pasien. Menguatkan sejenak berdiriku, memastikan kalau rasa pusing di sebelah kepala ini tak akan kambuh lagi, kemudian setelah yakin aku mampu melangkah, kulayangkan pijakan menuju ke luar ruangan.


“Wah ... sayang sekali. Padahal kamu orang kedua yang menghabiskan masakanku tanpa memuntahkannya.” Keluhnya ketika aku telah sampai di bawah ambang pintu.


“Ha?” sontak aku syok mendengarnya. Mulutku sedikit terbuka dan tatapanku tak bisa memercayainya. Namun, Dokter July menanggapi reaksiku dengan senyuman menggoda itu lagi sehingga aku tergagap berbalik, “Ja- jangan jadikan aku kelinci percobaanmu!” Aku segera berlari keluar ruang kerjanya dengan dijangkiti desiran malu pada pipi.


Ampun deh ...


***


“Yo. Bagaimana keadaanmu?” Bintu menyapaku dengan mulut penuh mengunyah. Entah kenapa pertemuan kami berdua lebih cenderung di meja makan. Ini terasa seperti deja vu.


“Yah, cukup baikanlah.” Aku mengalih pandang sesaat. Kurasakan anak-anak pendatang baru seumur kami berdua tengah memerhatikanku. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Tapi perasaan tidak nyaman ini ... seperti aku sedang menjadi bahan pembicaraan mereka.


“Diaz, kau tidak apa-apa?” Bintu mengayun-ayunkan tangannya di dekat wajahku.


“Ah, tidak apa-apa.” Lanjutku, mulai berkutik dengan makanan di depanku.


“Kalian tidak keberatan kalau aku duduk di sini?” seorang pemuda berparas orang Brazil dengan kulit coklat gelap yang khas datang bergabung dan menaruh nampan makanannya di meja kami berdua.


“Oh ya. Perkenalkan, namaku Rico.” Pemuda berambut keriting pendek berkulit coklat itu memperkenalkan dirinya sebelum aku dan Bintu sempat berkata-kata. Terjadi jeda yang cukup lama sampai dia selesai menata mangkuk sup serta piring makannya dengan garnis yang ditaburi serta dioleskannya demikian niat.


Bintu mencoba mencairkan suasana, “Ehm ... namaku Bintu, dan dia Diaz.”


“Hai Nico psycho.” Sahutku dengan mimik enggan, mengejeknya sedikit dengan nada bicara yang seperti mengusir seorang pengganggu. Aku tidak terlalu suka bertemu orang baru. Apalagi yang sok akrab.


“Bagaimana kau tahu tipe bakatku?” Rico terperangah.


“Eh?” balasku yang juga heran mendengarnya.


“Tipe bakatku adalah Psychic dan julukanku adalah Alzeimen.” Jelas Rico mengangkat rendah sendok supnya ke dekat mulutnya.


“Alzei- Alzeimer? Kemampuan yang dapat membuat lupa?” tebakku.


“Ya kurang lebih seperti itulah. Dan aku juga sudah ditugaskan sebagai bagian dari kesatuan UG.” Rico membanggakan diri menunjuk dirinya sendiri dengan jempolnya.


“Wow, kemampuanmu pasti hebat sampai kau direkrut menjadi anggota kesatuan UG.” Puji Bintu.


“Kesatuan UG? Apa itu? Pelatihan baru?” sambungku dengan nada datar.


“Kau tahu arti pita kuning ini?” Rico menunjuk pita kuning yang terjahit pada lengan kiri sebelah atas kemeja putihnya.


“Ini adalah tanda kesatuan untuk para penjaga kamuflase fasilitas ini dari interaksi luar. Baik itu dari lacakan satelit maupun melindungi keberadaan tempat ini dari orang yang tidak sengaja tersesat di hutan dan menemukan tempat ini. Nah, tugasku sebagai orang yang menghilangkan ingatan orang itu mengenai tempat ini.” Jelas Rico.


Yah, penjelasan Rico cukup masuk akal mengenai pita itu. Karena kami semua para Aila pendatang baru mengenakan busana yang sama. Kecuali untuk para anggota kesatuan UG yang dia maksud, mereka memiliki tanda pada seragam mereka dari yang pernah aku lihat sebelumnya dan membuatku penasaran. Ternyata inilah maksud dari pita-pita itu.


Tapi yang lebih menarik perhatianku adalah setelan yang dikenakan Aiko serta Mary yang berbeda daripada kami semua. Aiko mengenakan seragam kasual UG berwarna dasar putih yang telah dimodifikasi dengan tambahan beberapa renda di tepi lengan pendek seragamnya ditambah menggunakan jaket hoodie sebagai rangkapan kedua. Hoodie miliknya pun sepertinya juga hasil kreasinya sendiri karena aku belum pernah melihat model jaket hoodie yang mirip dengan miliknya sebelumnya. Sedangkan Mary memakai kemeja putih lengan panjang, seperti wanita karir, dengan tambahan renda putih di sekitar lingkar leher.


“Apa persyaratan agar bisa menjadi anggota Kesatuan UG unit penjaga kamuflase?” tanyaku lebih lanjut. Sedangkan Bintu bersikap pasif, hanya menyimak pembicaraanku dengan Rico sambil menyantap sarapan paginya.


“Ya sebenarnya tiap unit kesatuan UG memiliki syarat tersendiri agar bisa direkrut menjadi anggota. Contohnya satuan tempat diriku bertugas, Unit Penjaga Kamuflase. Kau harus seorang Aila dengan jenis bakat Psychic dan minimal berlevel 3.” Jelasnya lalu menyantap supnya.


Plok. Aku menepuk dahiku. “Haduh, sebenarnya seberapa banyak informasi yang telah aku lewatkan selama aku pingsan.”


Sesaat setelah aku berkutat dengan pikiranku sendiri, dobrakan pintu masuk gedung utama UG mengejutkan kami. Lima pemuda berjubah hitam datang dari pintu masuk utama, yang letaknya tak jauh dari tempat ini dan satu lantai. Mereka berjalan masuk bersama anak-anak kecil bermacam usia berbaju pasien lab putih yang kusam. Beberapa lainnya nampak berjalan tertatih-tatih. Sedang mataku mendapati di antara mereka, dari anak-anak kecil berbaju pasien itu, terdapat seorang bocah laki-laki berambut pirang berkulit putih. Mungkin berumur sekitar dua belas tahun yang terus waspada melihat sekelilingnya dengan rasa takut kentara di wajahnya.


Sontak hal itu mengundang perhatian orang-orang di ruang makan besar ini termasuk diriku. Kami dengan mereka hanya terpisahkan oleh dinding kaca transparan. Suara mereka dan apa yang mereka lakukan terdengar dan terlihat dengan jelas dari sini.


Hentakan langkah berlawanan arah dengan mereka terdengar mendekat. Abraham berlari menghampiri mereka. Aku fokus pada dirinya. Abraham terlihat panik. Tidak lama kemudian Mary tiba dan segera menghampiri mereka dari arah yang sama dari datangnya Abraham.


“Apa yang terjadi?” Abraham bertanya pada salah seorang pemuda berjubah hitam yang memanggul seorang pemuda lain, yang berparas orang India, yang tubuhnya sedikit lebih gemuk darinya.


“Kami mendapat serangan mendadak. Mereka memiliki senjata baru dan-”


“Mary! Bawa anak-anak ini ke tempat perawatan sektor H!” Belum selesai pemuda itu melanjutkan ceritanya, Abraham memotong kata-katanya. Dia memerintah Mary sembari menunjuk pada anak-anak berbaju pasien lab abu-abu.


“Ayo-ayo, sini kalian ikuti aku.” Mary juga panik namun dengan segera dia menggiring anak-anak itu untuk ikut dengannya.


“Biar kubantu Fleiz, dan jelaskan semuanya padaku sembari jalan.” Abraham membantu membopong pemuda itu. Kemudian tak beberapa lama mereka semua berlalu dari pandangan kami.


Sesudahnya mereka sirna dari pandangan, Rico berbisik padaku, “Hei, kau tahu, mereka yang mengenakan jubah hitam tadi adalah kesatuan unit paling utama di UG.” katanya, dan hal itu membuatku meliriknya tajam.


“Jelaskan padaku lebih lanjut, Rico.”


“Mereka adalah unit Rescue. Mereka yang berada dalam unit ini merupakan para Aila level 4. Dan jelas, jika ingin menjadi bagian dari mereka setidaknya level bakatmu harus level 4. Kesatuan Penjaga Kamuflase pun dapat bergabung dengan mereka asalkan memenuhi syarat level 4 itu.” Rico kemudian meneguk segelas air. Gelas air milikku. Aku meliriknya dengan tatapan aneh.


“Lalu apa tugas mereka serta apa yang terjadi jika kita tidak masuk dalam kedua satuan itu?” lanjutku.


“Tugas kesatuan unit Rescue adalah melakukan penyelamatan terhadap para Aila level rendah seperti kita ini dari serangan maupun penindasan pemerintah dan tentara Anti-Crisis di luar sana.” sambung Bintu yang baru saja menyelesaikan sarapannya. Dia melanjutkan, setelah meneguk segelas airnya, “Kemudian, bagi yang tidak masuk ke dalam salah satu satuan tersebut akan melakukan pekerjaan sebagai Gardener dan Logister. Yaitu satuan yang menyiapkan bahan logistik untuk semua penghuni UG.”


“Pekerjaan yang kurang menantang. Lebih baik aku keluar saja dari tempat ini daripada menjadi Gardener atau Logister.” Ujarku spontan.


“Kita setidaknya harus berlevel 4 jika ingin keluar dari tempat ini. Itu pun harus melalui prosedur yang- yaa ... sedikit merepotkan. Dan bagi siapa saja yang keluar dari tempat ini maka mereka tidak akan bisa kembali atau menemukan tempat ini lagi.” Rico menunjukku.


“Tidak bisa kembali lagi, ya? Cukup masuk akal. Mungkin mereka yang keluar dari tempat ini akan dihapus ingatannya untuk menjaga kerahasiaan keberadaan tempat ini dari pemerintah dan tentara Anti-Crisis. Lagipula, ada kesatuan Penjaga Kamuflase. Bisa dibilang hampir mustahil untuk menemukan tempat ini jika kau bukan seorang Aila dengan tipe bakat Psychic, iya kan Rico?” sambungku tersenyum rapat menyeringai kepadanya.


Sebelah alis Rico kudapati menaik, “Ya, kurang lebih seperti itu.”


Bintu melihat jam dinding besar satu-satunya di ruang makan besar ini lalu berkata padaku, “Diaz. Nanti jam setengah sepuluh kita akan menjalani latihan untuk menentukan para kandidat yang dapat bergabung dengan unit Rescue. Kau mau ikut?”


“Hm, tentu saja. Bintu, tolong ceritakan padaku hal penting apa saja yang terjadi di arena duel setelah aku pingsan. Sekiranya lima belas menit cukup untuk menceritakannya.” Aku melihat jam besar itu, menunjukkan pukul 9:00. Suasana ruang makan ini sudah cukup tenang. Tidak seramai saat Rico bergabung bersama di meja kami. Ketika melihat kembali jam itu, Bintu menatapku dan mulai bercerita.


“Ketika aku melihatmu tersujud, kelihatan kesakitan sambil menutup kedua telinga, aku minta Aiko untuk hentikan pertarungan. Tapi dia ngotot kalau pertarungan tetap berlanjut karena belum ada yang menyerah atau tumbang. Aku bilang, ‘Apa kau tidak lihat kalau Diaz sudah tumbang dan tak mungkin balas menyerang?’ tadinya Aiko masih tak peduli tapi kemudian dia merubah sikapnya sambil mengeluh, lalu kami berdua menghampirimu. Karena kamu pingsan, dan tak kunjung bangun, Aiko panik dan memintaku untuk membawamu ke ruang perawatan di sektor H.”


“Jadi begitu ...” mengertiku mengelus dagu, kemudian kutatap lagi Bintu, “Lalu, apa yang terjadi berikutnya?”


“Sekembalinya aku dari sektor H ke arena duel, Aiko menanyakan keadaanmu. Lalu kuceritakan saja diagnosis awal Dr. July padanya.”


“Jadi kau bilang tentang keadaanku ke perempuan itu?” pandangku memicingkan mata sebal.


“Ya.” Sahut Bintu tanpa dosa, menderitkan lima senti kursinya ke belakang.


“Dan kau meninggalkan diriku yang tak sadarkan diri berdua saja dengan Dokter July?” kedua alisku terangkat.


“Ya, dan aku langsung kembali ke arena duel untuk menonton pertandingan selanjutnya sampai selesai.” Bintu menata piring-piring bekas santap paginya.


“UWAAA! Kenapa kau tinggalkan aku berdua dengan wanita itu!?” teriakku histeris.


“Memangnya kenapa?” sahut Bintu tanpa merasa bersalah.


“Bagaimana kalau dia menjadikan tubuhku sebagai eksperimen dan kelinci percobaan-nya, hah!?” aku *** rambutku dengan kedua tangan, meletakkan kepalaku di atas meja sambil merinding gemetar.


“Hmm? Ada apa dengan Dokter July?” Rico bertanya pada akhirnya yang sedari tadi menyimak cerita Bintu dan percakapan kami berdua.


“Kau tahu? Wanita itu membuatku memakan masakan anehnya!” Aku dengan semangatnya mengejek atau mungkin mengatakan kebenaran? tentang masakan Dokter July kepada Rico.


Rico memandangku heran, “Tapi ... masakannya enak, kok. Aku pernah menyantapnya, bahkan aku menghabiskannya dan ingin lagi.”


“Hoa!? Jadi kau orang pertamanya itu, ya!?” aku memasang raut muka terkejut sambil mengayun kedua tanganku ke samping.


“Hm?” Rico dan Bintu bersamaan tak mengerti menanggapi sikapku.


“Aa ... ah, ehem.” Aku mendekatkan kepalan tanganku ke mulut guna berdehak palsu. Ekspresiku berubah serius sembari menatapnya. “Kita lupakan saja tentang dokter itu dan kembali ke cerita Bintu. Bintu, hal penting apalagi yang aku lewatkan setelah kau kembali ke arena duel?”


“Setelah semua duel usai, ada satu pengumuman. Yang kuingat kira-kira seperti ini: ‘Para kandidat yang berpotensi dan layak menjadi anggota kesatuan UG terutama unit Rescue akan diumumkan besok pagi jam 09:30 di ruang rapat sector M3. Syarat untuk menjadi anggota kesatuan unit Rescue adalah minimal berlevel 4 atau level 3 dan 2 yang berpotensi besar. Pemberitahuan selanjutnya akan diberitahukan besok. Pelatihan hari ini telah selesai. Kalian dapat kembali ke asrama masing-masing dan beristirahat.’


“lalu ruangan menjadi berisik karena para Aila pendatang baru saling bicara membahas tentang pengumuman yang baru saja didengar. Kemudian tiba-tiba Aiko membentak ke arah kami semua, ‘Hei! Apa kalian tuli!? Pelatihan telah selesai dan kalian, segeralah kembali ke asrama masing-masing!’ serunya sambil kedua tangannya saling bersilangan dan listrik berpercikan di tubuhnya. Ruangan tiba-tiba menjadi hening. Para pendatang baru tidak ada yang berani menyanggahnya.


“Berikutnya Aiko berkata lagi, suaranya lantang dan dipenggal-penggal seperti ini, ‘CE−PAT−KEM−BALI−KE−ASRAMA−SE−KA−RANG.’ dan wajah kami seperti ditampari rasa takut dan tegang. Beberapa detik setelahnya kami semua membubarkan diri dan kembali ke asrama masing-masing. Mana mungkin kami berani digertaknya lagi, kan?”


“Aku bisa membayangkan bagaimana wajah kalian saat itu.” komentarku.


“Dia gadis yang menyeramkan.” Jawab Bintu dan Rico bersamaan.


“Yah, dia hanya terlihat ramah pada Abraham saja.” sambil berkata pupilku berputar ke samping atas.


“Hm?” Rico menggumam.


“Ah, bukan apa-apa.” Aku langsung membalasnya agar dia tidak lanjut bertanya.


Bintu menyela, “Sepertinya kita harus segera menuju ke sector M3 sekarang.” dia kembali melihat jam dinding itu kemudian berdiri.


Aku menoleh pula pada arah yang sama dan waktu telah menunjukkan pukul 9:20. Segera saja aku berdiri begitu pula dengan Rico. Bintu melangkah menuju lift setelah sebelumnya mengangguk padaku. Aku mengikutinya dari belakang tapi tidak dengan Rico.


“Kau tidak ikut?” tanyaku menjeda langkahku.


“Tidak, aku sudah masuk ke dalam Unit Kamuflase. Sekarang aku akan kembali bertugas di pos. Semoga kau beruntung.” Pemuda berkulit gelap itu menempatkan jari telunjuk serta jari tengahnya yang dihimpitkan kepada dahinya seperti melakukan hormat.


“Yup. Terimakasih.” Aku berlalu dari Rico menuju ke dalam lift dimana Bintu menungguku.


***


Napasku menghembus pasrah ketika aku menyaksikan ruangan M3 yang telah penuh dijejali diri para Aila pendatang baru. Dalam panas dan himpitan kumpulan orang-orang, aku mendesal ke barisan paling depan bersama Bintu. Dia membuat celah dengan tubuh suburnya seolah membelah ombak.


Di atas mimbar telah berdiri berbaris orang-orang berjubah hitam menjuntai hingga bawah lutut. Terdiri dari laki-laki dan perempuan yang kelihatannya lebih tua beberapa tahun dariku. Ah, Aiko berada diantara mereka.  Kemudian dari barisan mereka, Abraham maju mendekat berdiri di tengah-tangah mimbar.


“Perhatian para Aila pendatang baru, terimakasih telah hadir di tempat ini. Pada hari ini akan diumumkan kandidat yang layak menjadi anggota unit Rescue UG. Bagi kalian yang tidak termasuk namanya dalam daftar, jangan kecewa. Kalian masih memiliki kesempatan untuk bergabung. Dengan tekun melatih bakat kalian sampai mencapai level yang memenuhi kriteria unit Rescue. Atau dengan memenangkan duel melawan salah satu dari kami, para anggota unit Rescue.” Jelas Abraham dengan ekspresi serius.


Pasti aku termasuk ke dalam daftar itu. Karena tipe bakatku adalah Creaton yang sangat jarang. Pasti aku akan menjadi kandidat karena kemampuanku dibutuhkan. Lagipula aku yang mengalahkan dua helikopter tempur dan pasukan Anti-Crisis sewaktu kejadian di sekolah waktu itu, pikirku sangat yakin.


Abraham mengangkat kedua tangannya ke atas, “Berikut daftar nama kandidat yang layak menjadi anggota unit kesatuan Rescue UG!” Serunya, tepat di bawah layar proyektor besar yang menampilkan daftar nama-nama.


Para pendatang baru berdesal ke depan. Pasang-pasang mata mereka mulai memindai nama-nama tersebut, mencari tahu apakah namanya tercantum. Begitu pula dengan diriku. Hanya ada tiga puluh nama pada layar besar tindihan tampilan hologramik itu. Ah, nama Bintu tercantum. Si gadis bising yang jadi lawanku juga. Kembali memindai, mataku baru sampai pada urutan ke sebelas dan masih belum menemukan namaku.


“Yeah! Aku memang hebat!” Seorang pemuda melonjak meninjukan tangan kanannya ke udara. Dia, si bocah api.


Dia juga masuk? Mataku mulai lanjut menyimak nama-nama yang tersisa dan sampai pada urutan nama terakhir.


Bagai dihantam oleh godem besar, sakit dalam sekejap satu hentakan. Setidaknya itulah yang dirasakan dadaku ketika selesai memindai nama ketigapuluh.


Aku ... tidak menemukan namaku dalam daftar. Ini pasti bercanda, kan?


“Hei, Abraham! Ini pasti belum valid, kan? Daftar ini belum final, kan?” nada bicaraku sedikit panik dan mimik mukaku ibarat orang yang tidak percaya atas kekalahannya dalam suatu taruhan. Pandangan para pendatang baru tertuju padaku. Termasuk Bintu dan si bocah api. Namun aku tak peduli.


Abraham berbalik dari layar besar itu kemudian menatapku. “Ada apa Diaz?” tanyanya datar. Merunduk pandang menatapku dari mimbar di depan.


“Namaku. Kenapa? Kenapa namaku tidak ada!?” balasku setengah membentak.


“Hm? Kalau tidak tercantum berarti sudah jelas bahwa kamu tidak memenuhi kriteria, kan?” sahut Abraham tenang. Tidak lupa dengan sunggingan senyumnya yang membuatku merasa jengah saat ini.


“Kapan saat pertama kali kau mencapai level 3?” sahut Aiko ikut menimpali perkataanku dari atas mimbar.


“Ha? E- enam tahun yang lalu ...” Jawabku terbata dengan nada rendah.


“Enam tahun yang lalu?” “Berarti saat dia berumur 12 tahun?” gunjing para pendatang baru lain saling bisik. Aku tak mengindahkan.


“Berarti sudah jelas. Kau telah mencapai level 3, yaitu tahap Death Freeze selama enam tahun.” Timpal Abraham pandangannya tergelincir berpaling.


Death Freeze, fase yang menentukan apakah kemampuan bakatmu dapat berkembang atau tidak, ingatku kembali dengan penjelasan Abraham beberapa hari yang lalu. Berarti ... kesempatanku untuk menjadi anggota unit Rescue telah hilang.


“Mata empat, sudahlah. Kemampuan bakatmu sudah mencapai batasnya. Jangan memaksakan diri lagi.” Ujar Aiko dingin. Kata-kata yang tidak ingin kudengar darinya. Aku menatapnya tak percaya. Terperangah sesaat lantas kepalaku tertunduk. Mencoba menerima kata-kata pahitnya.


“Yak, kalau begitu bagi kalian para kandidat baru unit Rescue ... silakan tinggal di tempat ini. Dan bagi kalian yang namanya tidak tercantum, setelah ini kalian menujulah ke gedung sektor L2, kalian akan menerima pengarahan lanjutan.” Lanjut Abraham tanpa menanggapiku lagi. Aku berjalan mundur ke barisan paling belakang dengan kepala tertunduk kemudian berbalik. Para pendatang baru yang kulewati menolehku dengan tatapan sinis sembari melontarkan kata-kata tak sedap.


“Diaz. Hei!” Bintu memanggil namun aku mengacuhkannya. Kedua telingaku telah kadung menuli. Aku berlalu dari kerumunan mengabaikan semuanya. Keluar dari ruangan ini dan berjalan dengan tatapan suram.


***


Dua jam berlalu. Selama itu aku berdiam diri di ruang makan besar. Menikmati lebih dulu minuman sirup dan makanan yang menunya akan disajikan untuk para penghuni UG saat waktu makan siang nanti. Aku hanya menatap kosong dinding kaca ruangan berpemandangan langsung danau dan Kebun Kaca terlihat di seberangnya jauh. Pintu ganda ujung ruang makan besar terdengar terbuka dan masuklah beriringan sekumpulan Aila pendatang baru. Sepertinya mereka sudah selesai dengan urusannya.


“Aah ... melelahkan sekali latihannya.”


“Yeah. Aduduh, tanganku sampai pegal-pegal begini.”


Kedua gadis itu berada paling depan dari rombongan. Saat kuamati kedatangan mereka berdua, mereka balik mamandangku sekilas dan saling berbisik mendekatkan kepala tapi suaranya jelas terdengar olehku. Seperti disengaja.


“Eh lihat, dia melihat kita”


“Dia kan yang waktu itu”


“Aku risih dilihatnya begitu. Ayo pergi.”


Kubuang muka dari mereka. Suasana hatiku memburuk.


“Diaz.” Bintu menegur dari samping, mungkin baru saja tiba. Aku tidak menyadari kedatangannya. Senampan menu makan siang dibawanya.


“Kenapa kau tidak mengikuti penyuluhan di L2? Aku tadi mencarimu dan menanyai Aiko. Tapi malah aku mendapat balasan yang―” Bintu tidak melanjutkan kata-katanya setelah melihatku yang mengacuhkan dirinya.


“Kau tidak makan?” sambungnya kemudian menaruh makan siangnya di atas meja, duduk berhadapan denganku berseberangan.


“Sudah, aku sudah makan.” Jawabku datar tanpa menatapnya, pandanganku masih tertuju pada danau dan Kebun Kaca di kejauhan sana dan kusambung, dengan intonasi menggunjing, “Bagaimana dengan penyuluhanmu?”


“Hm ... Biasa saja.” Jawab Bintu pendek. Mungkin dia berusaha agar tidak membuatku tersinggung.


“Hei hei hei. Lihatlah, mata empat yang berlindung pada ketiak si gendut.” Ujar seorang pemuda menyelonong menghampiri kami diikuti empat orang lain. Mungkin semacam anggota gengnya. Si gadis bising termasuk salah satu dari mereka. Berdiri di belakang pemuda yang barusan bicara. Pemuda yang tak lain si bocah api. Tiga orang yang pemuda yang lain tertawa menyambut kalimatnya. Aku menatapnya keji, seperti pandangan mata orang yang dipenuhi rasa dendam. Suasana hatiku sedang buruk. Sementara kehadirannya di hadapanku, dengan perkataannya itu, membuat dadaku mendidih.


“Diaz, jangan pedulikan mereka.” Cegah Bintu agar diriku tidak tersulut omongan si bocah api.


“Woah, lihat. Gendut ini seperti ibunya.” Cibir si bocah api. Dengan lancangnya dia mengambil satu kentang goreng milik Bintu lalu melahapnya diikuti tawa ketiga orang pengikutnya. Si gadis bising di belakangnya hanya menyeringai senyum.


“Yah, mata empat. Kau beruntung mata empat. Kau tidak masuk menjadi kandidat anggota unit Rescue. Dengan begitu gendut ini tidak perlu susah-susah melindungimu.” Ucapnya menatapku dengan tatapan merendahkan. “Ah, lebih baik lagi kalau kau menjadi Gardener atau Logister. Dengan tangan lembutmu kau menyiapkan keperluan dan makanan kami, orang yang bersusah payah menjadi unit Rescue untuk melindungi dan menyelamatkan orang-orang sepertimu ini.” Lanjutnya, bocah api mengejekku diikuti gelak tawa keempat anak buahnya. Lantas dia, si bocah api yang kurang ajar itu, berjalan pelan berlalu dari kami berdua usai memperagakan gelagat menghinaku dengan ayunan tangan seolah kaum ningrat tengah mengusir babu.


Lalu kukatakan, setelah beberapa jarak dia melangkah, “Simpan saja api kecilmu untuk dirimu sendiri. Aku tidak membutuhkannya.” balasku merendahkannya sembari membetulkan posisi kacamataku.


“Apa kau bilang?” Si bocah api berhenti dan berbalik. Gurat marah nampak dari lipatan di keningnya.


“Aku bilang api kecilmu sangat cocok untuk menghidupkan kompor. Ah, lebih bagus lagi kalau kau kerja di bagian dapur. Kau akan lebih bermanfaat bagi para koki sebagai pengganti kompor daripada jadi anggota unit Rescue.” tatapanku menajam tertuju padanya seorang seraya kuhiasi senyumku yang paling hina. Ketiga bawahannya tertawa kecil mendengar perkataanku.


“Diam!” Si bocah api mulai naik pitam dan para pendatang baru lain mulai memmerhatikan dan berdiri mendekat di sekeliling kami.


“Apa? Kau mau memukulku?” Suaraku tetap tenang menantang.


“Diaz!” Bintu mencoba menghentikanku namun aku tidak menggubrisnya. Aku hanya mengangkat rendah telapak tanganku kepada Bintu mengisyaratkannya untuk jangan khawatir.


“Kau sangat menginginkannya, ya!? Terima ini!” Si bocah api bergerak melayangkan tinjunya kepadaku. Namun, tinjunya membentur dinding plasma buatanku, dia merintih kesakitan setelah terdengar keras benturan kepalan tangannya. Tinjunya kalah cepat dengan pembentukan tameng pipih plasmaku.


“Lihat, kau bahkan tidak dapat menyentuhku, bagaimana kau akan mengalahkanku?”


“Diaz, hentikan.” Cegah Bintu kembali. Tapi seperti perkataan-perkataannya sebelumnya, aku tak menurutinya.


“Kau memang ingin kubikin babak belur, ya!? Baiklah!” Si bocah api mengeluarkan pemantik api dari saku seragam kasual UG-nya. Dia perbesar api di telapak tangannya lekas ditinjukan padaku.


Tetapi serangannya tertahan oleh perisai plasmaku yang sedari tadi masih melayang pada tempatnya sedangkan diriku tak bergerak dan dengan santai meneguk segelas air di sampingku.


Bintu yang terkena jilatan api melindungi kepalanya dengan siku tangannya. Aku memintanya untuk mundur. Bintu memandangku dengan kecewa atas sikapku kemudian dia mundur menjauh. Bergabung dengan kumpulan pendatang baru yang menyaksikan pertengkaranku dengan si bocah api.


“Bagaimana ini? Apimu bahkan tidak dapat menyentuhku.” Cibirku. Tersenyum geli.


Mendengar perkataanku si bocah api akhirnya menjadi. “Brengsek! Kau akan menyesalinya.” dia meninjukan api bertubi-tubi dari jarak dua meter. Tak berguna, serangannya hanya membakar permukaan luar perisai plasmaku.


“Sudah Ryan, cukup hentikan!” Pinta si gadis bising kepada si Bocah Api.


Ryan? Jadi itu namanya. Ah, aku jadi ingat sesuatu ...


“Kalau tidak salah julukanmu Phoenix ya? Aah ... daripada disebut Phoenix sebutanmu lebih pantas jadi Ayam Bakar.” Celotehku merendahkannya dengan senyum menghinaku.


“Haaaargh!” Si bocah api membuat kobaran api yang lebih besar dari sebelumnya. Menjalar menjilat-jilat dari tangan menjalari pundaknya sampai hampir menyentuh langit-langit.


“Hooh, kau mulai serius? Baiklah, aku akan meladeni kesombonganmu.”


“DIAM!” Si bocah api menghantam meja makan di sampingku dengan tinjunya yang berapi-api. Aku berguling ke samping kiri hingga membentur dinding kaca. Para pendatang baru yang mengerubungi kami menjaga jarak dan bersorak.


“Hei, kau mau ganti rugi meja itu? Bagaimana jika ketahuan Aiko?” lontarku dengan tujuan untuk memecah perhatiannya.


“Akan kuperbaiki setelah memanggangmu!” Si bocah api melompat dengan meja persegi sebagai tolakannya kemudian menerjangku yang bersandar pada dinding kaca.


Tinju api amarahnya menghantam perisai plasmaku. Sampai-sampai punggungku membentur dinding kaca hingga terjadi retak seperti bentuk sarang laba-laba. Untung saja dinding kaca ini cukup tebal. Disamping itu, diriku masih terlindungi oleh perisai plasmaku dari tinju apinya.


“Hm ... AKH!” perisai plasmaku kuempaskan kepada si bocah api. Dia jatuh tersungkur, terpental ke belakang dan menubruk meja-meja di ruang makan besar ini. Para Aila pendatang baru kian menyoraki kami seperti penonton gladiator di Koloseum. Berteriak heboh. Mengelukan supaya pertarungan kami lebih seru lagi. Anehnya, dadaku jadi berdebar dan merasa tangguh.


Aku berjalan tegak mendekat, “Bagaimana? Masih mau lanjut?”


Si bocah api menatapku dengan muka merah padam, matanya seperti berandalan. Dia mengepalkan tangannya hendak meninjuku.


“ARGH!” Si bocah api dengan cepat bangkit melancarkan tinjunya. Segera saja aku menghalau serangannya dengan menciptakan perisai plasma baru.


“Hm?” Tinjunya lebih kuat dari sebelumnya, perisai plasmaku retak kena pukulan bertubinya. “Oh oh. Kau mulai serius ya? Giliranku menyerang. Terima ini!” Aku melompat mundur sejauh tiga meter. Menjaga jarak dengannya kemudian melakukan tinjuan-tinjuan kosong tepat ke arahnya.


“Makan nih mortir!” seruku. Bola plasma padat sebesar peluru meriam melesat ke arahnya. Dia bergerak ke samping dan ke kanan mencoba menghindarinya. Namun, si bocah api tak dapat menghindari semuanya. Beberapa mortir plasma mengenai dirinya. Yang aku yakin pasti membuatnya memar.


“Apa yang terjadi di sini!? Hentikan kalian berdua!” Ditengah pertarungan sengit kami, seorang gadis muncul dari kerumunan para pendatang baru dari arah balik punggung Ryan. Rupanya dia Mary, berikutnya Aiko muncul di sampingnya.


Aku memalingkan perhatianku sejenak dari pemuda keriting berapi-api yang mengeram sedari tadi. Ruangan ini kini bagai kapal pecah akibat pertarungan kami. Meja-meja terbalik, patah, dan beberapa bagiannya terbakar.


Namun, si bocah api tak memedulikan kehadiran Mary. Dia bergegas berlari ke arahku dengan tangan kanan terbakar laksana obor. Tanpa pikir panjang kutimpali aksinya dengan segera berlari menerjang ke arahnya yang menjadi beringas sambil mengepalkan tangan kananku hendak meninjunya. Sampai hanya sekitar satu meter jarak kami berdua, Mary tiba-tiba muncul sedikit merunduk di antara jarak kosong kami ibarat hantu yang dapat mewujud dimana saja yang mereka sukai. Sedang dalam tempo yang berlangsung cepat tangan kirinya dihadapkan pada si bocah api, dan satunya kepadaku. Pada kedua telapak tangannya terbentuk bola hitam pekat segelap langit malam tanpa bintang.


Dengung yang asing menerpaku sekejap ketika bola hitam itu membesar dan menelan si bocah api serta diriku. Mata ini gelap sedetik dan ketika cahaya kembali ada menyilaukan, kami berdua telah berpindah tempat jatuh dari ketinggian dua meter ke atas tanah lapang keluar dari gedung utama.


Pasti ini ulah Mary, pikirku. Aku jatuh tengkurap di atas tanah. Lumayan sakit. Sedangkan si bocah api jatuh terlentang. Dia meringkuk beberapa meter di sana tengah mengusapi punggungnya. Sepertinya pertarungan kami cukup sampai di sini.


Yah, baiklah. Nampaknya aku harus berakhir kembali ke dalam ruang makan itu dan meminta maaf kepada Mary serta Aiko dan bersiap-siap akan kena marah besar. Aku hendak berniat menyudahi semua ini tapi tiba-tiba bola api sebesar kepala nyaris melibas wajahku.


Bocah api sialan itu. Dia menyerangku. Untung saja reflekku bagus dengan lekas mengangkat tangan dan menciptakan perisai plasma pipih.


“Apa maumu, hah!?” tanyaku dalam nada tinggi.


“Aku tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita tak bergerak!” Balasnya dengan nada tinggi pula.


“Ooh. Baiklah, kau yang  akan menjadi tidak bisa bergerak itu!” Aku menantangnya. Kurentangkan tanganku, menciptakan kubah plasma beberapa lapisan melindungiku. Aku hanya tinggal berdiam diri di dalam kubah ini sedari menunggu si bocah api kelelahan melawanku.


Para pendatang baru dari dalam gedung utama UG mulai berdatangan dan berkerumun kembali menyaksikan kami berdua. Bagai pertunjukan gratis yang tidak akan mereka lewatkan, antusiasme mereka membuatku muak. Tapi mataku belum menemukan sosok Mary dan Aiko diantara mereka sedang selagi aku memerhatikan kerumunan itu, si bocah api menyerangku dengan tinju-tinju apinya.


“Hanya begitu saja?” cibirku. “Sudah kubilang kau tidak akan bisa menyentuhku.”


“Brengsek, keluar kau dari dalam situ!” Si bocah api menunjukku geram. Aku mengacuhkannya.


Si bocah api mulai membakar sekitarnya. Membuat kobarannya di tanah menjadi lebih besar kemudian mengendalikan, meninjukannya ke dinding plasmaku. Tapi tetap saja itu tak dapat merobohkan kekuatan dinding plasmaku.


Aku mulai bosan. Tangan kiriku kukedepankan ke arah si bocah Api berdiri, kurapatkan, dan akhirnya mengurung anak itu dalam kubah plasma yang kucipta.


“Apa yang kau lakukan!?” Si bocah api memberontak membabi buta menyerang dinding kubah plasma yang mengurungnya dengan tinju api. Dia mengumpulkan kobaran api, membentuknya menjadi sebesar bola sepak kemudian melontarkannya kepada dinding kubah plasma itu.


“Coba saja kau hancurkan kalau bisa!” Aku menggertaknya. Si bocah api seperti tersulut oleh perkataanku dan segera membakar sekelilingnya. Kubah berdiameter tiga meter yang mengurungnya itu kini penuh dengan kobaran api di dalamnya. Merah menyala. Seperti dugaanku sebelumnya, si bocah api berpikiran pendek.


Beberapa menit kemudian kobaran api di dalam kubah yang mengurungnya mulai reda dan mengecil. Sedang si bocah api mulai terlihat kelelahan dan lemas. Oksigen di dalam kubahnya pasti sudah mulai menipis. Namun, tetap saja si bocah api tidak menunjukkan tanda-tanda sadar atas kondisinya. Dia masih saja terus melancarkan serangan-serangan ke dinding kubah yang mengurungnya.


“Sial! Kenapa aku ... tidak bisa ... menghancurkan ini!” makinya dengan kalimat yang terputus-putus oleh napasnya. Tubuhnya mulai goyah.


“Mata empat! Hentikan!” Perintah Aiko yang telah berada di tepi lapangan bersama Mary.


“Ha? Kenapa? Dia pantas mendapatkannya.” Tolakku sinis menolehnya.


Di posisi lain, si bocah api roboh. Kobaran api di dalam kubah yang mengurungnya pasti telah banyak membakar oksigen di dalamnya. Kobaran apinya mulai padam menjadi setinggi rerumputan lapangan.


“Diaz! Sudah! Bebaskan dia!” Perintah Mary. Dia dan Aiko berjalan cepat mendekat. Masuk ke lapangan menyeberang kemari.


“Tidak. Ini sebagai pelajaran untuknya. Orang sombong seperti dia harus diberi pelajaran bahwa di atas langit masih ada langit.” Jariku mengacung tinggi ke udara.


“Kalau begitu kau tidak ada bedanya dengannya!” Aiko berlari melesat ke arahku.


Amat cepat! Bagaikan petir yang menyambar, Aiko menyerang dinding luar kubah plasmaku dengan tangan kanan berselimutkan listrik menyerupai sarung tinju. Aku segera melakukan antisipasi menambah ketebalan lapisan kubah plasmaku. Memperkuatnya hingga pada tahap tembakan meriam tank pun tak akan sanggup menembusnya. Namun Aiko tetap berulangkali meninju dinding kubah plasmaku dalam kecepatan tinggi.


“Percuma Aiko! Seranganmu tak akan berhasil untuk kedua kalinya!”


Ditengah konsentrasiku terhadap penebalan lapisan plasma, sudut-sudut mataku menangkap sekelebat sosok melesat ke arah samping kubahku.


Mary?


Tatapan matanya memicing seperti mata seorang penembak. Jemari kirinya membentuk simbol OK, menciptakan sesuatu bola hitam seukuran bola pingpong kemudian meniupnya. Benda itu lekas melesat membentur dinding kubahku. Melubanginya sebesar wujudnya hingga menembus di sisi lainnya. Sejurus kemudian cambuk listrik biru menyelinap masuk melalui lubang itu.


BZZZZZT!


“WAAAAAAAKH——!!” Aku tersengat listrik Aiko untuk kedua kalinya, tapi  kini belasan lipat lebih menyakitkan daripada sebelumnya sampai membuat tubuhku sedikit berasap.


Aku jatuh tersungkur dengan punggung menghadap langit. Kubah plasmaku lekas retak dan perlahan terkikis lenyap begitu pula dengan kubah plasma yang mengurung si bocah api.


Kicau-kicau kearoganan telah berhenti diutarakan pita suaraku. Mereda, jurus-jurus kemampuan bakatku telah disimpan paksa. Sedang setelah keadaan benar-benar kondusif, Mary berlari ke arah si bocah api yang telah jatuh tak sadarkan diri sedari tadi di sana.


Di sisi lain Aiko mulai berkutat dengan diriku yang tengah lumpuh sementara. Ukh, tubuhku dibalik paksa olehnya. Dia mengangkat kemudian memanggulku di pundaknya tanpa berkata-kata. Lekas aku dibawanya ke tepi lapangan menuju ke hadapan Abraham yang entah sejak kapan dia telah berada di situ ...


“Bawa dan masukkan dia ke sel pengasingan.” Titah Abraham dingin menatapku, begitu pula dengan para pendatang baru yang menonton pertarunganku. Mereka memandangku dengan sinis dan penuh dengki. Dalam gotongan Aiko, aku membuka mulutku hendak membalas ucapan Abraham namun tiada keluar suaraku.