Aila Ability

Aila Ability
PHASE 12.5: Kepingan Kenangan (Bagian 2)



Ruangan rahasia, lantai paling dasar gedung UG, Q-Floor.


 


 


“Bagaimana kabar anak itu ...” Seorang pria setengah baya dengan alat bantu pernapasan pada mulut sampai menutupi hidungnya, berbicara dengan suara seperti tersumbat. Napas beratnya terdengar menggema di dalam ruangan. Pria setengah baya itu duduk bersandar di kursi besar dengan kabel-kabel berikut selang infus menjuntai dari beberapa bagian tubuhnya.


Tubuhnya terlihat lemah dan kurus, kulitnya pucat dengan beberapa kerutan nampak di wajah serta lengannya. Rambut putih lusuhnya tersela warna keperakan. Sejumput gerai rambut depannya menutupi salah satu mata hingga menyentuh pipinya yang tirus.  Sedang beberapa bagian permukaan kulitnya terselimuti oleh air yang membeku. Suhu ruangan tempatnya berada yang menyamai lingkungan lemari pendingin menambah suram keadaan.


“Anak itu menyelesaikan misi pertamanya dengan baik.” Jawab seorang pemuda pirang berbadan tegap setinggi 180cm. Dia melangkah mendekat pada sang pria empat puluh tahunan. “Pimpinan, apa mungkin anak itu ...”


“Semoga saja, Abraham. Kita tidak bisa berharap banyak. Awasi perkembangannya dan―” dia mengambil napas, kelihatan tersiksa kemudian menyambung, “Dan jangan beritahu dia mengenai kebenaran bakat para Aila dan ramalan Arloji Perak.”


Abraham menundukkan kepala, “Baik pimpinan.”


“Sampai pemuda ambisius itu mulai bergerak kembali seperti yang Arloji Perak katakan sepuluh tahun lalu. Kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Demi kelangsungan keharmonisan dunia―” sang pria kurus dalam balutan kebekuan memejam mata, mengambil napas panjang lekas mengeluarkannya kembali dan berkata, “Walau seisi dunia menjadi musuh kita ....”


***


Taman belakang UG.


 


 


Sepasang muda-mudi bersisian berjalan dalam setapak lajur bebatuan bata yang membelah petak-petak luas kebun mawar. Pemuda itu menunda langkah, sementara si gadis terikut berhenti di belakangnya empat pijakan. Sang gadis berucap, mengharapkan percakapan renyah namun pemuda berambut lebat keriting ibarat tentakel cumi itu menjawab sekenanya. Dalam getar nada biasa. Cenderung diam membiarkan. Membuat sang gadis merasa tiada arti dan akhirnya membisu mengulumkan bibirnya ke dalam kemudian mengenakan headphonenya yang mati. Pura-pura sibuk dan berusaha tak terlihat sakit hati.


Dari situasi sunyi mereka, tiba-tiba sebuah suara sumbang berkata, di hadapan pemuda itu, “Kak Ryan, lihat di mana ketua Diaz?”


Ryan mengernyitkan dahi, membuat beberapa plester luka di wajahnya berkerut. “Kenapa tanya aku?” lanjutnya.


“Aku pikir Kak Ryan dekat dengan Ketua Diaz karena kelihatan sering ribut. Jadi, apa Kak Ryan tahu di mana Ketua Diaz?” sahut Jian mengangkat kepalanya menjulurkan leher. Berusaha menyamakan tingginya.


“Dekat apanya. Kalau sering ribut artinya kami musuhan. Kenapa kamu malah anggap kami akrab. Ngomong-ngomong soal orang itu, entahlah, dia bukan urusanku. Aku lebih suka dia tidak berada di sekitarku.” Jawab Ryan ketus, tersenyum menggunjing sembari melempar pandangannya ke petak bunga mawar di sampingnya.


“Cih, bilang gitu kek dari tadi. Dasar jabrik galak.” Umpat Jian ikutan melempar pandang ke samping.


Ryan yang tersinggung menarik kembali lirikannya menatap tajam si gadis remaja berkacamata pilot di kepala yang mendatanginya tiba-tiba itu, “Kau bilang apa tadi?” tapi sosok Jian telah lenyap sebelum kalimatnya usai diucapkan sehingga Ryan berakhir mengusap pelan wajahnya sendiri.


***


Perpustakaan UG.


 


 


Leonardo duduk seorang diri di sebuah bangku panjang pojok baca paling jauh dari rak-rak buku bertingkat dari jati yang dipelitur. Delapan buku tertumpuk rapi di sisi kanannya di atas meja yang halus dan bersih. Denting tuts piano klasik melantun rendah syahdu dari tempat pengawas perpustakaan. Melingkupi seisi ruangan. Dalam suasana tenang dan damai itu, Leonardo membalik halaman buku tebal tentang sejarah PD-II yang sedang dibacanya.


“Kak Singa! Lihat di mana Ketua Diaz, tidak?” tegur Jian suara cemprengnya menggema ke seluruh ruangan. Leonardo sedikit terkejut, tubuh atasnya tersentak namun tidak sampai membuatnya kehilangan kesan tenangnya. Tanpa menggerakkan kepalanya, hanya sekilas ia melirik gadis periang yang duduk bertupang dagu berseberangan dengan dirinya kemudian sepasang matanya yang malas di balik kacamata oval itu kembali kepada paragraf-paragraf halaman bukunya.


“Aku tidak tahu, Jian Nadila. Tidak lihat.” Kata Leonardo tanpa menatap, “Dan tolong jangan sembarangan menyebut orang dengan pemenggalan arti dari namanya. Tolong hargai orang dengan memanggil nama aslinya jika kau ingin dirimu juga dihargai. Mengerti?” Jelas Leonardo.


Tak ada tanggapan dari lawan bicaranya. Leonardo melirik kembali, tapi gadis periang telah lenyap dari hadapannya. Beberapa pengunjung perpustakaan menoleh memerhatikan dirinya yang berbicara sendiri. Menahan malu dari tatapan mereka, dengan gerakan perlahan dan kikuk Leonardo menutupi wajahnya dengan buku yang dia baca. “Awas saja kalau nanti ketemu, gadis kecil menyebalkan ....” bisik Leo pelan.


***


 


 


Ruang makan besar UG.


 


 


“Kak Gendut, Kak Gendut!” Suara cempreng nan nyaring kini memanggil-manggil di rimba hiruk-pikuk keriuhan suara para Aila UG di ruang makan besar.


Di antara mereka, Bintu keheranan mencari pemilik suara. “Si ... siapa tadi yang memanggil?” tapi yang nampak hanya orang-orang yang sibuk dengan urusan dan kawan obrolnya di meja masing-masing. Karena mulai merasa hanya perasaannya saja bahwa namanya dipanggil, Bintu kembali duduk menikmati jus alpukatnya yang seperempat tersisa. Jus penutup santap siangnya.


Tetapi suara itu kembali terdengar, lebih dekat ke telinganya. “Kak Gendut?”


Sosok gadis belia dengan kacamata unik di keningnya muncul berjongkok di hadapan Bintu. Rok selututnya tersingkap oleh gravitasi, memperlihatkan dalaman celana hotpants hitam miliknya tanpa dosa.


Jus alpukat yang tengah diteguk pun tersembur keluar mulut. Bintu tersedak lalu berkata, “Kamu ini. Jangan muncul tiba-tiba dan jangan berjongkok di atas meja makan! Turun, cepat turun aduh.”


“Ahaha, maaf-maaf, Kak Gendut.” Gadis periang menteleport dirinya sendiri, duduk muncul di samping Bintu. Tanpa basa-basi kembali bertanya, “Kak Gendut tahu di mana ketua Diaz? Katanya Kak Gendut itu sahabat sejak kecil Ketua Diaz, kan? Pasti tahulah ...”


Bintu mendengus, “Tidak, minggu-minggu ini kami jarang bertemu.” Jawabnya kemudian menikmati jusnya. “Memangnya kenapa kamu cari-cari dia? Dia kan ketua tim-mu. Bukannya kamu yang seharusnya lebih tahu?”


Jian mengelus-elus dagu mungilnya, berpikir. Terlihat menggemaskan ketika dia mengulum bibir sementara matanya menerawang pikirannya sendiri. Hmm ... Kak Gendut juga tidak tahu, lalu si kecil pirang juga tidak kelihatan pagi ini padahal dia selalu bersama Ketua Diaz. Kakak listrik galak juga tidak kelihatan hari ini. Dan aku sudah mencari mereka di semua tempat ini....


“Akh! Jangan-jangan mereka berdua!?” seru Jian mendadak seraya berdiri. Karena gerakannya, meja di hadapannya bergetar dan Bintu kembali tersedak oleh jus yang tengah diminumnya.


“Sudah kubilang jangan tiba-ti ... lho? Dia sudah hilang.”


Seseorang menepuk pundak Bintu dari belakang, “Bintu, apa kamu melihat Diaz?”


Ketika Bintu telah mengusap mulutnya dari sisa jusnya yang mubazir, baru dia menoleh dan menjawab, “Ketua Abraham? Aku terakhir kali melihatnya tadi pagi ketika sarapan. Tapi sekarang aku tidak tahu di mana dia sekarang. Kami juga jarang bertemu akhir-akhir ini. Ada apa ya? Tadi salah satu anggota timnya juga bertanya padaku.”


“Begitu, baiklah. Terimakasih Bintu....” katanya, dan Abraham perlahan beranjak pergi.


“Nanti kalau bertemu biar aku sampaikan kalau kau mencarinya.”


“Tidak perlu, jangan beritahu dia.” Abraham menoleh melambaikan sebelah tangan. Meninggalkan Bintu dengan prasangka.


***


“Bagaimana? Mana pemula itu?” Sahut Fleiz yang berdiri di samping Mary.


Abraham menutup pintu kemudian mengenakan jubah hitamnya yang dijulurkan oleh Mary yang melangkah maju. “Kita berangkat tanpanya.”


“Ab, kau yakin?” kata Mary meragukan keputusan Abraham.


“Tenang saja, tanpanya tim penyelamat ini sudah cukup.”


Siswo mengepalkan tangannya sambil meninju-ninju kecil. Perut gempalnya bergetar naik turun, “Ketua Abraham benar, ayo segera berangkat dan kita beri balasan yang mengerikan pada mereka.”


Segurat senyum tipis disajikan Abraham menyaksikan antusiasme tim yang akan dipimpinnya dalam sebuah misi rahasia. Bersama Mary dia melangkah bergabung dengan para pemuda tim rescue Nightingale.


Fleiz, Siswo, Jim dan Raihan mantap memandang pemimpin mereka lalu Abraham berujar, dengan intonasi yang meyakinkan. “Rekan-rekan, mari kita berangkat ke Boston.”


Rahul yang bersebelahan dengan Jim menatap tajam, berbisik pada dirinya sendiri dalam penekanan seraya mengepalkan tangan. “Santi tunggulah, kami akan segera menyelamatkanmu.”


***


Pelabuhan Boston, Amerika Serikat.


 


 


Tim Rescue UG dalam pimpinan Abraham menyusup kembali ke dalam markas besar Anti-Crisis Amerika untuk menyelamatkan Santi. Di pelataran berpermukaan keras nan luas dan gelap, sembari mengawasi situasi dan mengamati sebuah bangunan gudang, Abraham berjongkok memberi aba-aba. “Siaga penuh, kita akan langsung masuk ke dalam pusat markas mereka. Jim...”


“Yak, kita masuk.” Tanggap satu-satunya pemuda Korea dalam tim. Mereka bertujuh terteleport di dalam terowongan pintu masuk dan lekas berlari menuju lapangan bawah tanah Anti-Crisis, dan ketika beberapa langkah memijak tempat terbuka itu, belasan tentara Anti-Crisis segera menyambut mereka dengan hujan tembakan.


“Mereka tahu kehadiran kita? Semuanya, berpencar tiga kelompok!” Komando Abraham yang berlari bersama Mary serta Raihan menuju ke sebuah bangunan putih. Jim bersama Fleiz berteleport muncul di hadapan bangunan gudang tempat penyimpanan senjata. Sedangkan Rahul dan Siswo tinggal di tempat pertempuran menghadapi mereka.


Mary seraya berlari menjulurkan tangan kanannya, mencipta bola dimensi hitam sebesar pintu melaju ke depan; menerobos-menelan apa saja di jalurnya―meninggalkan lubang sebesar diameter bulatan itu.


Abraham berlari mendahului Mary mewujud menjadi seekor cheetah hitam lekas menerkam tentara Anti-Crisis yang menghadang. Bersama Raihan sebagai penunjuk arah, mereka bertiga masuk semakin dalam melalui lorong-lorong ciptaan bola hitam Mary yang lurus melaju tanpa hambatan. Tak peduli liak-liuk lorong dan dinding logam.


Di tempat terbuka, Siswo meninju salah satu tentara Anti-Crisis, mementalkan tentara itu menubruk tiga sesamanya, dan sebelum tubuh tiga tentara tersebut menyentuh tanah, Rahul telah menerima mereka dengan pukulan dari sebuah mobil yang gepeng.


Rahul kemudian membentuk mobil tersebut menjadi bola sebesar TV 21” betapa mudahnya lalu memberikannya dengan melemparnya kepada Siswo. Dengan mantap tendangan maut Siswo menerimanya. Mobil yang ringsek menjadi bulatan itu melayang begitu keras ibarat bola yang tersepak membentur beberapa tentara Anti-Crisis yang menembaki mereka berdua.


Jim serta Fleiz telah memasuki gudang senjata, namun hanya menemukan beberapa mobil militer serta belasan peti kayu kusam yang dijaga oleh lima orang tentara Anti-Crisis. Fleiz menjulurkan kedua tangannya secara taktis kepada mereka dari jarak sebelas meter. Sejurus kemudian pemuda itu mengangkat kedua tangannya tinggi dan lima tentara itu melayang terhempas membentur langit-langit kemudian jatuh ke tanah mengikuti sepasang tangan Fleiz yang diturunkan.


“Fleiz, apa menurutmu ini tidak mencurigakan?” Jim maju mendekat melangkahi tubuh tentara Anti-Crisis yang tumbang dan menggeliat kesakitan.


“Aku juga berpikir begitu setelah memasuki tempat ini. Terlalu sepi dan mudah ... bisa dibilang kosong. Tempat ini telah ditinggalkan.” Sambung Fleiz. Pandangannya mengedar ke sekeliling.


Jim memeriksa kotak kayu di sampingnya. Hanya berisikan senapan biasa beserta amunisinya. “Lantas apa yang para tentara ini jaga?” ungkapnya.


Pupil mata Fleiz membesar menyadari sesuatu, “Kita harus segera menghubungi Abrah-”


DBUM!! Gudang tempat mereka singgah meledak hebat.


***


Di dalam gedung putih fasilitas yang dituju oleh Abraham, Mary serta Raihan.


 


 


“Apa-apaan ini?” Raihan memandang langit-langit tinggi di ruangan luas tempat di mana dulu ia bersama Fleiz dikepung.


“Ada apa?” tanya Mary.


“Mesinnya ... generator raksasanya tidak ada.” Jelas Raihan.


Abraham yang mendengar gerakan kecil segera merubah dirinya menjadi burung walet hitam melesat masuk melewati sandaran teralis besi pada balkon lantai dua jauh dari mereka. Sejenak terdengar jeritan pria asing dari lubang seukuran pintu yang gelap tak terjangkau jelas oleh mata itu. Hingga akhirnya Abraham muncul kembali dalam wujud burung bangkai besar yang terbang keluar dari ruangan itu lalu turun ke tempat Mary dan Raihan dengan membawa seorang tentara Anti-Crisis di kaki bercakarnya.


Abraham yang telah berubah kembali sebagai manusia mencekik kerah tentara itu, “Apa yang terjadi dengan tempat ini? Di mana gadis Aila yang kalian tangkap waktu itu?”


Sang tentara terkekeh dengan ekspresi setengah takut. “Aku tidak tahu. Perintahku tinggal untuk menjaga tempat ini. Itu saja yang aku tahu!”


“Menjaga? Apa yang kalian jaga?” sergap Mary.


“Menjaga supaya tempat ini tetap ada orang untuk menyambut bocah-bocah yang cukup bodoh masuk kembali ke sarang ular! Ha ha ha ha!!”


“Kau!!” Raihan hendak memukul pria itu namun Mary menahannya.


Abraham menjatuhkan tentara itu kemudian melakukan transmisi suara pada pergelangan jubahnya, “Semuanya mundur! Ini jebakan!!”


Namun mendadak ledakan beruntun mengguncang tempat mereka berada.


Di lain posisi, Rahul berseru dengan merunduk. Mendengar ledakan dahsyat dari kedua arah yang berbeda. “Apa yang terjadi!?” katanya menghadap ke arah ledakan kedua.


Tepat saat dia berseru, langit-langit gua bawah tanah markas besar itu meledak serta mulai runtuh dengan pecahan-pecahan besar. Ledakan beruntun terus terjadi secara menggelegar dan mengerikan.


Di daratan pelabuhan, permukaan tanah bergetar dan meretak patah dengan rekahan besar kemudian amblas sedalam belasan meter. Runtuh menyebar menyentuh tepi laut. Ombak yang tercipta menggulung balik ke tepi segera masuk mengisi dan membanjiri runtuhan daratan yang kini nampak bagai kawah yang tergenang. Cekungan amblasnya wilayah pelabuhan bergejolak oleh debur udara yang meloloskan diri hingga akhirnya sepenuhnya tenggelam dan berangsur tenang hanya menyisakan buih-buih gelembung putih.