
Gemuruh rendah percakapan kosong menyambangi indera pendengaranku. Tiupan angin dingin pada pengatur suhu yang berderet di dekat plafon ruangan ini agaknya kurang terasa tugasnya. Terlalu banyak orang di tempat ini. Penuh sesak didominasi oleh remaja sedang diriku hanya terdiam berdiri memerhatikan mereka berlalu-lalang melewatiku.
Mereka hanya melihatku sekilas kemudian beranjak mencari meja untuk disinggahi guna menyantap hidangan pada nampan yang mereka bawa. Ada beberapa yang kukenal, mereka murid-murid yang bersamaku saat kejadian di sekolah waktu itu. Tapi, tak ada satupun yang menyapaku. Seolah aku ini dianggap patung manekin tak bernyawa. Ya sudahlah, toh aku juga tidak mengenal pribadi mereka.
Aku berpaling melirik sekeliling. Mengamati ruang makan besar lantai satu ini. Puluhan set meja persegi yang didempetkan tiga pasang beserta kursi-kursi panjang ditata sedemikian rapi. Sepuluh meter menyamping darinya terdapat dapur UG dengan blok-blok meja permanen berlapis keramik. Aku kembali memandang langit-langit. Terdiam tak tahu harus melakukan apa. Kemudian kudengar sebuah suara memanggil.
“Oiiii! Diaz. Sebelah sini! Oiiii ...”
Suara yang sangat kukenal lekas kusambut lirikan cepat. Aku memasang pendengaran peka-peka mencari sumber si pemilik suara dan kudapati tangan yang melambai-lambai di antara kerumunan orang yang ramai sibuk riwa-riwi lima meter di hadapanku. Segera saja kuhampiri, menerobos seliweran manusia kemudian kutemukan sosok tubuh gempal yang sedang asik menikmati makanannya, Bintu.
Aku mendesah, berpura-pura kecewa, “Rupanya kau yang memanggilku.” kedua tanganku berkacak pinggang seperti bos yang mendapati anak buahnya tak becus. Meski dalam hati aku berterimakasih karena dia menyapaku. Setidaknya tidak membuatku terlalu lama mematung seperti rusa yang diusir dari kelompoknya.
“Hmm? Darimana saja? Sudah baikan?” sahut Bintu dengan mulutnya yang penuh mengunyah makanan.
“Yah, lumayanlah. Walau agak sedikit pusing. Dan beberapa lukaku masih belum sembuh benar. Dan jangan berbicara saat mulutmu sedang penuh dengan makanan ...” Aku duduk berhadapan dengannya.
Di atas meja terdapat piring-piring dengan sisa-sisa tulang ayam dan mangkuk sup. Pandanganku lekas tergelincir pada pemuda gemuk yang menyapaku itu. Pada tangan kanannya terdapat paha ayam goreng serta di sebelah kirinya terdapat mangkuk sup setengah santap. Pasti piring-piring ini miliknya, pikirku.
“Diaz, apa kau sudah diberitahu mengenai UG dan hal-hal lainnya?” ujar Bintu membuyarkan lamunanku dan dia masih sibuk dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
“Ya. Yaa ... sudah, Abraham menjelaskanku dan memberiku tur singkat. Seharusnya dia masih bersamaku sewaktu di lift tadi. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia menghilang, mungkin dia berubah menjadi kecoa dan terbang entah ke mana.” Jawabku penuh kelakar sarkastik sembari mengangkat kedua bahu sementara Bintu tiba-tiba tersedak. Dia menepuk-nepuk dadanya.
Kutegur dia, “Oi, telan dulu makananmu sebelum bicara.”
Bintu meneguk lebat air putih dari gelas besar di sisi kanannya. Kemudian selepas kerongkongannya dibanjiri gelegak air minum, Bintu melanjut setelah tertawa ragu, “Bisa-bisanya kau bercanda mengenai Wakil Pimpinan tempat ini. Ngomong-ngomong kau tidak makan?” tanyanya kemudian menyendok sup ayamnya.
“Ya mungkin se- ...” aku berdiri sejenak menoleh ke arah tempat koki menyajikan hidangan pada loyang-loyang besar. Tempatnya penuh sesak dengan antrian orang-orang yang berebut untuk segera mendapatkan pesanannya sehingga membuatku kembali duduk dan berkata, “−sepertinya nanti saja.” sambungku kembali menghadap Bintu.
“Ini menu spesialmu, anak muda.” Kejut seseorang meletakkan nampan dengan hidangan tertata di atas mejaku dari arah belakang punggung. Seperti layanan ekspres pada jin lampu Aladin. Hanya saja aku tidak memintanya apalagi menggosok sesuatu yang ajaib. Akupun nyaris meloncat kaget dari kursiku.
“Sia― hmph ...” ketika aku menoleh ke belakang, wajahku terbenam di antara benda tak bertulang. Detik berikutnya sepasang telingaku mendapati suara Bintu yang menyembur air tegukannya.
“Aduh!” Kepalaku ditepuk oleh sesuatu. Sembari mengusapi ubun-ubunku yang berkedut, kutengadahkan wajahku demi melihat siapa orang yang melakukan hal kurang ajar itu. Namun, bukannya menyalak memarahinya, pipiku malah merona dan aku yakin kalian sekarang sudah tahu pada benda apa wajahku terbenam sebelumnya.
“Kamu ini mesum, ya?” ujar seorang wanita dewasa bersetelan jas putih tanpa kancing berdiri di belakangku.
“Maaf ... aku, kan tidak sengaja membenamkan wajahku ke- aduh!” Belum usai aku berkata kepalaku dipukul kembali dengan gulungan majalah.
“Jangan dilanjutkan. Kamu ini antara keadaan polos dan mesum, ya? Jika cara bicaramu seperti itu kamu akan dijauhi wanita lho ... oh, terlebih penting temui aku untuk cek rutin di ruang perawatan sektor H1.” Jabarnya, kemudian sambil berlalu katanya, “jangan lupa. Karena ini tentang kesehatanmu. Barangkali ada semacam indikasi penyakit mematikan yang terlewat aku periksa karena sedang malas sewaktu menanganimu dua hari lalu,” sembari memberi lambaian sampai jumpa dengan mengayun gulungan majalah wanita itu menjauh pergi, sementara aku terbengong dibuatnya. Selama sosoknya berlalu dan menghilang keluar dari tempat ini, aku mengamatinya kemudian kembali menghadap pada meja makan. Penasaran dengan apa yang diberikannya, tapi kupikir itu hal yang salah.
“Waa ...” Celotehku setelah melihat set menu makanan yang ia tinggalkan untukku.
“Kenapa?” tanya Bintu yang telah selesai dengan aktifitasnya.
Kedua tanganku mengarah pada makanan di hadapanku. “Yah, aku tahu dia seorang dokter tapi ini ... sup berisi wortel, selada, brokoli, kol, kentang, tomat, kacang panjang, tahu, sawi, dan lobak dalam satu mangkuk? Perpaduan macam apa ini? Jangan-jangan dia yang memasaknya sendiri.” Ungkapku dengan mimik muka heran dan sedikit jijik enggan untuk menyantapnya.
“Tapi ada juga daging ayam panggang dan udang goreng.” Tunjuk Bintu pada sajian piring yang terpisah di dekatku. Ia memasang muka nafsu sok imut, “Boleh kumakan?”
“O tidak tidak. Daripada lama mengantri lebih baik aku makan saja. Haup haup.” langsung saja kusantap sup dan udang goreng yang ada sedang yang lain kuacuhkan.
Ditengah kesibukanku menyantap, aku kepikiran sesuatu, “Bintu ...”
“Hmm?”
“Siapa nama dokter berdada besar tadi?” tanyaku polos ditengah lahapan santap siangku.
“Oh, dia Dokter July.”
“Dilihat dari parasnya sepertinya dia orang latin, ya?” sambungku sembari menyantap kuah supku, karena merasa mubazir kalau tidak dicicipi.
“Mungkin. Banyak Aila dari berbagai penjuru dunia yang berada di sini. Tempat ini memang seperti bumi pertiwi untuk para pengidap AA.” Ungkap Bintu. Kepalanya menghadap langit-langit, matanya menerawang jauh.
“Ya?”
“Apa yang dilakukan Abraham saat pertama kali membawa kalian ke tempat ini?” Aku telah selesai dengan sup campur-campur dan saatnya beralih ke ayam panggang serta udang gorengku. Sensasi rasa dari sup yang kucicip ternyata dengan ganjilnya lezat di mulut ini meski tampilannya tak cantik. Dalam hati aku merasa bersalah telah mencela masakan dokter itu.
“Orang itu menolong kami. Melakukan tindakan cepat menolong yang terluka dan menguburkan dengan layak yang tak terselamatkan. Dan dia berkata seperti ini kepada kami: ‘Kalian telah aman di sini. Tempat ini terlindung dari pasukan tentara hitam Anti-Crisis itu. Tempat ini adalah tempat tinggal baru kalian. Rumah kalian. Keluarga baru kalian.’ Benar-benar sosok pemimpin yang ideal.” Bintu sedikit terharu.
Sesaat usai ia bicara, ngiang sebuah pengeras suara di sudut ruangan mencuri perhatian kami. “Pengumuman. Diberitahukan kepada seluruh Aila pendatang baru untuk segera mempersiapkan diri mengikuti pelatihan bakat di gedung L3 pada jam 3 sore, terimakasih.”
Ketika dengung pemberitahuan itu reda, Bintu menoleh sekeliling dan bangkit dari kursinya, “Yak, waktunya bersiap.” kemeja putihnya ditepisnya dari remah-remah makanan kemudian menatapku, “Mau ikut?” ajaknya. Atmosfir haru telah sirna dari parasnya. Ia tersenyum kecil, walau pada dua bola matanya terlihat basah.
“Hmm. Aku akan menyusul nanti. Aku ingin berkeliling sebentar.” kataku. Sekalian untuk memeriksa dan menyelidiki. Walau pastinya tindakan yang akan aku lakukan nanti bisa dikatakan ilegal. Apalagi jika didasarkan pada sikap Abraham yang suka bermain “rahasia” dan “tidak bisa” pada pembicaraan kami sebelumnya.
Bintu yang telah berjalan beberapa langkah melambai, “Oke kalau begitu. Aku duluan.”
“Yup,” aku balas melambai.
***
Ruang rapat lantai paling atas UG. Pukul 02:30 sore.
“Apa kata pimpinan, Abraham?” seorang pria gemuk paruh baya petinggi UG cabang Amerika Serikat berkata lesu.
“Kita akan menunggu sampai tim kami benar-benar siap untuk melakukan penyelidikan.” Jawab Abraham.
“Menunggu lagi? Sampai kapan? Kalian tahu keadaan kami di sini sudah di ujung tanduk. Mereka menangkap dan membantai para tim Rescue serta hampir menemukan markas kami. Tinggal menunggu waktu sampai mereka benar-benar menemukan kami.” Balas pria petinggi UG cabang Amerika Serikat itu. Badannya yang bongsor, dengan raut muka tanpa cahaya ditambah alis tebalnya menyiratkan bahwa dia telah putuss asa.
“Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kami akan mengirim tim penyelidik ke markas persembunyian mereka dua hari lagi. Mohon bersabarlah.”
“Dua hari? Dua hari baiklah, kami akan menunggu kelanjutannya.”
Seorang pria muda berpenampilan jas elit khas politis menyela, “Abraham, aku mendengar kabar bahwa ada seorang anak laki-laki yang menarik bersamamu. Apa kemampuan bakatnya?” dia menunjukkan foto seorang anak laki-laki.
“Anak itu ... maaf, soal itu kami belum memiliki datanya.” Mimik wajah Abraham berubah menjadi curiga.
“Kalau begitu biarkan kami yang mengawasi anak ini. Kabarnya dia mengalahkan satu peleton tentara Anti-Crisis sendirian. Seorang bocah, lebih muda darimu.” Gunjing pria muda pemimpin UG cabang Jepang itu.
“Dia akan tetap di sini, Tuan Musashi. Dalam pelatihan kami. Dan aku sendiri yang akan mengawasinya.” Sanggah Abraham dingin.
“Oh, kau terlalu baik. Baiklah, anak itu akan tetap bersamamu. Tapi aku akan utus seseorang untuk mengawasinya. Jadi, serahkan pengawasannya pada orangku.” Saran pria dengan alur rambut samping disisir ke belakang telinga. Seringai senyumnya nampak menyimpan sesuatu.
Abraham menatap tajam. “Baiklah. Kalau begitu sampai di sini pertemuan kita. Sampai bertemu pada pertemuan berikutnya.”
***
Gedung L3 pukul 03:00 sore.
Seorang pemuda naik ke atas mimbar di hadapan para Aila pendatang baru yang berbaris rapi di depannya. Pemuda itu tak lain adalah Abraham. Dengan mengenakan jubah hitam menjuntai di bawah lutut dia mendekat pada pembesar suara di hadapannya.
“Terimakasih telah hadir di tempat ini. Aku Abraham, ketua tim Rescue elit serta Wakil Pimpinan UG. Pertama, aku akan memberitahukan berita ini kepada kalian. Hari ini pemerintah telah merilis nama-nama serta wajah kalian sebagai buronan berbahaya dan memberikan perintah eksekusi mati kalian di tempat. Dengan ini kalian tidak bisa kembali lagi ke masyarakat.”
Suasana menjadi ricuh cemas. Para Aila pendatang baru saling berbisik. Raut-raut kegundahan menyeruak pada muka-muka remaja mereka.
“Yang kedua!” Abraham meninggikan suaranya. “Kalian akan mengikuti pelatihan sesuai dengan tipe bakat kalian. Siapa saja dari kalian yang ingin bergabung dengan tim Rescue UG harus mencapai level 4 atau dapat mengalahkan anggota dari tim Rescue dalam duel atau setidaknya memiliki potensi untuk mencapai level 4. Tugas tim Rescue adalah melakukan penyelamatan pada para saudara kita, para Aila yang tertindas di luar sana. Yang berarti melawan pasukan tentara hitam Anti-Crisis dan memerdekakan hidup kalian! Apa kalian siap!?” seru Abraham.
“Ya!” Sahut para pendatang baru serentak. Seisi ruangan terbakar semangat. Gemuruh di tempat itu memenuhi atmosfir ruangan dengan luas seukuran aula balai kota. Tinjuan-tinjuan kosong kepada udara dilayangkan para remaja penuh energi seraya mengelu-elukan nama UG. Dengan ini, pelatihan pun dimulai.