Aila Ability

Aila Ability
PHASE 16: Akhir Mula



Telah berapa menit aku memasuki mode kontamin? Entahlah ....


Aku berharap kemampuanku tidak menghilang sebelum monster iblis hitam yang tengah kami lawan itu tumbang. Kami menggempurnya dari berbagai penjuru, di atas danau buatan UG. Mencegahnya kembali menuju ke gedung utama walau entah apa yang sebenarnya ia cari.


Aku bertapak pada lempeng kristal padat kebiruan yang mengambang di permukaan danau. Dengan segala kemampuan bakat creaton berjulukan Perfect Fortress punyaku, kuciptakan dinding-dinding penghalang pada monster itu. Meski mudah dihancurkannya. Tapi aku tak punya pilihan lain. Hanya itu kegunaanku di sini. Membuatnya sibuk selagi Aila elit lain berperan menggempurnya dalam mode kontamin mereka masing-masing.


Abraham dalam wujud T-Rex besar bersayap menghantam sang monster hingga tenggelam ke dalam danau. Sejurus kemudian Aiko melancarkan serangan andalannya. Sebuah sambaran dahsyat yang mampu menghancurkan sebuah gedung.


Petir biru bagai pilar dari surga menghunus tajam ke danau. Sesegera mungkin aku mengentaskan diri dari air. Melayang beberapa meter di dalam bola kristal bakatku.


Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Riak permukaan danau berangsur tenang. Semua pasang mata menelisik mencari tanda-tanda kehidupan tempat monster itu jatuh sebelumnya. Namun, satu gelembung napas pun tak nampak akan muncul demi memastikan masih hidupkah dia.


Apa kami menang? Maksudku kali ini benar-benar menang? Ini semua sudah berakhir, kan?


Jika di dunia ini ada yang namanya ganjaran bagi siapa saja yang terlalu banyak berharap, aku mohon hapuskanlah. Sebab ketika aku hampir merasakan syukur bahwa semuanya telah berakhir, ratusan pilar kerucut hitam nan runcing menjulang beringas dari dalam danau mengentas belasan meter dari permukaan air.


Aku terpental jatuh menubruk bangunan Kebun Kaca. Bila tanpa perlindungan bola kritalku ini, aku pasti sudah tak berbentuk. Kemudian, denting kaca yang pecah menyadarkanku dari terkejut. Kutelisik sekitarku, dan kutemukan bahwa bunyi pecah dan retak yang terdengar bukanlah dari eksterior Kebun Kaca yang terterabas tubuhku. Melainkan, bola kristal pelindungku yang berkeretak lapisannya sedikit-demi sedikit memudar lenyap.


Hawa dingin di leherku telah sirna. Jemariku kurenggang. Mencoba menciptakan serpih kristal kemampuan bakatku namun tak ada yang terjadi.


“Sudah sampai batasnya, ya?” desahku lemas.


Setelah bola kristal yang mengurungku tinggal setinggi betis, telah runtuh dan pecah belah bagai cangkang telur, aku melangkah keluar dan demi apapun, apapun yang kini berada di hadapan mataku, seperti bukan berasal dari dunia ini.


Danau yang tadinya lapang kini menjadi hutan rawa dari ratusan pilar duri kerucut hitam yang menjulang belasan meter menghunus langit. Setan atau monster yang telah menciptakan hal seperti ini sudah pasti bukanlah tandingan kami dan iblis hitam itu kini nampak terbang di tengah-tengah rimba pohon duri batu obsidian tak beranting ciptaannya. Bak penguasa neraka.


Sementara para Aila elit yang menyerangnya tumbang seluruhnya. Sosok wujud Abraham yang telah menjadi manusia kini terbaring di pasir basah sana. Berdarah dengan beberapa luka tusukan di tubuhnya.


Jika aku bisa memilih menjadi kelinci percobaan Anti-Crisis, maka aku lebih memilih itu ketimbang berhadapan dengan iblis yang menjadi lawan kami saat ini. Sang pria iblis berwujud besar dan kekar dengan sepasang tangan yang panjang nyaris selutut dan bersayap duri dengan tato aktifasi mode kontamin level tujuh Agony yang berpendar di dada kirinya.


Kata-kata yang gadis periang ucapkan beberapa waktu lalu tiba-tiba menggema di telingaku. Penyesalan mulai berkumpul di dasar hatiku. Mestinya aku memilih bersama Jian bukannya kemari.


Kemudian, hawa dingin yang menusuk menyelimuti tubuhku. Atau hanya perasaanku saja? Mungkin, karena aku saking takutnya. Tetapi, sepertinya bukan. Kusadari kaca-kaca Kebun Kaca yang masih tersisa pada deret kerangka alumuniumnya mengembun tidak wajar. Suhu di tempat ini kurasakan menurun drastis. Aku mulai menggigil.


“Apa lagi yang terjadi?...” lirihku.


Kulihat di kejauhan sana, dari arah gedung utama UG, nampak sesosok pria berjalan sedikit bungkuk menuju ke danau. Kabel-kabel menjuntai pada beberapa bagian tubuhnya. Pada punggung, lengan atas dan paha. Rambut putihnya yang panjang menutupi separuh wajah.


Aku belum pernah melihatnya di UG. Pria aneh bertelanjang kaki itu telah sampai di tepian danau. Dia berhenti, sejenak memandang sang iblis yang terbang di atas danau lalu ujung kakinya dicelupkan ke air yang pasang. Kemudian aku terhenyak dan terpana atas apa yang kusaksikan.


Seluruh areal permukaan danau mendadak membeku. Padat beku. Kebekuannya terus merambat pada tiap-tiap benda yang basah terutama pada pilar-pilar duri itu. Kudapati sang iblis hitam di langit mengawasi kejadian di bawahnya. Lantas dia menjatuhkan diri. Bagai penerjun tanpa parasut meluncur pada diri sosok pria berambut putih.


DRAGH!


Pilar es runcing menunjam tubuh monster hitam itu hingga terpental jatuh. Muncul begitu tiba-tiba dari telapak tangan pria putih itu. Namun, sang monster iblis dengan sayapnya yang dikepak kuat-kuat kembali melayang terkendali di atas danau yang telah menjadi padang es.


Sang pria putih menyabetkan sebelah tangannya ke samping sementara jemarinya rapat sejajar. Pisau badai salju melesat memotong ratusan pilar duri hitam solid dalam sekali tebas. Benar-benar luar biasa! Hampir menangis mataku terbelalak sedang mulutku terperangah menyaksikannya.


“Apa kemampuan bakat dapat melakukan hal semacam ini!?” kataku tak percaya.


Potongan pepohonan duri-duri raksasa berjatuhan ke danau bagai helai rumput yang tersabit parang. Permukaan danau yang tadinya keras membeku pecah-belah terjatuhi potongannya. Meluap bak banjir musim hujan ibukota, seisi danau membeludak mencapai kakiku.


Pria putih berbakat es itu beranjak dari tepian danau. Meluncur bersama balok-balok es ciptaannya yang meninggi laksana menara tumpukan kubus menuju sang monster yang goyah posisi terbangnya oleh efek sayatan angin beku. Seiring dengan kepergiannya, aku lekas berlari menghampiri Abraham yang terkulai. Kejayaan mode kontamin-nya telah padam. Disaat yang bersamaan Jim tiba di sisinya dengan kaki terluka sebelum aku benar-benar sampai.


Aku menjaga jarak dari Jim. Berdiri di dekat Abraham yang duduk dipapah oleh pemuda itu. Kemudian, Abraham yang mengenakan masker respirator di mulutnya bicara terbata, dalam tatapan yang setengah sadar, “Pimpinan ... dia sampai turun tangan.”


“Pim- pimpinan? Jadi dia pimpinan UG kita?” jawab Jim. Kerongkongannya nampak menelan ludah, “luar biasa. Aku baru pertama kali melihatnya.”


Sebelah alisku berkedut. Mencoba merangkai teka-teki yang selama ini berada di pikiranku meminta untuk diselesaikan. Apa maksudnya ini? Jim yang seorang Aila elit bahkan tidak mengetahui bahwa pria putih es itu adalah pimpinan fasilitas UG ini.


Aku hampir tenggelam dalam benakku yang terseret arus perenungan ketika sebuah erangan keras dari tengah danau tempat dipenuhi pangkal duri raksasa batu obsidian yang telah terpangkas mengejutkan kami.


Jarak antara mereka berdua semakin menyempit dan masing-masing menyiapkan kepalan tinjunya dalam posisi melayang enam puluhan meter di udara. Lekas saat serangan mereka berdua saling hantam, tinju tangan berselimutkan es bertemu tinju godam batu obsidian, ledakan badai salju merebak luas dalam sekejap.


Suhu tempat ini mendadak menurun drastis. Udara menjadi keruh berembun membeku lalu menurunkan hujan salju. Sedangkan kami yang bagai curut di padang liar cuma dapat menyaksikan dengan takjub bercampur takut.


Aku berharap dengan segenap hati dan keprasahan, oh tuan misterius berambut putih. Aku mohon akhirilah semua ini. Walau pengharapanku tidak mencapaimu, tapi aku yakin kau akan melakukannya ....


Kabut dingin yang pekat berangsur menipis. Seluruh danau terlihat kembali meski dihujani salju dan didera hembus angin yang membuat menggigil. Sesosok hitam melayang di udara, rendah sejauh empat belas meter dari kami bertiga. Napasnya yang berat tersengal dan mengeluarkan uap yang melimpah membuatku was-was. Bila dia berbalik menghadap ke sini, dengan kemampuan bakat yang mengerikan itu, pastilah kami bertiga tak dapat berkutik. Namun, aku agak dapat menahan rasa cemas dan takutku ketika melihat tangan kanannya hancur sementara bagian potongannya beku membiru. Tapi, setelah kupikir-pikir, mungkin itu tidak akan menghentikannya. Karena kemampuan regenerasinya pasti akan bekerja seperti sebelumnya.


Sang pria es melayang mengepak empat pasang sayap esnya beberapa jarak lebih tinggi dari posisi sang iblis hitam. Kedua tangannya saling menyilang di depan dada. Tatapan dinginnya memandang rendah iblis hitam di hadapan kami.


Dengan suara khasnya pria berambut putih itu berkata, “Apa kau sudah selesai? Tidak ada gunanya melawanku lebih jauh lagi. Kau tak memiliki kuasa di sini.”


Sang iblis hitam terkekeh kacau, “Batu itu ... kekuatanmu itu tidak wajar. Kau memiliki batu itu, kan?” lantas dia mendongak kemudian berseru, “Kau menelannya! Batu itu! Aku dapat merasakannya di dalam tubuhmu! Brengsek, kau rupanya telah mengetahui kebenaran AA kemudian menelannya untuk dirimu sendiri, kan!?”


Apa maksudnya? Apa maksud perkataannya?


Perkataan mereka berdua memicu kecurigaanku. Rasa penasaran ini tak terkendali. Aku mencium suatu konspirasi, dari semua dugaanku mengenai kejadian-kejadian yang kualami, tentang UG, RR, dan Anti-Crisis. Dan segumpal pemikiran yang kupendam lama itu mendadak meletup lalu tanpa sadar pertanyaan di dalam kepalaku terucap keras.


“Kebenaran AA!? Apa maksudnya!? Ada apa sebenarnya dengan dunia terkutuk ini!?”


Kedua sosok paling kuat di hadapanku menatapku. Namun, yang membuka suara hanyalah sang iblis hitam.


“Apa orang ini tidak memberitahumu!?” timpalnya, sejenak menoleh pada pria es lalu melanjutkan setelah tertawa, “jadi begitu! Semua pengidap AA, yang ditampung di tempat ini rupanya tak tahu apa-apa.” ungkapnya. Perkataannya mengejutkanku. Tapi yang lebih mengkejutkanku, selain semuanya menjadi semakin membingungkan adalah ... tangan kanannya yang buntung terselimuti es tak teregenerasi kembali.


Dia menambahkan, “Baiklah biar kuberitahu! Rahasia AA atau yang kalian sebut sebagai bakat adalah itu bukan kemampuan spesial tanpa efek samping. AA, Anathema Ability, alias Kemampuan Terlaknat memanglah penyakit abnormal yang memberikan penderitanya kemampuan super. Dengan sumber asal penularan dari pecahan asteroid Laila yang memutasi neuron otakmu!


“Lambat laun seiring dengan kau terus menggunakan kemampuan itu, DNA serta sel-sel tubuhmu akan semakin rusak kemudian sekarat. Seperti sel kanker yang menggerogoti tubuhmu.


“Sampai akhirnya kau benar-benar mati, dan yang tersisa dari jasadmu bukanlah onggokan daging manusia melainkan musnah menjadi debu kristal meteorid!


“Tidak ada obat! Tidak ada vaksin! Cara-cara untuk sembuh adalah kematian itu sendiri atau kau harus mencapai level tertinggi untuk memperpanjang umurmu! Dan cara untuk mencapai itu adalah memakan batu asteroid asal yang menjadikan kita seperti ini!!”


“O- omong kosong!” kataku. “Kenapa!? Jadi ... jika itu semua benar maka tujuanmu kemari adalah untuk mendapat batu yang kau maksud itu demi memperpanjang umurmu!?” napasku memburu. Kepanikan menguasai diriku. Aku jatuh tersujud memeras kepalaku. Kemudian aku mendapatkan kesimpulan, “Lantas kenapa UG tidak memberitahukan hal ini dan malah meminta kami untuk menaikkan level bakat kami!?”


“Jangan dengarkan dia, Nak! Itu semua cuma bualannya. Orang ini adalah musuh. Dia akan bicara apapun untuk memecah belah kita. Menurutmu kenapa dia kemari? Demi alasan konyol mencari seonggok batu?” Timpal sang pria putih.


Sebuah sengatan dalam pikiranku menegangkan otot mataku. Urat-urat wajahku mengencang. Isi kepalaku bagai berdenyut-denyut saling menambat. Dalam guliran waktu yang terasa digebuk, kepanikanku mereda. Lantas aku berdiri kemudian tertawa kecil. Selarik pengertian kudapatkan secara menyakitkan. Lalu kukatakan, dalam nada kecewa dan bergetar, “Aah ... untuk mencegah kepanikan massal, ya? Ha ha.” Tekanan di sarafku mungkin sudah terlalu berlebihan hingga aku tak tahu lagi bagaimana cara menempatkan ekspresi yang tepat.


Lantas aku berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat ini menuju ke lapangan utama. Ke tempat di mana semuanya dievakuasi.


“Abraham!” kudengar pria putih berseru amat keras. Tujuan dari panggilannya sudah jelas tertebak olehku.


“Jim!” suara Abraham menyahut.


Aku berteriak sekencang-kencangnya bagai orang kalap sembari menambah laju lariku, “Akan aku beberkan semuanya! Rahasia busuk UG ini kepada Aila manasaja yang aku temui dan menghindarkan mereka dari UG!”


Jim muncul tiga meter di depanku. Aku tak berhenti melainkan semakin kutegaskan pijakanku dan berlari kesetanan menuju dirinya. Telapak kananku kukepal kuat bersiap meninju dengan seluruh kekuatanku yang tersisa. Dengan mata berair aku menjerit. Kukerahkan seluruh amarah atas kebohongan ini pada tinju yang kulayangkan ke arah wajah Jim.


Kemudian, tanganku terasa ditepuk. Dia menangkap tinjuku.


“...”


Ha ha. Jim sialan ....


Sekali lagi, aku dibuang dalam aliran perpindahan ruang yang gelap, dingin, serta sepi. Mengarungi tak tahu arah. Tanpa tahu tempat berlabuh.