6 Years With You

6 Years With You
BAB 6



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


"Bel, gimana rasanya bediri di atas podium habis itu diliatin sama Mr. Malvaro si tampan itu?" Tanya John sambil menyenggol tangan Bella. Bella tertawa kikuk.


"Apanya sih, John, mau ada dia atau engga juga aku bakal tetap gugup."


"Aduh, Bel. Kamu gak usah malu gitu deh, lihat dari tadi kamu itu salah tingkah waktu kita ngomongin Mr. Malvaro." Ujar salah satu rekan tim Bella, namanya Kate.


"Ini kenapa jadi ngomongin dia, lebih baik kita ngomongin tentang keberhasilan kita."


"Bu Bella, jangan ngalihin topik deh." Kata Adelya sambil tertawa dan menutup mulutnya dengan tangan.


"Oke. Oke. Iya, gugup banget! Udah, puas?!"


"Yah...ga seru nih, guys." Kata John. Bella menatap John kesal namun yang ditatap menjulurkan lidahnya. Entah kenapa John selalu saja membuat suasana menjadi lebih lucu, alhasil banyak yang tertawa dengan perilaku John. Sekesal apapun Bella terhadap John, ia tidak pernah bisa tertawa.


Bella meminum segelas jeruk sampai habus yang ia ambil tadi sebelum bergabung bersama temannya. Kemudian memberikannya kepada seorang pelayan yang selalu berkeliling mengambil gelas yang sudah di pakai.


"CEO kita tampan sekali ya walaupun usianya sudah tua. Lihat deh badannya, masih terbetuk indah. Dia mau jadi sugar daddy aku gak, ya?" Tanya Kate.


"Hah? Kate! Kamu simpanan sugar daddy?!" Seru John hingga membuat sekitarnya menoleh kearah dia. Kate langsung menoyor kepala John.


"Kalo ngomong tuh di saring, John. Yakali aku mau sama yang udah punya istri. Tapi kalo yang semacam Henry Malvaro pasti aku ambil juga." Balas Kate sambil tertawa kecil.


Bella hanya menggelengkan kepala. "Ada-ada saja kamu, Kate."


"Kenapa gak sama anaknya aja, Kate?" Tanya Adelya.


"Kamu gak tau, ya? Berita yang lagi hot ini." Balas Kate. Bella, John, Adelya, dan rekan lainnya menggelengkan kepala. "Kalian kenapa gak update banget sih sama berita panas ini." Lanjutnya.


"Ya, kan kita kerja, Kate. Bukan mencari gosip." Balas John. Bella dan Adelya hanya terkekeh. Kate memicingkan matanya kepada John. "John!"


"Baiklah, i'm sorry. Sekarang lanjutkan." Pinta John.


"Jadi gini. Daniel Malvaro, kepala komisaris di kantor pusat kita ini yang sangat tampan dengan tubuh atletisnya,"


"Langsung ke inti aja kali, Kate." Sela John. Kate memicingkan matanya kembali. John yang merasa berbahaya alhasil menelan salivanya. Kenapa Kate menjadi semenyeramkan ini hanya karena menggosip?


"Dia itu susah banget di deketin. Bahkan keluarganya katanya udah mempersiapkan perjodohan dengan wanita cantik dan pintar, bahkan ada yang lulusan Harvard dan Stanford. Atau, udah punya bisnis yang mampu memberikan keuntungan jika keduanya menyatu. Tapi Daniel menolaknya." Kata Kate. Bella dan yang lain menyimak, tidak ada yang berani memotong ucapan Kate kalau tidak, akan di tatap seperti John.


"Berita yang tersebar belakangan ini sih, banyak yang menganggap kalau Daniel kita ini adalah seorang penyuka sesama jenis."


"Hah?! Aku tidak percaya, lihat saja tubuhnya secowok itu dan pasti kejantanannya diacungkan jempol!" Seru John yang mampu menarik perhatian sekitar lagi.


"Kecilkan suaramu, heboh sekali. Sebentar lagi kita akan dikeluarkan sama security jika kamu terus berteriak!" Balas Kate sambil memukul lengan John. John meringis dan mengusap lengan yang menjadi korban kekerasan dari Kate.


Bella dan Adelya hanya tertawa menanggapi mereka. "Bel, muka kamu kok pucet?" Tanya Kate.


"Iya, Bel, kamu kenapa? Tadi kamu baik-baik saja." Ucap John merasa cemas dengan keadaan temannya ini. Bagaimana pun Bella ini sudah menjadi temannya sejak magang bersama.


"Aku sedikit pusing. Tapi aku masih bisa kok." Bella tersenyum getir. Kemudian kepalanya terasa sakit dan pandangan menjadi gelap. Yang ia rasakan terakhir sebelum kesadarannya hilang adalah ada yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dan suara teriakan dari John serta rekan lainnya.


Kate dan Adelya menyusul mobil John dengan mobil Kate pergi ke rumah sakit. Semuanya khawatir dengan keadaan Bella yang mendadak pucat dan kemudian tidak sadarkan diri. Harusnya malam ini dialah yang menjadi ratu karena acara ini untuk keberhasilan usahanya. Namun kehendak berkata lain, Bella mendapat masalah di hari bahagianya.


•••


Ketika matanya terbuka perlahan dan sedikit menyipitkan matanya karena cahaya dari lampu. Ia melihat ke sekeliling tempat. Ia melihat tangan kirinya tersemat jarum infus. Rasanya tenggorokannya sangat kering dan ingin minum. Tubuhnya masih lemas dan yang ia ketahui adalah ada John, Kate, Adelya, dan Josh dengan pakaian pesta berdiri di hadapannya dan membelakanginya.


"Aku kenapa?" Tanya Bella dengan suara kecil. Adelya membalikkan tubuhnya karena mendengar suara bisik-bisik kecil di belakangnya.


"Bu Bella?! Akhirnya anda sadar juga," ucap Adelya khawatir.


"Bel, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa masih ada yang sakit?" Tanya Josh yang sekarang sudah berada di sampingnya.


"Aku baik-baik saja. Tapi aku kenapa?"


"Sepertinya ada yang benci sama kamu, Bel. Kamu merasa ada yang menganggu kamu gak?" Tanya Kate terus terang. John menatap Kate sebagai kode untuk tidak membahasnya.


Bella mengerutkan dahinya. "Aku tidak merasa ada yang mengangguku. Semua seperti biasanya. Tapi kenapa? Apa aku diracuni kemarin?"


"Iya, beruntung saja Josh langsung membawamu cepat ke rumah sakit. Kata dokter, sekarang kamu sudah baik-baik saja setelah melakukan penanganan. Tapi kamu yakin Bel, tidak ada musuh?"


"Tidak ada, Kate." Kata Bella dengan wajah sedih. Entah kenapa ada orang yang jahat kepada dirinya padahal ia tidak pernah merugikan siapapun.


"Josh, terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit. Dan semuanya terima kasih, maaf kalau aku merepotkan kalian."


"Apaan sih, Bu Bella. Kami tidak merasa direpotkan." Kata Adelya tidak terima.


"Benar, Bella. Jangan menganggap diri kamu seperti itu, kita ini teman dan harus saling membantu. Kalau ada masalah dan menganggu kamu, tinggal bilang saja sama kita." Ucap John. "Kita pasti bakal berada di barisan pertama sebagai pendukung kamu." Lanjutnya.


Bella tersenyum senang. Ia bersyukur karena masih ada yang memperhatikannya. "Terima kasih." Ucapnya.


Dilain sisi, Sean melaporkan semua yang baru saja ia dengar dari ruang rawat rumah sakit kepada Daniel. Sean sendiri masih tidak percaya jika Bella diracuni padahal setelah ia mencari informasi tentangnya, Bella adalah perempuan yang baik dan pekerja keras untuk membantu keluarganya.


"Aku tidak mau tau, temukan siapa yang meracuni Bella dan langsung pecat jika sudah ketemu. Aku tidak mau ada seorang pembunuh di perusahaanku!" Bentak Daniel di telpon.


"Baik, Boss."


"Minta pihak dari Black membantu pencaharianmu jika kamu kesulitan." Kata Daniel.


"Baik, Boss." Kemudian Sean menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mendengar sambungan terputus. Ia merasa jika pekerjaan ini masih mudah sama halnya mencari informasi lawan bisnis. Ia tidak perlu meminta bantuan Black kali ini.


Sedangkan Daniel, ia mengusap kepalanya dengan gusar. Ia benar-benar marah. Pesta kesuksesan hanya dihadiri oleh pegawai perusahaan dan beberapa perusahaan yang sudah bekerja sama dengan Marvo Corp. cukup lama. Jadi ia menduga jika semuanya berasal dari orang dalam.


Namun sejauh yang ia ketahui dari informasi Bella, perempuan itu adalah perempuan yang baik dan sangat pekerja keras. Ia juga melihat catatan yang meliput keberhasilannya selama dua tahun terakhir. Tidak ada yang mencurigakan dari Bella, jadi tidak mungkin ia mempunyai musuh.


Baginya keamanan karyawan adalah hal yang penting. Oleh karena itu, dengan kejadian ini, seperti mencorengkan nama Marvo sebagai perusahaan yang sangat disegani. Meskipun ia hanya seorang kepala komisaris, cuman ia adalah anak dari pemilik perusahaan yang akan menggantikan posisi Ayahnya. Apalagi tadi Ayahnya juga datang, pasti Daniel juga berpikir kalau Ayahnya pasti sedang melakukan hal yang sama.


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semoga suka sama chapter kali ini. Jangan lupa untuk memberikan komentar dan vote agar aku semakin semangat untuk menulis. Thankyou, i love you!