6 Years With You

6 Years With You
BAB 24



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA SAMA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


|VOTE & COMMENT!


Hari ini Daniel tidak masuk ke kantor karena ia memilih untuk kerja dari rumah, lagipula tidak ada kegiatan yang mengharuskan dirinya untuk ke kantor. Sekarang ia duduk di meja makan untuk menyampan pancake sebagai sarapan pagi. Saat ia bangun tidur ternyata Sean sudah mengirimkan berkas-berkas yang perlu Daniel periksa. Ia berencana untuk menghabiskan waktu siangnya di ruang kerjanya.


"Bi, nanti malam aku ada makan malam keluarga, jadi Bibi tidak perlu memasak." Ucap Daniel saat melihat Bibi keluar dari dapur.


"Baik, Tuan Daniel." Balas Bibi. Perempuan paruh bayah itu bernama Diana, biasa dipanggil Bibi Ana oleh Daniel maupun keluarganya. Bibi Ana sudah mengurus Daniel sejak kecil dan tau bagaimana sikap serta perilaku Daniel. Ia sudah hafal semua karakter Daniel. Walaupun Daniel wataknya keras kepala dan selalu cuek tetapi dia adalah lelaki yang baik.


Daniel melanjutkan sarapannya ketika Bi Ana sudah pergi. Setelah selesai ia membawa piring bekas ia makan ke dapur untuk di cuci oleh Bi Ana atau pelayan yang bekerja di rumahnya. Daniel tidak menyewa banyak pelayan, hanya 3 orang termasuk Bi Ana. Oh ya, Daniel tidak pernah menganggap Bi Ana sebagai pelayan tetapi sebagai Bibinya karena dia sudah menemani Daniel sejak kecil, bahkan ketika kedua orangtuanya sibuk bekerja.


Daniel tinggal di salah satu penthouse termewah di kota New York. Tempat ini terkenal karena memiliki pemandangan kota New York saat malam hari maupun saat matahari terbit. Dia tinggal sendiri setelah memutuskan untuk tinggal sendiri sejak menyelesaikan pendidikannya di Oxford University jurusan bisnis. Ia menempuh pendidikan pertama di Harvard dan melanjutkannya di Oxford.


Sebelum lulus dari Harvard, Daniel sudah membantu perusahaan papanya di Cambridge, berhubung lokasinya masih datu daerah dengan Harvard. Lalu ketika ia memutuskan melanjutkan ke Oxford, papanya memberi tugas untuk membantunya mengelola cabang di Inggris. Beruntungnya dengan otak cerdasnya, Daniel berhasil membuat prestasi yang membanggakan sebagai pewaris Malvaro saat memegang cabang di Inggris.  Ia berhasil menarik banyak investor untuk membangun proyek dan menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan besar di Inggris.


Ketika Daniel sudah selesai dengan pendidikannya, Papanya menyuruh Daniel untuk bekerja di kantor pusat membantu dirinya. Daniel sama sekali tidak menolak walaupun hidupnya selalu dipenuhi oleh tanggung jawab. Ia bahkan tidak memiliki teman selain Jason. Beruntungnya Jason juga orang sibuk jadi mereka berdua sama-sama saling mengerti.


Daniel merogoh ponselnya ketika merasakan getaran di saku celananya. Ia melihat nama Sean. Ada sebuah pesan dari Sean, yang pastinya berisi pekerjaan. Daniel hanya melihat dan membalas 'oke' lalu menutup ponselnya lagi.


"Ah..." Helaan nafas Daniel ketika tubuhnya menyentuh sofa panjang di ruangan perpustakaannya. Ia biasa menghabiskan waktu di tempat ini saat hari minggu dan membaca buku bisnis yang tebal. Siapapun yang melihat buku itu akan lebih menyukainya untuk jadi bantalan kepala. Apalagi satu lembar saja sudah bikin sakit mata saking ukuran yang begitu kecil dan hanya penuh tulisan. Coba saja ada buku bisnis dengan gambar, pasti akan ada yang membelinya walaupun tetap tidak menarik untuk di baca.


Sepertinya mengambil keputusan untuk bekerja di rumah adalah kesalahan besar. Buktinya Daniel tidak habis-habisnya menghela nafas bosan sejak sarapan tadi. Akhirnya ia mengambil kunci mobil kesayangannya yang biasa ia gunakan ke kantor.


"Tidak!" Gumamnya sendiri. Ia menaruh kembali kunci mobil itu dan mengambil kunci lainnya, yang tidak pernah ia gunakan. Ia memiliki sekitar 7 mobil di garasinya di antaranya adalah 4 mobil sport dengan edisi terbatas. Oh, semua mobil Daniel adalah seri terbatas. Oleh sebab itu, ia sering kali berebutan dengan Damien, Arthur, maupun Andrew.


Ia mengambil kunci mobil lamboghini Veneno berwarna putih setelah ia menimang dengan Bugatti Veyron miliknya. Sekitar 30 menit ia sampai ke perusahaan Marvo. Ia bahkan lupa mengabari Sean jika dia datang ke kantor. Sean yang melihat kedatangan Daniel cukup terkejut sebab katanya Tuannya ingin bekerja di rumah. Padahal ketika Daniel meminta kerja di rumah, ia juga terkejut sebab selama ia bekerja, Daniel tidak pernah ingin kerja di rumah.


"Bawakan aku berkas yang kamu kirimkan pagi tadi. Aku belum memeriksa semuanya." Ucap Daniel sambil melepas jas kantornya dan menggantungnya pada gantungan tiang di sebelah meja Daniel.


"Baik, Tuan." Balas Sean.


"Apa hari ini ada meeting mendadak?"


"Tidak ada, Tuan. Kegiatan hari ini sangat santai. Ada hanya perlu memeriksa berkas-berkas agar mereka bisa meneruskannya ke direktur." Tutur Sean. Daniel hanya menganggukkan kepala.


Sedangkan dilain sisi, Bella sedang memperhatikan karyawannya yang sedang bekerja dari balik jendela ruangannya. Ia juga melihat Zara sedang tidak ada di mejanya karena sedang mengurus adiknya. Kata Zara, besok ia sudah bisa masuk kerja karena keadaan adiknya sudah membaik. Dia bahkan baru tau jika Zara hanya tinggal dengan adiknya karena kedua orangtuanya meninggal saat kecelakaan pesawat.


Sebenarnya pekerjaan Bella tidak begitu banyak hari ini dan ia memutuskan untuk memantau para karyawannya. Ia sudah memeriksa berkas-berkas yang perlu ia tanda tangani. Mendadak ia lebih menyukai divisi pembangunan saat ia bekerja di Jewels. Ada banyak hal yang bisa ia lakukan dan selalu berinteraksi dengan orang luar, bahkan kegiatan luar kantor. Sekarang ia hanya bisa duduk di ruangan dan memeriksa semua laporan serta ikut meeting. Semuanya ia lakukan di dalam gedung dan sangat bosan.


Ketika waktu sudah menunjukkan siang hari, ia keluar ruangan dan menuju ke kantin. Hari ini ia ada janji makan siang dengan Peter.


"Hai!" Panggil Peter yang juga baru sampai di kantin.


"Hai! Menu hari ini lumayan enak loh. Ada spagetti, Katsu, nasi hainam, dan sushi salmon." Tutur Bella sambil menunjuk ke arah layar menu di sana. Peter menganggukkan kepala.


"Iya dan aku tertarik dengan nasi hainam. Nasi hainam mengingatkanku dengan singapura. Mereka memiliki nasi hainam yang sangat enak disana." Timpal Peter. Bella mendadak menjadi tertarik untuk mencoba nasi hainam.


"Tadi aku kepikiran untuk makan katsu tapi aku tertarik untuk coba nasi hainam."


"Kau harus tau kalau makanan asia itu banyak yang enak. Kita disini sangat jarang makan nasi tapi orang asia sangat menyukai nasi."


Bella membulatkan mulutnya sambil mengangguk. "Bahkan aku dengar ada negara di asia yang memakan nasi sebagai sarapan." Sambung Peter.


"Benarkah? Aku bahkan tidak bisa makan berat untuk sarapan." Ucap Bella sambil tertawa kecil. Peter mengerdikkan bahunya sambil tersenyum.


"Aku juga tidak tau, Bel. Yang pasti mereka sering melakukannya."


Setelah selesai mengantri, mereka membawa nampan berisi nasi hainam ke meja kosong. Mereka duduk di lantai dua kantin karena lantai pertama sudah di penuhi oleh karyawan lain. Sekedar informasi, karyawan yang bekerja di Marvo maupun anak perusahaan Marvo membayar makanan mereka di kantin menggunakan kartu pengenalan mereka. Kartu tersebut biasa diisi saldo setiap bulannya oleh pihak kantornya.


"Hai!" Tiba-tiba seorang lelaki datang dan duduk diantara mereka berdua. Bella seperti pernah melihat lelaki ini. Kalau tidak salah namanya itu Damien.


"Pak Damien?" Panggil Bella.


Damien langsung tersenyum. "Aku tau kau akan mengingatku tidak seperti temanmu itu. Dia sangat bodoh." Ucapnya sambil terkekeh.


Bella tersenyum kaku. Apa yang dia maksud itu Kate?


"Temanku yang anda maksud itu Kate?"


"Memangnya temanmu lagi siapa yang pernah aku lihat?"


Bella langsung mengangguk sambil membuka mulutnya. "Jadi anda ada keperluan apa dengan saya, Pak?" Tanya Bella. Sebab dirinya sedang makan dengan Peter dan tidak akan mengenakan jika membahas hal lain yang tidak Peter ketahui.


"Apa kalian sedang berkencan?" Tanya Damien tanpa pikir saat melihat lelaki di sebelahnya.


"Dia temanku, Pak." Jelas Bella sambil tersenyum.


"Saya Peter, Pak Damien." Ucap Peter memperkenalkan diri. Damien mengangguk dan kemudian beralih ke Bella kembali. Dia tidak tertarik untuk mengathui Peter lebih jauh, cukup hanya sebatas namanya.


"Baguslah, kalau tidak DanDan akan cemburu melihatnya." Kata Damien sambil tertawa, ia membanyangkan Daniel melihat ini dan terbakar cemburu. Walaupun ia tau Daniel tidak pernah menjalin hubungan sama sekali. Ia hanya menafsirkan yang tidak tau apa akan terjadi.


"DanDan?" Tanya Bella sembari mengerutkan dahinya.


Bella langsung mengerti siapa itu DanDan yang dimaksud. Itu pasti Daniel. "Tidak perlu, Pak. Lagi pula Peter hanya teman saya dan DanDan tidak mungkin cemburu ketika melihat saya dengan Peter."


Tidak mungkin Daniel cemburu karena tidak ada cinta diantara mereka. Hanya sebatas kebutuhan dan kontrak diatas kertas putih. Damien tersenyum tipis dan kemudian beranjak berdiri. Ia tidak mau lama-lama di antara mereka berdua. Melihat wajah Peter membuat dirinya kesal karena ia merasa tersaingi oleh ketampanan Peter. Peter masih muda dan pasti masih kepala dua, sedangkan dirinya sudah kepala tiga, tahun ini ia berusia 33 tahun.


"Aku pergi ke ruangan Daniel. Sampai jumpa, Bella." Damien tersenyum sebelum membalikkan tubuhnya dan pergi.


Bella menghela nafas lega. Ia melihat ke arah Peter yang sedang menatap dirinya. Dari raut wajah Peter, Bella yakin pasti lelaki itu ingin bertanya.


"Bella, apa kamu sudah punya kekasih?"


Bella tidak tau harus menjawab apa, sebab dirinya seperti ada status dan juga tidak ada. Walaupun pernikahannya hanyalah kontrak dan hubungannya tertutup, tapi Daniel pernah bilang akan membawa ke pesta bisnis maupun perjalanan dinas. Berarti hubungannya makin lama akan banyak di ketahui.


"Lupakan saja perkataanku, aku hanya sembarangan bertanya." Ucap Peter sambil tertawa kecil. Ia melanjutkan makannya dengan muka murung. Bella memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraannya, ia juga masih bingung.


Bella tersenyum kearah Peter saat Peter melihatnya.


"Apa kita sudah mau naik keatas sekarang?" Tanya Peter ketika Bella selesai makan.


"Iya, aku harus kembali ke ruanganku karena asistenku sedang tidak ada." Jawab Bella. Peter menganggukkan kepala. Setelah makan siang rasanya menjadi canggung. Peter tidak banyak bicara dan Bella juga tidak berani membuka pembicaraan.


"Aku duluan ya, Bel." Tutur Peter ketika sudah sampai di lantainya. Bella tersenyum sambil menganggukan kepala.


Bella sampai di ruangannya dan menyandarkan punggungnya di sofa panjang di ruangannya. Ia merasa kenapa Damien mesti membahas soal itu? Mungkin jika tidak ada kehadiran Damien pasti dirinya tidak akan canggung dengan Peter.


•••


Malam harinya.


Daniel sudah menunggu Bella di mobil. Saat ini ia sedang menjemput Bella di depan apartmentnya. Tidak lama ia melihat sosok Bella yang keluar dari gedung apartment dan berjalan mendekati mobilnya. Sean sudah bersiaga di depan mobil untuk membuka pintu untuk Bella.


Daniel bisa melihat Bella tersenyum untuk Sean. Wajahnya hanya datar melihatnya. "Maaf jika aku membuatmu harus menunggu." Kata Bella saat sudah duduk di sebelah Daniel.


Daniel mengangguk dan tidak ada pembicaraan lagi. Bella sangat cantik hari ini dengan gaun yang Daniel berikan kemarin. Malam ini ia memakai gaun berwarna hitam karena kemarin malam ia sudah memakai yang warna merah. Gaun yang Bella pakai hari ini sangat mencetak bentuk tubuhnya, yang membuat dirinya keliatan elegan dan anggun. Daniel bohong jika dalam hatinya tidak bilang Bella cantik hari ini.


Sesampainya di hotel tempat mereka akan makan malam, Sean membukakan pintu untuk Daniel dan Bella. "Sean, kalau kau ingin pulang tidak masalah. Aku bisa pulang sendiri."


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya pulang dulu." Sebenarnya Daniel tidak memaksa Sean untuk mengantarnya tapi ia juga tidak tega membiarkan Sean menunggu makan malam selesai. Ia tidak ingin asistennya mati kebosanan, lebih baik dia bekerja.


Daniel mengangguk sedangkan Bella tersenyum. Ketika Sean sudah pergi dari hadapan mereka setelah menyerahkan kunci mobil kepada Daniel, Daniel menyuruh Bella untuk memeluk lengannya. Bella mengiyakannya dan memasuki hotel. Kedatangan mereka berdua dari pintu masuk hotel sudah menyita banyak pasang mata karena mengangumi visual mereka berdua. Daniel yang sangat tampan dan berwibawa dengan jas serta Bella yang sangat anggun dengan gaun hitamnya.


"Halo, Pa, Ma." Sapa Daniel setelah sampai di depan kedua orangtuanya.


"Selamat malam, Mr. And Mrs. Malvaro." Sapa Bella sambil memakai senyuman terbaiknya. Ia tidak bisa menutupi rasa gugupnya saat ini. Ia menelan salivanya ketika melihat tatapan Ibu Daniel mengarah ke arahnya dan memeriksa dari atas hingga bawah.


"Apa kau Isabella?" Tanya Henry.


"Iya, Pak. Nama saya Isabella Quinn, anda bisa memanggil saya Bella." Jawab Bella sopan. Ia semakin mengeratkan pelukan tangannya pada lengan Daniel.


"Bella, kau tidak usah gugup dengan kita. Bagaimanapun kita akan menjadi keluarga. Pantas saja Daniel menolak semua wanita yang istriku pilihkan, ternyata dia sudah memiliki wanita cantik disisinya." Kata Henry sambil tertawa.


"Saya yang beruntung memiliki Daniel di sisi saya." Balas Bella ikut tertawa. Daniel masih diam dan mengikuti alur yang Bella buat. Tapi matanya tidak berhenti memperhatikan ibunya. Walaupun ibunya tidak pernah melihat status sosial tetapi masih saja ibunya suka melontarkan banyak pertanyaan.


"Jadi Bella, sejak kapan kamu mengenal Daniel?" Tanya Bellina tiba-tiba. Bellina bahkan belum menyapa Bella.


"Belum lama, Bu Bellina. Tapi saya yakin bahwa Daniel adalah pilihan yang tepat bagi saya." Jawab Bella.


"Bagaimana kamu bisa yakin begitu cepat? Apa kamu hanya mau harta anak saya?"


"Ma, Bella saja masih bekerja. Dia bahkan menjadi ketua di divisinya padahal aku sudah minta untuk dia tidak bekerja lagi." Daniel membantu Bella kali ini.


"Mama bertanya kepada Bella, Daniel! Kamu diam saja."


"Sudahlah, sayang. Aku juga tau kalau Bella bekerja di perusahaan kita. Waktu itu aku melihat Bella di divisinya." Ucap Henry. Dia tidak berbohong saat mengatakan ini. Ia melihat Bella saat pesta perayaan kesuksesan proyek Boston saat itu dan Daniel juga kasih tau kalau Bella akan dipindahkan ke Marvo. Henry langsung menyetujuinya.


Bella masih tersenyum. Rasanya tidak bisa yang ia lakukan tanpa tersenyum.


"Sekarang kita mulai makan saja. Kamu tidak perlu memusingkan pilihan anak kita, sayang. Aku tau kalau Daniel tidak akan salah pilih istri. Dia sangat berhati-hati dan tau apa yang harus ia lakukan." Sambung Henry. Daniel tersenyum puas. Inilah yang ia sukai dari papanya. Papanya selalu memberinya kebebasan dan tidak pernah ikut campur dalam masalah pribadi bahkan percintaan. Tapi kalau urusan perusahaan pasti akan ikut campur.


Bellina terlihat menghela nafas. Benar apa kata suaminya. Ia tidak perlu memusingkannya karena ia yakin anaknya tidak akan mengecewakannya. "Ya sudah mari kita makan malam." Ucap Bellina.


Bella juga ikut nafas lega karena sesi menegangkan ini selesai juga. Daniel tersenyum kecil karena ia berhasil membuat kedua orangtuanya menerima Bella. Dengan begitu ia mengucapkan selamat tinggal untuk semua perjodohan.


Bye.


Welcome, new position!


TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih sudah membaca dan menunggu cerita ini. Hari ini aku nulis chapter ini sangat panjang biar kalian puas membacanya. Apa jangan-jangan masih belum puas juga?


Jangan lupa untuk selalu memberikan VOTE & COMMENT sebagai bentuk memberi semangat ke aku. Thankyou semuanya, I love you! 💖