6 Years With You

6 Years With You
BAB 4



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


Hari ketiga di Boston, kegiatan Bella di penuhi oleh semua yang berkaitan dengan proyek ini. Saat ini ia sedang bersama tim lainnya berdiskusi tentang apa saja yang sudah di lakukan dan apa ada kendala lain. Mereka juga membicarakan tentang rencana yang lebih baik dari yang sudah di rencanakan tanpa mengubah tujuan dari adanya proyek ini, yang sudah tercantum dalam proposal.


"Hari ini kita akan kedatangan-"


"Mr. Malvaro!" Seru John menyela Bella.


"Iya benar. Beliau datang untuk mampir dan melihat perkembangan kita," ucap Bella.


"Mr. Malvaro yang tampan itu? Kepala komisari kita?" Tanya Rose. Bella hanya tersenyum dan menaikkan kedua bahunya.


"Benar kan, Bel?" Tanya rekan yang lain.


"Lihat nanti saja." Jawab Bella, kemudian membereskan semua dokumen laporan miliknya. Saat bangkit berdiri dari kursi, ia melihat semua rekan timnya menatap kearahnya, menunggu jawaban. Ia menganggukkan kepala. Sedetik selanjutnya terdengar sorakan gembira dan mereka semua saling bertepuk tangan. Bella tertawa kecil.


Sebenarnya dalam hati ia juga bersorak senang. Mungkin karena setelah melihat wajah tampan Mr. Malvaro saat berebutan taksi, membuat dirinya ingin terus memanjakan matanya dengan pemandangan indah lagi. Bella melirik jam tangan dan kemudian ia membubarkan rapat ini.


Sedangkan di lain tempat, dimana Daniel dan Sean sedang berada di perjalanan menuju Perusahaan Heaton. Heaton di pimpin oleh Alfred Heaton, yang tidak lain adalah teman dari Arthur Harrison. Sebelum kedatangan ke Boston, Alfred mengajak dirinya untuk makan pagi bersama dan membicarakan bisnis sebentar.


"Apa sudah ada kabar dengan Millenov? Sepertinya susah sekali menyakini Andrew itu." Ucap Daniel sambil menatap luar jendela mobil.


"Anda pasti bisa menyakini Andrew. Jika Martin Group saja bisa kita ajak bekerja sama maka tidak ada bedanya dengan Millenov," kata Sean.


Daniel menggaruk pelipisnya tak gatal. Tidak ingin memikirkan bagaimana menaklukkan Millenov, akhirnya ia kembali memusatkan ke laporan di tangannya. Dimanapun Daniel berada maka pasti ada pekerjaan.


Akhirnya mobil mereka berhenti di Perusahaan Heaton. Di depan pintu utama, ia bisa melihat ada seorang perempuan yang tidak lain adalah sekretaris Alfred. Perempuan itu menuntun Daniel hingga ke ruangannya, ruangan CEO. Dalam hati Daniel, ia merutuki dirinya yang sampai sekarang belom juga menduduki jabatan itu. Persetan dengan permintaan mereka yang meminta dirinya untuk menikah.


•••


Bella menarik nafas panjang dan merapihkan pakaian di toilet sebelum bersiap menemui Daniel Malvaro. Meskipun ini bukan pertemuan pertama, cuman karena pernah mengatakan tidak tau diri membuat dirinya menjadi gugup. Apa Daniel masih mengingat dirinya? Baguslah jika dia lupa. Maka Bella akan aman.


Adelya memanggil Bella untuk cepat-cepat ke depan karena mobil Daniel sudah datang. Dengan tarikan nafas sekali, ia melangkahkan kaki menemui Daniel. Hari ini ia merias dirinya karena ia ingin menghargai sosok Daniel.


Bella berdiri di bagian tengah sementara rekan tim lainnya berdiri si sekitarnya. Daniel turun dari mobil sembari mengancingkan jasnya. Semua perempuan disini terjaring oleh ketampanan milik Daniel. "Dia sangat tampan!" Ucap salah satu rekan timnya pelan.


Saat Daniel datang, rasa gugup tidak bisa Bella hindarkan. Entah kenapa berdiri di sampingnya membuat jantungnya berdetak sangat kencang. Namun dengan segera ia menetralkan kembali.


"Selamat pagi, Mr. Malvaro. Saya Isabella sebagai ketua tim disini merasa terhormat dengan kedatangan anda." Ucap Bella menyambut kedatangan Daniel dan memperkenalkan diri. Daniel menganggukan kepala.


"Mari saya bawa anda berkeliling sebentar sebelum ke ruangan saya untuk membicarakan perkembangan proyek ini." Kata Bella. Daniel kembali mengangguk dan mengikuti Bella yang berjalan di sampingnya.


"Sean nanti minta soft copy laporan ini." Pinta Daniel kepada sekretarisnya.


Sean melihat ke arah Bella dan Bella menganggukkan kepala. Selesai memantau lapangan, Bella membawa Daniel menuju ruangannya. Adelya membawakan minuman untuk Daniel. "Silakan di nikmati, Mr. Malvaro.'


Daniel melirik ke arah Bella. "Terima kasih." Bella tersenyum.


"My pleasure, Mr. Malvaro."


"Penampilanmu berbeda dari yang kemarin." Kata Daniel, Bella mengernyitkan dahinya.


"Maaf kenapa? Saya tidak begitu-"


"Sudah lupakan." Bella bisa melihat Daniel yang tidak senang. Apa dia melakukan kesalahan hanya karena tidak begitu mendengar ucapan Daniel?


Bella menelan salivanya.


"Saran dari saya. Lebih baik penampilan kamu seperti kemarin aja," Kata Daniel. Oh, jadi dia membahas tentang penampilan. Sejak kapan seorang seperti Daniel rela membahas soal penampilan pegawai? No! Jangan berburuk sangka dulu, penampilan pegawai mencerminkan bagaimana sebuah perusahaan itu mendidik pekerjanya.


"Baik, Mr. Malvaro. Sebelumnya, maafkan saya yang kemarin. Saya tidak terlalu mengenali anda." Kata Bella sambil membungkukkan tubuhnya.


"Tidak masalah, mulai sekarang kamu harus lebih mengenali siapa atasanmu. Oh, ya, lakukan proyeknya ini seperti ini saja. Jangan ubah kinerjamu yang sekarang."


"Baiklah, Mr. Malvaro."


"Kamu sudah bekerja lama bukan di Jewels Group?"


"Saya masih baru, tahun ini adalah tahun kedua saya bekerja." Jawab Bella. Daniel menganggukan kepala dan ia memegang dahunya. Bella tidak tau apa yang dipikirkan oleh Daniel sekarang.


"Terima kasih, Mrs. Quinn. Saya tunggu perkembangan proyek ini lagi. Sampai bertemu sewaktu perayaan kesuksesan." Kata Daniel.


"Mari saya antar kedepan." Daniel menaikkan tangan seakan memberi isyarat untuk tidak perlu. Bella menganggukan kepala.


"Terima kasih, Mr. Malvaro. Semoga harimu menyenangkan." Kata Bella. Setelah itu ia hanya melihat punggung lelaki itu yang menghilang dari balik pintu ruangannya bersama dengan Sean di belakang. Bella menghela nafas lega. Akhirnya rasa gugup yang menyerang dirinya sejak tadi menghilang juga.


Jantung masih sehat tidak, ya?


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semoga suka sama ceritanya. Terima kasih yang udah memberikan vote dan komentar. Love you!