6 Years With You

6 Years With You
BAB 10



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


Sean menunggu Daniel di depan kamar tuannya. Sesuai jadwal kegiatan hari ini, Daniel akan makan malam dengan Loren. Dia juga tau kalau Daniel sangat malas untuk menghadiri makan malam, bahkan tuannya sendiri yang mengatakan terus terang. Jika bukan paksaan dari Nyonya yang menakuti Sean sepertinya Daniel tidak usah pikir panjang untuk menolaknya.


Daniel keluar dari kamar dan Sean mengekori dari belakang. Halaman dengan rumah, sudah tersedia mobil hitam keluaran terbaru yang baru saja Daniel beli pekan lalu. Tuannya memang suka sekali membeli mobil sport. Apalagi jika mobil pilihannya hanya keluar beberapa saja, pasti tuannya akan sangat senang bersaing.


Sean membukakan pintu belakang untuk Daniel. Setelah itu, dia memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi. Mobil mewah tersebut keluar dari pelataran halaman Daniel menuju lokasi makan malam. Sepanjang perjalanan Daniel hanya menatap keluar jendela, menikmati malam Brooklyn.


"Sean, dimana berkas-berkas yang harus ku tanda tangani?" Tanya Daniel. Ia heran kenapa tidak ada satupun dokumen di mobil. Biasanya Sean akan selalu menyediakannya.


"Tidak ada, Tuan. Nyonya akan membunuhku jika membiarkanmu bekerja saat ingin makan malam." Jawab Sean sambil beberapa kali melihat Daniel dari balik kaca mobil.


Daniel berdecak kesal. "Kenapa kau jadi takut begini? Siapa atasanmu? Bukankah saya selalu bilang untuk utamakan pekerjaan dari yang lain?"


"Iya, Tuan. Maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya."


"Oh, ya, lain kali jika ada panggilan dari Mama langsung sambungkan kepadaku. Tanpa terkecuali!" Pinta Daniel.


"Baik, Tuan."


Daniel tidak akan membiarkan keinginan Ibunya berjalan dengan baik. Ia sudah muak dengan segala macam perjodohan. Daniel benarkan jika wanita yang di jodohkan dengannya sangatlah sempurna. Cuman hatinya selalu menolak kehadiran mereka. Oleh sebab itu, ia selalu saja diolokkan oleh Damien karena bertingkah seperti lelaki alim dan tidak suka perempuan mendekat. Lebih kejamnya, Damien pernah mengatakan penyuka sesama jenis. Rusak harga diri seorang Daniel Malvaro oleh Damien sialan itu.


Sean menghentikan laju kendaraannya ketika sudah sampai tujuan. Ia membukakan pintu untuk Daniel dan dengan cepat ia melempar kunci mobil kepada pihak Vallet. Kemudian Sean mengekori Daniel dari belakang.


"Sean, aku akan menunggu selama 15 menit. Jika sosok si Loren itu belum tiba, maka siapkan mobil. Saya ingin pulang." Pinta Daniel. Sean menganggukan kepala.


Ketika Daniel memasuki ruang private, Sean menunggu di luar dengan tubuh tegapnya. Sesekali ia mengecek ponselnya, melihat apa ada email yang masuk atau sesuatu yang penting. Ia melihat sebuah email dari Jewels Group yang isinya adalah Bella akan pindah ke Marvo 2 hari lagi, berarti lusa. Tepat dengan perintah Daniel untuk memindahkan Bella dalam waktu 3 hari. Beruntung Sean adalah sekretaris yang sigap. Ia bahkan tidak bisa memikirkan kebahagiaannya sejenak, yang ia pikirkan adalah semua kebutuhan dan keperluan serta keinginan Daniel adalah utama.


Mungkin jika Sean adalah perempuan, maka sudah bisa di pastikan sangat cocok bersanding dengan Daniel.


15 menit kemudian....


Sean mengetuk pintu dan melaporkan kepada Daniel jika waktunya telah habis. Ia bisa melihat muka Daniel sudah menekuk saja.


"Bagus, siapkan mobil." Pinta Daniel. Ia beranjak dari kursi dan merapihkan jasnya.


"Sudah siap, Tuan." Selalu seperti itu, Sean selalu membuat Daniel tidak perlu berbicara lebih panjang lagi. Atau, mengulangi ucapannya.


Daniel melangkah keluar dari restoran dan ingin masuk ke mobil. Tidak lama di belakang mobil Daniel, seorang wanita cantik keluar dengan pakaian anggunnya itu. Daniel tidak peduli walaupun ia tau kalau wanita itu adalah Loren.


"Daniel!" Panggilnya.


Daniel tetap memasuki mobil dan bersikap acuh. Ayolah, seharusnya Loren tau jika Daniel adalah orang yang menghargai waktu. Ia benci keterlambatan.


"Daniel!" Loren datang sembari mengetuk kaca mobil. Daniel membuka kaca mobil.


"Kenapa pulang? Kita tidak jadi makan malam?" Tanya Loren.


"Kau terlambat. Kita batalkan saja, aku sibuk mengurus pekerjaan." Jawab Daniel dengan wajah datarnya. Kemudian menutup kaca mobil. Sean melajukan mobil ketika mendapat instruksi dari Daniel.


Loren menganga seolah tidak percaya. Astaga. Kenapa sangat perfeksionis?! Ia hanya terlambat sebentar kenapa Daniel langsung membatalkannya? Ia menghentakkan kaki dengan kesal. Ini semua karena penata rias sialan yang sangat lama! Batin Loren kesal.


"Sean, hentikan mobil di salah satu cafe deket Jewels. Aku ingin membelikan sesuatu." Pinta Daniel.


Lalu untuk siapa?


Anggap saja Daniel ingin minum kopi disana. Cafe, bukan? Tapi Daniel hanya minum kopi yang ia pesan dari pabrik pembuat kopi yang ia suka. Hmm...kenapa dia jadi memikirkan Daniel? Mari lupakan.


"Kau juga ikut turun ya, Sean. Temani aku minum kopi. Tiba-tiba aku ingin mencoba kopi lain dan nuansa baru." Sela Daniel, menghancurkan lamunan Sean.


"Baik, Tuan." Benar, hanya minum kopi.


Mereka berada di cafe dekat Jewels hampir satu jam lebih 20 menit. Bukan hanya mampir untuk minum kopi, padahal sudah malam, mereka juga berbincang mengenai bisnis. Ayolah, mereka berdua tidak pernah luput dari namanya bisnis. Bisnis seakan sudah menjadi pasangan setia mereka.


Tidak lama mereka menyudahi obrolan mengenai bisnis dan Sean mengantarkan Daniel kembali ke penthouse. Selama di perjalanan, malam ini tampaknya sangat sepi. Apa karena semua pulang lebih awal? Atau Daniel lupa besok hari merah apa? Dia tidak memperdulikan besok ada hari besar apa, yang ia pentingkan bagaimana kerjaannya mencapai target.


Apalagi dengan ucapan Ayahnya mengenai satu bulan. "Arghhh! Ini membuatku pusing!" Celetuk Daniel dalam hati. Walaupun belum lama Henry mengatakan hal itu, cuman ia selalu terpikirkan. Jika ia gagal, maka ucapannya harus ia lakukan. Lelaki memegang omongannya!


Sean dari kaca mobil melirik Daniel yang terlihat memikirkan sesuatu. Raut wajah Daniel memperlihatkan semuanya. Sean menghentikan mobilnya saat lampu merah. Netra matanya melihat kesekeliling jalan yang hanya beberapa mobil berlalu lalang, melintasi jalan raya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Deg!


"Itu..." Sean menyipitkan matanya melihat ke sudut jalan. Ia melihat seorang wanita yang di seret oleh dua pria. Setelah lampu hijau menyala, ia melajukan mobilnya dan semakin dekat dengan wanita tersebut. "Bella?" Ucap Sean.


Daniel melirik kearah Sean. "Kenapa, Sean? Kau bilang apa?"


"Itu, Tuan. Bella sedang bahaya." Sean mengarahkan telunjuknya kearah Bella. Daniel menggeram. Ia mengepalkan tangan keras.


"Hentikan mobilnya, Sean!" Bentak Daniel. Bagaimana bisa karyawannya mendapat perlakuan seperti itu. Walaupun bukan di perusahaan, tapi jika seorang calon pimpinan melihat bawahannya tertindas, tidak salah bukan untuk membantunya?


"TOLONG....SIAPAPUN TOLONG!!!" Daniel dan Sean bisa mendengar Bella berteriak sambil menangis. Bahkan, Bella sudah menangis kencang. Kenapa tidak ada satupun orang yang melihat ini? Mobil yang berlalu lalang juga seharusnya melihat ini. Kenapa tidak ada yang peduli?! Daniel semakin menggeram melihat Bella, perempuan yang ia kagumi atas kerja kerasnya yang membuahkan hasil, terlihat kesakitan. Rasanya tubuhnya sudah mendidih, tinggal di tuang saja dan di sajikan dengan mantap!


Daniel langsung mendekati kearah Bella dengan Sean yang sudah bersiap-siap untuk menaruh tinjunya ke kedua wajah lelaki itu. Berani-beraninya melakukan kekerasan pada yang lemah.


Daniel menarik satu lelaki dan Sean menarik lelaki lainnya. Kemudian mereka melayangkan pukulan kepada lawan mereka. Kedua lelaki tersebut pun ingin memukul Daniel dan Sean namun dengan sigap mereka menghindar. Sekali lagi, Daniel memukul lawannya dengan menggunakan lutut mengenai perut lawan. Kemudian Sean, melayangkan pukulan pada wajah lawannya.


Bella yang menyaksikan kedua lelaki yang ia kenal pun tersungkur lemas. Ia masih syok dengan apa yang ia terima, kekerasan dan pelecehan. Ia bisa melihat Daniel dan Sean memukul habis-habisan kedua lelaki brengsek itu. Ia bersyukur masih bisa diselamatkan oleh orang yang baik.


"Sean, bawa mobilnya lebih dekat. Saya akan menemui Bella." Perintah Daniel setelah selesai memuaskan amarahnya. Sean menganggukkan kepala dan berjalan ke arah mobil yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Daniel mendekati Bella sambil melepaskan jas hitamnya. Ia melampirkan jas ke tubuh Bella. Kemudian ia berjongkok dan memperhatikan Bella. "Apa ada yang sakit? Ayo kita ke rumah sakit." Kata Daniel.


"Terima kasih, Mr. Malvaro. Saya baik-baik saja. Tidak usah ke rumah sakit." Tolak Bella.


"Kau yakin?"


"Iya, Pak." Kata Bella. Walaupun ia masih sedikit pusing karena kepalanya kesakitan gara-gara di tarik keras tadi. Daniel memindai Bella dari atas hingga bawah. Ketika ia tau mobil sudah siap, Ia langsung mengangkat Bella gaya bridal dan membawanya masuk ke mobil.


"Turunkan saya, Pak. Saya masih bisa jalan."


"Sudah jangan banyak bicara."


Bella menjepit kedua bibirnya dan dengan rasa tidak enak hati, ia diam. Rasanya ia akan memegang janji omongannya. Jika ada yang menolong maka ia akan membalas budi kepadanya. Ternyata orang yang baik itu adalah Daniel Malvaro.


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Gimana chapter kali ini? Menurut kalian bagaimana? Jangan lupa untuk vote and comment, ya! Thankyou 💖