
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA KALIAN SUKA
|TYPO BERTEBARAN
Ada pepatah yang mengatakan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian atau sebuah ungkapan seperti kerja keras tidak mengkhianati hasil. Mungkin ia harus memegang teguh pepatah itu agar semangatnya tidak patah semangat untuk memikul semua tanggung jawab keluarga. Sejak ayahnya meninggal, ia harus menjadi tulang punggung keluarga untuk membantu ibunya. Perempuan yang tidak mengenal namanya kata lelah itu bernama Isabella Quinn.
"Ibu kangen sama kamu, Bell. Kapan kamu pulang kerumah?"
"Aku belum tau, Bu. Nanti Bella kabarin ya, kebetulan saat ini ada proyek pengerjaan di Boston, doakan Bella berhasil dapat proyek itu agar bisa sekalian pulang ke rumah." Kata Isabella, ia sudah hampir 3 tahun tidak pulang kerumah karena ia sibuk mencari pekerjaan. Namun setelah 2 tahun disini, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan bernama Jewels Group. Jewels Group merupakan anak perusahaan dari Marvo Corp.
Tiga tahun tinggal sendiri di New York, membuat Isabella mengerti bagaimana kehidupan sebenarnya. Kehidupan tidak seindah di film maupun drama, jauh dari kata mudah. Bagi seorang Isabella yang menyelesaikan pendidikan dengan jalur beasiswa penuh, ia sangat menghargai uang dan bekerja keras untuk meyanggupi keluarganya. Lalu, mendapat pekerjaan di perusahaan sebesar Jewels Group merupakan suatu keberuntungan yang patut Bella syukuri.
Diumurnya yang sudah terbilang matang untuk menikah, Bella masih tidak mau mencari seorang lelaki sebelum semuanya baik-baik saja. Ibu Bella sudah mendesak anaknya untuk tidak memperdulikan soal keuangan di keluarga, Bella harus mencari kebahagiaannya sendiri. Namun Bella merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu keuangan keluarga.
"Iya, Bu. Aku tutup dulu, ya. Aku harus lanjut bekerja," kata Bella.
"Kamu sehat terus ya, doa ibu selalu bersamamu." Ucap Ibu Bella lirih. Bella tersenyum ketika mendengar sambungan terputus. Ia menghela nafas sabar dan berkata, "Ayo Bella, usaha tidak pernah menghianati hasil! Kamu pasti bisa dapet proyek itu!" Serunya.
"Bella," Bella menoleh kearah sumber suara. Ternyata dia adalah John, teman sekantornya.
"Kenapa, John? Apa Bu Vio masih ingin mengubah proposal yang kemarin lusa?" Tanya Bella. John menggelengkan kepala.
"Bu Vio memanggilmu ke ruangannya, sepertinya kau akan mendapat bonus besar. Semoga berhasil!" Seru John sambil tersenyum lalu pergi. Bella hanya tertawa kecil dan menuju ke ruangan Bu Vio.
Bella mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar suara Bu Vio dari dalam. "Bu Vio tadi memanggil saya? Ada masalah apa, Bu?" Tanya Bella.
"Tidak usah gugup begitu, Bel. Kamu duduk dulu sini. Saya mau kasih kabar gembira." Jawab Vio. Bella menarik kursi untuk dirinya. Apa dia mendapat proyek di Boston? Beberapa saat yang lalu, ia diberi wewenang untuk menyusun proposal tentang proyek pengerjaan di Boston. Ia mati-matian mengerjakan proposal itu demi pulang ke rumah setelah bertahun-tahun.
"Bagian pusat sudah menyetujui proposal kita. Saya minta kamu jadi kepala untuk proyek ini, ya. Kamu bisa memilih tim kamu sendiri dan saya rekomen untuk membuat dua tim. Untuk tim lain, kamu bisa memilih ketua yang mudah kamu ajak komunikasi." Ujar Vio sambil menyerahkan dokumen yang di perlukan.
"Bukankah sudah ada Josh yang menangani proyek Boston?" Tanya Bella. Sebab setau Bella, sejak awal Josh sudah mengatur tentang proyek ini. Meskipun waktu itu Josh meminta Bella untuk menyusun proposal.
Vio tersenyum. "Josh memegang proyek di Seattle. Saya pikir dia akan kesulitan jika memegang dua proyek. Lagi pula, kinerja kamu disini sangat bagus. Saya percaya kamu bisa melakukan tugas ini," ujar Vio.
"Terima kasih, Bu. Saya akan bekerja keras untuk kesuksesan proyek Boston ini. Terima kasih, Bu!" Seru Bella, ia tidak bisa menahan rasa senangnya. Akhirnya ia bisa pulang kerumah dan menemui Ibunya serta adiknya. Ia bertekad untuk melakukan yang terbaik!
"Yasudah, kamu bisa kembali bekerja. Kamu bisa mengurus semua keperluan dua minggu dari sekarang sebelum kamu pergi ke Boston untuk memantau." Ucap Bu Vio.
"Baik, Bu! Saya izin kembali bekerja dulu." Kata Bella lalu menunduk sebelum pergi dari ruangan Bu Vio. Bella langsung mengambil ponsel yang selalu ia bawa kemanapun dan menelpon ibunya.
"Halo, Bel. Kenapa?"
"Bella dapet proyeknya, Bu! Aku akan pulang dua minggu lagi! Doakan aku pulang tepat waktu ya, Bu."
"Astaga Bella, Ibu sangat senang! Doa Ibu selalu bersamamu, Bel. Kabari Ibu jika kamu sudah tiba di Boston, biar Ibu nanti memasakkan makanan kesukaanmu. Adikmu pasti akan senang mendengar kepulanganmu." Kata Ibu Bella.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak udah dukung, Bella. Bella tidak akan mengecewakan Ibu."
Setelah itu panggilan terputus. Bella tersenyum sambil berjalan kembali ke meja kerja. Sesampai di meja kerja, ia melihat bingkai foto yang selalu menjadi penyemangat. Foto tersebut adalah foto keluarga. Ia mengambil bingkai tersebut dan berkata, "Terima kasih sudah menjadi keluargaku."
•••
2 minggu kemudian
"Pagi, Bella." Sahut semua anggota tim.
"Oh, ya, Bel. Tadi Bu Vio baru memberi kabar kalau direktur kantor pusat ingin pantau lapangan." Kata John. Bella menganggukan kepala. Bisa-bisanya CEO turun lapangan hanya untuk proyek dari anak perusahaan. Ini proyek biasa padahal. Maksudnya, sudah biasa melakukan proyek seperti ini.
"Kalau begitu, kita harus memberikan yang terbaik! Kapan beliau akan datang?"
"Tadi Bu Vio bilang empat hari lagi. Cuman katanya belum tau kapan, jadwal beliau kan sangat penuh."
"Iya, benar. Ya sudah kita masuk dulu, sebentar lagi boarding." Ajak Bella. Anggota tim lainnya menganggukan kepala. Mereka semua akhirnya masuk bandara dan menunggu hingga giliran pesawat mereka lepas landas.
"Adel, kamu sudah mengatur penginapan kita di Boston?" Tanya Bella.
"Sudah, Bu. Saya juga sudah mengatur semua jadwal makan. Saya sudah melakukan reservasi sebelum kita berangkat," kata Adelya. Bella menganggukan kepala sambil tersenyum. Kemudian, ia melihat jendela pesawat dengan suasana hati bahagia. Sebentar lagi ia akan pulang ke rumah.
Setelah perjalanan satu jam setengah, Bella turun dan rekan lainnya turun dari pesawat. Hari ini mereka tidak langsung ke lokasi, melainkan ke hotel masing-masing dulu. Baru pada siang hari, mereka akan berkumpul setelah makan siang.
"Kalau begitu kita pisah dan langsung bertemu di lokasi, ya." Ucap Bella sambil melambaikan tangan.
"Iya, Bu Bella." Kata Adelya.
"Iya, Bel." Balas John.
"Siap, Bel!" Seru rekan lainnya. Memang cuman Adelya yang memanggil Bella dengan sebutan Bu Bella. Padahal Bella sudah bilang untuk tidak memanggil dengan embel-embel 'Bu'.
Bella akan langsung pulang ke rumah dengan naik taksi bandara. Ia menarik koper dan berjalan menuju tempat memesan taksi. "Permisi, saya mau pesan taksi untuk ke tempat xxx." Ujar Bella sambil menujukkan alamatnya.
"Oh, ya, silakan di tunggu. Pesanan taksi anda akan datang sebentar lagi," kata orang yang memonitor semua taksi disini.
"Baik, terima kasih." Kata Bella.
Tidak lama kemudian, taksi yang dimaksud datang. Ia berjalan ke taksi namun tiba-tiba seorang lelaki dengan tubuh menjulang tinggi mengambil taksi pesanannya. Bella tidak bisa diam. Ia langsung menahan lelaki itu menutup pintu taksi.
"Sebentar! Ini taksi saya. Anda bisa memesan taksi yang lain!" Seru Bella.
"Saya buru-buru. Pakai taksi yang lain." Balas lelaki itu. Bella membuka mulutnya seakan tidak percaya. Bagaimana bisa begitu?!
"Tidak bisa! Dasar tidak tau diri! Sampai ngambil taksi orang!"
Sopir taksi memperhatikan mereka berdua. Bagaimana bisa berebutan taksi begini. "Bapak, Ibu, jika tidak jadi bisa keluar. Dibelakang saya masih banyak yang mengantri." Ujar sopir taksi tersebut.
Lelaki di depan Bella berdecak kesal. Bella melihat lelaki itu mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada dirinya. "Kau hubungi nomor disana." Kata lelaki itu lalu menutup pintu taksi keras.
Jika Bella tidak cepat mungkin tangannya akan menjadi korban. Dasar lelaki tidak tau diri! Sangat kasar!
Bella melihat kartu nama tersebut. Sial. Ini kartu nama perusahaan tempat ia bekerja. Maksudnya, ini nama dari kantor pusat. Dia seorang Komisaris! Tidak lain adalah Daniel Malvaro!
Bagaimana bisa dirinya tidak mengenalinya?! Bagaimana ini. Apa dia akan di pecat setelah ini? Karena dia anak pemilik dari Perusahaan Marvo. Dia bahkan sudah mengatakan tidak tau diri. Oh my god!
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Gimana part ini? Semoga kalian suka sama ceritanya. I love you!