
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
💿 Just Vibe - Jeff Bernat
Keesokan harinya, Bella memijat keningnya karena baru selesai meeting yang kedua kali dengan timnya. Hampir saja ia tersulut emosi karena kesalahannya tapi beruntungnya tidak jadi karena orang tersebut mengakuinya. Sepanjang ia berkarir tidak pernah ia marah tetapi di marahi karena selalu melakukan kesalahan.
"Bu Bella, ini teh untuk anda. Setelah ini tidak ada pertemuan lagi dan hanya perlu memeriksa beberapa berkas." Kata Zara. Bella menganggukkan kepala. Ia tersenyum kearah Zara, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika tidak ada Zara yang membantunya. Adanya Zara membuat pekerjaannya lebih mudah.
"Terima kasih, Zara. Kau bisa kembali bekerja."
"Bu Bella jangan terlalu memaksakan diri. Saya tau anda lembur setiap hari dan itu tidak baik untuk kesehatan." Bella tersenyum hangat.
"Terima kasih Zara sudah menghawatirkanku. Aku akan berhenti jika sudah tidak bisa lagi." Balas Bella.
"Sudah kewajiban saya untuk mengingatkan anda, Bu Bella." Setelah itu Zara undur diri dan kembali bekerja. Bella tersenyum menatap punggung kecil itu yang menghilang di balik pintu. Zara Valentine umurnya lebih muda 2 tahun darinya tetapi ia sudah berpengalaman di bidang personalia. Bella belajar banyak darinya.
Bella menyeruput teh yang dibawakan oleh Zara. Tehnya sangat enak. Manisnya juga sesuai takaran. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan arah dua siang. Ia mengadakan meeting hingga melewatkan jam makan siangnya karena meeting selanjutnya akan diadakan dua minggu lagi. Bella sudah meminta meeting selanjutnya harus sudah membuahkan hasil agar perencanaannya sudah matang pada hari perekrutan karyawan.
Bella keluar dari ruangan. Ia berencana untuk makan siang kalau tidak ia akan jatuh sakit. Dirinya memang memiliki masalah jika telat makan. Beruntung saja hari ini tidak terjadi masalah.
"Bu Bella ingin pergi kemana?" Tanya Zara.
"Aku hanya akan ke kantin. Aku belum makan siang." Jawab Bella.
"Baik, Bu. Selamat makan siang, saya akan mengabari jika ada keperluan." Balas Zara. Bella menganggukkan kepala dan menuju lift, turun ke lantai tiga untuk makan siang. Kantin hanya dipenuhi beberapa karyawan saja, mungkin mereka yang terlambat makan siang atau melewatkannya.
Bella memesan nasi goreng dengan minuman ice lemon tea. Sembari menunggu makanannya disiapkan, Bella mencari lokasi terbaik untuk ia menikmati makan siang. Bersamaan dengan bunyi bel yang berarti makanannya sudah selesai, ia juga menemukan lokasi yang terbaik.
"Kau Isabella?" Bella menolehkan kepala ke sumber suara. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang terlihat lebih muda dari Bella.
"Iya, anda sendiri siapa?" Tanya Bella hati-hati.
"Kenalkan aku Peter. Aku mendengar keberhasilanmu yang sampai membuat tuan Henry mendatangi pesta perayaan kesuksesanmu!" Seru lelaki itu bernama Peter.
"Oh, ya. Terima kasih, Peter." Balas Bella sambil tersenyum.
"Kau keren sekali, Bella! Aku sampai kagum karena kau baru bekerja, bukan?"
"Aku masih belajar, jadi jangan berkata seperti itu." Bella berkata sambil terkekeh. Ia begitu senang mendengar pujian tapi ia juga membencinya jika orang terlalu memujinya.
"Apa kau makan sendiri sekarang?" Tanya Peter yang terlihat sangat semangat. Bella menganggukkan kepala.
"Kalau begitu aku menemanimu saja. Kebetulan aku juga makan sendiri." Balas Peter. Bella hanya tersenyum sebagaimana seharusnya. Ia tidak bisa bersikap acuh kepada orang yang baru ia temui. Ibu nya selalu berkata untuk selalu sopan, hangat, dan murah hati kepada siapapun.
"Peter, kau bekerja di bagian apa?" Tanya Bella.
"Aku di bagian keuangan. Punggungku sampai sakit karena terus-menerus menatap komputer."
Bella tertawa kecil. "Kau tidak sendiri, aku juga begitu."
"Kau bagaimana?" Tanya Peter.
"Aku di bagian personalia."
"Wah, berarti kau pintar menilai orang? Aku harus berhati-hati denganmu."
"Kenapa begitu, aku tidak akan bermacam-macam denganmu."
Peter tertawa. Bella menggelengkan kepalanya. Makan siang yang terlambat itu akhirnya dipenuhi oleh gelak tawa. Walaupun Bella baru berkenalan tapi melihat dari kepribadian Peter yang ceria, membuat dirinya senang. Peter sangat cocok untuk dijadikan teman.
"Bel, aku kembali ke ruanganku ya. Kapan-kapan kita harus makan siang bersama lagi." Ucap Peter saat mendekati lantai divisi keuangan. Bella menganggukkan kepala.
"Iya, Peter. Terima kasih sudah menemaniku makan siang." Balas Bella.
Peter tersenyum dan kemudian pintu lift terbuka. Divisi keuangan berada di lantai 22 sedangkan divisi personalia berada di lantai 27. Ketika melihat sosok Peter sudah pergi, Bella tersenyum kecil.
Sekembalinya dari makan siang, ia kembali bekerja keras hingga sore hari. Ia bahkan melupakan janji dengan Daniel jika Sean tidak mendatanginya lalu menyeretnya keluar. Akhirnya beberapa dokumen terpaksa di tunda oleh Bella sampai besok.
"Zara, tolong bilang padaku jika ada yang di perlukan." Pinta Bella sebelum pergi.
"Tentu, Bu Bella. Keadaan akan baik-baik saja selama Ibu pergi." Kata Zara sambil memberikan tanda oke pada tangannya. Ia melambaikan tangan kepada Bella saat melihat Bella semakin menjauh.
Sean membawa Bella ke sebuah salon terbaik di New York. Lokasinya sedikit jauh membutuhkan waktu 30 menit untuk kesana. Sesampainya di salon tersebut, Bella langsung di giring oleh beberapa pelayan untuk di layani. Seumur hidup Bella, ia tidak pernah mendapat pelayanan mewah seperti ini. Ia bisa santai berendam dengan aroma yang sangat menenagkan, kemudian ia mendapatkan spa yang membuat tubuhnya menjadi rileks. Ia juga mendapat perawatan lainnya yang biasa dilakukan oleh kaum sosialita.
"Mohon anda menunggu sebentar, Tuan Mario akan datang kesini." Ucap seorang pelayan yang sejak tadi melayani Bella. Bella menganggukan kepala. Rasanya hari ini adalah hari terbaik sepanjang hidupnya! Oh...sekarang ia tidak menyesal menerima paksaan Daniel itu. Setelah semua hal ini yang dilakukan oleh Daniel, Bella tidak akan membuat Daniel di permalukan malam ini. Ia akan berperilaku sebagaimana seharusnya.
"Ms. Quinn, perkenalkan nama saya Mario Dedivanovic. Astaga, wajah anda sudah sangat cantik. Pantas saja Tuan Daniel memilihmu. Kau pasti akan semakin cantik setelah ini." Puji Mario yang membuat Bella terkekeh.
Daniel memilihku hanya karena dia selalu bilang wanita menyusahkan. Padahal aku juga wanita.
"Terima kasih pujiannya, Mario. Kau jangan melebihkannya." Balas Bella.
"Kau benar-benar cantik, dear. Percaya padaku." Mario mulai membuka senjata pamungkasnya. Tangannya lihai menghias wajah Bella seperti sebuah kuas yang bermain di atas canvas. Bella masih tidak percaya jika ia mendapat kesempatan untuk dirias oleh seorang Mario! Siapa yang tidak mengenal make up artist professional ini?
"Selesai. Coba kau lihat penampilanmu."
Bella terdiam. Apakah benar ini dirinya?
"Aku menyukainya, Mario! Apa ini benar aku? Aku tidak akan merusak karya indahmu, Mario. Oh my god, aku ingin menangis."
"Jangan menangis, honey. Katanya kau tidak ingin merusak karyaku." Ujar Mario sambil tersenyum.
"Sekarang ayo kita pilih gaun untukmu." Lanjutnya. Mario menjentikkan jari dan seketika beberapa pelayan datang membawa lima gaun terbaik. Bella memindai semua gaun di hadapannya yang sangat cantik. Ia bahkan tidak bisa memilih karena semuanya sangat bagus.
"Aku tidak bisa memilih. Kau bantu pilihkan untukku, Mario." Tutur Bella. Mario menganggukkan kepala.
"Tenang saja, aku akan mencari yang cocok untukmu dan pastinya serasi dengan pakaian Daniel." Balas Mario. Bella hanya tersenyum. Ia membayangkan saat berdamping dengan Daniel. Uh....memikirkannya saja sudah membuat Bella gugup. Apa dirinya cocok berdiri di sampingnya?
Pasti perempuan yang menghadiri pesta nanti malam sangat cantik. Ini membuat Bella merasa insecure jika harus bersanding dengan wanita lain.
"Ini sangat cocok untukmu, Dear. Coba lihat." Mario menunjukkan dress berwarna gold. Bagian bawah dress memperlihatkan potongan yang akan membuat paha Bella terlihat ketika memakainya. Bella menyukai gaun itu.
"Kau akan terlihat sexy memakai ini, Bella. Tuan Daniel pasti tidak akan berhenti menatapmu." Ucap Mario sambil tersenyum geli. Bella tertawa kecil.
Iyakah?
"Berhenti memujiku. Aku jadi malu." Bella terkekeh.
"Aku membicarakan kenyataan. Kau memang sangat cantik dan dengan gaun ini serta karyaku pasti kau akan menjadi primadona malam ini." Tutur Mario tidak bohong. Kemudian ia melanjutkan ucapannya dengan berkata, "Sekarang kau berganti pakaian, aku akan menunggumu disini lalu menata rambutmu."
"Baiklah, Mario." Kemudian seorang pelayan membawa gaun yang di pilih oleh Mario dan mengekori Bella dari belakang. Selesai memakai gaun, Bella keluar dan Mario tidak henti-hentinya memuji. Bella sangatlah cantik dan juga sexy! Bahkan Bella tidak kalah dengan Kendall Jenner!
"Bagaimana?" Tanya Bella.
"Seratus persen kau sangat cantik dan malam ini adalah malammu." Jawab Mario jujur. Ia tidak pernah berbohong jika memuji orang.
Bella mengulum senyuman. Ia merasa malu tetapi juga senang. "Terima kasih, Mario."
"My pleasure, queen." Kemudian Mario mulai menata rambut Bella dengan tangannya yang begitu telaten. Disela menata rambut, ia memuji mata Bella yang begitu indah. Mata yang bulat dan bulu mata panjangnya memikat siapapun yang melihatnya.
"Sudah selesai. Aku yakin dibawah sudah ada Sean untuk menjemputmu." Tutur Mario. Sejak tadi Mario tidak bisa berhenti tersenyum memperhatikan kecantikan Bella. Ini mahakarya yang akan ia abadikan sepanjang ia berkarir.
"Terima kasih, Mario. Aku akan menjaga karyamu ini dengan baik. Aku senang bisa bertemu kau." Ucap Bella.
"Harusnya aku yang senang bisa bertemu denganmu dan menambah karyaku." Balas Mario. Bella terkekeh pelan. Kemudian ia berpisah dengan Mario dan menemui Sean yang sudah menunggu dilantai bawah. Langkahnya terhenti di tangga ketika melihat sosok Daniel yang sedang memperhatikannya. Dia sangat tampan! Malam ini adalah keberuntunganku!
Begitu juga dengan Daniel yang terdiam. Nafasnya seakan berhenti mendadak. Bella sangat cantik dan juga anggun. Gaun itu membuat bentuk tubuh Bella tercetak dengan indah. Sialan! Kenapa Mario memberikan gaun itu.
"Kau sangat cantik, Nona Bella." Puji Daniel. Bella mengulum senyuman. Rasanya pipinya memanas saat ini.
"Kau juga sangat tampan, Tuan Daniel." Balas Bella. Daniel tersenyum dan kemudian ia memberikan isyarat untuk Bella memeluk lengannya.
Aku mimpi apa semalam?
Bella memeluk lengan Daniel. Ia tidak hentinya tersenyum. Daniel berkata jika malam ini ia tidak perlu menjadi Manager, bukan? Melainnya pendampingnya. So, aku akan memainkan peranku.
"Sudah siap?" Tanya Daniel.
"Always, Mr. Malvaro."
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semoga suka sama chapter ini. Jangan lupa untuk vote dan comment sebanyak-banyaknya. I love you 💖