
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
"Jadi, bagaimana dok keadaan kakak saya?" Tanya Stevan. Dokter tersenyum kecil.
"Kamu tidak perlu khawatir. Kakakmu hanya kelelahan. Apa dia belum makan sebelumnya? Tolong ingatkan kakakmu untuk tidak lupa jam makannya, karena kakakmu akan sakit dispepsia. Sebentar lagi Kakakmu akan sadar." Jelas Dokter tersebut yang diketahui bernama Nathan. Stevan mengangguk mengerti.
"Baik, dok. Terima kasih."
Kemudian Nathan pergi meninggalkan Stevan dan Kate di ruangan Bella. Kate berdiri di samping Stevan, sementara Stevan duduk di sebelah Bella. "Stevan, coba kamu lihat mamamu. Kita tidak tau kapan ia akan sadar. Kamu tidak mau kan mamamu bangun tanpa melihat anaknya?"
Stevan menghembuskan nafas. "Iya, kak. Aku jaga mama dan tolong kakak jaga Kak Bella sementara aku disana."
Kate menganggukkan kepala. "Kakak akan beritahumu jika kak Bella sudah sadar."
"Terima kasih, Kak."
Hari sudah menjadi siang. Bella masih nyenyak dalam tidurnya. Kate memakluminya karena ia pasti kelelahan.
"Oh ya, aku lupa mengabari ke kantor kalau aku izin." Kate menepuk dahinya karena lupa. Akhirnya ia mengambil ponsel dan mengabari jika ia izin. Tidak hanya itu, ia juga mengabari kalau Bella tidak bisa masuk beberapa hari karena urusan keluarga. Tidak lama kemudian, seorang perawat datang untuk memeriksa keadaan Bella.
"Bel, tidurnya jangan keenakan napa. Bangun dan cepat makan!" Kate mencebikkan bibirnya sembari menatap Bella yang masih memejamkan mata. Baru saja ia memakluminya tetapi jika diteruskan ia juga kesal. Kata dokter Bella sudah seharusnya sadar sejak tadi tapi entah kenapa masih belum.
Bella membuka perlahan kelopak matanya. Ia mengerjap pelan untuk menetralkan cahaya. Seingatnya ia berada di depan ruangan ibunya di depan ruangan ICU dan memarahi adiknya. "Kate?" Panggilnya.
"Ya, Bella. Akhirnya kau sadar. Apa kau merasa baikan?" Tanya Kate sedikit cemas. Bella menggeleng pelan.
"Tidak, Kate. Aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan dan juga melewatkan jam makanku." Tutur Bella. Kate menganggukkan kepala.
"Tapi tetap saja, kau membuatku khawatir! Jangan sampai lupa makan lagi. Kau punya sakit dispepsia tau!" Tukas Kate sedikit kesal. Bella tersenyum melihat Kate yang sedang marah-marah. Menurutnya kemarahan Kate hanyalah bentuk perhatian untuk dirinya. Ah, ia merasa beruntung memiliki seseorang seperti Kate walaupun dia bar-bar.
"Sudah jangan senyum-senyum. Kau terlihat seperti joker tau!" Seru Kate mencebikkan bibirnya. "Apa kau lapar?" Sambungnya setelah selesai marah-marah.
"Iya, aku belum makan sejak kemarin." Ucap Bella sambil terkekeh.
"Yasudah aku akan meminta suster untuk membawakanmu makanan." Bella menganggukan kepala. Setelah kepergian Kate, Bella mencari keberadaan Stevan. Apa dia menemani Stella? Setelah makan siang, ia akan menemui Stevan dan juga Stella. Ia akan berusaha berbicara baik-baik dengan adiknya.
Kemarin ia sangat syok dan tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Hari ini ia akan mencoba mendengarkan semuanya walaupun kemarin ia sudah mendengarnya. Namun kemarin ia tersulut amarah. Bella juga merasa kalau Stevan sudah sadar akan kesalahannya.
Kate kembali ke ruangan Bella dan mencoba menghiburnya sembari menunggu makan siang datang. "Hmm, Kate. Boleh bantu aku ambilkan ponsel? Aku lupa memberitahu kantor." Ucap Bella.
"Tidak perlu. Aku sudah memberitahu mereka jika kamu izin karena urusan keluarga. Kamu fokuskan dulu kesehatan diri kamu baru membantu menyelesaikan masalah Stevan." Tutur Kate.
"Makasih, Kate."
"Sudah aku bilang, santai saja denganku. Kita adalah teman jadi sudah sepatutnya aku membantumu." balas Kate. Bella tersenyum menanggapi Kate. Ia bersyukur sekali lagi. Tidak lama kemudian, makan siang Bella akhirnya datang dibawakan oleh suster.
•••
Boston Logan Internasional Airport, Massachusetts, Boston-USA
Lampu Bandara Boston menyala ketika malam hari. Banyak orang berlalu lalang disini entah untuk keberangkatan, kedatangan, atau menjemput sanak keluarga maupun yang lain. Dua sosok lelaki tinggi dengan pakaian jas kantor yang masih melekat di tubuhnya, mampu menarik perhatian pengunjung bandara. Mereka adalah Daniel dan Watson.
Daniel meminta Sean untuk tidak ikut dan mengurus perusahaan selama dia di Boston. Oleh sebab itu, peran Sean digantikan oleh Watson, yang tidak lain adalah anak buah Sean. Watson adalah kaki kanan dari Sean. Bisa dibilang Watson ini dibawah Sean.
"Kita langsung ke Rumah Sakit Boston sekarang." Kata Daniel. Watson langsung mengangguk dan ia membuka pintu mobil untuk Daniel. Sesuai perintah Sean sebelumnya, Watson harus menjunjung tinggi kenyamanan dan keinginan Daniel dahulu.
"Tuan Daniel, Sean ingin berbicara dengan anda." Tutur Watson. Setelah menerima anggukan dari Daniel, ia menghubungkan panggilan ke telpon milik Daniel.
Sean memberitahu jika keadaan kantor sangat aman dan juga beberapa laporan yang harus diketahui oleh Daniel. Mereka tidak begitu lama berbincang di telpon karena setelah mobil mereka sampai di rumah sakit, Daniel mematikannya.
Watson berjalan mengekori Daniel dengan pandangan waspada. Ia memang selalu waspada ke sekitar karena tidak ada yang tau kapan musuh tiba-tiba menyerang.
Daniel berjalan menyusuri lorong rumah sakit setelah Sean memberitahu dimana Bella diperiksa di telpon. Namun ia menghentikan langkahnya ketika melihat Bella sedang berbicara dengan Dokter. Ia juga bisa melihat jika Bella terlihat kebingungan. Entahlah, apa sangat ribet urusannya?
Sementara Bella, setelah ia berpisah dengan dokternya. Tubuhnya langsung jatuh ke kursi di rumah sakit. Tadi dokter memberitahu jika Stella harus di operasi secepatnya. Biaya operasi yang sangat besar bahkan gaji dan tabungan yang dimiliki masih kurang. Bella menundukkan kepalanya dan berusaha mencari cara agar bagaimanapun Stella harus bisa operasi.
"Apa aku menjual ganjil saja?" Bella pernah mendengar jika menjual ganjil juga mendapat keuntungan yang besar. Kemudian ia mencari tahu tentang ginjal di internet. Menurutnya tidak masalah untuk hidup dengan satu ginjal jika bisa menolong ibunya.
"Kak?" Panggil Stevan setelah menjenguk ibunya. "Kak Bella sekarang giliran kakak." Sambungnya.
Bella mendongakkan kepala dan mengangguk. Ia harus bahagia menemui ibunya kalau tidak ibunya akan sedih. Walaupun ibunya masih memejamkan matanya. "Kamu tunggu disini sama Kate. Dia sedang ke toilet." Kata Bella.
"Iya, Kak." Balas Stevan. Sekarang Bella dan Stevan sudah biasa saja walaupun Bella masih menyimpan rasa kecewa. Cuman ia tau kalau tidak baik untuk terus-menerus berada di situasi itu. Bisa-bisanya ia membenci adiknya. Siang tadi sehabis makan siang, Bella mendatangi Stevan untuk mendengar semuanya dengan ada emosi.
Bagaimana pun ia harus membantu adiknya menyelesaikan masalah.
Daniel mendatangi Stevan perlahan. Dengan tubuh tegak dan berwibawa, Daniel berusaha yang terbaik tampil keren. "Apa kau adiknya Bella?" Tanya Daniel.
Stevan mendongakkan kepala dan mengerutkan dahinya. Siapa lelaki ini? Kenapa ia mengenal kak Bella? Dan kenapa wajahnya tidak asing? Banyak sekali pertanyaan di benak Stevan cuman ia kurungkan.
"Perkenalkan saya Daniel Malvaro. Saya teman kakakmu."
"Oh, teman kakak. Namaku Stevan Quinn. Aku adiknya Kak Bella." Balas Stevan. "Kebetulan kakak lagi giliran jenguk mama, jadi tunggu sebentar, Kak Daniel." Sambungnya.
Daniel menganggukan kepala dan duduk di kursi yang ada disana. Watson dengan sigap berdiri tegap di sebelah Daniel. Stevan yang melihat sedikit ngeri. Kenapa Kak Bella bisa mempunyai teman kantor seperti ini sampai mempunyai bodyguard?
10 menit kemudian....
Bella keluar dengan wajah biasanya walaupun ia sudah menahan tangisnya sejak tadi. Kedua matanya langsung menangkap sosok yang tidak asing. Dia adalah Daniel Malvaro. Ada apa dia datang ke sini?
"Stevan, coba kamu cari Kate dimana. Masa sampai sekarang di belum kembali dari toilet." Tutur Bella sedikit cemas. Bagaimana bisa hampir setengah jam, Kate masih belum kembali.
"Baik, Kak." Stevan meninggalkan Daniel dan Bella bersama Watson di depan ruang ICU.
"Ada apa Tuan datang ke sini? Apa ada sesuatu yang perlu-"
"Apa kau ada masalah? Maksudku tadi aku tidak sengaja mendengar saat aku datang kesini." Tutur Daniel pelan. Ia tidak ingin Bella menuduhnya tidak sopan karena menguping.
"Tidak masalah, Tuan Daniel. Saya bisa menyelesaikan masalah saya."
"Baiklah, cuman aku mau bilang saja kalau tawaranku masih berlaku. Lebih baik 3 hari dari sekarang." Kata Daniel sedikit tersenyum.
Bella melihat ke lantai rumah sakit. Entahlah tawaran Daniel menggiurkan sekarang. Padahal kemarin ia menolaknya terang-terangan. Bagaimana bisa ia makan omongan sendiri.
"Akan saya pikirkan."
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa untuk Vote and Comment. Terima kasih sudah membaca cerita ini. Thankyou. I love you💖