6 Years With You

6 Years With You
BAB 11



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


Bella duduk diam dan menunduk memperhatikan sepasang kakinya. Atmosfer di dalam mobil membuat dirinya enggan untuk membuka suara sejak Daniel untuk tidak banyak bicara. Malam Brooklyn tampaknya sudah tidak indah lagi bagi Bella, ribuan bintang di langit membuat dirinya menjadi jengkel sekarang.


Ketika mobil berhenti saat lampu merah, Bella memberanikan diri melirik Daniel walaupun hanya pakaian yang bisa ia lihat karena takut melihat menatap wajahnya. Malam ini Daniel sangat rapi, apa dia habis ke acara penting? Ah...tidak, Daniel selalu mengenakan jas juga setiap hari. Kenapa dirinya jadi memusingkannya?


"Bella." Panggil Sean.


Daniel memicingkan mata kearah Sean. Bella? Dia cuman memanggil nama depannya saja? Ia berdeham sembari melepaskan kancing jasnya.


"Iya, kenapa?" Tanya Bella sambil menaikkan kepala melihat Sean di balik kursi pengemudi.


"Jalan ke rumahmu lewat disini, bukan?"


"Iya, benar. Lurus saja dan saat pertigaan baru belok kanan, kemudian sampai." Kata Bella menjelaskan navigasi ke rumahnya. Sean menganggukkan kepala.


Sean menghentikan mobilnya di sebuah Apartment biasa. Terlihat tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil namun layak untuk di tinggali. Bella membuka kenop pintu mobil namun Daniel mencegahnya. "Biarkan Sean membantumu."


"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri." Tolak Bella. Namun sepertinya Daniel tidak menyukai penolakannya itu.


"Baik, Pak. Terima kasih sudah menolong saya." Akhirnya Bella menerima juga. Sean sudah berada di samping pintu mobil sisi Bella. Ia membukakan pintu dan memapah Bella ke dalam apartment. Daniel melihat punggung belakang Sean dan juga Bella.


Tidak lama kemudian, Daniel melihat Sean keluar dari dalam apartment. Dan, kembali ke mobil lalu melanjutkan perjalanan pulang ke penthouse Daniel. "Bagaimana kabar perpindahan Bella ke kita?" Tanya Daniel.


"Sudah 100% selesai, Pak. Lusa Nona Bella akan mulai bekerja menjadi Manager sesuai permintaan Tuan." Tutur Sean. Daniel menganggukkan kepala, memilih tidak membuka suaranya lagi.


•••


Bella memasuki pintu apartmentnya yang berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Apartmentnya hanya memiliki satu kamar tidur dan ruang tamunya menyatu dengan area dapur. Namun cukup bagi Bella yang tinggal seorang diri. Paling tidak sudah 1 tahun dia tinggal disini setelah berhasil menabung semua penghasilan selama bekerja di Jewels Group.


Bella memejamkan matanya, mengingat kembali kejadian yang membuat dirinya ketakutan. Malam ini tidak akan pernah ingin ia ingat. Tapi malam ini, ia juga bisa melihat seorang Daniel Malvaro bersama sekretarisnya menolongnya. Seakan mereka adalah pahlawan kemalaman. Ia bersyukur berkali-kali untuk malam ini.


Ia baru mengingat kalau ia belum benar-benar berterima kasih kepada Daniel. Lusa ia akan menemui Daniel jika dia tidak sibuk. Bella menghela nafas pelan dan memilih membersihkan tubuhnya.


Dua hari kemudian, Bella sudah bersiap-siap untuk pergi ke Manhattan. Lokasi Marvo memang berada di Manhattan walaupun masih di satu kota yang sama. Ia bangun pagi-pagi sekali karena butuh waktu 30 menit dari Brooklyn ke Manhattan jika menggunakan transportasi darat atau mobil.


"C'mon, Bella! Buat hari pertamamu mengesankan untuk perusahaan!" Seru Bella kepada dirinya di hadapan kaca. Ia mengambil tas dan pergi menuju Marvo menggunakan taksi yang sudah ia pesan.


Dilain sisi, Daniel baru saja bangun dari tidur. Ia melihat ponsel dan memeriksa jadwal kegiatan yang dikirim oleh Sean. Meskipun nanti di kantor Sean akan membacakannya lagi. Tidak begitu banyak kegiatan hari ini, hanya satu kali meeting dengan perusahaan Twenty, membahas proyek kecil. Ia beranjak dari ranjang dan memasuki kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, ia menuruni tangga penthousenya dan melihat Sean sudah siap di depan meja makan. Daniel berjalan ke meja makan sambil membenarkan kancing lengan kemejanya.


"Selamat pagi, Tuan. Saya sudah merevisi beberapa kegiatan untuk hari ini dan sudah saya kirimkan." Ucap Sean yang berdiri di samping Daniel. Kegiatan Sean setiap pagi adalah memastikan Daniel dalam performa baik.


"Iya, tadi saya sudah melihat jadwalnya." Balas Daniel.


"Jika tidak ada keperluan lagi, saya akan menyiapkan mobil dahulu." Kata Sean.


"Kau sudah sarapan, Sean?"


"Sudah, Tuan. Sebelum kemari saya sudah sarapan." Jawab Sean.


Sean sedikut membungkukkan tubuhnya untuk salam hormat sebelum pergi meninggalkan Daniel untuk mempersiapkan mobil. Daniel dalam mood bagus pagi ini. Entah karena ia berhasil memenangkan targetnya dalam bisnis atau karena Bella yang pindah?


Selesai sarapan, Daniel langsung menuju mobil yang sudah terparkir indah di depan dengan Sean yang membukakan pintu. Sesampainya di Marvo, seperti biasa wajahnya datar dengan badan tegap berotot yang membuat semua wanita disini memuja calon pimpinannya nanti. Tatapan dingin dan misterius membangkitkan rasa penasaran para wanita disini, apa ada yang bisa menaklukkan hati seorang Daniel? Tidak hanya Daniel yang dikagumi, Sean dengan wajah tampan dan senyuman hangat membuat semua wanita jatuh cinta dan berandai-andai jika dia menjadi istri dari sekretaris itu.


Daniel dan Sean merupakan kepribadian yang berbeda. Meskipun mereka berdua memiliki kesamaan saat berhubungan dengan bisnis, sama-sama kejam dengan perfeksionis serta kedisplinan yang tinggi. Mereka berdua sama-sama menghargai waktu hingga lupa untuk meluangkan waktu mencari kebahagiaan. Mereka bagaimana pinang di belah dua walaupun wajah mereka berbeda.


"Selamat pagi, Nona Sella. Apa ada masalah?" Tanya Sean setelah menjawab telpon dari salah satu sekretaris Tuan Grey di Seattle. Disaat ia menerima telpon, disaat itu juga lift berdenting dan ia mempersilahkan Daniel untuk masuk terlebih dahulu. Sean berdiri di belakang Daniel dengan ponsel yang masih setia di telinganya.


"Oh, begitu. Tidak masalah, Nona Sella. Saya akan menyesesuaikan jadwal Mr. Malvaro dulu dan menghubungi anda secepatnya." Balas Sean. Daniel berdiri di tengah lift dengan kedua tangan dimasukkan ke kedua saku celana. Ia hanya mendengar Sean yang sudah sibuk bekerja padahal masih sangat pagi.


"Apa itu dari Perusahaan Grey?" Tanya Daniel tanpa melihat ke belakang. Perusahaan Grey adalah perusahaan besar di Seattle, mereka sudah bekerja sama cukup lama dan akhir-akhir ini sedang membangun proyek hotel dan apartment di Seattle bersama.


"Benar, Tuan. Mr. Grey meminta pertemuan besok di reschedule karena istrinya tiba-tiba mengalami kontraksi dan akan melahirkan." Jawab Sean. Daniel menganggukkan kepala.


"Bantu aku memilih hadiah untuk Mrs. Grey." Pinta Daniel.


"Baik, Tuan."


Sesampainya di lantai 35, dimana lokasi ruangan ketua komisaris perusahaan Marvo berada, Sean mempersilahkan Daniel untuk keluar lebih dulu sembari menahan pintu lift. Ketika mereka berjalan ke ruangannya, Daniel di kejutkan dengan kedatangan Bella di depan pintu ruangannya.


"Selamat pagi, Nona Bella, dan selamat bergabung di Marvo." Sapa Daniel sambil tersenyum.


"Selamat pagi, Mr. Malvaro. Saya senang berada disini dan tidak akan mengecewakan anda." Balas Bella.


"Mari berbicara di dalam saja. Oh ya Sean, tolong bawakan minuman dan beberapa cemilan untuk Bella." Pinta Daniel. Sean menganggukkan kepala dan langsung pergi.


Bella duduk di sofa panjang di ruangan Daniel setelah lelaki itu mempersilahkannya duduk. "Jadi, ada keperluan apa anda keruanganku?" Tanya Daniel. Setau Daniel, Bella harusnya langsung ke ruangannya dan bertemu dengan karyawan yang ia pegang di divisi Personalia. Walaupun di Jewels dia bekerja di bagian divisi pembangunan atau proyek tetapi Daniel yakin Bella pasti bisa mengerjakan tugas barunya.


"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih untuk kemarin lusa. Saya tidak tau jika anda dan Sean tidak datang, mungkin saya bisa berbeda dari Bella biasanya." Kata Bella sambil terkekeh pelan, menghilangkan rasa gugup dan suasana canggung disini.


"Tidak apa, Bella. Bagi saya keamanan karyawan sangat penting, bagaimana bisa saya membiarkan karyawan saya dalam bahaya jika saya melihat kejadiannya." Tutur Daniel. Walaupun dia hanya ketua komisaris, tetapi dia calon pimpinan utama disini. Jadi ia sudah bisa menganggap semua karyawan di bawah naungan Marvo atau dibawa kendali Henry adalah karyawannya.


"Pak Daniel sangat baik hati, saya merasa sangat berterima kasih. Saya ingin membalas kebaikan anda, jika anda membutuhkan sesuatu, saya ingin membantunya." Ucap Bella. Daniel menatap Bella sambil menganggukkan kepala.


Balas budi, ya?


Kebutuhanku?


Kebutuhanku tidak ada. Kecuali mencari seorang perempuan untuk disisinya. Hanya sebatas kontrak 6 tahun. Ia sudah memikirkan ide gila si Damien itu, dan akhirnya ia menyetujuinya. Persetan dengan paksaan Henry yang membuat dirinya terpaksa mengiyakan ide gila Damien.


Bagaimana bisa ia mencari perempuan yang cocok dalam satu bulan jika ia selalu memikirkan bisnis? Target? Tender? Dan semua perkembangan proyek yang sedang di lakukan, belum lagi memantau setiap proyek yang di kerjakan.


"Kebetulan ada satu yang saya butuhkan. Jika kau mau balas budi tentang masalah kemarin, mungkin ini bisa kau pakai untuk melunasinya."


"Apa itu, Pak? Saya akan berusaha sebaiknya."


"Menikah denganku."


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semoga suka sama part ini. Ceritanya udah mulai nih. Sorry kalau merasa alurnya terlalu lambat karena aku ngeplan untuk buat ceritanya santai, alurnya mengalir sesuai waktu, dan partnya panjang. Jadi nikmatin aja, aku usahain bakal buat cerita ini semakin seru dan kalian menyukai pasangan baru ini. Thankyou 💖