6 Years With You

6 Years With You
BAB 8



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


"Bel, ini laporan yang kau minta kemarin." Kate menyerahkan satu file dokumen kepada Bella.


"Terima kasih, Kate." Bella mengambil dokumen tersebut dan melanjutkan pekerjaan di komputer. Sejak satu jam ia sudah duduk manis menatap layar komputer dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Oh, ya, nanti makan siang bareng ya." Ucap Kate, Bella menganggukkan kepala sambil mengacungkan ibu jari.


Tidak lama kepergian Kate, tiba-tiba mukanya ditampar oleh air. Bella melihat jika didepan ada Jesslyn dengan wajah marahnya. Apa dia marah karena aksinya terbongkar? Padahal Bella tidak pernah berbicara dengannya jika bukan seputar pekerjaan.


"SIALAN KAU BELLA! HARUSNYA KAU YANG PANTAS MENDAPATKAN INI!" Jesslyn ingin menjambak rambut Bella namun langkahnya terhenti ketika Kate merenggut pergelangan Jesslyn.


"KAU YANG SIALAN! URUS HIDUPMU DULU!" Bentak Kate, ia memegang pergelangan Jesslyn hingga perempuan itu meringis. Namun emosi dalam diri Jesslyn mengalahkan semuanya. Ini semua karena Bella! Sejak Bella masuk, semua yang ia dapatkan direbut oleh Bella.


"JANGAN IKUT CAMPUR DENGAN URUSANKU!!!" Balas Jesslyn, ia berusaha melepaskan tangan yang di pegang oleh Kate dan berhasil. Kemudian ia langsung mendorong tubuh Kate hingga perempuan itu hampir terjatuh, dan Bella dengan sigap menahannya.


"Jess, aku gak tau ada masalah apa aku denganmu. Cuman kita bisa bicarakan baik-baik." Ucap Bella. Jesslyn tertawa sinis.


"Telat. Kau sudah menghancurkannya!"


"Jesslyn! Cukup!" Seru Bu Vio melerai pertengkaran mereka bertiga. Jesslyn berdecak kesal, masih saja ada pengganggu. Sialan! Maki Jesslyn.


"Bella, Kate, kalian urus pekerjaan kalian saja. Biar Jesslyn saya urus." Pinta Bu Vio, Kate yang masih enggan untuk pergi akhirnya rela melepaskan semuanya dengan helaan nafas kesal. Bella mengelus punggung Kate dan berkata,"Sudah, Kate. Ini masalahku, kau tidak perlu ikut campur. Aku hanya membebanimu nanti."


"Bella!" Seru Kate tidak terima. Jujur ia benci dengan kata membebani. Apa ada yang salah jika seorang teman membantu?


Bella menatap Kate untuk mengikuti keinginannya. "Baiklah, aku pergi. Jangan lupa makan siang nanti." Katanya.


Bella menghela nafas dan kembali duduk. Setelah Jesslyn ditarik oleh Bu Vio menjauh, Bella akhirnya bisa bersantai. Namun ia meringis melihat meja kerjanya menjadi basah dan pakaian yang ia pakai juga ikut basah. Beruntunglah bukan dokumen-dokumen yang basah. Bisa-bisa ia lembur menyusun ulang semua.


"Kau tidak apa?" Tanya Josh yang tiba-tiba berdiri di samping Bella dengan wajah cemasnya.


"Tidak apa, Josh. Bu Vio sudah mengurusnya."


"Baiklah, sebaiknya kau harus berhati-hati dengannya. Jesslyn selalu ambisius sejak aku magang bersamanya." Kata Josh. Bella membulatkan mulutnya sembari menganggukan kepala pelan.


"Terima kasih, Josh. Kalau begitu, aku ingin membuang sampah dulu. Permisi." Ucap Bella sambil menaikkan kedua tangannya yang penuh dengan tisu sehabis membersihkan meja. Josh sedikit memiringkan tubuhnya agar Bella bisa lewat.


"Bella!!!" Teriak John dari ujung pintu sana, dekat dengan pintu masuk ruang department proyek.


Kenapa sih dia selalu saja heboh. Kata Bella dalam hati merutuki tingkah temannya yang satu itu, apa urat malunya sudah putus?


"Aku dengar kau habis perang dengan Jesslyn?" Tanya John.


"Tidak perang juga sih, John. Tapi sudah diurus oleh Bu Vio." Jawab Bella sambil tersenyum. Ia bisa melihat John mengelus dadanya berulang kali sambil menghela nafas lega.


"Baguslah. Oh, ya, apa Kate sudah beritahu makan siang bersama?"


"Sudah tadi."


"Baiklah, kalau begitu aku kembali bekerja. Hati-hati sama Jesslyn, Bel." Ucap John sambil tersenyum lalu melenggang pergi. Seolah lelaki itu tidak sadar jika sedari tadi Josh di lupakan.


"Aku kembali dulu, Bel." Kata Josh. Bella menganggukkan kepala.


•••


Adelya meletakkan nampan berisi makanan di atas meja kantin. Ia duduk disebelah Bella dan dihadapannya adalah Kate serta John. Sejak awal makan siang dimulai, mereka hanya mendengar celotehan dari mulut Kate mengenai Jesslyn. Adelya juga ingin ikutan namun ia urungkan karena Kate sangat asik menghujat perempuan itu. John yang ada di samping Kate hanya menutup kuping kanannya karena sangat berisik.


"Kate bisa kamu makan dulu? Sebentar lagi jam makan siang sudah selesai loh." Pinta Bella.


"Sialan, kan! Gara-gara si ular itu, aku jadi lupa dengan ayam katsu-ku." Kate mengambil sendok dan memasukan semua lauknya dengan emosi. Dan, pada akhirnya ia sendiri yang tersedak. Bella hanya menggelengkan kepalanya dan menyodorkan minuman.


"Sudah marah-marahnya, Bel. Dan cepat makan, aku sudah pusing." Ujar John. Kate langsung membuka mulutnya dan melihat kearah John. John langsung merinding karena ia bisa merasakan hawa ingin membunuh di sampingnya. Ia melirik ke arah Kate dan melihat tangan Kate sedang terkepal kuat pada pegangan sendok itu lalu matanya melotot ingin protes.


"Jadi, kau mengatakan aku itu berisik, John?! Kau bilang mulutku kayak toa, gitu?! Hah?!" Seru Kate tidak terima. Astaga, hari ini ia bisa terkena darah tinggi jika emosi terus. Mulai dari Jesslyn dan sekarang tingkah John yang selalu bertolak belakang dengan dirinya.


"Aku tidak bilang begitu, Kate." Bela John sambil memohon dan memasang wajah sedih. Bagaimana bisa Kate mengada-ngada jika dirinya mengatakan mulut dia kayak toa dan berisik? Walaupun benar sih.


Aku masih sayang dengan nyawaku. Batin John.


"Sudah-sudah, berhenti kalian! Kalian selalu saja bertengkar!" Seru Bella memecah belah mereka berdua. Ia mendengus kesal diakhir.


"Kalian diam dulu! Aku ingin menjawab telpon dari Bu Vio!" Kata Adelya. Setelah keadaan diam, ia menggeser tombol berwarna hijau tersebut. Kate dan John masih saja ribut walaupun tidak bersuara, mereka hanya saling melotot. Bella tertawa kecil dan melanjutkan makannya yang hampir selesai.


"Iya, Bu. Bella sedang bersama saya." Bella langsung menatap kearah Vio ketika mendengar namanya di sebut. Ada apa ini? Apa karena masalah tadi dirinya dipanggil oleh Bu Vio? Ia tidak mungkin mendapat surat peringatan atas kesalahan yang bukan ia buat, bukan?


"Oh, begitu ya, Bu. Baik nanti saya sampaikan." Lanjut Adelya. Kemudian ketika telpon Adelnya letakkan kembali di meja, ia langsung melihat kearah Bella.


"Bu Bella sepertinya Ibu harus ke ruangan Bu Vio sekarang. Katanya penting. Kayaknya bakal di promosikan deh, Bu." Ucap Adelnya sambil tersenyum.


Benarkah? Dirinya akan di promosikan?


"Kenapa Bu Vio tidak langsung menghubungiku saja?" Tanya Bella sambil mengambil ponsel dan matanya langsung membulat sempurna. Astaga, bagaimana bisa ia lupa mematikan mode silent? Akhirnya ia melihat puluhan pesan dan belasan panggilan dari Bu Vio. Bella langsung melompat dari tempat ia duduk sembari membawa nampan bekas makanan lalu pergi ke ruangan Bu Vio.


Kate, John, dan Adelya menggelengkan kepala. "Dia selalu saja seperti itu, pelupa." Kata Kate.


Sesampainya di ruangan Bu Vio, Bella duduk di kursi hadapan Bu Vio setelah di persilahkan. Bu Vio memberikan sebuah amplop putih kepada Bella. Bella mengambil dengan rasa takut. Apa ini surat putus kerja? Tapi tadi Adelya mengatakan jika dirinya akan di promosikan.


"Bukalah, Bel." Pinta Bu Vio.


"Ini surat dari pusat. Sepertinya mereka melihat potensi kamu, Bel. Kamu dipindahkan kesana besok. Selamat atas kerja kerasmu, kau di promosikan menjadi seorang Manager!" Kata Bu Vio. Bella mengerjapkan matanya berkali-kali, seolah tidak percaya. Bagaimana bisa?


Bella membaca isi amplop tersebut dan langsung tersenyum. Ia melihat kearah Bu Vio dan langsung memeluknya. "Selamat, Bel." Kata Bu Vio.


"Maaf Bu..." ucap Bella setelah sadar jika sudah terlalu lama memeluk Bu Vio. "Saya hanya terlalu senang dan tidak percaya." Lanjutnya.


"Tidak apa, Bella. Hal yang biasa. Kamu harus sering-sering berkunjung kemari setelah bekerja di sana. Saya tau jaraknya cukup jauh dari pusat, tapi mampirlah jika tidak sibuk." Ucap Bu Vio.


"Pasti, Bu. Saya mengucapkan terima kasih banyak."


"Ini semua atas kerja keras kamu, Bel. Kenapa harus berterima kasih kepada saya?"


"Tapi Bu Vio juga bagian dari kerja kerasku." Kata Bella sambil tersenyum. Ia mengusap pipinya yang mulai basah. Ia selalu saja menangis jika terlalu bahagia.


Bella! Ayo semangat di tempat barumu!


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih semuanya sudah membaca Malvaro's Desire sampai part ini. Jangan lupa memberikan vote and comment, ya!


Oh, ya, untuk visualnya kalian bisa lihat di instagram @storybyyustine_ ya!


Terima kasih semua, i love you ❤