6 Years With You

6 Years With You
BAB 25



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA SAMA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


|VOTE & COMMENT!


*Visual Kate aku ganti ya karena menurut aku kurang cocok. Kalian bisa ke chapter dua puluh untuk lihat visual baru Kate.


Acara makan malam telah selesai. Saat ini Daniel sedang dalam perjalanan mengantar Bella kembali ke apartmentnya. Bella pun sudah bisa tenang, akhirnya apa yang ia pikirkan sejak kemarin tentang apa keluarga Daniel akan menerima kehadirannya adalah kebalikannya. Henry dan Bellina menerima Bella menjadi menantu pertama di keluarganya. Bahkan Bellina berkata untuk memanggil dirinya dengan sebutan Mama seperti Daniel.


Selagi Daniel tidak keberatan maka Bella akan melakukan apa yang Bellina inginkan. Minggu depan Bellina akan datang ke kediaman Malvaro untuk membahas pernikahan mereka. Jujur Bella sangat sibuk minggu depan karena akan diadakan meeting terakhir untuk project penerimaan karyawan baru. Tetapi ia juga tidak mau dianggap sebagai calon menantu yang melalaikan acara pernikahannya sendiri.


Entahlah. Apa dia akan menyerahkan tanggung jawabnya kepada Zara saja? Tapi pertemuan ini sangat penting. Ia juga harus ikut andil dalam menentukan keputusan.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Daniel tanpa melirik ke arah Bella.


"Aku sibuk minggu depan jadi aku tidak tau harus bagaimana. Aku sedang pikirkan caranya agar bisa mendatangi keduanya." Jawab Bella. Daniel menganggukan kepalanya. Menurut Daniel masalah Bella adalah hal yang sudah biasa Daniel rasakan.


"Minggu depan aku ada meeting penting untuk penerimaan karyawan baru dua minggu lagi." Sambung Bella.


Daniel sekarang mengerti apa masalahnya. Kenapa calon istrinya ini begitu bodoh? Kenapa dia hanya melihat dari satu titik. "Kau bisa memindahkan jadwal meetingnya lebih awal atau mungkin setelah dari pertemuan dengan mama."


"Kau benar, kenapa aku tidak memikirkan itu. Kau terbaik, Daniel." Bella mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum ke arah Daniel. Daniel menanggapinya dengan anggukan kecil dan kembali fokus mengemudi.


Besok ia akan bilang ke Zara untuk mengubah jadwal meetingnya menjadi satu hari lebih awal. Dengan begini ia sudah tidak mempermasalahkannya. "Oh, ya, apa dia adikmu yang menjadi model Victoria Secret itu?" Tanya Bella tiba-tiba. Sejak tadi pertanyaan itu menganggunya.


Daniel mengangguk. "Kenapa?"


"Tidak apa. Aku cuman senang." Kata Bella sambil tersenyum geli. Dia tidak mau bilang ke Daniel kalau sebenarnya dia adalah penggemar adiknya itu. Setiap tahun ia akan menonton fashion show milik Victoria Secret, meskipun ia tidak pernah bisa membeli salah satu produknya karena harganya terlalu bagus.


Daniel juga diam meski ia melihat Bella senyum sendiri. Bukan Daniel bila dia tidak cuek terhadap apapun yang tidak penting. Jika dia penasaran baru ia mencaritahunya sendiri.


•••


Semenjak makan malam dengan orangtua Daniel, Bella setiap hari menerima pesan dari Bellina. Mertuanya itu mengajak Bella untuk pergi ke mall dan menemaninya belanja padahal dirinya sangat sibuk bekerja. Ia merasa bersalah karena harus menyerahkan tugasnya lagi kepada Zara. Makin lama ia akan dianggap tidak becus dalam melaksanakan tanggung jawabnya oleh karyawannya.


"Maafkan aku ya, Zara. Setelah minggu ini kamu bisa memberikan banyak tugas padaku dan kau bebas izin selama dua hari." Ucap Bella kepada Zara dengan muka melas.


"Tidak masalah, Bu Bella. Itu sudah menjadi pekerjaan saya. Saya senang melakukannya karena saya berguna untuk anda." Balas Zara sambil tersenyum. Bagi Bella perempuan berambut pendek dan manis di hadapannya ini sangatlah keren. Ia tau adiknya baru saja mengalami kecelakaan dan dalam dua hari ia sudah kembali bekerja lagi, padahal Bella dengan senang hati membiarkan Zara mengambil cutinya untuk merawat adiknya. Berhubung Zara hanya tinggal berdua dengan adiknya.


"Baiklah, segera hubungi aku bila ada hal yang mendesak. Katakan pada tim untuk segera melaporkan semua bahan yang akan kita bicarakan besok." Ucap Bella sambil mengambil tas coklatnya itu. Zara menganggukkan kepala.


"Siap, Bu Bella. Anda bisa pergi dengan tenang, semua urusan Bu Bella akan aman terkendali dengan saya." Kata Zara sambil tersenyum sumringah. Bella tersenyum sebelum meninggalkan ruangannya menuju pintu utama Marvo di lantai dasar.


Sedangkan di lantai dasar, banyak karyawan yang mempertanyakan kehadiran dari nyonya Malvaro ini. Meski bukan sekali dua kali kehadirannya disini tetapi yang anehnya, kenapa dia hanya berdiri di depan meja resepsionis. Bahkan, dua wanita di meja resepsionis heran dengan Bellina.


Bellina langsung tersenyum ketika melihat kehadiran calon menantunya. Bella turun dengan mengenakan baju kantornya dan memeluk calon mertuanya itu. Sikap mereka kali ini benar-benar membuat publik bertanya. Apa hubungan wanita itu sama pemilik Marvo Corp. ini?


Mereka tau kalau yang dipeluk adalah Isabella Quinn! Si perempuan gila kerja dan berhasil membuat penghasilan yang besar dari proyek Boston. Ada artikel yang memberitakannya saat itu.


"Maaf aku membuat mama menunggu lama." Ucap Bella sambil tersenyum. Bellina menggeleng pelan.


"Tidak, sayang. Mama juga baru saja tiba." Balas Bellina dan memeluk bahu Bella. Dia bahkan tidak peduli jika banyak pasang yang menaruh perhatian ke mereka, karena Bellina tidak malu menunjukkan calon menantunya. Walaupun belum ada yang tau jika Bella adalah calon menantunya.


Bella sedikit terkejut sebenarnya melihat Bellina menunggunya di lobby, bukan di depan pintu lobby. Tepatnya mobil di depan lobby. Ia sudah berkali-kali pergi bersama calon mertuanya ke berbagai tempat dan bahkan mengunjungin butik temannya.


Bella sudah tidak tau apa hubungannya memang sudah berubah dari tertutup menjadi terbuka? Daniel bahkan sama sekali belum mengoreksinya, ia masih diam. Diamnya adalah misteri bagi Bella, lelaki itu selalu saja datar dan mengangguk. Atau, berdeham saja. Entahlah. Daniel sangat susah di tebak jalan pikirnya bagi Bella.


Biarkan waktu yang menjawab.


Sepulang dari berbelanja dengan Bellina, Bella akhirnya bisa merebahkan tubuhnya di sofa panjang di ruang tamu apartmentnya. Ia melirik ada tujuh tas belanja dengan merek terkenal. Bellina bilang jika sejak dulu ia ingin anak perempuan yang bisa memakai baju pilihannya, sehingga Bella menjadi korbannya.


Apa selama ini adik Daniel tidak pernah mau memakai baju pilihan mamanya?


Bella beranjak dari sofanya dan mengambil tujuh jas belanja itu. Ia meletakkannya di salah satu sudut rumahnya dan digabung dengan tas belanja merek lainnya. Ia menghela nafas panjang.


"Jika begini terus, bisa jadi apartmentku berubah menjadi gudang." Gumam Bella sendiri. Tempat tinggalnya tidak terlalu luas, bahkan lemari bajunya juga sudah tidak muat lagi untuk menampung pemberian Bellina. Besok ia sudah harus menghentikannya karena akan membahayakan area gerak dirinya di apartment.


Dibawah basuhan air shower di kamar mandi. Bella memikirkan bagaimana cara ia memberitahu ke Kate, Stevan, dan mamanya? Dia tidak mungkin langsung membawa Daniel ke hadapan mereka dan bilang mereka akan segera menikah dalam waktu dekat. Belum lagi kondisi mamanya baru saja membaik, sedangkan untuk Stevan, ia belum menerima kabar lagi.


Besok ia akan menelpon adiknya untuk mengetahui perkembangan jauhnya. Jika belum bisa, maka ia akan turun tangan membantunya. Ia juga tidak mau karena masalah ini, kuliah Stevan menjadi terganggu yang mengakibatkan beasiswa penuhnya di cabut.


Kate is calling....


Bella tersenyum kecil melihat nama sahabatnya itu. "Kenapa, Kate?"


"Apa aku tidak boleh menghubungimu? Kenapa kau seakan tidak suka jika aku menghubungimu?" Sergah Kate dengan nada yang terdengar sedikit kesal. Bella tertawa kecil.


"Bukan begitu. Ini sudah sangat malam, kau sudah harus tidur."


"Sama saja! Intinya kau tidak suka jika aku telpon!"


"Kate, kau seperti sedang merajuk ke pacar." Kekeh Bella sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Aku hanya merindukanmu. Ini sudah seminggu lebih kau tidak menghubungiku. Apa kau tidak sayang padaku?"


"Tentu aku merindukanmu. Tapi, bukannya kau sudah ada yang kau sayangi." Goda Bella. Ia tersenyum geli.


"Siapa? Memangnya ada? Aku ini masih single and masih menunggu pangeranku datang."


"Aku bilang jika orang yang disayangi itu kedua orangtuamu, Kate. Kenapa kau menyimpulkan hubunganmu dan pangeran?" Bella lagi-lagi ketawa. Ia tidak pernah bosan untuk mengerjai Kate dan membuat jiwa pemarah gadis itu muncul.


"Bella! Kau mau aku darah tinggi, hah?" Tukas disana.


"Kalau sudah tinggi yasudah, diturunkan lagi, Kate." Timpal Bella yang membuat Kate semakin kesal.


"Aku menyesal merindukanmu!"


"Oh, ya? Aku juga merindukanmu."


"Bella! Pertemanan kita selesai! Titik! No debat! Valid!"


Bella hanya tertawa menanggapinya. "Kate! I love you too!" Balasnya.


Detik itu juga ia mendengar suara sambungan terputus. Kate dan tingkahnya selalu membuat setiap orang geleng-geleng. Ingat dengan kata ini, jika Kate tidak bisa membuat orang geleng-gelang maka itu bukanlah Kate!


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa untuk memberikan VOTE & COMMENT sebagai bentuk apresiasi dan semangat kepada aku hehe. Thankyou bagi kalian yang udah baca cerita ini dan meskipun alurnya lambat, i hope u all enjoy the story 😊


Aku udah selesai membuat garis besar untuk cerita ini hingga ending. Semoga kalian suka dengan ceritanya :)