
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
Kembalinya Bella dari ruang Bu Vio, John bersama dengan Kate dan Adelya menghampiri dengan rasa penasaran. Mereka lihat wajah Bella seperti habis menangis, apa bukan kabar gembira? Wah, jika benar karena masalah tadi pagi dengan Jesslyn, Kate sudah siap melayangkan tinjunya di wajah Jesslyn.
"Kenapa? Bagaimana? Ceritakan pada kita," kata John, ia menarik kursi mendekat ke Bella. Begitu juga dengan Kate dan Adelya.
"Tenang saja, Bel. Aku udah siap dengan tinjuku kalau ini berkaitan dengan si kutu ular!" Seru Kate dengan mata kebencian. Ia sudah mendeklarkan perang dengan Jesslyn sejak awal.
"Bu Bella, itu isi amplop putihnya apa?" Tanya Adelya.
"Loh, kamu gak di pecat kan, Bel? Wah sumpah, si Jesslyn minta tinjuanku sepertinya!" Kate beranjak berdiri dan memasang kuda-kuda. Cuman Bella langsung menarik kembali untuk duduk. Kenapa sih dengan semua temannya, hanya Adelya paling normal. John sangat heboh, sedangkan Kate sangat bar-bar.
"Aku baik-baik aja, Kate, John, Del. Aku dipindah tugaskan ke pusat sebagai Manager." Ucap Bella sambil menunjukkan lembar surat tersebut. Mereka bertiga langsung membaca surat tersebut dan bersorak gembira.
"Astaga, Bel. Selamat! Udah bukan Bella lagi nih panggilannya, tapi Bu Bella!" Seru Kate.
"Aku sih tidak ada perubahan." Sela Adelya.
"Selamat Bella, cuman aku sedih kamu jauh. Nanti siapa yang bakal aku ajak seru-seru lagi." Ucap John dengan lirih. Bella menepuk bahu John.
"Aku ini masih di satu kota yang sama. Jadi kenapa harus sedih? Aku masih bisa mengunjungi kalian disini." Ujar Bella sambil tersenyum.
"Ah, Bel. Pekerjaanmu sibuk, jangan repot-repot untuk datang kesini. Jika sedang ada kerja disini aja kamu bisa menemui kami." Ucap Kate berusaha mengerti. Walaupun Kate ini bar-bar cuman dia yang paling pengertian.
"Iya, Bu Bella. Pekerjaan menjadi Manager itu sudah cukup besar, jangan repot-repot datang kesini." Kata Adelya.
"Baiklah, kalau begitu yang kalian mau. Tapi kita masih harus stay in contact!" Pinta Bella, lalu mereka berempat berpelukan. Seperti kartun teletubbies.
"Oh ya Bel, kalo kamu pindah ke pusat berarti bakal sering ketemu sama Daniel dong. Si ketua komisaris itu." Ucap Kate.
"Wah, menang banyak dong, Bel!" Seru John sambil menyenggol bahu Bella. Bella hanya tertawa kecil. Apanya yang menang banyak. Dia aja gak tau akan sering bertemu atau tidak.
"Gak, John. Kalian ini udah berhenti menyudutkanku."
"Siapa yang menyudutkanmu Bella, Guys. Emang, iya?" Tanya Kate sambil melihat John dan Adelya bergantian. Kemudian mereka bertiga tertawa sedangkan Bella hanya mempoutkan bibirnya. Kenapa dia selalu di olokkan jika membahas Daniel Malvaro. Dia aja baru bertemu sebanyak tiga kali. Satu saat di bandara, dua saat dia berkunjung ke proyek Boston, dan terakhir saat pesta kesuksesan.
"Malam ini kita harus makan malam! Tidak ada penolakan!" Pinta John sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Kate menganggukan kepala, membenarkan ide dari John.
"Baiklah, aku tidak punya alasan untuk menolak." Kata Bella. John, Kate, dan Adelya berseru riang.
Mereka berempat menyelesaikan semua tugas dengan cepat agar bisa pergi makan malam.
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya di Marvo yang berdiri di jalan Manhattan. Daniel berjalan menyusuri lorong sambil melonggarkan dasinya. Hasil meeting hari ini sangat memuaskan, tidak seperti minggu lalu. Akhirnya, ia hanya perlu menunggu laporan lanjutan dari ketua penyelenggaranya. Sean mengekori Daniel dari belakang dengan beberapa dokumen yang ia pegang.
Setelah melihat Daniel duduk di kursi kebesarannya sebagai ketua komisaris, Sean membuka tab dan membacakan beberapa laporan dan pertemuan lain.
"Sepertinya perkiraan boss mengenai perusahaan Spencer benar. Mereka telah memanipulasi perusahaan dan berutungnya kita sudah menyiapkan strategi untuk melawan mereka." Kata Sean. Daniel tersenyum kecil.
"Selanjutnya, sore ini Boss akan mengunjungi proyek di Brooklyn dan bertemu dengan Ronald untuk mendiskusikan proyek taman kota disana." Lanjut Sean. Daniel menyimak sembari melihat keluar jendela yang ada di sampingnya.
"Selanjutnya, setelah dari Brooklyn, anda kembali ke Manhattan untuk makan malam bersama Loren." Sean menutup tap dan melihat kearah Daniel. Apa dari tadi Daniel tidak mendengarkan dirinya membaca jadwal kegiatan?
"Boss?" Panggil Sean.
"Apa ada kabar dari Bella?" Tanya Daniel.
Panjang lebar ternyata cuman nanya Bella? Untung boss. Sabar. Batin Sean.
"Belum, Boss. Tapi saya sudah mengirim surat ke Jewels." Kata Sean. "Seharusnya sudah sampai sejak siang tadi." Lanjutnya. Daniel hanya menganggukan kepala dengan sebuah telunjuk menyentuh dagu.
"Oh, ya, ada apa Loren mengajakku makan malam?" Tanya Daniel.
"Nyonya memintaku untuk menambahkan jadwal makan malam kemarin, untuk malam ini," jawab Sean. Daniel berdesis. Jujur ia sangat malam dengan segala perjodohan oleh Ibunya. Meskipun Henry tidak menjodohkan Daniel dengan siapapun, Ibunya selalu saja melakukannya.
Namun kemarin malam, Henry baru mengumumkan jika dirinya gagal dalam 1 bulan, maka harus menerima jika dijodohkan oleh Henry. "Kosongkan jadwal makan malam itu. Lebih baik aku pulang dan tidur, kemarin aku tidak sempat untuk tidur." Ucapnya.
"Tapi, Tuan...Nyonya mengatakan jika saya tidak membuat anda untuk datang maka pekerjaan saya akan hilang."
Daniel berdecak kesal. "Iya, aku datang." Ucapnya malas.
Kate menghampiri meja kerja Bella dan mengatakan, "Bel, udah jam 5 nih. Aku udah selesai kerja."
"Aku bentar lagi, sebentar ya." Ucap Bella. Kate mengangguk dan duduk di meja sebelah Bella yang kosong. Tidak lama kemudian, datanglah John dengan Adelya. Akhirnya mereka bertiga menunggu Bella menyelesaikan rekap data untuk di laporkan besok kepada Bu Vio sebelum lusa ia pindah ke kantor pusat.
"Ayo, aku udah selesai." Kata Bella sembari mematikan komputer dan mengambil tasnya.
Malam ini mereka akan makan di salah satu restoran langganan Kate. Letaknya tidak jauh dari perusahaan dan harga disini sangat terjangkau. Tidak heran setiap harinya selalu ramai pengunjung. Restoran yang terletak di Brooklyn ini memang sangat ramai ketika malam hari. Beruntungnya Kate mengenal pemiliknya, sehingga ia dengan mudah melakukan reservasi.
Mereka menaiki kendaraan masing-masing, terkecuali Bella dan Adelya. Adelya ikut mobil John, dan Bella ikut mobil Kate. Biar seimbang. Sesampainya di Restoran yang mereka tuju, mereka memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Bella bisa melihat antrian panjang diluar restoran padahal baru jam 6 sore.
"Ayo masuk, aku jamin kalian pasti suka." Kata Kate, ia menarik tangan Bella sedangkan John dan Adelnya mengekori mereka.
Kate memesan semua menu makanan hari ini karena hanya kate yang berpengalaman disini, sehingga mereka membiarkan perempuan bar-bar itu menentukan menu makanan. Sepertinya malam ini akan menjadi panjang karena Kate memesan minuman alkohol. Mereka pasti akan memaksa Bella untuk minum nanti. Ayo Bella! Kau jangan sampai mabuk!
Cheers!
Ketika makanan sudah datang semua, mereka berempat mengaduhkan gelas bersama sehingga menimbulkan suara berdenting dari gelas. Kalau Bella tidak salah hitung, ini sudah gelas kedua karena ia tidak mau minum terlalu cepat. Sedangkan, John sudah meminum gelas yang ketiga. Satu sama dengan Kate. Adelya tidak kuat minum, jadi mereka memaklumi jika hanya minum satu gelas.
Bella masih kuat untuk minum lebih banyak cuman ia memutuskan untuk tidak mabuk malam ini. Dari pandangan Bella, sebenarkan John dan Kate sangatlah cocok. Mereka tidak pernah berhenti bersahutan, bahkan ketika mabuk juga. Ia tertawa kecil memperhatikan gurauan mereka berdua. Sialan! Mereka berdua tidak boleh minum lagi, siapa yang akan membawa mobil mereka?!
"Sudah kalian tidak usah minum lagi! Nanti siapa yang akan mengantar kita pulang?" Tanya Bella, sambil menarik gelas Kate yang hampir ditegak lagi oleh sahabatnya itu.
"Iya, John. Kau janji untuk mengantarku pulang nanti." Kata Adelya.
"Kau kembali naik taksi saja, aku tidak berniat pulang malam ini." Ucap John dengan mata setengah terbuka. Astaga, dia sudah mabuk parah!
"Kita tinggalkan mobil disini tidak masalah, bukan?" Tanya Adelya kepada Bella.
"Iya, tidak masalah. Paling juga nanti John menanggung biaya menginapnya." Jawab Bella sambil terkekeh.
"Aku ingin memesan taksi dulu, Bu." Balas Adelya.
"Pesankan dua, sekalian untuk Kate." Sela Bella. Adelya menganggukan kepala. Beginilah nasib jika tidak bisa mengemudikan mobil. Biasanya Bella akan selalu menggunakan kendaraan umum untuk pulang atau berjalan kaki jika tidak terlalu capek. Jarak rumah dengan perusahaan Jewels memang tidak begitu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat.
Bella membayar semua tagihan makan malam setelah dua taksi yang Adelya pesan sudah sampai. Adelya dan Bella membawa mereka berdua memasuki taksi masing-masing, kemudian mengatakan alamat tujuannya.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Bu Bella." Ujar Adelya.
Bella menganggukkan kepala. "Selamat malam, Adel."
"Selamat malam, Bu Bella. Terima kasih untuk hari ini." Kata Adelya sambil tersenyum.
Bella memutuskan untuk jalan kaki malam ini. Ia ingin menikmati kota brooklyn di bawah jutaan bintang. Sesekali ia bersenandung kecil agar tidak terlalu kosong pikirannya. Malam ini sangat dingin ditambah dengan kondisi tubuhnya yang hampir mendekati mabuk, namun kesadarannya masih ia rasakan.
"Nona cantik, anda mau kemana? Mau saya antar pulang?" Goda seorang lelaki dengan lengan bertato. Bella menghindari lelaki itu dan kemudian berlari. Sesekali ia melihat kebelakang, memastikan lelaki asing itu tidak mengejarnya.
Sialan! Dug!
"Aku dapat, Noah!" Seru lelaki di hadapan Bella. Lelaki itu memegang lengan Bella dan mencengkramnya kuat agar tidak lepas. Bella sedikit meringis karena lengannya merasa sakit.
"Lepaskan, ********!" Bella sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan lelaki asing itu.
Lelaki itu menyeringai. "Tidak mungkin, Nona. Hari ini kau akan menjadi santapan kami." Ucapnya. Lelaki bernama Noah yang sebelumnya dibelakang kini sudah di hadapan Bella, ia menyentuh wajah Bella yang sangat lembut.
Bella menatap tajam ke Noah. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu! Aku akan berteriak jika kau melakukannya lagi!"
"Teriak saja! Kau tidak lihat jalanan disini sepi?!" Bentak Noah. Bella memejamkan matanya takut. Dia tidak boleh takut sekarang. Ketakutan hanya akan membuat kedua lelaki di depannya tertawa puas.
"Billy, sudah bawa dia ke tempat kita. Hari ini kita mendapat mainan bagus." Pinta Noah. Billy tersenyum sambil menganggukan kepala. Ia menarik Bella paksa dan menyeretnya bahkan menarik rambut Bella. Membuat Bella meringis meronta kesakitan.
"TOLONG!!! SIAPAPUN TOLONG!!" Teriak Bella. Ia menangis karena merasakan sakit pada kepalanya.
Tolong...aku akan melakukan apapun jika seseorang menyelamatkanku. Batin Bella.
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai, semoga suka sama chapter kali ini. Jangan lupa untuk vote dan Comment, ya! I love you 💖