6 Years With You

6 Years With You
MD - Tiga



"Maafkan saya, Bu." Bella tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran seorang lelaki yang menunduk di sebelahnya. Hampir saja ia terloncat. Sedetik kemudian Bella mengerutkan dahinya, kenapa lelaki di sebelahnya berkata minta maaf? Memangnya salah apa dia?


"Perkenalkan saya Sean. Saya sekretaris dari lelaki yang baru saja mengambil taksi pesanan anda," kata lelaki itu. Bella menganggukan kepala. Jadi Sean adalah sekretaris dari anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja.


"Oh, untuk apa anda minta maaf. Anda tidak melakukan kesalahan. Lagi pula saya sudah merelakan taksi saya, saya bisa memesan yang baru." Ucap Bella sambil tersenyum. Padahal dalam hati ia melontarkan segala doa dan meminta keberuntungan agar boss nya tidak memecat dirinya.


"Sudah seharusnya saya minta maaf. Lagi pula adanya kejadian ini karena kelalaian saya dalam mengatur waktu jemputan." Kata Sean. Bella menggerakkan tangannya seolah berkata tidak.


"Tidak usah terlalu dianggap serius." Balas Bella sambil terkekeh. Sean ikut tersenyum.


"Baiklah, sebagai gantinya, beliau meminta saya untuk mengantar anda ke tujuan."


"HAH?!" Seru Bella, ia langsung menutup mulutnya. Sontak teriakan Bella menarik perhatian orang yang belalu lalang di bandara. Emang mulutnya susah banget buat di rem.


Sean tertawa kecil. "Mr. Malvaro meminta saya untuk membawa anda ke tempat tujuan. Beliau merasa bersalah karena sudah mengambil taksi anda setelah dikatain tidak tau diri," ujarnya.


Uhuk uhuk


"Anda tidak apa, Miss?" Tanya Sella. Bella menggerakkan tangannya sebagai jawaban bahwa dirinya tidak apa.


"Saya baik-baik saja. Sepertinya lebih baik saya naik taksi saja, lagi pula tidak enak jika naik mobil atasan kamu."


"Saya tidak bisa menolak, Miss. Beliau tidak suka di tolak jadi tolong bantuannya." Kata Sean sambil menundukkan dirinya. Bella melirik ke sekitar. Astaga Sean! Dengan posisi menunduk di tengah keramaian ini membuat oranglain berpikir yang aneh-aneh.


"Sean udah jangan nunduk. Gak enak diliatin orang," ucap Bella.


Sean diam. Dia seakan menunggu jawaban Bella.


"Baiklah saya terima bantuan kamu. Ucapkan terima kasih kepada Mr. Malvaro. Padahal saya bisa naik taksi." Kata Bella sambil tersenyum. Demi Dewi Neptunus, mimpi apa Bella semalam?! Bayangkan sekarang dirinya akan duduk di mobil anak pemilik tempat dirinya bekerja. Dia sangat baik hati! Ia menarik ucapan tentang tidak tau diri.


"Biarkan kopernya saya bawakan," pinta Sean.


"Tidak usah, saya bisa melakukannya sendiri." Balas Bella. Bagaimanapun ia tidak bisa berlagak seenaknya. Sean bukan seorang pelayan jadi tidak ada alasan buat Bella untuk membiarkan lelaki itu membawa kopernya.


Sean hanya diam dan menuntun Bella ke tempat mobil diparkirkan. Di dalam mobil Sean menceritakan kenapa atasannya bisa senekat itu mengambil alih taksi pesanan Bella. Lelaki itu bilang jika mobil yang dipakai sekarang itu mengalami sedikit kerusakan, mesinnya tidak bisa dinyalakan padahal belum lama di servis. Karena hal itu, mobil mereka telat datang sedangkan jadwal Mr. Malvaro sudah terdesak. Sean selalu melakukan semuanya dengan sempurna seperti Mr. Malvaro. Oleh karena itu, Sean merasa ada hal yang mengganjal. Ia akan menyelidikinya.


Bella hanya menyimak cerita Sean. Ia tak tau menahu tentang semuanya. Mungkin bagi Bella soal mobil tidak bisa menyala adalah hal yang biasa. Cuman kalau mobil tersebut baru di servis maka harus di pertanyakan.


"Oh, ya, sebelumnya nama anda siapa?" Tanya Sean dari balik kaca mobil di dalam.


Bella memang duduk di kursi belakang karena Sean memaksa. Meskipun Bella tau tidak mempunyai wewenang untuk duduk disana. "Nama saya Isabella Quinn. Panggil Bella saja." Jawab Bella sambil tersenyum.


"Baik, Bella."


Bella takjub dengan keahlihan Sean. Pantas saja dia bisa bersanding dengan Mr. Malvaro yang pintar di bidang bisnis dan sangat di segani bagi pesaingnya. Sean sangat lihai dalam pekerjaannya.


"Terima kasih, Sean. Titipkan rasa terima kasihku kepada Mr. Malvaro." Ucap Bella ketika sudah sampai di rumahnya. Sean hanya tersenyum dan kemudian melajukan mobilnya. Bella masih belum bisa melupakan sensasi duduk di mobil anak pemilik perusahaan. Mimpi apa semalam?


"Bella!"


Bella langsung membalikkan badannya dan melihat sosok yang sangat ia rindukan. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia langsung memeluk Ibunya dan menangis disana. Ibu Bella langsung mengusap kepala dan punggung Bella dengan lembut. Akhirnya isak tangis memenuhi kerinduhan mereka.


"Dimana Stevan, Bu?" Tanya Bella. Mereka sudah di dalam rumah dan Ibu Bella sedang mempersiapkan makan siang.


"Stevan sedang part time kalau sedang tidak ada jadwal kuliah." Jawab Ibu Bella. Bella menganggukan kepala. Berbicara tentang adiknya, namanya adalah Stevan Quinn. Adiknya sedang berkuliah di Boston University, salah satu kampus bergengsi di Boston. Beruntungnya adiknya mendapat beasiswa full.


"Sini biar Bella bantu." Ucap Bella sambil berjalan ke arah dapur. Ibu Bella mengangguk. Setelah itu, merek berdua menghabiskan waktu bersama dan membicarakan segala hal sebelum Bella kembali bekerja.


•••


Sean memarkirkan mobilnha di depan gedung perusahaan Steel yang berada di Boston. Dari depan pintu utama, Sean bisa melihat Bossnya sedang berjabat tangan dengan salah satu kolega bisnisnya. Sepertinya semua berjalan lancar. Sean tersenyum kecil. Apa yang tidak bisa bossnya taklukkan? Semua pesaing didepan mati-matian mengalahkannya namun tidak ada yang pernah berhasil.


Hanya satu yang tidak bisa boss nya lakukan yaitu mendapatkan pasangan hidup. Sebenarnya di umurnya yang sudah menginjak angka tiga dan keahlihan dalam bidang bisnis, sudah bisa memenuhi kebutuhan seorang pimpinan atau direktur utama. Namun para dewan direksi seakan menolak karena menganggap jika orang yang sudah menikah, lebih bisa diandalkan untuk memimpin perusahaan. Jika sudah berhasil membina rumah tangga baik, maka membina perusahaan juga sangat baik. Layaknya sebuah cermin.


Sean keluar dari mobil ketika melihat boss nya tengah berjalan ke arahnya. Ia membukakan pintu untuknya. Kemudian, ia menjalankan mobil menuju destinasi pertemuan selanjutnya. Belum menjadi direktur saja pekerjaannya sudah sangat sibuk, bagaimana jika sudah naik jabatan?


Bossnya ini memang sangat workaholic. Bahkan Sean terkadang kewalahan untuk mengimbangi kinerja atasannya ini. Lagi pula siapa yang tidak mengenal Daniel Malvaro? Lelaki yang berhasil menguras semua prestasi dalam satu tahun pekerjaannya dan kinerja kerjanya tidak perlu di ragukan lagi.


"Bagaimana masalah dengan perempuan tadi di bandara? Apa dia minta ganti rugi? Jika iya, berikan dia selembar cek saja." Ucap Daniel asal. Menurutnya selembar cek sejumlah 10 juta tidak ada nilainya. Ia bahkan bisa mendapatkan penghasilan seperti itu dalam waktu cepat.


Bukan bermaksud sombong, cuman itu kenyataannya. Ada yang sirik? Kerja keras!


"Tadi saya sudah melakukan yang seperti Anda mau. Dia bahkan menolak sebelumnya, cuman akhirnya dia mau juga. Oh, ya, sepertinya dia pegawai kita, Pak." Balas Sean sembari melirik Daniel dari kaca mobil.


"Oh, ya, namanya siapa?"


"Isabella Quinn. Tadi saya tidak sengaja melihat kalung name tag nya. Dia dari anak perusahaan kita, Pak."


Daniel menganggukan kepala. Ia tidak berniat untuk mengetahui lebih jauh lagi. Laporan yang ada di tangannya lebih menarik untuk ditelusuri. "Oh, ya, Sean. Kamu pelajari laporan ini ya, sangat berguna untuk pertemuan dengan Millenov." Imbuh Daniel sambil menyodorkan Sean laporan tersebut.


"Baik, nanti saya pelajari, Pak." Balas Sean, kemudian ia fokus menyetir lagi menuju perusahaan Harrison. Mereka akan bertemu dengan Arthur Harrison untuk membahas pembaharuan kerja sama.


|TO BE CONTINUE