6 Years With You

6 Years With You
BAB 20



|SELAMAT MEMBACA


|TYPO BERTEBARAN


|VOTE & COMMENT!


*untuk visual karakter bisa dilihat di instagram : @storybyyustine_


Kate menghela nafas kasar ketika ia mengingat kembali beberapa jam sebelumnya. Kenapa juga ia harus mengingat hal itu? Bikin kesal saja! Bahkan Stevan yang duduk di samping Kate menatap bingung. Ada apa dengan Kate? Apa sewaktu dia menghilang, kepalanya terbentur sesuatu sehingga sel saraf di kepalanya ada yang terputus?


"Argggg!!!" Kate kembali berteriak kecil. Stevan masih terdiam memperhatikan tingkah Kate yang aneh. Kenapa dia berteriak? Sepertinya ia harus membawa Kate ke dokter ahli saraf untuk memperiksakan apa ada yang konslet?


Beberapa jam yang lalu...


Kate keluar dari sebuah apartment di kota Boston. Ia melihat ke arah pintu apartment dan mengumpat kesal. "Sialan tuh lelaki! Untung saja saat ini aku mementingkan Bella, jika tidak ada Bella, sudah ku pastikan juniornya juga ikut bengkok!" Tukas Kate kesal. Ia menghentakkan kakinya seraya berjalan ke tepi jalan raya.


Sembari menunggu taksi lewat, kepalanya terngiang-ngiang akan wajah lelaki yang tidak ia kenal. "Kenapa terus muncul?! Pergi, pergi!" Ucapnya bermonolog. Kate mengibaskan tangannya ke arah jalan raya ketika melihat sebuah taksi dari ujung sana. Namun taksi tersebut tidak berhenti. Taksi tersebut sudah ada penumpang jadi tidak mungkin ia berhenti.


Kate melirik ke arah jam di ponselnya. Ia menghela nafas kesal ketika melihat sudah jam setengah satu pagi. Kalau ia lihat-lihat sudah tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang di sekitar jalan sini. Apa aku jalan kaki saja ke rumah sakit, pikirnya.


Ia melihat peta dari aplikasi ponselnya. Jika ia berjalan kaki maka akan sampai disana selama satu jam, tapi kalau ia menggunakan mobil akan sampai dalam 20 menit. Berjalan kaki sampai rumah sakit pasti akan membuat betisnya semakin besar. Apalagi saat ini, ia hanya memakai sepatu bukan untuk olahraga. Jadi, sudah dipastikan kakinya akan lebih dulu kelelahan.


"Ini semua karena lelaki sialan itu! Brengsek! Lelaki tidak berperikemanusiaan! Lelaki jelek! Bahkan pakaiannya hitam semua! Dia mau melayat atau fashionnya sangat monoton! Pokoknya lelaki brengsek!" Ia mengatakannya sambil berteriak di jalan yang sepi. Jika ada kendaraan yang lewat mungkin mereka akan mengira dia adalah orang gila.


"Kau bilang aku brengsek?" Suara bariton mengintrupsi Kate yang sedang mengumpat. Seketika ia sedikit terkejut dengan kedatangan lelaki yang sejak tadi menghantuinya. Namun secepat mungkin ia menetralkan wajahnya dan menaikkan dagunya agar terkesan tidak takut. Oh, ayolah, apa yang ditakutkan oleh seorang Kate?


"Iya! Kau sadar diri?" Tukas Kate memandang remeh lelaki itu.


Lelaki itu menyeringai. "Aku tidak kaget. Nama tengahku memang begitu."


Kate tersenyum sinis. "Kau memang pantas mendapatkan panggilan itu."


"Aku bahkan belum menyentuhmu, jadi kau tidak pantas menyebutku begituan." Balas lelaki itu sambil melangkah lebih dekat kearah Kate. Kate sama sekali tidak mundur, ia bahkan merasa lebih tertantang. Bagi Kate yang sudah memegang sabuk hitam pada bela diri taekwondo, untuk masalah ini adalah hal yang kecil.


"Kau tidak takut padaku?"


"Aku ulangi lagi ya Mr. Bastard! Seorang Kate tidak akan takut melawan apapun! Bahkan jika kau memintaku meloncat ke jurang sudah pasti ku lakukan!" Balas Kate tidak kalah sewot. Lelaki itu terkekeh. Makin lama ini semakin seru.


Lelaki itu mengangguk kecil. "Jadi kau berani melompat ke jurang? Baiklah, aku akan mengingatnya. Mungkin jika aku sedang kesal dan butuh permainan, aku akan memintamu untuk membuktikan ucapanmu."


Kate berdecak kesal. Ia juga merutuki kenapa mulutnya selalu tidak bisa di saring. "Dengar, ya, Mr. Bastard! Aku bukan mainanmu dan tidak akan pernah!"


"Apa aku meminta persetujuanmu? Kau tau kan anak kecil saja tinggal memilih mainannya jadi apa yang ku lakukan tidak ada bedanya."


Kate semakin menatap tajam ke arah lelaki itu. Ia langsung melayangkan tinjuan ke arah wajah lelaki itu namun dengan cepat lelaki itu menghindar dengan menangkap tangan Kate. Di saat itu juga kaki Kate tidak diam, dia juga mengarahkannya ke arah bagian sisi tubuh lelaki itu. Dan tangan lelaki itu menangkap kaki itu sehingga sekarang pergerakan Kate terkunci.


Kate tersenyum meremehkan. Lelaki itu juga balas tersenyum. Jangan meremehkan anak pemilik sabuk hitam! Pikir Kate.


Entah bagaimana caranya Kate bisa melepaskan tubuhnya dari lelaki itu. Beruntungnya masih ada tangan Kate yang tidak di tahan oleh lelaki itu jadi ia masih bisa memberikan pergerakan.


"Kau mau bertengkar disini?" Tanya lelaki itu.


"Menurutmu sekarang apa?!" Balas Kate dengan ketus. Lelaki itu tertawa kecil.


"Aku bisa membawa ke tempat yang lebih seru dari ini." Kate memutar kedua matanya dengan jengkel. Bukan waktunya lelaki itu memberikan ucapan ambigu. Ia bisa membaca bagaimana lelaki di depannya ini. Dia pasti sama dengan lelaki yang suka menghabiskan waktu di club dengan para wanita.


"Kau bisa mencari wanita lain."


"Sepertinya kau salah tangkap. Aku bicara tentang bagaimana kalau kita bertarung di arena tinju saja." Kata lelaki itu sambil tertawa puas menggoda Kate.


"Aku sedang tidak ingin bercanda brengsek!" Teriak Kate dan kemudian langsung melakukan pergerakan. Entahlah sudah berapa lama mereka bertengkar walaupun setiap perlawanannya bisa di tahan oleh lelaki itu.


Akhirnya Kate juga cape namun nampaknya lelaki di depan masih kuat. Sekarang ia menyesal kenapa sejak ia keluar dari taekwondo, ia tidak mulai berolahraga lagi. Makanya sekarang ia merasa cepat kecapean padahal baru setengah jam ia bertengkar.


"Aku kira kau masih kuat. Tapi ya aku maklumi. Kau perempuan jadi—"


"Persetan dengan kodrat itu! Aku tidak lemah! Aku hanya memberikanmu nafas saja." Kate tersenyum sinis. Lelaki itu mengangguk meremehkan Kate. Setiap gelagat dari lelaki itu membuat darah Kate semakin mendidih.


"Sudah kita hentikan! Besok aku masih ada urusan jadi tidak mau kurang tidur!"


"Apa peduliku, Mr. Bastard?"


Lelaki itu berdecak. "Tentu kau harus peduli! Kita sesama manusia saling membantu. Aku kesini untuk—"


"Aku tidak perlu belas kasihanmu. Kau bisa pergi!"


"Kau yakin akan menemukan kendaraan disini? Aku sih baik hati menawarkanmu tumpangan sampai ke rumah sakit." Ucap lelaki itu. Kate melirik ke arah lelaki itu. Bilang dong kalau mau beri tumpangan! Pikir Kate.


"Tidak perlu!" Ucap Kate sambil menjauh dari lelaki itu. Ia memilih untuk pergi dari tempat itu. Memang lain di hati lain di mulut.


Tidak lama kemudian, Kate merasa tubuhnya melayang. Ia melihat kalau kakinya sudah tidak menapak pada tanah. "Hei! Kau mau apakan aku?! Kau baru saja melepaskanku, kau bilang temanku sedang membutuhku?!"


"Temanmu tidak membutuhkanmu!" Balas lelaki itu. Kate merontah dan memukul punggung lelaki itu. Pada akhirnya Kate pasrah dan ia yakin kalau lelaki ini tidak mungkin melukainya. Kalau iya, lelaki itu tidak mungkin membebaskannya tadi.


Setelah di dalam mobil, Kate sadar kalau lelaki ini bukan lelaki biasa. Ia melihat interior mobil ini sangat menakjubkan. Namun ia tidak menunjukkannya kalau ia kagum, ia memilih melihat ke arah jendela sambil menyilangkan kedua tangannya.


Kate yang asing dengan jalan Boston akhirnya memilih memperhatikan jalan dari maps di ponselnya. Setelah melihat ada yang salah akhirnya ia mulai waspada. "Jalannya bukan lewat sini! Kita salah jalan!" Kata Kate memberitahu.


Namun tidak ada yang menanggapinya. "Aku bilang jalan ke rumah sakit tidak disini! Tuan Bastard, kalau kau memang ingin menjualku, aku yakini kau akan rugi. Tidak ada yang istimewa dariku!"


"Siapa yang ingin menjualmu. Kau pikir aku ingin memperdagangkan manusia?" Lelaki itu tampak kesal. Pekerjaannya bahkan sudah jelas jika Kate tau siapa dia sejak tadi. Apa Kate belum sepenuhnya sadar dengan siapa dia berbicara?


"Kau tidak mengenalku?" Timpalnya.


"Kalau kau sudah seperti Zayn Malik atau Justin Bieber, sudah kupastikan aku meminta tanda tanganmu sejak tadi! Memamgnya seterkenal apa dirimu." Ucap Kate sambil mencebik kesal.


Lelaki itu melongo. Ia menghembuskan nafas kesal. Mulanya ia ingin membuat Kate kesal jadi dirinya yang kesal.


"Aku hanya akan menyebutkannya sekali. Aku Damien Orlando! Lelaki tampan dan semua perempuan menyukaiku. Kau tau Phoenix Club di New York? Itu punyaku!" Tukas Damien sambil menyombongkan diri walaupun tidak sepenuhnya benar. Jika saja Andrew tau jika miliknya di klaim oleh Damien, sudah pasti Damien akan tinggal nama.


"Damien Orlando mungkin lebih cocok dengan Mr. Bastard!"


Sedangkan aksi mereka sejak tadi membuat asisten Damien menahan tawa. Sebab ia tidak pernah melihat tuannya yang sangat mementingkan harga diri dan tampilan, menjadi seperti anak muda yang mementingkan egonya.


Malam itu Kate jadi menginap di salah satu Villa milik Damien di Boston. Awalnya Kate dan Damien berdebat sebelum masuk pintu Villa. Ini karena Kate ingin segera bertemu dengan Bella, sedangkan Damien ingin tidur dulu sebab pagi-pagi ia harus ke bandara. Pada akhirnya Kate masuk juga karena merasa lelah dan ingin tidur.


Ia berusaha percaya jika Bella baik-baik saja seperti kata Damien. Pada pagi harinya, pintu kamar Kate di ketuk saat jam 7 pagi. Ia masih ingin tidur karena baru tidur jam 3 pagi. Ada seorang pelayan yang membawakan satu set pakaian yang terlihat sangat mahal.


Kate menerima pakaian itu lalu menutup pintunya. Ia tersenyum kecil karena siapapun akan senang jika diberikan pakaian yang begitu cantik. Bagi Kate, ia pasti tidak akan mampu untuk membeli pakaian seperti ini.


Begitulah apa yang terjadi pada Kate dan bagaimana ia bisa memakai pakaian branded di tubuhnya. Kata Damien, pakaiannya buat Kate saja karena ia tidak mungkin memakainya. Paling tidak ada satu poin baik bagi Damien dari Kate. Meskipun lebih banyak minusnya.


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih sudah membaca dan menunggu cerita ini update. Aku akan berusaha untuk update lebih cepat. Jadi jangan lupa untuk memberikan vote dan komentar agar aku semakin semangat menulis.