6 Years With You

6 Years With You
BAB 21



|SELAMAT MEMBACA


|TYPO BERTEBARAN


|VOTE & COMMENT!


Daniel menarik kursi untuk dirinya sendiri dan Bella menarik kursi miliknya juga. Sejak dari rumah sakit hingga ke cafe ini, kegiatan mereka diikuti oleh Watson. Tugas Watson memang selalu mengikuti kemanapun Daniel pergi sesuai mandat dari Sean. Setelah melihat Daniel duduk, Watson berdiri tidak jauh dari posisi tuannya lalu fokus memperhatikan.


"Kau sudah sarapan?" Tanya Daniel sambil bersandar pada kursi.


"Sekarang sudah hampir siang, Daniel. Tapi aku belum sarapan pagi." Jawab Bella. Daniel kemudian memanggil Watson untuk memesankan beberapa makanan sebagai santapan makan siang mereka.


"Pesankan untuk dirimu juga, Watson." Pesan Daniel tanpa melihat ke arah Watson. Watson tersenyum dan mengangguk. Bella masih diam dengan pandangan mengarah ke layar ponsel. Ia tidak tau harus melakukan apa jika Daniel belum memulai tujuan mereka bertemu.


"Kita bicarakan setelah makan siang." Ucap Daniel.


"Iya, Daniel."


Sembari menunggu makanan yang dipesan oleh Watson. Bella mulai merasa bosan dengan permainan offline dari aplikasi game di ponselnya. Ia melirik Daniel yang tengah fokus ke sebuah tab dengan gambar apel. Bella mencebikkan mulutnya karena dia semuanya fokus pada kegiatannya masing-masing.


Akhirnya mencoba cari sebuah hal yang membuat dirinya sibuk juga. Kemudian ia teringat dengan tujuan ia menerima pernikahan kontrak ini. Ia harus memikirkan bagaimana cara memberitahunya kepada Stella? Bagaimana dengan Stevan? Apa mereka akan kecewa? Oh, tentu saja ia tau bagaimana rasanya kecewa karena belum lama ini ia merasakannya.


Lalu Kate? Entahlah ia tidak tau. Dia pasti akan marah tapi emosinya akan reda dengan cepat jika lawan bicaranya tidak membalasnya.


Bella ingat kalau tujuan ia menerima ini karena ingin membiayai operasi jantung Stella. Ia tidak menyesal dengan pilihannya, toh, memang sudah menjadi bubur. Yang ia pikirkan bagaimana nasib kedepannya setelah menikah? Seharusnya biasa saja karena Daniel setuju untuk hidup masing-masing. Tidak mencampuri urusan satu sama lain.


Tidak lama kemudian, lamunan Bella buyar ketika melihat seorang pelayan membawakan makanan untuk mereka. Watson ternyata memesankan Bella spagetti  aglio e olio, sedangkan untuk Daniel adalah deluxe chicken sandwich. Entah kenapa Bella lebih menginginkan sandwich daripada spagetti. Ia melirik ke arah makanan Daniel dan mengulum bibirnya. Daniel yang melihat Bella akhirnya tersenyum kecil dan memberikannya kepada Bella.


"Loh, kenapa Daniel? Aku makan spagetti saja." Tolak Bella, padahal dalam hati ia menginginkannya.


"Aku tau kau mau ini. Jadi sudah jangan mengelak lagi!" Tukas Daniel. Bella mengambil piring berisi sandwich dan Daniel mengambil spagetti. Saat mereka makan tidak ada satupun yang berbicara. Bella memakluminya karena ia tau kalau Daniel pasti belajar soal tata cara makan yang baik. Jadi ia mencoba mengikutinya walaupun dalam hati ia tidak suka dengan rasa hening ini.


Daniel menyelesaikan spagettinya terlebih dahulu, ia melihat jika Bella masih makan sandwich. Kenapa dia lama sekali makannya seperti siput, pikir Daniel. Namun ia menyeringai ketika melihat Bella makannya berantakan, ia melihat ada cream di sekitar mulutnya. Kemudian ia berinisiatif untuk membersihkannya dengan sebuah tisu.


"Eh, Pak—maksudnya Daniel! Tidak usah, say–aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Bella gugup. Daniel tertawa kecil. Ia gemas melihat Bella ketika salah tingkah. Bella mengambil tisu dari tangan Daniel dan membersihkannya sendiri.


"Terima kasih Daniel atas makan siangnya."


Daniel mengangguk. Kemudian ia menjentikkan jarinya untuk memanggil Watson. Lelaki itu datang dan memberikan sebuah berkas kepada Daniel. Watson berdiri di samping Daniel untuk berjaga-jaga apa masih diperlukan.


"Kau bisa pergi, Watson. Aku akan membahas ini cukup lama dengan Bella." Ucap Daniel. Watson mengangguk dan kemudian kembali ke tempat semula.


Daniel menyerahkan berkas tersebut kepada Bella. Ia membiarkan Bella untuk membaca seluruh peraturan dan perjanjian yang tertulis di kertas itu. Bella membacanya dengan teliti agar tidak merugikannya di masa depan.


Daniel bersandar ke kursi sembari memperhatikan wajah serius Bella. Dia tidak perlu membaca berkas itu lagi karena seluruh peraturannya di buat oleh Daniel sendiri.


Peraturan dan Perjanjian selama 6 tahun :


Pihak A \= Daniel Malvaro


Pihak B \= Isabella Quinn




Pihak B tidak berhak mencampuri urusan pribadi Pihak A. Begitu juga dengan Pihak A yang tidak boleh mencampuri urusan pribadi Pihak B.




Pihak A dan Pihak B tidur di kamar yang berbeda. Masing-masing pihak tidak boleh melakukan hal yang di luar nalar.




Pihak A dan Pihak B mesti mematuhi peraturan dan mengingat semua peraturan yang sudah di setujui oleh kedua pihak.




Pihak B harus menuruti Pihak A, tidak terkecuali apapun.




Selama masih terikat kontrak, Pihak B dan Pihak A harus menjaga nama baik masing-masing. Dan, berperilaku sebagaimana seharusnya sepasang suami-istri.




"Maksudnya apa ini? Aku harus memberikanmu keturunan jika pihak keluargamu meminta?" Kata Bella sedikit kesal. Daniel menggaruk dahinya yang tidak gatal.


Ia juga bingung apa ia harus mencantumkan peraturan itu. "Peraturan terakhir berbanding dengan peraturan nomor 2. Dan juga, aku tidak setuju dengan nomor 3. Itu sama saja memaksa! Kau bilang akan membebaskanku!" Sambungnya.


"Kau bebas melakukan apapun, aku tidak melarang. Tapi tidak semuanya bebas, Bella. Kau harus menurutiku seperti jika harus menghadiri pesta bisnis atau perjalanan dinas keluar kalau diperlukan." Jelas Daniel.


"Kenapa juga aku harus mengikuti perjalanan dinas? Aku memiliki kesibukanku sendiri Daniel." Sergah Bella.


"Aku tidak memaksa, namun jika kamu mau ikut. Aku tidak mempermasalahkannya. Dan untuk masalah keturunan, aku juga bingung. Keluargaku akan menanyakannya." Ucap Daniel dengan nada sedikit bingung.


"Kalau bingung tidak udah di masukkan ke dalam peraturan." Tukas Bella kesal. Bagaimanapun ini merugikannya setelah kontrak selesai. Ia tidak mau berpisah dengan anaknya karena pasti Daniel dan keluarganya akan mengambilnya sebagai ahli waris Marvo Corp. selanjutnya.


"Baiklah." Daniel menghela nafas. Ia juga ragu harus memasukkannya atau tidak. Bagaimanapun pasti orangtuanya akan meminta cucu dari mereka. Kalau sampai 6 tahun belum mempunyai keturunan, pasti akan menimbulkan keanehan. Malah yang Daniel takutkan adalah ia akan di jodohkan dengan wanita yang pilihan Bellina.


Lalu bagaimana caranya ia meyakinkan Bella?


"Lebih bagus jika begitu." Ucap Bella sedikit ketus.


"Apa masih ada yang mau kau revisi?" Tanya Daniel datar. Ia membuka berkas yang ada di depannya dan menandai beberapa yang akan direvisi.


"Tidak ada."


Daniel mengangguk. Kemudian ia memanggil Watson untuk mengambil berkas.


"Kau bisa persiapkan mobil untuk kita kembali." Ucap Daniel pada Watson. Watson mengangguk setelah mengambil berkas tersebut.


"Besok aku jemput pagi. Kau tidak perlu membawa apapun. Bawa diri saja dan sampaikan pada temanmu untuk ikut bersiap-siap. Kalau untuk adikmu, terserah padamu. Jika kau mau dia ikut pindah ke New York, aku akan minta Sean untuk mengurusnya." Kata Daniel panjang lebar.


"Tidak perlu, Daniel. Aku tidak mau menambah hutang budi denganmu. Lagi pula adikku sudah mendapat beasiswa full disini dan—"


"Aku tidak menganggap ini hutang budi. Cuman adikmu akan sendirian disini karena ibumu akan dipindahkan ke rumah sakit di New York." Timpal Daniel. Bella semakin bingung. Apa Stevan ikut saja ke New York dan melanjutkan studinya di kampus berbeda?


"Tapi perpindahan kuliah sangat rumit. Aku tidak mau membebanimu."


"Kau tidak perlu khawatir, Bella. Aku bisa memindahkan adikmu dengan mudah." Bella juga tau kalau Daniel pasti bisa melakukan apapun. Kemauannya selalu saja terpenuhi. Tidak ada yang bisa menghalanginya.


Bella mengangguk mengerti. "Cuman aku harus bertanya kepada adikku. Dia masih memiliki suatu hal yang harus ia pertanggung jawabkan disini."


"Baiklah, aku tidak memaksa soal ini."


Dia sadar kalau dia ini pemaksa?


"Iya, terima kasih, Daniel."


"Setelah kembali ke New York, kita akan menemui pengacaraku untuk menandatangi surat perjanjian ini." Kata Daniel.


"Baiklah, aku ikut denganmu untuk soal ini." Bella tersenyum kepada Daniel. "Kalau begitu, aku harus kembali ke rumah sakit. Kasihan adikku dan Kate menunggu Ibuku." Sambungnya.


Daniel mengangguk dengan wajah datarnya. Selalu saja datar seperti jalanan aspal. Benarkan begitu?


Setelah itu, Daniel dan Bella meninggalkan cafe untuk kembali ke rumah sakit. Bella memperhatikan jalan dari jendela mobil dan Daniel sibuk dengan tabnya itu. Ia tau kalau Daniel memiliki kesibukkan yang sangat besar.


Bella pun ikut meringis ketika mengingat sudah meninggalkan tugasnya di kantor. Ia bisa membayangkan ada berapa banyak berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Lalu bagaimana nasib Zara yang menggantikannya? Belum lagi sebentar lagi akan diadakan rapat terakhir untuk penerimaan karyawan di perusahaan.


Ia memijit pelipisnya ketika membayangkannya. Beberapa hari di Boston juga ia seakan melupakan kewajibannya karena sibuk mengurus Stella.


"Besok, apa setelah dari bandara, aku bisa kembali bekerja?" Tanya Bella kepada Daniel.


Daniel mengangguk. "Kalau kau ingin beristirahat, aku bisa meminta Sean untuk memberitahy asistenmu."


"Ah, tidak perlu. Aku sudah cukup beristirahat." Tolak Bella sambil tertawa kecil. Ia tidak suka menunda pekerjaan! Semakin menunda pekerjaan, semakin menumpuk pula tugasnya.


Daniel tidak membalas ucapan Bella dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Apa nanti ketika sudah menjadi direktur utama akan lebih sibuk lagi? Pikir Bella.


Bella tau kalau Daniel adalah sosok yang penggila kerja. Tapi, apa lelaki itu tidak tau kalau bekerja terlalu keras juga memperburuk kesehatannya? Ah, kenapa aku jadi memikirkannya?


Bella menggelengkan kepalanya cepat dan melanjutkan melihat jalan raya Boston. Hingga mobil Daniel berhenti di depan rumah sakit. Bella dan Daniel berpisah disana dan akan bertemu besok pagi untuk pergi ke bandara.


Bella tersenyum kecil sambil memegang tas yang ia bawa. Ia melihat mobil Daniel pergi meninggalkan pintu utama rumah sakit. Ia tidak pernah membayangkan kalau takdir akan memilihkan jalan hidup yang seperti ini.


Terkejut, bukan?


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih sudah baca dan menunggu cerita ini. Semoga kalian suka sama chapter ini. Thankyou 💖