
SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
"Menikah denganku." Ucap Daniel.
Bella membulatkan matanya. Apa? Menikah? Dia tidak salah dengar kan? Setaunya telinganya masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.
"Anda pasti bercanda, Pak. Humor bapak lucu sekali." Tutur Bella sambil tertawa kecil. Daniel tetap diam dan menatap ke netra mata Bella dengan serius. Apa wajahnya sekarang terlihat bercanda? Bibirnya terkatup rapat dengan tatapan menghunus seperti pedang kedalam tubuh Bella.
"Saya tidak bercanda. Apa yang diuntungkan jika saya bercanda soal pernikahan." Balas Daniel. Bella langsung menghentikan tawanya dan diam seperti baru di hukum oleh guru sekolah. Ia menelan salivanya dengan rasa gugup menyerang.
"Tapi, Pak..." Bella menghentikan ucapannya ketika melihat Sean datang dengan satu gelas teh dan satu gelas kopi bersama dengan biskuit sebagai cemilan.
"Apa ada keperluan lagi, Tuan?" Tanya Sean berhati-hati. Rasanya ia masuk disaat yang tidak tepat. Bertahun-tahun Sean bekerja bersama Daniel sudah hapal betul setiap ekspresinya. Ketika lelaki itu marah, kesal, senang, cemas, dan serius, tetapi ia masih belum tau bagaimana ekspresi sedih seorang Daniel. Dia tidak pernah menangisi sesuatu dibalik wajah datarnya.
"Anda bisa kembali Nona Bella. Sean akan mengantarkanmu kembali ke ruangan. Oh, ya, datang lagi ke ruanganku setelah selesai bekerja." Ucap Daniel, ia beranjak dari sofa single di hadapan Bella dan kembali ke kursi kerjanya.
Bella masing terdiam, tidak mengerti dengan ini semua. Bagaimana bisa balas budi menjadi sebuah ajakan menikah? Terlebih yang mengajaknya menikah adalah Daniel Malvaro. Anak pemilik dari Marvo!
"Mari nona Bella. Ikuti saya." Ucap Sean mempersilahkan Bella untuk bangkit berdiri dan berjalan terlebih dahulu. Bella menggaruk tengkuknya tidak gatal dan melihat Daniel yang tengah memeriksa beberapa dokumen.
"Nona Bella?" Panggil Sean kembali.
"Iya, maafkan aku." Balas Bella, sebelum pergi ia melirik lagi ke arah Daniel sambil memikirkan kalimat ajakan menikah sebagai ganti balas budi. Ini aneh, sangat aneh!
Ketika pintu tertutup, Daniel menghela nafas dan menetralkan semua perasaannya. Ia bersandar pada kursi kebesarannya dan memikir ulang apa yang sudah ia katakan tadi di hadapan Bella. Ini gila. Kegilaan ini semua karena Damien!
Daniel mengusap kepalanya dengan gusar dan kemudian menatap dua cangkir yang masih hangat tanpa tersentuh. Setelah Sean kembali, ia akan meminta Sean untuk menghabiskannya. Melihat dua cangkir membuat dirinya malu karena mengingat hal gila itu. Bagaimana mungkin seorang Daniel Malvaro mengajak menikah seorang perempuan secara tiba-tiba? Sama sekali tidak elegan dan romantis. Apa yang akan diberitakan oleh media jika ada yang mengetahuinya?
Oh, bukan masalah bagaimana dia melamar. Tetapi...yasudahlah, apa yang sudah dikatakan tidak bisa kembali menjadi nasi, sudah menjadi bubur. Ia sudah mengatakannya kepada Bella maka nanti ketika Bella sudah pulang kerja, ia akan membicarakan hal ini lebih jelas agar tidak salah persepsi atau salah paham.
Apa menikah? Dia mengajakku menikah tadi? Kenapa? Dia pasti hanya bermimpi.
Sejak tadi Bella memikirkan semua perkataan Daniel tadi pagi. Seharian ini ia tidak fokus bekerja. Bahkan ia terkadang menghentikan pekerjaannya tanpa sadar karena memikirkan alasan-alasan kenapa Daniel menanyakan hal menikah itu.
Bella saja baru ketemu Daniel beberapa kali, bahkan bisa dihitung jari. Jangan anggap setiap pertemuannya adalah hal yang tidak disengaja, ini bukan sebuah kiasan tentang pertemuan tiga kali berarti jodoh. Bukan. Hanya yang pertama saja yang tidak disengaja dan setelahnya adalah yang direncanakan.
From : Kate
Kau sedang apa?
Detingan suara pada ponsel membuyarkan lamunannya. Memikirkan Daniel membuat semuanya kacau.
To : Kate
Bekerja. Apalagi yang aku kerjakan di jam sekarang.
From : Kate
Baiklah, rasanya aneh tanpa kamu disini, Bel.
Bella tersenyum kecil. "Aku juga merindukan kalian." Gumamnya.
To : Kate
Berusahalah agar bisa bekerja disini denganku. Aku akan menunggumu.
From : Kate
Sejak dulu aku sudah berusaha. Tapi tenang saja, aku akan mengejarmu.
To : Kate
Aku tunggu, Ms. Vienna.
Bella menutup ponselnya dan kembali fokus bekerja. Ia akan melawan pemikiran tentang pernikahan itu. Astaga, ternyata hadiah sambutan bekerja adalah ajakan pernikahan. Tidak ada perusahaan yang memberikan hadiah ajakan menikah. Hanya Marvo! Catat hanya perusahaan Marvo yang melakukannya!
Bella berhasil fokus mengerjakan tugasnya sebagai Manager Personalia hingga jam pulang kerja telah selesai. Ia ingat dengan ucapan Daniel untuk menemuinya setelah pulang kerja. Ketukan pintu ruangan Bella terdengar dan orang tersebut masuk ketika Bella mengizinkannya.
"Sean." Ucap Bella.
"Kenapa jadi memanggilku dengan sebutan Nona segala? Panggil saja aku Bella." Pinta Bella. Bukankah awalnya Sean memanggilnya dengan nama depannya saja ya? Kenapa jadi ada sebutan Nona segala.
"Baiklah, Bella."
Bella merapihkan semua dokumen yang masih banyak. Manager sebelumnya meninggalkan semua dokumen yang belum di periksa, membuat Bella harus mengejakannya. Kemudian ia mengikuti Sean dari belakang. Ia harus mempersiapkan diri bertemu dengan Daniel dan tentunya ia juga harus menjaga jantungnya agar tidak kembali terkejut dengan pemberian Daniel.
Hadiah apa lagi yang akan didapat?
"Silakan, Bella. Tuan Daniel sudah menunggu di dalam. Saya akan berada di luar ruangan." Ucap Sean setelah sampai di depan ruangan Daniel. Bella menganggukkan kepala sambil mengepalkan tangan, menghilangkan rasa gugup. Bertemu Daniel menciptakan sensasi saat mengerjakan tugas terakhir sebelum lulus dari perkuliahan.
Ketika Bella masuk rasanya ia sudah tidak bisa keluar lagi. Ia bisa melihat Daniel masih berkutat dengan telpon di telinganya sambil berbicara bahasa perancis. Bella memilih untuk berdiri di hadapan meja kerja Daniel, menunggu hingga di persilahkan. Sesekali ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
Daniel bertelepon sambil melihat ke arah luar jendela, membelakangi Bella. Dari pandangan Bella, ia bisa meluhat punggung Daniel yang pasti sangat nyaman untuk di sandarkan. Apalagi melihat bahunya yang lebar, pasti sangat nyenyak untuk tidur disana. Kenapa ia jadi memikirkan hal ini?! Jangan berkhayal ketinggian hanya karena dia mengajak nikah!
Pasti ada perempuan yang lebih pantas bersanding dengan Daniel, jadi ia menganggap ucapan Daniel hanyalah sebuah guyonan. Hanya candaan belaka. Walaupun lelaki itu mengatakan jika itu hal yang serius. Lagipula mana mungkin seorang Daniel melamar gadis biasa seperti dirinya?
Hanya ada di cerita fiksi hal seperti itu.
Tanpa di sengaja, Daniel membalikkan badannya dengan ponsel masih di telinganya. Lelaki itu mengisyaratkan untuk menunggu dengan telunjuknya. Bella mengangguk pelan. Kemudian ia memilih untuk menundukkan kepala dan memperhatikan kakinya.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh. Sebelas. Dua belas. Tiga belas.
"Jadi, saya akan menjelaskan ucapan saya tadi pagi. Kau bisa duduk di sofa dulu." Ucap Daniel. Bella mengikuti ucapan Daniel dan duduk di sofa yang ia duduki tadi pagi. Sedangkan Daniel duduk di hadapannya.
"Kau bertanya tentang balas budi, bukan? Dan apa yang sedang ku inginkan serta apa yang bisa kau bantu, benar bukan, Bella?" Tanya Daniel.
Eh, tidak bicara formal, lagi?
"Benar, Pak."
"Yang kuinginkan sekarang hanyalah pernikahan kontrak. Dengar Bella, aku tau ini hal yang tidak mungkin aku lakukan. Tapi, aku benar-benar membutuhkannya. Hanya butuh status."
"Status? Kontrak? Pak Daniel bisa mendapatkan status dan juga kontrak dengan mudah di luar sana. Semua wanita tergila-gila dengan anda, Pak Daniel. Anda bisa memilih dan pasti mereka akan dengan suka rela melakukannya."
Daniel mendesis. "Tidak semudah itu. Meraka akan menyusahkan karena sudah nyaman dengan semuanya." Maksudnya kekayaan milik Malvaro.
"Pilihanku saat ini adalah kau, Bella. Kau menanyakan tentang masalahku. Ya, inilah masalahku." Lanjutnya. Bella mengejapkan matanya berkali-kali. Ia tidak membayangkan akan seperti ini.
"Masalah yang saya maksud adalah berupa pekerjaan atau-"
"Aku tidak memiliki masalah lain selain ini." Ucap Daniel tegas.
"Kenapa Pak Daniel sangat butuh status?"
"Aku butuh untuk menggantikan posisi Ayahku. Ayahku sudah ingin pensiun dan ia mendesakku untuk menikah dalam satu bulan. Jika tidak, aku akan menikah dengan pilihannya." Ucap Daniel, menjelaskan keadaannya.
"Kalau begitu, anda bisa menikah dengan wanita pilihan ayah anda."
Daniel menarik nafas gusar. "Tidak akan, Bella. Mereka semua tidak cocok denganku. Aku harap kau bisa membantuku."
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerimanya."
"Aku memberikan kau imbalan jika kau menerimanya. Sudah ada di perjanjian kontrak. Aku akan memberikan 600 milyar sebagai gantinya." Ucap Daniel.
"Maaf, Pak. Uang tidak bisa mendesakku. Kehidupan saya juga tercukupi, jadi saya akan menolaknya."
"Aku masih membuka kontraknya untukmu. Jika kau berubah pikiran bisa menemuiku." Kata Daniel.
"Tidak akan, Pak. Anda bisa menemui saya jika membutuhkan bantuan lainnya sebagai ganti balas budi saya." Ucap Bella.
"Saya pamit pulang, Pak. Terima kasih." Lanjutnya. Bella mengambil tasnya dan beranjak berdiri. Daniel menghela nafas dan mengusap wajahnya.
Bella bukan wanita yang haus akan harta. Dia berbeda dari semua wanita yang ia temui. Jika buka Bella siapa yang harus di jadikan pilihan lain?
Bel, pikirkan.
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semoga suka sama chapter ini. Jangan lupa untuk vote and comment! I love you 💖