6 Years With You

6 Years With You
BAB 23



|SELAMAT MEMBACA


|TYPO BERTEBARAN


|VOTE & COMMENT!!


Daniel dan Bella sudah kembali ke kantor. Kata Daniel, besok ia akan embawa Bella menemui mamanya setelah pulang kerja. Mereka akan makan malam di sebuah hotel dengan keluarga Malvaro. Bella tidak bisa mempungkiri jika dirinya gugup berhadapan dengan keluarga Daniel. Apa dia akan di terima di keluarganya?


"Kau tidak perlu khawatir, mamaku tidak melihat orang dari status sosialnya." Itulah yang dikatakan oleh Daniel saat di mobil tadi. Bella berharap apa yang dikatakan Daniel memang benar.


Suara ketukan pintu terdengar membuat Bella menolehkan kepalanya ke arah pintu. Ada Zara berdiri disana. "Ada apa, Zara? Apa ada keperluan?" Tanya Bella.


"Tidak ada, Bu. Saya ingin izin pulang lebih dulu. Adikku baru saja mengalami kecelakaan." Ucap Zara dengan lirih. Bella beranjak duduk dan memeluk Zara. Ia tau kalau raut wajah Zara penuh dengan kecemasan.


"Pulang lah, biar disini saya yang urus."


Zara tersenyum. "Terima kasih, Bu. Saya sudah mengatur jadwal untuk besok dan tidak ada yang mendesak."


"Baiklah, terima kasih, Zara. Titip salam untuk keluargamu dan semoga adikmu tidak apa-apa." Setelah itu Zara mengundurkan diri dan langsung pergi ke rumah sakit.


Bella kembali duduk namun tidak lama pintunya kembali terbuka. Ada Sean disana. "Kau duduk saja, Bella." Ucap Sean.


"Ada apa, Sean? Apa Daniel memintaku menemuinya?"


"Ya, itu salah satunya. Aku kesini ingin meminta berkas untuk penerimaan karyawan. Beberapa minggu lagi akan diadakan ujian tahap awal, bukan?" Tanya Sean. Bella menganggukan kepala.


Bella mengambil fotocopy berkas penerimaan karyawan dan memberikannga pada Sean. Sean menerimanya. "Tuan Daniel memintamu untuk menemuinya jam 3 sore. Dan, terima kasih berkasnya."


"Oke, Sean. Terima kasih." Sean pergi dari ruangan Bella dan setelah pintu ia tutup, ia menghela nafas. Kenapa selalu dirinya yang diminta untuk pergi menemui Bella? Padahal bisa saja Daniel mengirim pesan ke Bella untuk datang menemuinya. Jika terus begini, karyawan lain akan mempertanyakan hubungan Bella dengan Sean. Jadi akhirnya ia mendapat ide untuk mengambil berkas apapun sebagai pegangan, padahal ia tidak membutuhkannya.


•••


Tepat jam tiga sore, Bella berjalan meninggalkan ruangannya untuk menuju ke ruangan Daniel. Ia pun bingung apa yang ingin Daniel bahas, padahal semuanya sudah selesai. Tinggal pertemuan dengan mertua besok malam.


Ketika pintu lift terbuka, disana ada Peter yang tengah berdiri dengan beberapa minuman kopi yang ia bawa. "Hai, Bella." Sapa Peter.


"Hai, Peter."


"Kau ingin ke ruangan komisaris?" Tanya Peter. Bella menganggukkan kepala. Setau Peter tidak ada hubungannya komisaris dengan personalia. Tapi dia tidak mau memberikan tanggapan yang lain yang ada di pikirannya saat ini.


"Besok mau makan siang bersama?" Ajak Peter. Ia melihat Bella sedikit berpikir.


"Boleh, kebetulan aku tidak begitu sibuk."


"Aku dengar kemarin kau izin 3 hari?" Tanya Peter.


"Iya, mamaku masuk rumah sakit. Jadi aku harus kembali ke Boston." Tutur Bella.


"Kau dari Boston? Wah, itu kota kelahiranku juga! Lain kali kita bisa pulang bersama saat liburan natal nanti." Peter mengulum senyuman dengan manis.


"Natal tahun ini sepertinya aku tidak kembali ke sana. Keluargaku ingin merayakannya di sini." Peter terlihat kecewa mendengarnya.


"Kalau begitu tahun depan!" Timpal Peter. Bella hanya tersenyum membalasnya. Ia saja sudah tidak tau bagaimana dirinya kedepan setelah menikah dengan Daniel. Meskipun pernikahannya tertutup, tetapi dia masih harus meminta keputusan Daniel juga. Stella saja sudah di pindahkan ke New York hari ini dan Stevan juga akan ke sini setelah urusannya selesai.


Bella keluar dari lift lebih dulu karena lift memang sudah sampai. "Aku duluan ya, Peter." Kata Bella. Peter mengangguk sambil tersenyum.


"Sampai ketemu besok, Bella." Bella membalas dengan mengulas sebuah senyuman. Mau bagaimanapun senyuman Bella pasti akan sangat cantik dan manis. Bella tidak menunggu pintu lift tertutup, ia langsung menuju ke ruangan Daniel berada. Disana sudah ada Sean yang sedang bekerja di meja depan pintu ruangan Daniel.


"Hai, Sean. Apa Daniel di dalam?" Tanya Bella sebelum ke arah pintu Daniel.


"Hai, Bel. Tuan Daniel sudah menunggu kamu didalam." Jawab Sean. Bella mengangguk dan kemudian mengetuk pintu ruangan. Tidak lama ia mendengar suara Daniel dari dalam.


Ia masuk ke dalam dengan langkah anggunnya. Rambut Bella yang dikonde membuat lehernya yang mulus terpampang jelas. Biasanya Bella hanya mengikat rendah  rambutnya atau menggerainya dengan indah. Beberapa anak rambut yang terjatuh di sisi wajah Bella menambah kesan manis bagi mereka yang melihatnya.


"Selamat sore, Daniel. Apa ada sesuatu yang—"


"Padahal gaun yang kemarin masih bisa ku pakai, Daniel. Tapi terima kasih untuk ini, aku akan memilih salah satunya." Kata Bella sambil tersenyum ke arah Daniel.


"Tidak, kau akan menjadi menantu Malvaro. Memakai gaun yang sama malah membuat orang lain mengira aku pelit." Tutur Daniel. Bella melongo padahal saat terakhir dia pakai statusnya hanyalah belum akan menjadi menantu. Walaupun hanya status pacaran palsu.


"Tidak semua orang akan berpikir seperti itu, Daniel." Timpal Bella. Daniel mengalihkan pandangan karena tidak mau membahasnya lagi. Kemudian ia menekan tombol interkom untuk memanggil Sean. Tidak lama kemudian, Sean datang dengan tubuh tegapnya. Matanya melirik ke arah Bella yang masih memperhatikan gaun yang tadi ia bawa atas suruhan Daniel.


"Sean, pesankan tempat untuk malam ini. Aku mau makan malam dengan Bella." Suruh Daniel. Bella langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Daniel sambil mengerutkan dahinya.


"Loh, bukannya makan malam itu besok?" Tanya Bella.


"Memang, apa aku bilang hari ini?"


"Kau sendiri yang bilang tadi, Daniel."


"Besok makan keluarga, malam ini hanya kita."


Bella membulatkan mulutnya. "Oh."


"Apa aku harus memakai gaun ini?" Tanya Bella. Daniel mengerdikkan bahunya.


"Sean, menurutmu bagaimana?" Tanya Bella kepada Sean karena tidak mendapat jawaban oleh Daniel.


"Kau bisa memakai apapun, Bella. Kau cantik mamakai gaun apapun." Jawabnya. Bella langsung mengulum senyuman dan sedikit tersipu. Daniel yang memperhatikan hanya menampilkan wajah datar. Siapa yang akan menjadi calon suaminya disini?


"Terima kasih, Sean. Kau memang terbaik!"


Daniel menghela nafas melihat mereka berdua. Apa dirinya tidak baik?! Jelas-jelas kalau di pikir jawaban Sean dengan dirinya tidak jauh berbeda. Intinya bebas!


Sean tersenyum dan kembali mengarah ke Daniel, menunggu perintah selanjutnya. "Kau bisa kembali." Suruh Daniel kepada Sean.


Ketika Sean sudah pergi, ia beralih ke arah Bella. "Ketika kau sudah menjadi istriku, jangan berani melakukan itu!"


"Loh, aku melakukan apa? Apa aku salah?" Tanya Bella bingung. Apa tadi dia melakukan kesalahan?


"Pikirkan sendiri! Sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu, nanti jam 5 aku tunggu di parkiran." Tukas Daniel tanpa melihat Bella. Bella masih tidak mengerti, apa dia benar-benar melakukan kesalahan? Sehingga untuk Daniel melihat saja tidak mau.


Bella membawa dua kotak tersebut sambil berjalan ke luar ruangan. "Aku pergi dulu, Daniel." Ucapnya ketika ia berdiri di depan pintu keluar. Seperti dugaan Bella, Daniel tidak menanggapinya sama sekali. Ia akan menanyakan alasan dia marah saat makan malam nanti. Ketika pintu tertutup, Daniel menghela nafas dan memutar kursi kerjanya menghadap ke jendela.


Tiba-tiba ponsel miliknya berdering dan menampilkan nama mamanya disana. Ia langsung menggeser tombol hijau. "Kenapa, Ma?"


"Kau tidak lupa besok, kan?!"


"Iya, Ma. Aku tidak mungkin lupa."


"Awas saja tiba-tiba kau menggagalkannya! Jika kau berani maka siap-siap aku akan meminta Anna untuk menjadi istrimu langsung!"


"Iya, Ma. Engga kok, kali ini Daniel janji."


"Lihat saja jika tidak."


"Iya, Ma."


Kemudian panggilan singkat itu selesai. Daniel bahkan tidak mengenal siapa itu Anna. Pasti anak teman mamanya yang lain. Mau sampai kapanpun ia tidak akan pernah mau menerima wanita yang dikenalkan oleh mamanya. Daniel akan memastikan mamanya menerima Bella bagaimanapun caranya agar masalah perjodohan yang tidak ada gunanya itu selesai!


Daniel menyeringai ketika ia mendapat sebuah ide yang akan membuat mamanya menerima jika dia menolak.


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih sudah menunggu dan membaca cerita ini. Semoga kalian suka sama cerita ini dan jangan lupa untuk selesai memberikan support dengan vote dan komentar. I love you 💖