6 Years With You

6 Years With You
BAB 16



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


Bella tiba di rumah sakit Boston setelah menempuh perjalanan jauh dari Manhattan. Dengan gaun pesta yang masih melekat di tubuh Bella dan baju tidur di tubuh Kate, mereka berlari ke ruang ICU. Di depan pintu ICU ada Stevan yang masih murung. Mereka langsung memesan penerbangan ke Boston tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.


Ini sejarah yang tidak mungkin dilupakan bagi Kate. Datang ke bandara dengan baju tidur tanpa membawa apapun. Serta Bella yang masih memakai gaun pesta, bahkan sangat seksi.


"Katakan kenapa Mama bisa begini?" Tanya Bella dengan amarah di dalam diri. Ia menitipkan Stella kepada Stevan karena percaya jika adiknya bisa menjaganya. Bella melihat kondisi Stella dari luar kaca.


"Salah aku, kak. Aku hamilin Mar-" sebuah tamparan keras langsung Bella layangkan kala mendengar kata hamil dari adiknya. Bella memicingkan matanya dan rasanya tamparan tidak akan membayar semua rasa sakit Stella.


"Hamil katamu?! Kakak kecewa sama kamu, Van. Bagaimana bisa kamu melakukan," Bella menahan omongannya dan duduk di kursi sambil menangis. Jika sebagai kakak saja ia merasakan rasa sakit dan kecewa seperti ini bagaimana dengan Stella?


Stevan tau batasannya untuk bermain dan lingkup pergaulannya juga sudah di ketahui oleh Stella maupun Bella. Tapi bagaimana bisa Stevan melakukannya?


"Kamu bodoh, Stevan! Bodoh! Siapa yang kamu hamilin!" Tukas Bella. Ia berusaha agar amarahnya tidak sepenuhnya lepas. Kate duduk di sebelah Bella sambil menenangkannya.


"Sabar, Bel." Ucap Kate.


"Bagaimana aku bisa sabar, Kate! Adikku dengan bodohnya melakukan hal itu. Sudah ku bilang untuk selalu menjaga Mama, tapi apa balasannya?!"


"Kak, maafin Stevan. Stevan dijebak oleh Marsha. Dia memberikanku obat di minumanku. Dan, saat itu aku juga...sedang mabuk." Tutur Stevan menundukkan kepala.


"Jadi namanya Marsha?" Bella tidak mau melihat ke arah Stevan. "Mau kau dijebak tau tidak, tetap salahmu! Kau tau aturan keluarga kita, tidak boleh minum alkohol. Apa kau lupa, Stevan?!" Suara Bella makin meninggi.


"Aku ingat kak-"


PLAK


Kedua kalinya.


"PIKIRKAN APA KESALAHANMU TERHADAP MAMA! PIKIRKAN JUGA APA YANG HARUS KAU LAKUKAN AGAR MAMA BERHENTI KECEWA!!" Tukas Bella dan segera meninggalkan Stevan sendiri. Ia butuh menenangkan diri dengan pergi sebentar ke toilet. Bella memberikan isyarat kepada Kate untuk tidak ikut dengannya. Kate mengangguk pelan dan menunggu dengan Stevan.


"Kak, Kak Bella keliatan banget kecewa sama aku. Apa kak Bella bakal benci sama aku dan tidak menganggap adiknya lagi?" Tanya Stevan kepada Kate. Kate menolehkan kepada Stevan dan mendekatkan jaraknya.


"Bella kecewa karena kamu tidak bisa menjaga Mamamu. Coba kamu kasih waktu kepada Bella dan baru kamu jelaskan kejadiannya. Dia tidak mungkin tidak menganggap dirimu lagi. Kau jangan berpikiran negatif, Stevan." Ucap Kate menyentuh bahu Stevan dan tersenyum kecil.


Stevan menganggukkan kepala pelan. Ia mencoba untuk mengikuti saran Kate."Kak, tolong bantu kakak. Aku dijebak oleh Marsha. Dia bukan temanku, tapi dia selalu mengangguku di kampus. Hingga malam itu, temanku ulang tahun dan mengajakku bermain truth or dare." Tutur Stevan menjelaskan kejadian. Ia butuh seseorang untuk mendengarkan dirinya sekarang.


"Sampai giliranku, mereka memaksaku memilih dare karena biasanya aku selalu memilih truth. Mereka memintaku meminum alkohol tetapi aku tau jika aku tidak boleh meminumnya. Jadi aku hanya minum sedikit tetapi sudah membuatku mabuk," lanjutnya.


Kate menganggukkan kepala, ia menyimak satu persatu rentetan kejadian Stevan.


"Ternyata minuman itu sudah dicampur obat perangsang. Salah satu dari temanku yang bermain, mereka menghianatiku dan itu semua karena Marsha. Belakangan ini aku menyelidiki kejadian itu pelan-pelan, tapi ternyata aku kedahuluan oleh Marsha yang bertemu dengan Mama dan berkata jika dia hamil." Akhirnya Stevan selesai bercerita.


"Kejadian itu kapan terjadinya?"


"Satu bulan yang lalu, kak." Jawab Stevan.


"Aku akan membantu kamu agar Bella mendengarkanmu." Tutur Kate. Jika dilihat dari sisi Stevan, ia memang tidak salah. Ini bukan kesalahannya melainkan kesalahan temannya yang menjebak karena ulah Marsha. Tetapi Kate disini tidak ingin berpihak pada satu sisi saja, ia harus melihat dari sisi lain.


"Aku menyesal, Kak. Aku udah gak mau ngulangin lagi."


"Udah sadar, hah?! Padahal kau bisa memilih! Kau memilih minum alkohol dan mengakibatkan mama sakitnya kambuh, hah?!" Bentak Bella di hadapan Stevan. Ia sudah tidak peduli jika seorang suster menegornya untuk diam. Emosinya tidak bisa ia tahan lagi setelah mendengar penjelasan Stevan diam-diam.


"Apa karena jika tidak minum, pertemanannya akan hancur?" Pikir Bella dalam hati. Ia berdecak kesal. Memikirkannya saja sudah membuat Bella darah tinggi.


"Kak..." Stevan benar-benar di titik paling bawahnya. "Bukan begitu..." lanjutnya.


"Kak, aku minta maaf. Aku janji akan menjaga Mama. Aku gak bakal ceroboh lagi. Aku gak bakal seperti ini lagi." Mata Stevan bahkan sudah memerah karena tidak tahan dengan kebodohannya. Benar. Ia bisa menolak. Kenapa dia jadi sebodoh ini? Kenapa mau saja dipaksa oleh temannya?


"Kakak butuh hasil bukan hanya janji, Van." Bella menatap Stevan tajam. Matanya jhga sudah merah dan nafasnya tidak bisa ia atur lagi. Rasa kecewa lebih menyakitkan dari pada yang lain. Hingga tiba-tiba matanya mulai buram dan tubuhnya lemas. Stevan dengan sigap langsung menangkap tubuh Bella.


"Kak, panggil suster!!!" Teriak Stevan kepada Kate.


Seharian ini Bella sudah bekerja keras di kantor, dan melewatkan makan malam di pesta milik Orlando. Perasaan marah, kecewa, dan sedih serta terkejut membuat Bella kelelahan. Ini semua datang terlalu tiba-tiba.


•••


Manhattan, New York—USA


Keesokan harinya, Daniel meminta laporan kepada Sean mengenai Bella yang meninggalkannya di pesta semalam. Ia tau Bella pergi karena ibunya sakit. Tetapi, rencana agar ia tidak di ganggu oleh perjodohan bisnis menjadi gagal.


"Nona Bella kembali ke Boston dengan penerbangan ke Boston paling cepat. Kabar yang saya dapat, Nona Bella berada di Rumah sakit Boston dan sedang di rawat karena kelelahan." Tutur Sean. Ia sudah meminta anak buahnya yang berada di Boston untuk mencari tau tentang Bella.


"Semua jadwalku besok dipindahkan ke lain hari. Malam ini dan besok aku akan berada di Boston. Cepat urus semuanya." Pinta Daniel.


"Baik, Tuan. Kegiatan besok tidak begitu banyak. Akan saya kabari setelah merevisi jadwal." Balas Sean.


Daniel menganggukkan kepala.


Astaga Bella, kenapa pikiranku penuh denganmu?! Ayo Daniel kembali bekerja!


Knock knock


Daniel melihat jika disana ada ibunya yang datang dengan wajah kesal. Ia menyiapkan kupingnya mendengar setiap kata demi kata dari mulut ibunya. Kepalanya bisa pusing. Ia lebih memilih duduk berjam-jam di ruang meeting mendengarkan presentasi daripada mendengar amarah ibunya. Durkaha tidak sih?


"Selamat pagi, Mamaku yang cantik." Sapa Daniel.


"Sudah jangan merayu Mama. Kenapa kamu nolak Crystal? Jika Loren kamu tolak karena alasan terlambat, kenapa Crystal kamu tinggalkan?! Kau tidak tau dia melapor kepada mama sambil menangis?"


Minus one buat Crystal. Kenapa harus melapor segala?


"Sudahlah, Ma. Berhenti menjodohkanku. Aku sudah punya calon dan pasti mama suka."


Bellina memicingkan mata kepada Daniel. "Kamu pasti berbohong, kan? Kau saja selalu menjauh jika berdekatan dengan perempuan. Bagaimana bisa kamu memiliki calon?"


Secara tidak langsung, Mama mengatakan aku...ah sudahlah.


"Aku hanya mencari yang cocok, Ma. Sekarang aku menemukannya. Jadi tolong berhenti."


"Pertemukan dengan Mama dulu! Mama tidak mau menantu Mama biasa saja!" Tukas Bellina.


"Iya, Ma. Secepatnya. Dia sedang sibuk sekarang." Balas Daniel sabar.


Bella! Bagaimanapun kau harus menerima tawaranku!


"Mama maunya cepat! Minggu depan sudah harus menemui mama!"


God bless me.


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa untuk vote and comment ya! Thankyou udah baca cerita ini. I love you!