
Matanya menelisik dengan teliti kata demi kata yang tertulis di atas kertas putih dan bermaterai 6000. Jika mereka terima dengan sengala syarat yang tertulis disana serta perjanjian dari masing-masing, maka mereka tinggal menandatanganinya dan selesai.
"Kenapa kamu bersedia untuk menikahiku? Padahal kamu bisa saja mengambil wanita siapapun untuk memberikanmu keturunan." Kata perempuan berambut hitam itu, ia mengumpulkan semua rambut ke bagian kanan sembari menunggu jawaban. Bentuk wajah yang kecil dengan garis V-line dan bulu mata yang lentik serta bibir atas kecil namun bagian bawah tebal dengan ranum merah.
"Kamu tidak bersedia denganku? Tidak masalah. Tapi kita melakukan ini karena kau membutuhkan uang dan aku membutuhkan status lalu keturunan agar aku bisa menduduki jabatan Papaku." Balas lelaki itu. Bisa perempuan itu lihat, lelaki di depannya sudah pasti jauh untuk ia dapatkan. Dia sangat tampan dengan rahang tegas lalu iris mata coklat yang menatap tajam. Siapa yang tidak mengenal dia, dia yang namanya sudah tidak asing di artikel karena prestasi yang di dapat. Perempuan itu tersenyum, seharusnya ia tidak akan memiliki masalah ketika bersama dengan lelaki ini. Keamanan juga tertulis di kontrak. Jadi dia tidak harus khawatir, bukan?
Mereka berdua saling menatap sebentar sebelum keyakinan mereka, membawa mereka untuk menandatangi kertas tersebut diantara pengacara seorang Malvaro.
Tertanda,
Isabella Quinn.
Daniel Malvaro.
•••
(Sebelumnya....)
Hembusan nafas kesal ketika mendengar presentasi tentang pengelolaan hasil proyek yang sedang di jalankan perusahaan saat ini, sudah dapat dipastikan jika seorang lelaki bernama Daniel Malvaro tidak menyukainya. Ia bisa saja mendapatkan target waktu seperti rencana sebelumnya jika pegawainya dapat bekerja lebih cepat. Pentingnya ketepatan waktu membuat dirinya gelisah dan selalu beranggapan jika tidak sesuai rencana maka rencana berikutnya akan berantakan. Lelaki perfeksionis memang.
Selesai rapat tentang proyek yang membuat suasananya semakin hancur, ia kembali ke ruangannya dengan seorang sekretaris di belakangnya. Sekretaris kepercayaannya yang membantu dirinya hingga berada di posisi sekarang sebagai komisaris di perusahaan bernama Marva Corp. Perusahaan milik keluarganya dan ia sebagai pewaris utamanya. Ayahnya sebentar lagi akan pensiun oleh karena itu beberapa bulan yang lalu, ia susah diberi mandat untuk memimpin perusahaan kelak menggantikan dirinya.
Namun beberapa pemegang jabatan tinggi yang biasa membantu menentukan keputusan, seperti keputusan untuk memilih pimpinan perusahaan menolak seorang Daniel jika lelaki itu belum berkerluarga. Menurut mereka, belum berkeluarga berarti tidak bisa dipercaya kemampuan untuk memimpin perusahaan. Tidak masuk akal.
Tapi ia tidak memusingkannya dulu, sekarang proyek yang sedang ia kelola lebih penting karena dengan ini, perusahaan akan mendapatkan laba seperti yang sudah direncanakan. Hari semakin sore dan Daniel masih berkutat dengan komputer di hadapannya serta beberapa dokumen di meja. Dia bukan hanya seorang yang perfeksionis namun juga workaholic!
Hingga ketukan pintu mengalihkan pekerjaanya. Setelah ia berkata, "Masuk!". Barulah sekretaris kepercayaannya masuk dengan membawa dokumen yang hanya perlu diperiksa. "Ini sudah saya selesaikan beberapa laporan tentang pertemuan kemarin dengan Mr. Wellington dan juga hasil rapat tadi. Silakan di periksa, Pak." Kata Sekretaris itu.
"Saya tidak akan pulang jika Pak Daniel masih bekerja, saya sekretaris Anda, jadi sudah sepatutnya jika saya selalu ada disaat anda membutuhkan saya." Kata Sean.
"Baiklah jika itu yang kau mau. Sebentar lagi saya akan pulang, siapkan mobil saya. Saya akan pulang sendiri hari ini." Ucap Daniel, Sean mengangguk. Setelahnya Sean mengundurkan diri dan kembali bekerja.
Daniel mengemudi dengan kecepatan normal di jalanan yang sangat ramai dan sedikit kemacetan jalan raya. Hari ini adalah malam minggu, sudah pasti banyak sekali yang pergi untuk makan malam atau berjalan-jalan bersama. Setelah lampu lalu lintas berganti ke warna hijau, barulah ia menjalankan mobil namun seorang wanita yang terlihat terburu-buru tidak memperhatikan jika lampu sudah berganti simbol. Ia hampir saja tertabrak jika Daniel tidak langsung menginjak rem mobil. Sialan! Apa wanita itu bodoh?
Wanita itu menundukkan kepala berkali-kali dan kemudian pergi dengan cepat. Daniel berdecak kesal dan kemudian terdengar suara klakson mobil yang menyuruhnya untuk cepat berjalan. "Kenapa kalian tidak sabar sekali?" Celetuk Daniel kesal, kemudian ia menjalankan mobil ke perumahan miliknya.
■■■
"Aku tidak pernah mendengarnya lagi setelah lulus dari sana. Mrs. Patterson sangat berharap diriku datang?" Tanya Daniel, ia baru saja selesai mandi dan langsung menjawab panggilan dari temannya dengan masih memakai bathrobe. Ia kembali masuk ke kamar mandi dan menyalakan mode speaker pada panggilan tersebut, lalu meletakkan ponsel pintar yang sangat mahal itu dan keluaran terbaru diatas meja yang ada disana.
"Ayolah, Dan! Memang dulu dia sangat mengganggumu karena dia tergila-gila denganmu padahal dia sudah bersuami dan memiliki anak. Tapi sekarang dia sudah berubah, dan juga sangat ingin melihatmu di pernikahan anaknya."
"Benarkah dia sangat merindukanku? Entahlah, aku tidak yakin bisa mengunjunginya minggu depan karena aku sedang sangat sibuk. Aku titip salam kepadamu saja jika aku tidak bisa." Kata Daniel, ia menutup panggilan sepihak dan melanjutkan proses mengeringkan rambut dengan handuk.
Dulu sewaktu Daniel masih belajar di Harvard University, ada satu dosen yang terpikat dengan pesonanya hingga setiap hari, dosen cantik itu selalu memanggil namanya. Entah saat dipelajaran atau diluar pelajaran, hingga membuat Daniel kesal dan ia bahkan kabur dari kejaran wanita itu. Suaminya bahkan pernah bertemu dengan Daniel karena ia juga muak dengan kelakuan istrinya.
Daniel bahkan tidak menyangka jika dirinya akan digilai oleh wanita yang sudah berumur, sekitar 30 tahunan atau mungkin hampir mendekati angka 4. Ia juga tau jika anak dari dosennya itu merupakan adik angkatan yang beda dua tingkatan. Beruntungnya Daniel dengan otak cerdasnya lulus lebih cepat karena ia tidak betah berlama-lama untuk bertemu dengan dosen bernama Claudia Patterson.
Namun hari ini ia mendengar kembali namanya dari temannya bernama Jason Alexos. Jason memberitahu jika anaknya Claudia akan menikah, namun karena dulu Daniel dan anaknya dekat sebatas teman hingga sekarang maka anaknya itu mengundangnya. Anaknya bernama Delia Petterson.
Ah, Daniel malas untuk bertemu si Claudia itu. Walaupun dia dosen yang pernah mengajarkannya tapi rasa kesal membuatnya tidak mau datang ke pesta itu. Entahlah, lihat nanti saja.
|TO BE CONTINUE