
|SELAMAT MEMBACA
|TYPO BERTEBARAN
|VOTE & COMMENT!!
Keesokan harinya, pagi sekali, Kate menunggu Bella di depan pintu kamar mandi. Kata Bella mereka akan ke bandara jam 8 pagi, cuman hingga jam sembilan kurang sepuluh menit, Bella masih belum keluar dari kegiatan rutinitasnya. Maksudnya urusan panggilan alam.
Kate beberapa kali berdecak dan mengetuk pintu Bella. "Bella, apa kau tidak bisa lebih cepat? Aku yakin Pak Daniel sudah mau sampai." Teriak Kate dari luar.
"Iya, sebentar Kate. Aku sepertinya terkena Diare." Jawab Bella dari dalam. Kate menghela nafas. Ini pasti karena makan mie pedas level 10 tadi malam. Kate tau kalau Bella tidak kuat makan pedas, tetapi dia masih saja ngeyel dan tetap memakan yang pedas. Ia terkadang tidak tau apa yang di pikirkan Bella sebenarnya, ia mencari masalah sendiri.
"Aku tidak mau nanti kita ketinggalan pesawat, Bella!" Balas Kate. Disaat itu pintu kamar mandi yang sudah tertutup selama 15 menit akhirnya terbuka. Memunculkan sosok Bella dengan muka masamnya. Kemudian Kate memberikan obat diare untuk Bella.
"Terima kasih, Kate." Kata Bella sambil tersenyum dan mengambil obat tersebut. Pagi-pagi sudah membuat drama saja. Ia bisa saja di penggal oleh Daniel jika terlambat. Cuman karena ini masalah yang tidak terduga harusnya Daniel paham, bukan?
Kate dan Bella kembali ke ruang depan ICU. Ia menemui adiknya yang sedang bermain ponsel disana. "Bagaimana dengan Marsha?" Tanya Bella pelan. Stevan menaikkan kepalanya melihat ke Bella.
"Entahlah, Kak. Aku sedikit ragu setelah mendengar info dari temanku."
"Maksudnya?" Tanya Bella bingung.
"Temanku bilang kalau ia melihat Marsha keluar dari hotel sehari sebelum kejadian denganku." Jawabnya. Bella terdiam, ia pun bingung harus bereaksi bagaimana. Kate yang mendengar pun tidak berani memberikan pendapat. Bagaimanapun dia adalah orang luar.
"Siapa temanmu itu?"
"Dia Bryan. Dia mengambil jurusan IT di tempat kuliahku."
Bella mengangguk. "Kamu cari tau lebih tentang Marsha. Kalau memang itu anakmu, maka kamu harus bersamanya! Kamu harus bertanggung jawab!" Timpalnya.
Stevan menghela nafas. Kemudian ia mengangguk walaupun dalam hati ia menolak kehadiran anaknya itu. Ia terlalu benci dengan Marsha yang menjebaknya. Semuanya jadi hancur. Beruntung saja masalah ini tidak terdengar hingga pihak kampus, jika tidak, mungkin beasiswa full-nya akan di cabut.
"Kamu sering kabari kakak ya, Van! Jangan bertindak sendirian. Mama biar kakak yang jaga. Kamu sering main ke New York juga jika tidak sibuk." Tutur Bella. Stevan mengangguk.
"Iya, Kak. Kakak hati-hati disana. Aku akan cepat menyelesaikan masalah disini dan menyusul kesana." Balas Stevan. Ya, Stevan tidak ikut ke New York. Tapi dia tidak menolak ketika ditawari pindah ke New York. Ia sangat ingin karena ia tidak mau seorang diri di Boston. Lagi pula seharusnya ia menemani Stella. Semua seperti ini karena dirinya, jadi dia harus menjaga Stella sebagai menebus kesalahannya.
Bella yakin kalau Stevan akan dewasa dan mampu melakukan mana yang baik untuknya. Jika dia melihat adiknya sudah tidak bisa, maka ia akan turun membantunya. Dia tidak ingin adiknya harus menimpah semua kesalahannya, yang tidak sepenuhnya kesalahannya.
"Kakak pergi dulu ya, Van." Bella memeluk Stevan erat. Cukup lama mereka berpelukan. Rasanya baru saja ia berkumpul tapi sudah harus pergi lagi. Kate tersenyum melihat kedua bersaudara itu. Ia juga ingin seperti itu, tapi takdir berkehendak lain.
"Duluan ya, Van." Kata Kate sambil tersenyum. Bella dan Kate akhirnya pergi menemui Daniel yang baru saja sampai. Beruntunglah mereka tidak terlambat. Kate duduk di kursi paling belakang, sedangkan Daniel bersama Bella di kursi tengah. Watson dan supir pribadi berada di tempat duduk paling depan.
Sesampainya di bandara, Daniel langsung melenggang keluar setelah Watson membukakan pintu. Bella dan Kate ikut keluar dari mobil. "Biar Watson yang mengurusnya. Kita tinggal ke dalam bandara saja." Ucap Daniel datar.
Bella melihat ke arah Watson yang sedang tersenyum padanya. Apa seperti ini orang kaya? Semua urusan pasti sudah di urus oleh asistennya. Enak juga, ya? Tapi Bella masih belum terbiasa.
Daniel yang greget akhirnya menarik tangan Bella agar lebih cepat. Kate hanya menghela nafas ketika ia tau jika dirinya di tinggalkan. Ia pun menyusul mereka ke dalam bandara. Setelah menyelesaikan proses keberangkatan seperti mengambil tiket serta check-in, Watson memberikannya kepada Daniel dan kemudian mengundurkan diri. Tugas dia sudah selesai untuk mengawal Daniel selama di Boston.
"Terima kasih, Watson." Ucap Daniel setelah menerima semuanya. Watson mengangguk dan menundukkan kepalanya sebelum pergi meninggalkan mereka bertiga. Tidak lama kemudian, pesawat mereka sudah dipanggil dan masuk ke pesawat untuk kembali ke New York. Kali ini Daniel menggunakan pesawat komersial karena pesawat pribadinya sedang di pakai oleh adiknya, Celine.
"Selamat datang kembali, Tuan Daniel." Sapa Sean sambil tersenyum. Daniel mengangguk dengan sebuah tab di tangannya. Bella dan Kate juga ikut tersenyum. Berbeda dengan Bella yang sudah terbiasa melihat Sean, lain halnya dengan Kate yang tampak terpanah saat melihat Sean secara langsung.
Malaikat mana yang kau hadirkan, Tuhan? Pikir Kate.
"Selamat datang juga, Nona Bella dan Nona Kate." Kata Sean.
"Terima kasih, Sean." Balas Bella. Kate hanya tersenyum. Namun dalam hati ia bingung, darimana Sean tau namanya? Padahal dia belum pernah bertemu. Ia saja tau Sean dari majalah bisnis di kantor. Entahlah, apapun itu ia tidak peduli, yang penting Sean sudah tau namanya.
Bella mengulum senyuman ketika menangkap Kate yang tidak hentinya melirik Sean sejak mereka meninggalkan bandara. Apa Kate tertarik dengan Sean?
Kalau Bella pikir, Sean pribadi yang hangat, irit bicara, dan gila kerja, dia perfeksionis sama halnya dengan Daniel, jadi ia yakin pasti Sean adalah orang yang teliti serta disiplin. Namun kepribadian Sean berbanding terbalik dengan Kate yang suka ceroboh dan cerewet, walaupun begitu Kate pembawa suasana menjadi lebih asik.
•••
Dua hari kemudian,
Bella menghampiri Daniel yang berada di parkiran. Hari ini mereka berencana untuk menemui pengacara milik Daniel untuk mengesahkan penandatanganan tentang pernikahan kontrak. Seharusnya jadwal untuk mengurus ini adalah kemarin, cuman karena Bella sibuk mengurus semua berkas serta pekerjaan yang ia tinggalkan jadi Daniel membatalkannya.
Sesampainya di gedung pengacara, Daniel berjalan dengan wajah datarnya bahkan terkesan dingin. Mereka mengarah ke sebuah pintu khusus, yang di design untuk tamu penting. Salah satunya keluarga Daniel.
"Selamat siang, Tuan Daniel dan Nona Bella, silakan duduk dulu." Sapa tuan pengacara sambil tersenyum. Bella ikut tersenyum sementara Daniel hanya mengangguk.
"Frans, langsung ke intinya saja. Saya tidak punya banyak waktu untuk ini." Kata Daniel. Frans langsung mengerti, makanya ia dengan cepat mengambil dokumen yang sebelumnya sudah ia terima dari Daniel. Ia meletakkannya di depan Daniel serta Bella.
Bella membacanya sekali lagi, ia takut jika Daniel berbuat licik. Daniel diam ketika melihat Bella membaca isi kontraknya. Apa dia perlu mengeceknya lagi, padahal isinya sama sekali tidak di ganti sesuai keinginannya, pikir Daniel.
Matanya menelisik dengan teliti kata demi kata yang tertulis di atas kertas putih. Jika mereka terima dengan sengala syarat yang tertulis disana serta perjanjian dari masing-masing, maka mereka tinggal menandatanganinya dan selesai.
"Kenapa kamu bersedia untuk menikahiku? Padahal kamu bisa saja mengambil wanita siapapun untuk memberikanmu keturunan." Kata Bella, perempuan berambut coklat itu, ia mengumpulkan semua rambut ke bagian kanan sembari menunggu jawaban. Bentuk wajah yang kecil dengan garis V-line dan bulu mata yang lentik serta bibir atas kecil namun bagian bawah tebal dengan ranum merah.
"Kamu tidak bersedia denganku? Tidak masalah. Tapi kita melakukan ini karena kau membutuhkan uang dan aku membutuhkan status lalu keturunan agar aku bisa menduduki jabatan Papaku, seperti yang ku katakan sebelumnya." Balas Daniel. Bisa Bella lihat, lelaki di depannya ini sudah pasti jauh untuk ia dapatkan. Dia sangat tampan dengan rahang tegas lalu iris mata abu-abu yang menatap tajam. Siapa yang tidak mengenal dia, dia yang namanya sudah tidak asing di artikel karena prestasi yang di dapat. Bella tersenyum, seharusnya ia tidak akan memiliki masalah ketika bersama dengan lelaki ini. Keamanan juga tertulis di kontrak. Jadi dia tidak harus khawatir, bukan?
Mereka berdua saling menatap sebentar sebelum keyakinan mereka, membawa mereka untuk menandatangi kertas tersebut diantara pengacara seorang Malvaro.
Tertanda,
Isabella Quinn.
Daniel Malvaro.
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sejauh ini shipper kalian siapa?
Thankyou yang udah nunggu dan baca cerita ini. I love u 💖