
|SELAMAT MEMBACA
|TYPO BERTEBARAN
|VOTE & COMMENT!
Lelaki itu berjalan mendekati Kate sambil memainkan pisau lipatnya. Dengan senyuman jahil, ia mendekatkan wajahnya sehingga Kate dapat merasakan hembusan nafas dari lelaki itu. Benar-benar brengsek! Jika saja tangannya tidak di borgol, mungkin saja ia sudah menonjok ke wajah lelaki itu.
"Menyerah?" Tanya lelaki itu sambil menyeringai di hadapan Kate. Kate menatap tajam ke arah netra mata lelaki itu tanpa rasa takut. Bukan Kate jika dia takut dengan suatu hal. Dia bahkan bisa membuat orang-orang menggelengkan kepala karena pernah memanjat pohon kelapa saat di pantai.
"Aku? Menyerah? Mimpi saja kau!" Balas Kate sambil tersenyum sinis. Lelaki itu tersenyum miring.
"Interesting tapi berperilakulah sebagaimana seorang perempuan! Kau sama sekali tidak anggun! Kau seperti seorang tidak mampu, hanya berpakain baju tidur." Balas lelaki itu sambil berjalan membelakangi Kate. Ia kembali duduk di sofa kebanggaannya itu.
Kate menggeram. "Kau berkata aku murahan?"
"Kau yang mengatakan. Aku hanya bilang kau tidak anggun dan terlihat tidak mampu." Ucapnya cuek.
Sial.
"Diamlah! Kau tidak tau yang sebenarnya!"
"Apa aku bertanya? Lagi pula apa peduliku?" Balas lelaki itu dengan nada acuh. Kate mengigit bibur bawahnya sambil menatap kesal ke lelaki itu. Siapa sih sebenarnya dia? Di mana ia bertemu dengan lelaki brengsek ini? Astaga, bahkan dia lebih menyebalkan dari John. Sepertinya setelah dia bebas, dia ingin pergi ke rumah sakit untuk melihat apa dia terkena darah tinggi?
Namun rasanya keinginan ke rumah sakit harus ia sampingkan dulu, karena dirinya tidak tau sampai kapan ia bebas dari sini. Baru sebentar dengan lelaki ini saja sudah menambah dosa Kate karena selalu mengumpat.
Knock knock
Seseorang memasuki ruangan, Kate menebak jika orang tersebut adalah asisten atau sekretarisnya. Orang yang baru masuk itu memberikan ponsel kepada lelaki yang sudah membuat Kate kesal. Ia bertelpon sambil melirik kearah Kate.
"Benarkah? Padahal aku baru bermain sebentar. Rasanya aku belum puas, Dan." Ucap lelaki itu.
Bermain? Belum puas?
Emosi Kate kembali memuncak. Oh, tidak, amarahnya memang sudah meluap sejak tadi. Bagaikan gunung berapi yang sudah siap untuk melontarkan segala isi perutnya. Kate bersikap siaga ketika melihat lelaki itu berjalan mendekatinya. Ia melihat jika dia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.
"Baliklah, temanmu membutuhkanmu." Ucapnya. Kate memicingkan matanya kepada lelaki itu. Lelaki yang tidak ia ketahui siapa namanya. Yang pasti dia sudah menamainya dengan lelaki brengsek. Lihat saja jika kita bertemu lagi, sudah Kate pastikan akan menendang burungnya dan memukul wajahnya berkali-kali. Biarkan saja jika wajahnya berubah menjadi jelek dan di cap sebagai perempuan barbar.
Memang bukan Kate jika tidak bar-bar dan tidak berani melakukan apapun. Ketika borgol telah terlepas, Kate langsung melarikan diri. Rasanya untuk membalas dendamnya belum saatnya, karena ketika ia mendengar temannya membutuhkannya, ia langsung memikirkan Bella.
Setelah kepergian Kate, lelaki itu duduk di tepi ranjang dengan memegang borgol yang dipakai oleh Kate. Ia tersenyum miring sambil mendongakkan kepalanya melihat langit kamar dengan kedua tangan menahan tubuhnya yang sedikit ke belakang.
"Kate Vienna." Gumamnya sambil mengangguk kecil. Jika saja tadi Daniel tidak menelpon untuk menyudahi permaianan, mungkin saja ia masih bersenang-senang. Dia sudah lama tidak bermain seperti ini. Biasanya ia selalu bermain dengan setumpuk kertas di meja kerja dan terkadang menyelidiki perusahaan lawan.
"Tuan Damien, sepertinya anda sudah harus kembali ke New York untuk menghadiri pertemuan dengan klien kita dari Los Angeles nanti pagi." Ucap asistennya. Damien mengangguk dan beranjak dari ranjang. Dia sudah mengingat tentang Kate Vienna dan hanya perlu mencarinya lebih dalam agar bisa membuat Kate semakin geram.
"Baiklah, maaf merepotkanmu." Balas Damien.
Damien langsung terbang ke Boston ketika tau Kate ada disana. Dia merasa kesal karena pestanya harus berantakan walaupun tidak sepenuhnya berantakan. Tapi bagi Damien yang suka dengan kesempurnaan, ia merasa jengkel dengan ini.
Sudah tengah malam ini, apa masih ada kendaraan?
•••
"Terima kasih, Daniel." Ucap Bella sambil tersenyum tipis dan sedikit membungkuk. Daniel mengangguk kecil.
"Aku kembali dulu, besok aku akan kesini lagi untuk membicarakan surat perjanjiannya."
"Baik, Daniel. Kau bisa menghubungiku ketika kau ingin ke rumah sakit."
Ia tersenyum miring sambil berjalan keluar rumah sakit dengan kedua tangan di masukkan ke saku celana. Watson selalu standby di depan rumah sakit sejak tadi. Ketika ia melihat Daniel keluar, ia langsung membukakan pintu belakang. Setelah selesai, ia baru meminta supir untuk membawanya ke hotel milik Daniel di Boston.
Sedangkan Bella, ia terdiam dan memikirkan keputusan yang sudah ia buat. Bagaimanapun, ia sudah memutuskan jadi dia harus melakukannya dengan berlapang dada. Ia yakin jika dia bisa melakukannya dengan baik. Baik dan buruknya hidupnya kedepan, ditentukan bagaimana peraturan pernikahan itu besok di sepakati. Dia harus mempersiapkan diri untuk fokus membaca setiap detail yang tertulis di kertas itu besok.
Bella duduk di salah satu sofa panjang di ruang istirahat di dekat ruang ICU. Ia melihat Stevan juga sedang tidur dengan wajah kelelahannya. Meskipun adiknya sudah melakukan kesalahan, tapi Stevan tetaplah adiknya. Sebagai kakak, ia harus membimbing adiknya untuk bertanggung jawab atas kesalahannya.
Bella juga sudah tidak merasa khawatir dengan keberadaan Kate. Tadi Daniel seperti sudah menelpon ke salah satu temannya. Kalau tidak salah dengar namanya Damien. Mungkin dia Damien yang Bella temui saat pesta bisnis kemarin. Si pemilik acara itu. Entah ada masalah apa Kate dengan si Damien tetapi biarlah itu urusan mereka.
Bella membaringkan tubuhnya di sofa tersebut dan memejamkan matanya. Besok pagi ia berharap jika Kate sudah kembali. Biarkan semua keterkejutan yang terjadi malam ini serta kegelisahaan saat mencari Kate menghilang.
Keesokan harinya, Bella membuka matanya dan melihat sosok yang ia cari kemarin berdiri di depannya. Ia tersenyum melihat Kate ada di depannya. Hanya saja ada yang berbeda dari Kate. Penampilan Kate tidak seperti biasanya.
"Kau menghilang seharian lalu kembali dengan penampilan bak perempuan sosialita?" Ucap Bella sambil menaikkan kedua alisnya. Kate hanya cemberut dan duduk di sebelah Bella.
"Jangan membahas apapun! Aku masih kesal dengan lelaki brengsek itu!" Tukas Kate sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Siapa lelaki brengsek itu?"
"Damien sialan."
Bella tertawa kecil. "Kau tau tidak? Kalau mengumpat pada lelaki tampan itu berdosa."
"Bella! Kau tidak membantu! Aku kesal denganmu!" Kate membuang mukanya kesamping. Bella hanya tersenyum melihatnya. Padahal baru sehari ia tidak melihat Kate, tetapi ia sudah merindukannya.
"Jangan tertawa!" Timpalnya.
Bella mengulum senyuman sambil menahan tawanya. Ia memilih beranjak berdiri dan mencuci muka. Sebelumnya, ia sudah meminta Stevan untuk mengambil pakaiannya kemarin. Jadi kemarin ia sudah berganti ke pakaian lebih santai bukan heboh.
Bella menatap ke arah cermin di hadapannya. Hari ini adalah hari yang penting. Dimana ia menentukan perjalanan pernikahan kontrak dengan salah satu keluarga tersohor di New York. Dia adalah seorang Malvaro. Sebentar lagi dia akan menjadi nyonya Malvaro. Semoga saja semua berjalan dengan baik.
Bagaimana cara ia memberitahu Stevan, Stella, dan Kate tentang pernikahan ini? Yang pasti ia tidak mungkin memberitahu pernikahan kontrak ini walaupun mereka menikah di depan Tuhan maupun hukum. Mungkin setelah perjanjian di sepakati baru ia bicara dengan Stevan serta Kate.
Ting!
Bella melirik ke arah ponselnya dan melihat nama Daniel disana dengan sebuah pesan. Lelaki itu sedang berjalan ke arah rumah sakit. Setelah itu, Bella cepat-cepat mempersiapkan diri agar Daniel tidak perlu menunggunya.
Tidak lama kemudian, Bella selesai dari acara mandinya. Ia menunggu Daniel di kantin rumah sakit sesuai keinginan Daniel kemarin. Ketika melihat sosok yang ditunggu menampakkan batang hidungnya, Bella langsung melambaikan tangan diudara.
"Aku disini, Daniel!" Sahutnya.
Daniel dengan wajah datarnya menghampiri Bella.
"Aku berubah pikiran. Kita bicara di cafe depan rumah sakit saja." Ucap Daniel.
"Baiklah." Bella mengekori Daniel dari belakang sambil berjalan menunduk. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti bersamaan dengan dahinya yang sakit karena menabrak punggung Daniel. Ia meringis sedikit sambil memegang dahinya.
"Kau akan menjadi istriku, jadi biasakan berjalan di sampingku!" Pintanya yang kemudian menarik tangan Bella untuk berdiri sejajar dengan dirinya. Bella mengulum bibirnya karena baru kali ini ia mendapat perlakuan seperti ini.
"Maafkan aku." Balas Bella.
"Kau tidak salah, jadi tidak usah minta maaf! Hanya perlu mengingatnya saja dan membiasakannya." Bella mengangguk paham.
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semoga kalian suka sama chapter ini. Terima kasih sudah membaca cerita ini dan menunggu update :) thankyou so much! 💖