6 Years With You

6 Years With You
BAB 28



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA SAMA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


|VOTE & COMMENT!


Pernikahan telah tiba. Bella sudah siap sejak tadi pagi jam 8. Ia sedang berada di suatu ruangan terpisah dengan Daniel. Di ruangan ini ada Stella dan juga Stevan. Sejak ruangan ini terbuka untuk bagi mereka yang ingin berfoto bersama, banyak sekali yang tidak berhenti memuji kecantikan Bella hari ini. Dengan balutan gaun putih panjang dan mahkota di kepala dengan hiasan wajah natural.


Bahkan Kate, John, Josh, dan Adelya datang bersamaan. Mereka berempat tersenyum bahagia namun ada yang aneh dari Josh. Ketika semua temannya pergi, hanya Josh yang tidak ikut pergi.


"Bel, ternyata aku keduluan ya? Seharusnya aku bilang sejak dulu." Josh tersenyum sedikit sedih. "Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu. Kalau butuh sesuatu jangan sungkan memintanya." Sambungnya.


Bella menatap Josh terdiam. "Josh..."


"Kamu jangan menatapku seperti itu, Bel. Hari ini adalah hari kebahagiaanmu. Jadi jangan memperdulikanku." Ucap Josh sambil tertawa renyah. "Lagi pula aku tidak bisa memaksamu untuk menyukaiku, bukan? Aku hanya pengecut yang tidak berani mengungkapkannya. Hanya menunggu waktu yang tepat. Tapi kau sudah dimiliki orang." Sambung Josh menatap lantai ruangan itu.


Josh menaikkan kepalanya dan tersenyum. "Aku ke aula dulu, yang lain sudah menungguku." Kata Josh. Bella menatap punggung yang menghilang dari balik pintu. Ia memegang bunga yang sejak tadi ada di genggamannya. Ia menatap bunga itu dan terdiam.


Bella tidak pernah menyadari jika Josh menyukainya. Ia hanya menganggap Josh sebagai teman kerja dan seorang kakak. Seorang teman yang cocok untuk diajak seru-seruan.


"Bel, sudah waktunya kita kesana." Tutur Ibunya. Bella menganggukkan kepala. Ia akan masuk ke aula sendiri sementara ibunya berada di tempat duduk khusus di dalam.


Bella menarik nafas sedalam mungkin. Entahlah. Ini bukan pernikahan yang ia inginkan. Ini hanya sementara. Cuman kenapa sangat gugup? Ia kembali menarik nafas panjang sembari memperhatikan sekitar. Dari luar ia mendengar pengisi acara sudah memanggil namanya. Bella memperhatikan pintu menjulang tinggi berwarna coklat di hadapannya. Tangannya terkepal memegang sekuntum bunga indah.


Bella memasuki ruangan dengan kaki bergetar, ia memperhatikan ke sekeliling dengan penutup wajahnya dari kepala. Ia tersenyum lebar sebisa mungkin menutupi kegugupannya. Sembari berjalan, ia bisa melihat teman-temannya duduk sembari menatap dirinya dengan senang. Ia melirik ke arah Josh yang juga melihatnya dengan tetapan yang tidak bisa diartikan.


Bella telah sampai di depan altar. Ia mengulurkan tangannya menyambut tangan Daniel. Di sana sudah ada pendeta yang akan membantu mereka berdua untuk berjanji kepada-Nya. Dengan wajah Bella yang masih tertutup oleh kain tipis transparan, Daniel masih bisa melihat jika calon istrinya ini sangatlah cantik.


"Baik, mari kita mulai acara ikrar janji pernikahan Daniel dan Bella." Ucap pengisi acara tersebut. Daniel dan Bella bertautan tangan di antara pendeta.


"Saudara Daniel Malvaro, apa engkau menerima Isabella Quinn sebagai pendamping hidupmu?"


"Saya, Daniel Malvaro, menerima Isabella Quinn sebagai pendamping hidup saya, baik suka maupun duka, baik sehat maupun sakit hingga maut memisahkan kita." Janji Daniel sambil melihat ke arah Bella yang berdiri di hadapannya.


"Saudari Isabella Quinn, apa engkau menerima Daniel Malvaro sebagai pendamping hidupmu?"


"Saya, Isabella Quinn, menerima Daniel Malavaro sebagai pendamping hidup saya, baik suka maupun duka, baik sehat maupun sakit hingga mau memisahkan kita." Janji Bella.


"Dengan ini, saya persilahkan kalian berciuman. Selamat atas pernikahannya dan Tuhan memberkati kalian." Kata pendta sambil tersenyum bahagia. Daniel membuka penutup wajah Bella dan mencium keningnya.


Teriakan mulai terdengar memenuhi ruangan ini. Semua bersorak bahagia karena pria tampan New York satu ini melepas gelar lajangnya. Disini yang paling bahagia adalah Damien karena dia yang akan menggantikan posisi gelar pria tampan New York mulai hari ini.


Pernikahan telah usai. Daniel dan Bella langsung menuju ke hotel dimana letak perayaan pesta pernikahan nanti malam diadakan. Bella melepas high heels yang sejak tadi ia pakai selama pemberkatan. Di sampingnya ada Daniel yang sedang melepas kancing atas kemejanya, bahkan ia sudah melepas jasnya.


"Selamat atas pernikahannya, Tuan Daniel dan Nyonya Bella." Kata Sean di dalam mobil. Daniel hanya mengangguk tanpa membuat suara untuk membalasnya.


"Kau bisa memanggilku Bella, Sean."


"Tidak! Biarkan dia membiasakannya. Mulai sekarang kamu sudah menjadi istriku, jadi aku akan membawamu ke berbagai pesta dengan kolega bisnis lainnya. Mana mungkin Sean akan memanggilmu dengan nama depanmu." Sela Daniel di antara mereka.


"Sean bisa memanggilku dengan nama depanku jika tidak sedang di pesta. Lagi pula, aku tidak akan selalu ikut bersamamu." Tutur Bella.


"Kau panggil aku Bella saja, ya Sean." Sambungnya.


Daniel menolehkan kepala ke Bella. "Kau berani menentangku?"


"Apa aku salah, Tuan Daniel?"


"Iya! Kau harus selalu menurutiku dan berhenti memanggilku dengan embel Tuan!" Tukas Daniel. Baru saja mereka dinyatakan suami istri tetapi sudah bertengkar. Belum ada dua jam mereka mendapat status baru.


"Daniel! Kau tidak berhak mengaturku! Aku bebas menentukan orang memanggilku dengan nama atau embel apapun!" Bella mendengus kesal. Ia mentautkan alisnya menatap Daniel.


"Tidak setelah kau mendapat namaku!"


"Oh, god!"


"Kau tidak ingat penjanjiannya?!"


Bella berdecak kesal. "Terserah kau saja, Daniel."


Sean menelan ludahnya. Kenapa masalah panggilan saja sudah bikin ribut. "Eh, saya panggil nyonya saja. Tuan Daniel benar saya harus membiasakannya karena ini kepentingan pekerjaan juga." Ucap Sean sambil tersenyum kaku.


"Kau juga terserah, Sean!"


Sean menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, sedangkan Daniel ia hanya berdecak kesal dan memperhatikan jendela mobil.


•••


Masalah tadi siang berlalu seiring waktu berjalan. Mereka hanya bertengkar sebentar dan reda sendiri. Daniel meminta Sean untuk tidak sampai diketahui oleh ibunya, jika tidak, Daniel bisa habis-habisan mendapat nasihat hingga seharian.


Baru saja nikah beberapa jam, bahkan bisa dihitung jari, sudah bertengkar saja. Saat ini mereka sedang menunggu di depan pintu ballroom. Bella sudah memakai gaun putih yang dipadukan dengan tuxedo milik Daniel. Saat pintu terbuka, sudah ada ribuan tamu disana dan ketika mereka melangkah masuk ke dalam, banyak sekali sorakan dan tepukan tangan.


Iringan lalu beautiful in white oleh piano dan nyanyian merdu dari penyanyi aslinya, membuat semua tamu terbawa oleh suasana romantis. Karpet merah yang tergelar panjang hingga ke panggung membuat mereka menjadi bintang. Semua orang terpana dengan kecantikan serta keanggunan Bella, yang berjalan sambil memeluk lengan Daniel. Sedangkan Daniel dengan tuxedo mewahnya, yang di rancang khusus untuk Daniel, tampak sangat tampan dan berwibawa.


Pernikahan Daniel sangat tiba-tiba oleh semua orang karena lelaki itu tidak pernah tersangkut skandal dengan perempuan. Hanya masuk ke majalah bisnis dengan prestasi gemilang. Ayolah, tiga pria tampan di New York tidak pernah mendapat skandal apapun kecuali itu prestasi dan berita bahagia. Maksudnya bahagia bagi mereka namun sedih bagi para perempuan yang mendambahkannya.


Sekarang tersisa Damien yang masih melajang. Entahlah. Kapan ia menikah, tidak ada yang bisa menafsirnya.


Bella mengulurkan tangannya ke Daniel. Tubuh mereka langsung tegak bersamaan sembari melangkahkan kaki ke lantai dansa. Semua tamu sudah menyingkir, menyisahkan tempat yang lumayan lebar untuk mereka berdansa.


Ketika alunan musik romantis dimulai, Daniel dan Bella mulai bergerak. Melakukan hal yang sudah mereka persiapkan selama satu minggu berlatih bersama. Perlahan mulai ada asap putih yang mengitari mereka. Setiap mereka berputar membentuk lingkaran, kibasan dari gaun Bella membuat asap tersebut terdorong.


...



...


Banyak yang mengabadikan sesi ini karena begitu indah. Pasti besok akan ada berita tentang pesta pernikahan si tampan New York ini. Bella sedari tadi menatap wajah Daniel dan Daniel pun begitu menatap Bella. Entah kenapa mereka berdua seperti tersihir. Hanya ada mereka berdua di sini. Mereka berdansa dengan sedirinya, tubuh mereka seakan bergerak sendiri.


Ketika tubuh mereka bersentuhan. Meski mereka sudah melakukan tarian ini berkali-kali, cuman rasanya berbeda di hari ini. Mereka berdua memakai gaun indah dan menari hadapan banyak tamu.


I don't know, but I believe


That some things are meant to be


And that you'll make a better me


Everyday I love you


I never thought that dreams came true


But you showed me that they do


You know that I learn something new


Everyday I love you


'Cause I believe that destiny


Is out of our control (don't you know that I do)


And you'll never live until you love


With all your heart and soul


It's a touch when I feel bad


It's a smile when I get mad


All the little things I am


Everyday I love you


Everyday I love you boy


Everyday I love you


'Cause I believe that destiny


Is out of our control (don't you know that I do)


And you'll never live until you love


With all your heart and soul


If I asked would you say yes?


Together we're the very best


I know that I am truly blessed


Everyday I love you


And I'll give you my best


Everyday I love you


"Hei, kau tau kalau merelakan dia untuk kebahagiaannya adalah bentuk cinta yang paling mulia?" Katanya sambil menepuk bahu Josh. Josh menoleh dan menatap ke orang tersebut yang tersenyum padanya.


"Awalnya memang sakit. Cuman senyumnya adalah obat bagi kita. Dia membuktikan kalau cinta tidak selalu bisa dimiliki." Sambungnya. Kemudian dia pergi meninggalkan Josh yang masih menatapnya.


Josh hanya tersenyum dengan segelas jus di tanganya. "Ya, memang begitu." Jawabnya dalam hati.


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat bagi Daniel dan Bella yang udah nikah! Semoga langgeng 😁 -author.


Halo, akhirnya bisa update juga.


Thank you bagi kalian yang udah menunggu dan membaca cerita ini.


Jangan lupa untuk memberikan vote dan comment sebagai bentuk apresiasi untuk cerita ini.