
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA SAMA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
|VOTE & COMMENT!
Kate mengetuk pintu kamar apartment Bella. Hari ini ia libur kantor. Entahlah. Ja juga tidak tau kenapa bisa libur. Ia menggunakan kesempatan ini untuk bertemu Bella yang tiba-tiba bisa menikah dengan pemuda tampan New York! Oh, semenjak Andrew menikah maka gelar lelaki tampan New York digantikan oleh Daniel. Damien masih nomor tiga tentunya.
Bella membuka pintu dengan memakai apron di tubuhnya. Rambutnya ia ikat asal, meninggalkan anak rambut yang berjatuhan.
"Oh, selamat datang nyonya!" Sapa Bella, Kate langsung masuk. Ia langsung menarik Bella ke arah sofa di ruang tamu.
"Katakan padaku!" Itulah yang Kate katakan sejak ia menginjak kaki di tempat Bella.
"Apa yang harus ku katakan?"
Kate menatap tajam Bella tanpa berkata apapun. Yang di tatap menghela nafas dan beranjak pergi. "Bella! Jangan pergi, kau belum menjelaskannya padaku!" Sahut Kate.
"Sabar, Kate. Ikan ku nanti gosong." Balas Bella sambil berjalan ke arah dapur. Kate ikut ke dapur dan berdiri di dekat pantry. Ia bertumpuh pada dagu dan memperhatikan Bella memasak. Kate sudah lama tidak memakan masakan Bella yang sangat lezat sejak pindah dari Boston.
"Masakan aku yang banyak. Aku belum makan karena aku yakin kau akan memberiku makanan." Timpal Kate tanpa ada rasa malu. Ia bahkan mengambil cemilan biskuit di dekat sana dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Kau datang marah-marah dan sekarang minta makan? Kau memang Kate yang aku kenal!" Bella terkekeh pelan sambil membalikkan ikan goreng dan meniriskan udang goreng yang baru matang. Kemudian ia beralih untuk menumis sayuran.
"Kau tau kan sloganku selalu jika ada yang gratis kau tidak boleh melewatkannya. Menolak yang gratis itu dosa." Tutur Kate sambil tersenyum kecil.
"Bagiku memberi lebih baik daripada meminta." Balas Bella sambil menjulurkan lidahnya. Kate melempar biskuit kearah Bella.
"Kate! Kau yang bersihkan!"
"Iya, tenang saja nyonya higienis" Cebik Kate dan melanjutkan makan biskuit sembari menunggu makanan selesai.
Bella meletakkan tiga piring di atas meja makan. Semua adalah makanan sederhana namun bikin perut kenyang. Ia bingung kenapa makanan bertaraf bintang lima dan mahal itu selalu sangat dikit? Apa mereka kekurangan bahan atau mengirit bahan?
Oh, tentu saja semua karena seni makanan.
"Silakan nyonya Kate. Berikan lima bintang jika enak dan berikanku uang jika buruk." Kekeh Bella sambil menarik kursi untuk dirinya. Kate langsung mencoba semua masakan Bella. Ia langsung menatap Bella berbinar-binar.
"Ini sangat enak, Bella! Kau memang terbaik. Lain kali buatkan aku cheese burger dan spagetti aglio e olio serta chicken cordon blue." Ucap Kate sambil tersenyum.
"Berikan aku uang untuk beli bahan." Timpal Bella sambil mengulurkan telapak tangannya ke arah Kate. Kate menepuk telapak tangan itu dan melanjutkan makanan.
"Kau hitung-hitung dengan teman, Bel. Aku bayar secara kredit, berikan aku makanan dulu. Ada barang ada uang." Kate menaik-turunkan alisnya secara bersamaan. Bella tersenyum dan melanjutkan makannya.
Selesai makan mereka duduk santai di ruang tamu. Bella mulai bercerita bagaimana ia bisa bersama dengan Daniel karena tidak akan berhenti menganggu. Ia menceritakan dari mereka ketemu di bandara dan hingga berada di kantor yang sama. Tentu ia tidak menceritakan bagian nikah kontrak.
"Sekarang giliranmu!" Kata Bella.
"Apa dariku? Tidak ada, Bel."
Bella menyipitkan matanya dan menatap Kate tidak henti. Kate mendorong sisi wajah Bella ke arah lain. "Kate, i know u lie to me. Who is he?"
"Fine! He is a bastard, called Damien. Kalau tidak salah, dia juga teman dari Daniel." Tutur Kate cemberut.
"And then?"
"Then what?"
"Aku ingat kau pernah menghilang di rumah sakit. Dan kau balik-balik memakai semua itu. Kau melakukannya?"
"Oh, god! Tentu tidak Bella. Aku bahkan lebih rela John yang melakukan dari pada Dami berengsek itu."
"Dami? It's so sweet, Kate."
"Stop, Bella! Sekarang bahas pernikahanmu saja!' Bella menggelengkan kepalanya. Ia masih ingin membuat Kate kesal. Lagipula ia sudah cukup di interograsi cukup lama oleh temannya ini.
"Ceritakan semuanya, Kate!"
"Kau pemaksa sekali." Ucap Kate sambil mencebikkan mulutnya. Namun ia menceritakan juga kisahnya dengan Damien. Mulai dari peristiwa penculikan di rumah sakit hingga dirinya yang selalu di ganggu oleh Damien hingga kini. Bella tertawa mendengarnya.
Terkadang Kate memang harus bertemu dengan lelaki yang bisa membuat dirinya darah tinggi. Sejak dulu Kate selalu saja membuat kesal orang. Salah satunya John dan mereka selalu bertengkar. Hanya sesekali saja mereka rukun.
Cukup lama mereka berbincang sampai sore. Kate mengambil tas kecilnya dan berjalan ke arah pintu keluar. "Titip salamku dengan yang lain. Kau harus memberikan undanganku nanti ke yang juga." Ucap Bella.
Kate menganggukkan kepalanya. Ia memeluk Bella lama. "Setelah kau menikah, jangan lupakan aku. Kau ini pacarku tau." Tuturnya.
"Iya, kau pacarku yang setia, Kate. Thank you." Balas Bella. Akhirnya Kate pergi dari apartment Bella. Terkadang setelah kepergian orang dari apartmentnya membuat rasa kosong. Seperti sangat hening dan kembali sendiri.
•••
Keesokan harinya, Bella menunggu Daniel di depan pintu lobby. Berita mereka akan menikah sudah tersebar dimanapun. Ini semua tentu karena Bellina. Ia ingin pesta anaknya di ketahui oleh semuanya. Semua orang pun mulai menaruh perhatian ke Bella. Sosok perempuan yang diam-diam tapi pernah membuat prestasi saat di Boston.
Bella memainkan ponselnya karena ia selalu mendengar orang-orang berbicara tentangnya. Mulai dari katanya Bella menggoda Daniel hingga menjebak Daniel. Namun tidak sedikit juga banyak yang mendukung hubungan mereka karena sangat serasi.
Ketika mobil Daniel sampai di depan lobby, Bella langsung menghampirinya. Daniel baru saja kembali dari pertemuan dengan pihak bisnis lain di sebuah restoran hotel, sambil makan siang.
"Hai, Sean!" Panggil Bella. Sean tersenyum dari balik kaca kecil di dalam mobil. Daniel menatap Bella dan kemudian ia beralih ke jendela mobil.
"Hai, Daniel. Bagaimana pertemuannya? Apa berjalan lancar?" Tanya Bella.
"Iya, seperti biasa." Jawab Daniel. Setelah menikah nanti, Daniel akan menjabat posisi Henry. Sekarang semua proses pengangkatan jabatan sedang di lakukan. Meski ini sudah dibicarakan waktu dulu, cuman prosesnya juga cukup lama. Paling mereka harus mengadakan rapat dengan pemegang saham lainnya serta dewan tinggi lainnya untuk menentukan posisi Daniel.
Bella mengangguk kecil dan kemudian ia melihat ke arah jendela. Ia bahkan sudah biasa dengan sikap tak acuh dari Daniel. Pria dingin, cuek, dan selalu saja memaksa. Beruntung Daniel tampan, jika tidak, ia ingin memukulnya. Demi Tuhan! Lukisan indah tidak boleh di hancurkan.
"Sean, apa kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Bella asal-asalan. Ia juga tidak tau kenapa hanya itu yang keluar.
Sean menatap kikuk. Ia tersenyum. "Belum, Nona." Ia melirik ke arah Daniel saat di depan lampu merah. Lelaki itu masih setia menatap jendela yang hanya menampilkan seorang nenek yang duduk sambil membaca buku terbalik. Disana juga ada seorang kakek yang duduk tidak jauh dari si nenek. Mungkin si nenek grogi makanya bisa terbalik bukunya.
"Kenapa, Nona?"
"Ah, tidak." Bella mengibaskan tangannya, menampar udara berkali-kali. "Aku hanya bertanya. Mana mungkin lelaki tampan sepertimu sendiri." Sambungnya.
"Saya tidak memiliki waktu sekarang. Pekerjaan sangatlah penting."
"Kau juga harus hidup, Sean. Apa kau mau menikah di usia tua?"
Sean hanya tersenyum setelah tertawa kecil. Ia kemudian menginjak gas setelah melihat lampu hijau.
"Pekerjaan memang penting, Sean. Aku tidak mengomentarimu, hanya saja, kita juga harus mencari kebahagiaan." Tutur Bella sambil tersenyum.
"Apa kau bicara tentang dirimu, Bella?" Suara Daniel mendominasi.
"Tidak."
Bella kembali menatap jendela dan mencebikkan bibirnya. Daniel memang bisa membuat keadaan menjadi terbalik dalam sekejab. Mungkin jika Daniel tidak menawari untuk nikah kontrak, sampai sekarang menikah sudah menjadi opsi terakhir. Tapi semua berubah ketika kondisi Stella membaik dan sudah di perbolehkan pulang tiga hari yang lalu.
Stella memilih untuk kembali ke Boston karena Stevan hanya tinggal sendiri. Lagi pula masalah Stevan sudah selesai. Marsha hamil anak orang, bukan Stevan. Memang mereka melakukannya, cuman Marsha sudah hamil duluan. Beruntung sekali Marsha meninggalkan jejak karena kecerobohannya.
Mobil mereka sudah tiba di butik milik teman Bellina. Butik mewah yang bahkan di rancangannya di pakai untuk pernikahan Pangeran Harry. Bisa di pastikan jika harga satu rancangan sangat mahal. Bahkan ketika kau meninggal, semua bayaranmu belum selesai. Berbeda jika mereka kaya tujuh turunan.
Bella langsung di tuntun oleh dua pelayan ke ruangannya, sedangkan Daniel bersama Sean dan satu pelayan lelaki yang membantu.
Bella menatap takjub ke tiga gaun pengantinnya. Semuanya sangat sederhana namun sangat elegan. Salah satunya adalah gaun pendek, untuk dipakai saat akhir acara. Dua yang lainnya gaun panjang. Salah satunya di gunakan saat Bella dan Daniel berdansa bersama. Itulah yang Bellina katakan beberapa waktu lalu. Semua perencanaan diatur oleh Bellina bersama event organizer.
Daniel dengan jas yang masih di tubuhnya berjalan ke tempat Bella berada. Ketika ia sampai, ia masih melihat tirai di tengah ruangan itu tertutup. Akhirnya ia duduk di sofa yang berada di depan tirai itu.
Ketika tirai itu terbuka, Daniel langsung terdiam dengan wajah datarnya. Bella dengan gaun putih pertama, untuk sesi pemberkatan di pagi hari. Gaun itu menunjukkan punggung mulus Bella.
"Bagaimana?" Tanya Bella gugup. Ia tersenyum kikuk hingga ia mengulum bibirnya.
Daniel masih terdiam. Bella menunggu jawaban.
"Daniel?"
Daniel berdeham. "Coba kau tanya Sean."
Sean melongo. Bella menatap Sean. "Cantik sekali, Nona. Hingga menbuat Tuan Daniel terdiam."
Daniel berdecak dan memutar kedua matanya. "Kalau sudah cocok, cepat ganti. Hari ini kita makan malam di rumahku." Tuturnya sambil beranjak berdiri.
"Iya, Daniel." Balas Bella diakhiri helaan nafas. Ketika tirai ingin ditutup, Daniel melirik ke arah Bella sebentar. Ia tersenyum tipis sebelum pergi ke ruangannya untuk berganti pakaian.
Sedangkan Bella di dalam, ia dibantu oleh salah satu pelayan untuk melepas gaun pernikahan ini. "Dia tampan sekali!" Teriaknya dalam hati. Daniel dengan tuxedo putih dengan sedikit warna hitam.
"Anda sangat cantik sekali, Nona. Apa Anda masih ingin mencoba gaun kedua?"
"Tidak perlu. Saya rasa dua yang lain tidak ada yang salah. Dia sudah menunggu jadi tidak bisa ku coba yang lain lagi." Tolak Bella sambil tersenyum.
"Baiklah, Nona."
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih sudah membaca dan menunggu cerita ini. Jangan lupa untuk memberikan Vote dan Comment sebagai bentuk apresiasi ke cerita ini. I love you 💖