
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
Bella dan Daniel tiba di salah satu hotel bintang lima di Manhattan, New York. Malam ini adalah malam yang penting bagi pengusaha besar lainnya karena bisa berkesempatan melihat Andrew Millenov bersama dengan keluarganya, padahal tuan rumahnya adalah Damien Orlando. Ketika mobil mewah memasuki pelataran hotel, Sean membuka pintu untuk Daniel dan Bella. Mereka memasuki hotel dengan Bella memeluk lengan Daniel. Mereka seperti pasangan yang serasi, bukan pimpinan dengan seorang manager.
Ketampanan dan kecantikan Bella dan Daniel mampu membuat semua orang menaruh perhatian pada mereka. Bella yang tampil elegan dan anggun berdiri di samping Daniel yang sangat berwibawa. Ketika Daniel membawa Bella ke perkumpulan Damien dan Andrew, semua orang seperti menggelengkan kepala. Ayolah, ketiga pria tampan berdiri bersama dan itu seperti surgawi.
Hanya saja tidak ada dari Martin, dari yang di dengar Martin tidak bisa datang ke acara ini karena ada sedikit masalah. Tidak banyak juga orang yang bertanya tentang Bella. Siapa perempuan itu? Kenapa tidak pernah ada tau? Daniel tidak mungkin memilih wanita yang biasa saja, bukan?
Bella sejak tadi hanya tersenyum. Ia tidak tau harus berbicara apa dan tidak berani membuka mulut. Ia hanya melihat Mikhaila dengan Lexi, dan Damien Orlando si tuan rumah. Jika biasanya Bella hanya melihat mereka semua dari layar televisi atau berita, kali ini ia melihatnya secara langsung dan masih tidak percaya.
"Perkenalkan, dia Isabella Quinn." Ucap Daniel. Bella tersenyum indah menampilkan deretan gigi putihnya. Mikhaila mengulurkan tangannya dan Bella menjabatnya. Istri dari Andrew sangatlah anggun dan cantik, pantas saja Andrew memilihnya. Sedangkan Damien dan Andrew hanya mengangguk.
"Apa dia calon istrimu, Dan?" Tanya Damien.
"Tanyakan saja pada dia." Jawab Daniel. Ia melirik Bella yang ada di sampingnya.
"Kalau begitu Ms. Quinn, kenapa kau mau jadi pasangannya? Lebih baik denganku." Tutur Damien. Daniel memutarkan kedua matanya dengan jengkel.
"Panggil aku dengan Bella saja, Mr. Orlando. Aku pun tidak tau kenapa mau dengannya." Ucap Bella sambil tertawa kecil. Jawabannya tidak sepenuhnya jujur dan bohong. Ia pun bingung tapi yang pasti itu adalah hal yang tidak mungkin.
"Dan juga aku bukan calon istrinya. Aku hanya menemaninya kesini." Lanjutnya.
"Oh, apa ini penolakan untuk Daniel?" Damien tertawa puas. Jika ada orang yang senang dibawah penderitaan teman maka orang pertama yang harus dicurigai adalah Damien. Mungkin dia masih sendiri hingga kini karena dosanya.
"Sialan kau, Dam. Jika bukan teman, sudah aku tendang kau sekarang." Tukas Daniel kesal.
"Kalian bersenang-senanglah, aku dan istriku ingin istirahat." Tutur Andrew. Daniel dan Damien menganggukkan kepala. Setelah kepergian keluarga Millenov, tersisa mereka bertiga. Tidak henti-hentinya tamu disini menyoroti mereka apalagi kedatangan perempuan bersama Bella.
"Bukankah dia gay?" Tanya seseorang dari jauh.
"Itu hanya rumor. Bagaimana mungkin Daniel penyuka sesama jenis. Kau tidak bisa membedakan mana yang benar." Balas yang lain sambil berdecak.
"Lalu siapa perempuan disebelah Daniel? Baru saja aku ingin mendekatinya."
Orang tersebut mengerdikkan bahunya. "Aku tidak tau. Mungkin hanya pacar sewa. Lagi pula wajahnya tidak terlihat seperti keluarga terpandang." Tuturnya.
"Aku yakin seperti itu. Lihatlah wajahnya sangat jelek. Harusnya aku lebih cocok dengan Daniel."
"Ambillah Daniel, aku lebih menyukai Damien."
Yap. Seluruh ruangan disini tidak bisa mencari topik lain selain membicarakan Bella dengan Daniel. Daniel memang belum memberitahu siapapun tentang Bella. Selagi belum ada yang bertanya, menurutnya tidak penting.
•••
Boston, USA.
"Maafkan aku, Ma. Aku tidak sadar melakukannya." Ucap Stevan yang sudah berlutut dihadapan Stella—Ibu Bella. Dengan wajah sedih dan bersalah serta rasa panas di bagian pipinya membuat Stevan tidak berhenti mengatakan maaf.
"Stevan! Bagaimana bisa kau melakukannya, tidak seharusnya Mama memperbolehkan kamu pergi." Tukas Stella kesal. Tidak henti-hentinya ia menghela nafas kasar. Rasanya begitu sakit mendengar kenyataan dari anak lelaki satu-satunya. Ia memejamkan mata sambil menoleh ke arah lain.
"Maafkan aku, Ma. Aku di jebak oleh Marsha." Stevan mencoba menjelaskan namun tetap saja Stella tidak bisa menerima kenyataannya. Lelaki kebanggaan di keluarga Quinn membuat semuanya jungkir balik.
"Siapapun itu kau sudah tau aturannya, Stevan! Mama tidak pernah mengizinkanmu minum alkohol! Ini salahmu sendiri." Stella beranjak berdiri dari kursinya. Rasanya ia butuh penyegar. Bagaimana bisa tiba-tiba seperti ini.
"Apa yang harus mama ucapakan pada kakakmu? Dia sudah bekerja keras untuk kita. Dan kau tidak menghargai kakakmu itu dengan berbuat seperti ini. Mau itu hanya jebakan atau tidak, Mama tidak menyangka kau bisa melepas aturan kita." Ucap Stella kecewa, ia menatap anaknya sambil menggelengkan kepala. Air matanta tidak henti-hentinya berderas membasahi wajahnya.
"Ma, maafkan aku. Aku tidak memberitahumu karena aku takut kau akan-" Stevan menghentikan ucapannya ketika melihat Stella memegang dada bagian kirinya. Sial! Ia tidak berhenti mengumpat dalam hati.
"Ma..ma...ku mohon bertahan!" Ujar Stevan sembari memegang tubuh Stella. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi ambulan.
"Ma, maafkan aku. Aku salah. Stevan salah. Jangan seperti ini, ku mohon bertahan." Stevan menangis sambil mendekap Stella yang sudah tidak sadarkan diri. Ini salahnya. Ia harusnya sadar dengan aturan keluarganya yang dibuat oleh Bella. Ia harusnya menepati janjinya dengan Bella. Stella memiliki riwayat sakit jantung oleh karena itu tidak boleh ada hal yang memicu jantungnya itu.
Sembari menunggu ambulan datang, ia menghubungi Bella namun tidak diangkat. Kemana kakaknya? Biasanya dia paling cepat menjawab.
"Kak, kumohon angkat."
Tidak lama kemudian terdengar sirene ambulan dan Stevan dengan cepat membawa Stella kesana. Di dalam mobil ia tidak bisa melepas tangan Stella. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada ibunya.
"Ma, maafkan aku. Tetaplah bersama kami." Itulah kata yang ia lafalkan selama perjalanan menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ia mencoba menghubungi Bella kembali tetapi tetap tidak bisa. Apa Bella sudah tidur lebih awal? Akhirnya ia mencoba menelpon Kate.
"Kak, dimana kak Bella? Apa dia bersamamu?"
"Tidak ada, dia sedang pergi ke pesta bisnis. Kenapa? Apa ada hal buruk?" Tanya Kate setelah mendengar Stevan terlihat buru-buru.
"Mama masuk rumah sakit, sakit jantungnya kambuh. Sekarang sedang di ruang ICU. Ku mohon bantu aku hubungi kak Bella." Tutur Stevan.
"Baiklah aku akan coba menghubungi Bella. Kau tenangkan dirimu dulu." Balas Kate.
"Terima kasih, Kak." Setelah itu, panggilan tersebut terputus. Stevan duduk di depan ruang ICU sambil menundukkan kepala dan bertumpuh pada kedua lututnya. Pikirannya kacau. Ia tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya yang begitu bodoh.
Sialan kau, Marsha!
Sedangkan di sisi Kate, ia terus-menerus mencoba menelpon Bella. Sudah hampir belasan kali mencoba tetapi selalu dialihkan. Ia juga sudah mengirim pesan berkali-kali. Bahkan ia juga meminta John untuk menghubungi Bella.
"Kenapa disaat seperti ini ponselmu tidak bisa di hubungi?!"
Kate mengambil tasnya, ia tidak peduli jika sekarang ia memakai baju tidur pergi ke pesta itu. Yang ia pikirkan adalah Bella harua mengetahui kondisi ibunya saat ini. Persetan dengan pesta bisnis yang dipenuhi lelaki tampan dan perempuan sosialita.
Ia membawa mobilnya menuju Manhattan di jalanan yang sepi. Ia meningkatkan kecepatan dan rasa marah di dirinya bangkit. Bukan marah tetapi rasa cemas dan khawatir. Sesampainya di pesta, ia ditahan oleh pengawal.
"BIARKAN AKU MASUK, BRENGSEK! INI MENYANGKUT NYAWA ORANG!" Tukas Kate dengan nada tinggi. Ia tetap memaksa masuk walaupun dua pria bertubuh besar menghalanginya.
Kate menaikkan lengan baju tidurnya dan bersiap-siap untuk melawan. Paling tidak ia pernah belajar taekwondo hingga sabuk hitam. Meskipun sudah sangat lama tetapi ia masih ingat gerakannya.
"Kalau memang melewati kalian harus dengan kekerasan, ayo sini lawan aku!" Tukas Kate. Kedua pria itu menyeringai, meremehkan keahlihan Kate.
"Lebih baik Nona pergi sekarang daripada harus melawan kita. Sudah tentu kami akan menang." Dan saat itu juga, Kate melayangkan pukulan ke salah satu dari mereka.
Sedangkan di dalam, pengawal melaporkan masalah kepada Damien. "Cepat selesaikan! Bagaimana bisa acaraku rusak karena perempuan rendahan seperti dia." Ucap Damien dengan decakan kesalnya.
"Ada apa?" Tanya Daniel.
"Ada perempuan yang mengacau di depan. Dia melawan anak buahku."
"Really? Aku ingin melihatnya. Sudah lama sekali aku tidak mendapatkan tontonan seru."
"Sialan kau, Daniel. Aku tidak ingin pestaku kacau!"
"BELLA!!" Bella langsung menolehkan pandangan ke sumber suara. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat Kate ada disini. Kenapa dia datang dengan baju tidur?
"ARGH!!! Wanita pengacau! Aku harus mengurusnya sebentar." Tukas Damien kesal. Ia merutuki perempuan itu yang berani-beraninya mengacau pestanya, belum lagi datang dengan baju tidur.
"Tidak perlu, biarkan dia datang kesini. Dia temanku." Sela Bella menghalangi Damien.
"Dia temanmu?" Tutur Damien sedikit kesal. Bella menganggukkan kepala.
"Aku akan perhitungan dengan temanmu itu!" Seru Damien geram.
"Tenang, Dam. Dia tidak sepenuhnya mengacau." Kata Daniel sedikit menyeringai. Damien memicingkan matanya kepada Daniel. Tetapannya dingin dan seakan ingin melahap Daniel sekarang juga.
"Bella! Ibumu masuk rumah sakit!" Kata Kate dan langsung menarik tangan Bella hingga terlepas dari Daniel. Daniel langsung menahan tangan Bella. Ia tidak suka jika Bella pergi tiba-tiba.
"Kau siapa?"
"Tuan Daniel yang terhormat, maafkan aku lancang mengambil Bella darimu. Maafkan aku juga telah mengacaukan pesta ini. Tapi ini menyangkut nyawa orangtua Bella. Aku mohon pengertiannya. Dan namaku Kate Vienna." Tutur Kate panjang lebar.
"Kalau begitu aku antar."
"Tidak perlu, Tuan Daniel. Aku akan ikut dengan Kate." Ucap Bella dengan wajah khawatirnya. Ia bahkan sejak tadi menahan air matanya. Rasanya begitu kaget dan terkejut mendengar kabar ibunya di malam yang seharusnya menjadi malam terindah sepanjang hidup Bella.
"Tapi..."
"Terima kasih, Tuan Daniel dan Damien!" Setelah itu sosok Bella perlahan menghilang dari Daniel. Ia menghela nafas sedikit kesal namun juga cemas. Sedangkan Damien, ia menatap Kate dengan kesal.
Namanya Kate Vienna, ya? Lihat saja aku akan buat perhitungan denganmu!
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa untuk vote and comment, ya! Thankyou udah baca cerita ini. I love you 💖