
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
Keesokan harinya Bella sudah kembali masuk kerja setelah merasa lebih baik. Walaupun kemarin ia habis dari rumah sakit tapi dokter sudah memperbolehkannya pulang. Bella tidak pernah mau mengambil cuti bekerja jika tidak dalam keadaan penting.
Ia melangkahkan kakinya memasuki perusahaan Jewels dengan semangat. Biasanya sebelum menuju ke lift untuk ke lantai ia bekerja, para pegawai disambut oleh papan pengumuman yang selalu di perbaharui informasinya setiap waktu.
"Pagi, Bu Bella." Sapa Adelya yang baru tiba.
"Hai, Adel. Ini kenapa ya kok rame gini." Tanya Bella sambil menunjuk ke bagian dimana papan pengumuman berada.
"Saya periksa dulu ya, Bu. Ibu tunggu disini saja." Pinta Adel. Bella menganggukkan kepala. Tidak biasanya papan pengumuman seramai ini saat pagi hari. Ia menunggu kabar Adelya sambil membuka berita pagi. Berita pagi ini dihiasi oleh artikel tentang prestasi dari seorang Daniel Malvaro! Bella tersenyum kecil. Siapa yang tidak mengagumi seorang Daniel?
Adelya datang dengan muka kesal. "Kenapa, Adel?" Tanya Bella penasaran. Sebab tadi Adel pergi mencari tau informasi dengan muka ceria dan kembali dengan muka kesal.
"Jadi gini, Bu Bella. Ternyata kejadian Ibu diracuni karena ulah si Jesslyn. Dia iri dengan keberhasilan Bu Bella." Jelas Adelya, Bella menganggukan kepala. Bagaimana bisa Jesslyn melakukan hal menyeramkan seperti itu? Apa karena iri dia ingin membunuh orang?
"Lalu si Jesslyn sekarang berhadapan dengan direktur," Kata Adelya sambil menyilangkan tangan di dada dan mendengus kesal. Bella tersenyum kecil.
"Kenapa Bu Bella respon diam aja?" Tanya Adelya.
"Lalu aku harus seperti apa? Jesslyn juga sudah di urus oleh Pak William, apa yang harus ku lakukan? Menyiksanya atau membalas dengan hal yang sama?"
"Tidak juga sih, Bu. Paling tidak sekarang Bu Bella tidak perlu khawatir lagi dan lebih berhati-hati sekarang sama orang di sekitar Bu Bella." Ujar Adelya sambil tersenyum.
"Benar, Del. Sekarang ayo kita kembali bekerja." Adelya menganggukkan kepala dan berjalan bersama Bella menuju lantai divisinya berada.
Sedangkan di lain sisi, Sean memberitahu Daniel tentang Jesslyn yang melakukan hal sekeji itu kepada Bella.
"Semuanya sudah saya atur, Boss. Saya juga sudah memberitahu kepada Pak William mengenai ini dan sebentar lagi Jesslyn akan di keluarkan dari Jewels Group." Kata Sean.
"Bagus. Orang seperti dia tidak cocok untuk bekerja di Jewels. Aku bingung bagaimana bisa pihak HRD meloloskan orang seperti dia sebagai pegawai." Daniel berdecak kecil.
"Oh, ya, atur perpindahan Bella kesini." Kata Daniel. Sean menganggukkan kepala.
"Baik, Boss." Setelah kepergian Sean dari ruangan Komisaris, Daniel menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. Kursi yang sudah menemainya selama 3 tahun menjadi seorang Kepala Komisaris. Kapan dirinya bisa menduduki kursi Henry? Walaupun Henry sudah menyerahkan mandat kepada Daniel, cuman di halangi oleh persetujuan dewan lainnya.
Daniel menghela nafas ringan. "Sudahlah, kenapa aku harus memikirkan ini."
•••
Sebuah Club ternama di New York bernama Phoniex Club milik dari Andrew Millenov, selalu menjadi tempat kesukaan Daniel untuk menghilangkan kepenatannya. Daniel biasanya kemari saat sepulang kerja untuk bertemu dengan Damien Orlando dan membicarakan segala hal yang menganggu pikirannya.
"What'up, Bro! Sekarang jarang sekali kesini." Kata Damien sambil tertawa, ia membawa sebuah sampanye dan menawarkan kepada Daniel. Daniel menolak, malam ini ia tidak mau mabuk.
"Tidak seru sekali, minumlah Dan." Ucap Damien.
"Aku sedang tidak mau mabuk, Dam."
"Baiklah, tuan Daniel Malvaro yang terhormat. Ceritakan padaku apa yang kau pikirkan. Apa perlu aku memanggil mereka kesini?" Tanya Damien sambil menujuk kearah kumpulan wanita berpakaian terbuka.
"Kau tau aku tidak tertarik kearah sana," jawab Daniel.
"Ah, aku tebak kau ingin menggantikan posisi ayahmu." Balas Damien. Daniel menganggukan kepala walaupun tidak bisa Damien lihat karena cahaya yang minim. Ayolah, ini club! Jadi wajar saja jika tidak terlalu terlihat.
"Begini saja, Dan. Aku punya ide kau nikah kontrak saja! Misalnya untuk selama 6 tahun dan kamu memberikan uang kepada perempuan itu sebagai balasannya." Ucap Damien. Daniel menaikkan salah satu alisnya. Nikah kontrak?! Ayolah ia tidak pernah menganggap pernikahan sebagai mainan. Jika bisa ia ingin menikah sekali dalam seumur hidup.
"Kau pikir aku akan melakukannya?! Hah?!" Seru Daniel dan mendengus kesal.
"Kau sendiri sampai sekarang tidak mau menikah, cari perempuan saja kau tidak mau, sekali di jodohkan kau menolak. Tapi kau mau menjadi CEO? APA SIH MAUMU, DAN?!"
"Kau seperti tidak mengaca saja. Menyuruhku untuk menikah tapi kau saja masih sendiri." Ucap Daniel sambil berdecak kesal.
"Kata siapa aku sendiri?! Aku sedang mengejar seseorang saja." Balas Damien membela dirinya.
"Tidak Millen, tidak Daniel mereka selalu membuatku kesal." Ucap Daniel dalam hati.
"Kalaupun aku nikah kontrak, memangnya siapa yang cocok?"
"Ya carilah Dan! Jangan seperti orang bodoh."
"Hanya untuk 6 tahun aja, Dan. Nanti kan hidup masing-masing juga selama pernikahan." Balas Damien. "Kau hanya perlu statusnya dan keberuntungan jika kamu mendapatkan keturunannya sebagai poin tambahan." Lanjutnya.
"Aku pikir-pikir dulu lah." Sudah gila memang Damien ini. Bisa-bisanya dia mendapatkan ide seperti itu. Memang iya sih untuk mendapatkan kursi CEO dirinya hanya perlu status menikah. Seharusnya ia menerima saja. Ide menikah kontrak tidaklah buruk. Cuman siapa yang harus ia jadikan istri kontraknya?
Tidak ada perempuan yang dekat dengannya selain ibunya dan saudara perempuan lainnya. Belakangan ini ia selalu penasaran dengan Bella karena kagum dengan hasil kinerjanya padahal ia baru bergabung 2 tahun. Hanya kagum, ya!
Tidak mungkin perempuan seperti Bella menginginkan ide gila ini. Meskipun ia tau Bella sedang bekerja keras untuk membantu ekonomi keluarga.
"Jangan kelamaan mikir. Langsung tancap gas aja, Dan. Nanti seperti sahabatku, terhambat keluarga." Ucap Damien. Daniel memutar kedua matanya dengan jengkel.
"Oh, ya, kalau kau kesusahan mencari perempuan. Datang kesini dan pilih saja kemauanmu." Ujar Damien sambil mengibaskan tangannya memperlihat seisi club ini.
"Seleraku tinggi tau, kau kira aku mau yang sudah kadaluarsa?" Daniel mencebikkan bibirnya dan Damien tertawa kecil.
"Aku ingin pulang, jangan terlalu lama disini, Dam." Kata Daniel.
"Ini udah seperti rumah kedua, Daniel. Pemiliknya saja jarang berkunjung lagi. Sebentar lagi ini akan menjadi milikku!"
"Oh, ya, aku meragukannya. Kau hanya mau minuman yang ada disini saja bukan tempatnya."
"Kau tau saja." Ujar Damien membenarkan. Ayolah, minuman milik Andrew sangatlah berkelas! Bahkan sangat susah untuk mendapatkannya. Memang dasar sekali sahabatnya yang satu itu, tidak mau membagi tips mendapatkan minuman termahalnya itu.
Daniel menyeringai kecil. "Sudahlah, aku mau balik. Sampai jumpa, Tuan Orlando."
"See you, Tuan Malvaro." Kata Damien sambil tersenyum.
Daniel keluar dari area Phoniex Club jam 12 malam dengan mobil kesayangannya menuju penthouse miliknya. Mobil Daniel membelah jalan raya New York yang sepi dengan kecepatan tinggi. Siapa yang tidak tergiur untuk menaikkan kecepatan jika melihat jalanan kosong?
Pernikahan kontrak? Ide brilian dari Damien membuat dirinya selalu memikirkannya. Ini bukan dirinya yang selalu cuek terhadap apapun kecuali urusan kerja.
Dad is calling....
Daniel membuyarkan pikirannya setelah mendengar panggilan dari Henry. Ia menggeser tombol hijau.
"Kamu dimana?" Tanya Henry.
"Sedang arah pulang, Pa."
"Papa dengar kamu sudah mengurus kejadian kemarin?"
"Iya, Pa. Kenapa Papa menelpon?"
"Memangnya Papa tidak boleh menelpon anak Papa?"
"Boleh kok, Pa."
"Papa cuman mau bilang, kerjamu sudah bagus. Cepatlah menikah dan gantikan Papa." Daniel menarik nafas panjang, memang begitu yang ia inginkan. Cuman siapa calonnya?!
"Iya, Pa. Aku sedang berusaha." Daniel menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala.
"Papa sudah kasih waktu kamu untuk mencari cukup lama, Daniel. Jika kamu masih belum bisa, nanti kamu harus menerima pilihan Papa."
Daniel sedikit meringis. Ia tidak mau itu terjadi! Sial, ia besok akan mulai mencarinya. Mari kita mulai dengan Bella karena dia yang terlihat sedang mencari uang.
"Iya, Pa. Aku tutup dulu, ya. Masih di mobil aku." Pinta Daniel.
"Yasudah, hati-hati." Henry menutup telpon dan Daniel kembali menarik nafas lalu menghembuskannya. Kenapa menjadi paksaan seperti ini? Ayolah, penikahan bukan hal yang harus dianggap candaan.
Sesampainya di penthouse miliknya, ia langsung mengirim pesan kepada Sean. Ia tau Sean sudah tidur jadi ia tidak ingin menganggu.
'Aku mau dalam 3 hari, Bella sudah pindah.'
Send.
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa untuk memberikan vote and comment, ya! Semoga kalian suka ❤