
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
💿 Honeymoon - Johnny Stimson
Dua minggu kemudian....
Bella mencoba untuk menghapus pikirannya tentang Daniel. Ia harus benar-benar memfokuskan dirinya dalam bekerja. Saat ini ia berada di rooftop garden sambil duduk melihat langit. Dua minggu bekerja di Marvo sudah membuat dirinya nyaman.
"Bu Bella, saya sudah mencari anda ternyata anda disini." Kata seorang perempuan yang terlihat kecapean karena berlari. Sepertinya ada masalah mendesak.
"Iya, Za. Maafkan aku tidak bilang kepadamu sebelumnya. Apa ada masalah?" Tanya Bella.
"Tidak masalah, Bu. Tadi Tuan Sean memintaku untuk memberitahumu jika Tuan Daniel ingin menemuimu."
Jadi yang buat Zara berlari karena Daniel? Ah...apa dirinya bermasalah dalam bekerja? Seharusnya tidak. Ia bekerja sesuai aturan perusahaan dan lagi pula belakangan ini ia tidak bertemu dengan lelaki itu.
"Baiklah, aku akan menemui Tuan Daniel. Kau bisa kembali bekerja, terima kasih, Zara." Balas Bella sambil tersenyum. Zara menganggukkan kepala dan kemudian pergi.
Bella langsung menuju ke lantai 35. Sesampainya disana, ia melihat Sean yang juga sedang melihatnya. "Selamat siang, Bella. Tuan Daniel sedang menunggumu." Tuturnya.
"Baiklah, terima kasih, Sean." Balas Bella. Ia mengetuk pintu besar di hadapannya dan ketika mendengar balasan dari dalam, ia baru membukanya. Ketika Bella membuka pintu ruangan Daniel, ia bisa melihat lelaki itu tengah duduk di sofa single itu dengan memandangi ipad di tangan.
"Selamat siang, Mr. Malvaro. Ada keperluan apa anda memanggil saya?" Tanya Bella.
"Duduk dulu, Nona Bella. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan."
Soal menikah, heh?
"Baik, Tuan." Balas Bella dan duduk disofa yang biasa ia duduki. Ketiga kalinya ia duduk di sofa ini dengan rasa gugup yang menyerang.
"Apa besok malam kau tidak ada pekerjaan?" Tanya Daniel setelah lelaki itu meletakkan ipad ke meja di hadapannya.
"Iya, Tuan. Apa ada yang anda butuhkan?"
Daniel menganggukkan kepala. "Temani aku pergi ke pesta perusahaan Orlando besok malam."
"Bukan bermaksud untuk menolak, Tuan. Hanya saja, saya tidak bisa menghadirinya karena saya tau pesta itu sangat penting dan pasti manager seperti saya tidak bisa kesana." Tutur Bella sopan.
Bella tau siapa Orlando itu. Perusahaan yang berteman dengan Millenov dan pastinya pesta itu akan dihadiri oleh pengusaha besar seperti Malvaro. Mendengar namanya saja ia sudah tidak berani kesana. Ia takut akan membuahkan masalah untuk perusahan Marvo.
"Siapa bilang kau kesana sebagai seorang manager? Kau bersamaku, jadilah pendampingku untuk besok malam." Balas Daniel menatap serius Bella.
"Tadi kau bilang tidak bermaksud menolak, bukan? Kalau begitu artinya kau menerima ajakanku. Besok Sean akan menjemputmu untuk pergi ke salon." Lanjutnya. Bella mengerjapkan matanya berkali-kali. Loh, kenapa jadi Daniel yang mengatur?!
"Jangan menolak!" Baru saja Bella ingin menolak, Daniel sudah mengatakannya. Jika sudah begini, mau pakai seribu alasanpun tetap di tolak oleh Daniel.
Bella menganggukkan kepala. "Baik, Tuan. Saya tidak akan mengecewakan anda."
"Kau bisa kembali bekerja." Ucap Daniel. Bella menundukkan kepala dan pergi meninggalkan ruangan. Setelah melihat Bella pergi dari ruangan, Daniel tersenyum kecil. Sebenarnya bisa saja ia pergi ke pesta si Damien sendiri, cuman ia tidak mau nanti di kenalkan kepada anak pengusaha lain. Menyusahkan.
Membawa Bella juga merupakan ide yang bagu, bukan? Ia bisa membuat Bella membayangkan bagaimana nanti kedepannya jika Bella menerima ajakannya dan menjadi nyonya Malvaro. Kenapa dia mengharapkan Bella menjadi nyonya Malvaro sebenarnya?!
Daniel menekan sebuah tombol untuk memanggil Sean di luar. Tidak lama Sean masuk ke dalam ruangan. "Ada apa, Tuan?" Tanyanya.
"Besok Bella akan menemaniku pergi ke pesta Orlando. Kau urus keperluannya dan panggil Make Up Artist terbaik untuk meriasnya. Aku tidak mau pendampingku terlihat biasa aja."
"Baik, Tuan. Ada keperluan lain?"
"Tidak ada, kau bisa kembali bekerja. Oh, ya, apa laporan hasil pertemuan dengan Mr. Grey sudah selesai?" Tanya Daniel.
"Saya sedang mengerjakannya, Tuan. Sebentar lagi akan saya kirimkan kepada anda." Daniel menganggukkan kepala dan memberikan isyarat tangan jika Sean bisa keluar sekarang. Ia juga kembalu fokus pada pekerjaannya tapi pikirannya tentang besok tidak bisa ia hindarka. Suasana hatinya mendadak sangat bahagia.
Knock knock
"Silakan masuk." Bella mulai menegakkan tubuhnya dan besikap bagaimana seorang Manager. Ternyata yang masuk adalah Zara. Zara adalah asistennya karena Bella masih dalam tahap belajar menjadi Manager Personalia.
"Bu Bella, sebentar lagi kita akan ada meeting untuk perekrutan karyawan baru bulan depan." Ucap Zara. Bella menganggukan kepala.
"Berikan aku 10 menit untuk bersiap-siap. Kalian bisa berkumpul duluan." Balas Bella.
"Baik, Bu." Setelah itu Zara meninggalkan Bella. Bulan depan sangat penting bagi Bella. Marvo akan membuka lowongan pekerjaan dan juga akan bagi mahasiswa untuk magang di perusahaan. Bella sudah memikirkan hal apa saja yang bisa ia kembangkan untuk rekrut karyawan baru. Aturan yang sudah ada mungkin sudah sangat bagus. Pantas saja setiap karyawan yang bekerja disini patut diacungkan jempol, tetapi jika bisa dikembangkan kembali maka akan lebih baik.
Merasa sudah cukup fokus untuk memulai meeting, ia beranjak dari kursi dengan membawa beberapa berkas yang di perlukan selama pertemuan berlangsung.
•••
Sean menyerahkan berkas terakhir hari ini untuk Daniel. Pekerjaan Daniel sudah selesai hari ini tetapi seperti biasa, lelaki itu tidak pernah bisa puas dengan pekerjaanya. "Apa masih ada, Sean?" Tanya Daniel.
"Tidak ada, Tuan. Setelah memeriksa berkas ini, Tuan sudah bisa istirahat."
"Kau tidak di paksa oleh Ibuku, bukan? Berikan aku berkas lainnya. Ini masih terlalu cepat bagiku untuk pulang bekerja." Tutur Daniel. Ia melirik jam yang sudah menunjuk arah enam. Sean terkadang bingung, bagaimana kedepannya jika Daniel sudah berkeluarga? Apa ia masih pulang jam 9 malam setiap hari?
"Tuan, ada baiknya jika Tuan beristirahat. Tidak baik jika memaksakan semuanya. Kesehatan anda adalah yang terpenting."
"Terima kasih atas sarannya, Sean. Tapi aku sangat sehat dan aku tidak suka menunda pekerjaan jika masih ada."
Tentu saja, pekerjaan tidak akan ada selesainya, Boss! Sean menggerutu dalam hati. Siapapun yang menjadi pendamping Daniel harus siap sabar menangani sikap keras kepalanya ini dan kebiasaan workaholic-nya.
"Kau sudah mengatur keperluan untuk besok malam?" Tanya Daniel.
"Sudah, Tuan." Jawab Sean.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai, Sean?"
"Tentu saja jika anda masih disini maka pekerjaan saya belum selesai."
"Kau membuatku bersalah, Sean. Jika kau sudah selesai, kau bisa pulang. Aku bisa mengurus ini semua."
"Tidak Tuan, saya sudah berjanji dengan Tuan. Jika anda masih bekerja maka saya masih harus membantu anda."
"Bagaimana perkembangan kerja sama kita dengan Harrison?" Tanya Daniel.
"Sangat baik, Tuan. Proyek sudah dijalankan sejak minggu kemarin. Saya sudah memerintahkan seseorang untuk memantaunya." Jawab Sean. Daniel menganggukan kepala. Tentu saja ia tau bagaimana cara kerja Sean, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membantu setiap pengawasan di tiap perusahaan yang Marvo ajak kerja sama. Marvo tidak meragukan perusahaan yang mereka ajak kerja sama tetapi hanya ingin tau perkembangannya.
Lagi pula Daniel juga tau kalau perusahaan yang mereka ajak kerjasama juga memantau Marvo. Jadi bukankah impas? Oh, setiap perusahaan besar seperti Marvo apalagi Millenov membutuhkan seseorang untuk memantau perkembangan perusahaan lain.
"Oh, ya, Tuan. Sebelum saya melupakan ini, saya selama dua minggu memperhatikan kinerja Bella...maksud saya Nona Bella. Ternyata Nona Bella sangat bekerja keras dan sekarang sedang sibuk mengerjakan proyek penting untuk merekrut karyawan baru dan mahasiswa magang." Tutur Sean. Daniel menganggukkan kepala. Tentu saja ia tau Bella pasti tidak akan mengecewakannya. Perempuan itu selalu saja membuat Daniel kagum dengan segala usaha dan hasil.
"Terima kasih infonya, Sean. Aku akan menyelesaikan berkas terakhir ini dan aku akan pulang selesai. Siapkan mobilku." Daniel memutuskan untuk pulang lebih awal hari ini, entahlah mungkin setelah mendengar kinerja Bella membuat dirinya senang dan mau menghentikan kegilaan bekerjanya sekarang.
Setelah melihat Sean pergi dari ruangannya, Daniel kembali memeriksa berkas terakhir yang di berikan oleh Sean. Tidak perlu waktu banyak bagi Sean untuk memeriksa karena berkasnya seperti berkas lainnya yang sebenarnya bisa ditanda tangani oleh Sean. Ia percaya jika semua bisa berkas sudah lolos dari Sean maka berkasnya tersebut sudah sangat bagus.
Daniel melihat keadaan meja kerjanya sudah rapi. Ia meninggalkan ruangan dan tidak melihat Sean disana karena ia tau Sean sedang menunggunya dibawah. Sebelum menuju ke lantai dasar, ia mengunjungi lantai divisi Personalia. Siapa tau ada Bella yang lembur bekerja seperti malam kemarin.
Daniel tersenyum kecil saat ia melihat lampu ruangan Bella masih menyala. Ia tidak ingin menemui Bella dan hanya melihat dari jauh.
Jangan bekerja terlalu keras, Bel.
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa untuk memberikan vote and comment! Terima kasih udah membaca Malvaro's desire. Semoga kalian suka sama pasangan Malvaro ini 🥰
I love you 💖