6 Years With You

6 Years With You
BAB 18



|SELAMAT MEMBACA


|SEMOGA SUKA CERITANYA


|TYPO BERTEBARAN


Beberapa jam kemudian setelah pertemuan Bella dengan Daniel di lorong rumah sakit, tepatnya di depan ruang ICU milik Stella. Bella sekarang khawatir dengan keberadaan Kate yang mendadak menghilang. Kemana dia pergi? Stevan bahkan sudah mencari keberadaan Kate sejak Bella menyuruhnya untuk pergi.


Bella mengigit bibir bawahnya sembari memikirkan kemungkinan dimana keberadaan Kate. Tidak lama kemudian Stevan datang menghampiri dengan nafas menggebu-gebu. "Bagaimana Kak, apa Kak Kate datang kesini?" Tanya Stevan.


Bella menggelengkan kepala. "Dia sama sekali tidak kesini, Van. Kamu udah cek ruang cctv?" Tanya Kate.


"Tidak bisa, kak. Kita perlu izin dari rumah sakit untuk memeriksanya." Jawab Stevan sambil menggeleng pelan. Bella semakin sakit kepala, ia memegang kepalanya dengan perasaan gundah.


Kate dimana kamu?


"Van, coba kamu telpon Kate lagi. Aku coba telpon teman kakak untuk bantu cari." Pinta Bella. Stevan mengangguk paham. Bella mencari kontak John dan meminta bantuannya.


"Astaga kalian ini, kemarin Kate mencarimu. Sekarang kau yang mencari Kate. Ya sudah aku coba cari Kate." Kata John di ponsel.


"Terima kasih, John. Aku tau kau juga sayang Kate." Balas Bella. Tidak lama kemudian panggilan tersebut selesai dengan singkat. Hari sudah menjadi malam dan Kate masih belum kembali. Apa dia di culik? Tapi siapa yang mau mencuri Kate? Kate tidak pernah memiliki musuh sejauh ia mengenal Kate.


"Kita tunggu besok, kak. Kalau besok Kak Kate belum kembali berarti kita harus lapor ke polisi."


"Iya, Van. Kakak ke kantin dulu. Kamu jagain Mama ya." Balas Bella. Stevan mengangguk kecil sambil melihat punggung Bella yang mulai menghilang.


Sementara di kantin, Bella duduk di salah satu meja kosong dengan sepiring nasi goreng. Suasana kantin begitu sepi, mungkin karena sudah malam hari. Ia memasukan lauk ke dalam mulutnya sambil memikirkan keberadaan Kate. Entahlah ia kehabisan ide mencari Kate.


Hingga tiba-tiba ia dikagetkan dengan keberadaan Daniel duduk di hadapannya. "Pak Daniel?! Uhuk!" Seru Bella hingga tersedak. Daniel mengambilkan air yang berada di hadapannya dan memberikannya kepada Bella.


Bella mengambil gelas itu dan meminumnya. "Pak Daniel kenapa kemari? Ini sudah tengah malam, Pak. Apa masih ada keperluan?" Tanya Bella setelah merasa baikan.


"Aku tidak bisa menunggu tuga hari. Terlalu lama. Bagaimana sekarang kau memutuskannya?" Tanya Daniel sambil menatap lurus ke Bella. Bella melihat kearah lain karena salah tingkah dilihat oleh Daniel seperti itu.


"Walaupun hanya pernikahan kontrak, tapi tetap saja setelah selesai aku menjadi janda. Aku perlu memikirkannya." Tukas Bella menutupi kegugupannya. Daniel tersenyum miring.


"Jadi kau takut menjadi janda? Tenang saja. Pernikahan kita tertutup. Aku juga tidak mau membuat begitu banyak masalah." Balas Daniel.


Bella menatap Bella dengan berani. Jadi dia tidak mau pernikahannya diketahui publik?


"Sama saja! Pernikahan bukan untuk main-main, Tuan Daniel."


Daniel menghela nafas. "Nona Bella, ini bukan pernikahan asli. Hanya diatas kertas. Jangan bilang kau menginginkan pernikahan asli?" Daniel berkata sambil menyeringai.


Bella tertawa kecil. "Tentu saja tidak, Tuan Daniel. Saya tau kedudukan saya dimana." Balas Bella sambil tersenyum lebar.


"Baiklah, aku anggap kau setuju. Jadi apa ada syarat yang kau mau selama pernikahan ini berjalan? Aku bisa memasukkannya ke peraturan kontrak."


Bagaimana bisa dia memutuskannya sendiri?!


"Saya hanya mau tidur di kamar sendiri. Dan, uang bayarannya tidak perlu sebesar itu. Berikan aku 1M saja. Aku tidak suka terlalu banyak uang." Pinta Bella. Daniel sedikit terkejut mendengar perkataan Bella. Benar-benar perempuan yang berbeda.


Daniel tersenyum miring. "Baiklah, bagus untukku juga. Ada lagi yang kau mau?"


"Biarkan saya tetap bekerja karena saya masih perlu memenuhi kebutuhan keluarga saya." Timpal Bella. Daniel mengangguk mengerti.


"Tentu saja, aku tidak akan menganggu pekerjaanmu. Kau bebas melakukan apapun. Tapi yang mesti kau ingat, kau akan menjadi Nyonya Malvaro, jadi saya harap selalu memikirkan sesuatu sebelum melakukannya." Tukas Daniel sambil menatap Bella.


Ini permintaan atau dituntut?


"Tenang saja, Tuan Malvaro. Saya tau yang harus saya lakukan." Balas Bella sambil tersenyum.


"Baiklah, lusa aku kembali ke New York. Kau kembali denganku, Nona Bella. Orangtuaku tidak sabar melihat menantunya." Ucap Daniel. Bella menelan salivanya ketika mendengarnya. Menantunya? Oh mimpi apa ia semalam?!


"Tapi saya masih ada urusan di sini, Pak. Saya harus menjaga orangtuaku." Tutur Bella.


"Aku akan meminta Sean untuk mengaturnya. Orangtuamu akan dipindahkan ke rumah sakit terbaik di New York."


Bella masih tidak percaya dengan ini. "Tapi Pak–"


"Kau tidak makan?" Sambung Daniel. Bella sadar dari lamunannya.


"I-ini ma-makan kok, Pak."


"Oh, ya, panggil aku Daniel. Jangan sampai kau memanggil aku Pak di depan orangtuaku. Biasakan mulai sekarang."


"Iya, Pak." Daniel memicingkan matanya kepada Bella.


"Maaf pak–eh Daniel."


Ini menakutkan.


Keadaan menjadi hening. Tidak ada yang membuka suara. Daniel menemani Bella makan malam di kantin yang terlihat sepi ini. Ia kasihan saja jika harus melihat Bella makan sendiri.


Tiba-tiba ponsel milik Bella berbunyi diatas meja. Daniel bisa melihat nama yang terpampang jelas di layar ponsel tersebut. Apa itu kekasihnya? Ah...apa peduliku.


"Ada apa, John? Apa Kate sudah ditemukan?" Tanya Bella cemas.


"Baiklah, John. Terima kasih sudah membantu. Besok aku ingin melapor ke polisi." Ucap Bella kepada John. Setelah itu panggilan tertutup. Daniel bisa melihat raut wajah Bella menjadi cemas.


"Apa ada masalah?" Tanya Daniel dengan wajah datarnya.


"Teman saya Kate menghilang. Terakhir kali bertemu saat dia bilang ingin ke toilet tetapi sampai sekarang belum juga kembali." Jawab Bella.


Daniel menyeringai. "Apa Kate yang menarikmu kemarin?" Tanya Daniel.


Bella menganggukkan kepala. "Tenang saja, dia akan aman." Timpal Daniel.


Bella mengerutkan dahinya. Bagaimana dirinya bisa tenang dengan kehilangan Kate? Apa Daniel mengetahui sesuatu?


"Kau cari sampai kapanpun juga tidak akan ketemu. Tenang saja, aku yakin dia aman." Katanya sambil tersenyum miring. Bella mencoba percaya walaupun tidak sepenuhnya.


"Saya tetap akan menghubungi polisi, Daniel."


"Jangan! Kau akan membuat dia tambah marah dan temanmu akan bahaya."


Marah? Bahaya?


"Sudah ikuti saya ucapanku!" Seru Daniel tegas. Bella terdiam dan menunduk, ia mengikuti keinginan Daniel.


"Oh, satu lagi. Biasakan pakai aku-kamu, jangan saya-anda-tuan-pak, atau apapun!" Tukas Daniel. Bella mengulum bibirnya dan mengangguk mengerti.


"Baik Daniel, saya–aku akan mencobanya." Daniel mengangguk.


•••


Sedangkan di lain tempat, Kate mengerjapkan kedua matanya. Ia membuka matanya perlahan sembari beradaptasi dengan keterangan ruangan. Ia ingat jika terakhir kali ia berada di toilet rumah sakit dan tiba-tiba ada yang menyekap mulutnya. Kenapa sekarang dirinya ada di ruangan bernuansa abu-abu?!


"Siapa kamu?!" Tukas Kate saat ia melihat sosok lelaki yang sedang duduk di sofa depan kasur. Lelaki itu sedang menyeringai puas. Kate melihat kearah dirinya yang masih memakai baju tidur. Astaga, berarti dia belum mandi seharian!


"Kate Vienna. Tidak perlu tanya siapa aku. Kau berurusan denganku! Ingat-ingat saja apa kesalahanmu." Balas Lelaki itu tegas. Kate mengumpat dalam hati. Demi apa, apa kesalahannya? Lagi pula ia tidak pernah bertemu dengan lelaki ini.


"Aku tidak pernah bertemu denganmu! Lagi pula apa kesalahanku?!"


Lelaki itu kembali menyeringai. "Kau mau bermain-main denganku?!"


"Siapa takut! Eh tuan sok jagoan, walaupun aku perempuan. Aku tidak selemah itu!"


"Dengan keadaan tanganmu di borgol, apa yang bisa kau lakukan?"


Sialan!


|TO BE CONTINUE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa like and comment ya gais! Thankyoh yang udah nunggu dan baca cerita ini. Thankyou so much 💖