
|SELAMAT MEMBACA
|SEMOGA SUKA SAMA CERITANYA
|TYPO BERTEBARAN
|VOTE & COMMENT!
Pernikahan mereka sudah ditentukan oleh Bellina. Bella dan Daniel tidak keberatan jika pernikahan mereka diurus olehnya. Lagi pula Daniel terlalu sibuk bekerja dan terkadang Bella membantu Bellina mengurus pernikahannya. Meskipun Bellina sudah memakai jasa event organizer tetapi ia ingin terjun langsung dalam pernikahan anak lelakinya.
Masa penerimaan karyawan baru juga sudah lewat. Baru saja dua hari yang lalu selesai. Sekarang pekerjaannya hanya memeriksa setiap karyawan yang lolos dalam ujian tertulis. Sedangkan, minggu depan adalah hari dimana mereka akan di interview sebagai tahap kedua. Kemudian, interview tahap akhir dengan Bella sendiri bersama anggota timnya.
Sekarang ia sedang berjalan menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Ibunya yang sudah keluar dari ruang ICU. Dia sekarang dirawat di ruang VVIP sesuai perintah Daniel. Ini adalah hari kelima Isabella berpindah dari ICU dan makin hari keadaannya makin membaik.
Stella sudah tidak begitu memusingkan kelakuan anaknya yang kedua. Bella sudah menyakini kalau Stevan adalah lelaki yang bisa mengurus masalahnya sendiri, sedangkan mereka hanya perlu membantunya saja dari belakang.
Tampaknya pesona warna langit pada sore hari dari kamar ini sangatlah indah. Bella merasa sangat senang karena Daniel sudah membantu Ibunya kembali sehat. Namun masih ada satu hal yang masih terpendam dalam hati Bella. Ia masih belum memberitahu tentang pernikahannya. Kata Daniel, ia dan keluarganya akan mengunjungi Isabella untuk membicarakan pernikahan.
Bella hanya takut kondisi tubuh Ibunya menjadi menurun ketika langsung tau kabar dirinya menikah. Ibunya hanya tau Bella adalah sosok yang masih belum mau berpacaran karena masih sibuk bekerja. Ia selalu menolak jika Ibunya mempertanyakan kapan Bella memulai sebuah hubungan. Sekarang ia langsung membawa seorang lelaki yang tidak pernah Bella perkenalkan dan langsung menikah.
Berbicara tentang Stevan, masalah tentang adiknya dengan Marsha sudah satu bulan lebih, bahkan hampir dua bulan. Sekarang semua bukti mengarah ke Marsha yang menjebak Stevan saat malam itu terjadi. Bella pun tersenyum ketika mendengar kabar dari adiknya. Semua akan kembali seperti sedia kala.
Sesampainya di depan ruang Stella, Bella langsung mengulas senyuman. Rasa capek karena bekerja langsung hilang ketika melihat Ibunya tersenyum.
"Hai, Ma. Selamat sore," sapa Bella menghampiri Ibunya dan memeluknya. Ia memeluknya cukup lama sambil menghirup harum yang tidak pernah bosan.
"Sore juga, sayang. Bagaimana hari kerja kamu?" Tanya Stella tersenyum.
"Semuanya baik-baik saja dan terkendali. Ada Zara yang membantuku. Mama tenang saja. Dan, maafkan Bella karena kemarin tidak bisa menjenguk Mama." Bella memanyunkan bibirnya dan Stella langsung mencubit gemas pipi anak sulungnya ini.
"Mama mengerti sama kesibukan kamu, sayang. Lagi pula ada suster Liana yang menemani Mama." Kata Stella.
Bella tersenyum dan memeluk Ibunya. Ia senang mempunyai Ibu yang selalu mengerti dirinya dan selalu mendukungnya. Oleh karena itu, dia adalah sosok yang sangat penting bagi Bella. Sejak kecil, ia hanya tinggal bertiga dengan adiknya. Bahkan, ia sudah melupakan bagaimana sosok dan rupa Ayahnya.
Waktu itu, ia berumur 4 tahun dan adiknya masih bayi. Ibunya membawanya pergi ke Boston dan hidup dengan jerih payahnya sendiri. Kemudian, dia juga bilang kalau Ayahnya telah meninggal, oleh sebab itu sudah tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak pindah dari sana.
'Tempat itu hanya membuat Mama tidak bisa melupakan Papa'
Itulah yang selalu Isabella katakan. Bella mempercayai segala ucapan Ibunya karena ia tidak tau kebenarannya. Hal terpenting bagi Bella adalah kebahagiaan Ibunya. Menurutnya, Ibunya sangatlah hebat!
Setelah Bella berbicara panjang lebar dengan Ibunya sampai jam delapan malam. Akhirnya disuruh pulang oleh Ibunya karena besok Bella masih harus bekerja.
"Mama yakin aku pulang?" Tanya Bella yang sudah berdiri di dekat pintu.
"Sekali lagi kau bertanya, Mama akan kesana dan melarangmu untuk bertemu Mama lagi!" Peringat Stella.
"Oke, Ma." Kata Bella tidak semangat. Isabella terkekeh dan kemudian mendengar suara pintu tertutup.
•••
Keesokan harinya, Bella tidak masuk bekerja karena keluarga Daniel akan bertemu Isabella. Jujur Bella sangat gugup. Jantungnya tidak berhenti berdetak. Saat ini ia berada di mobil Daniel. Dia menyetir mobil sendiri tanpa Sean, karena Sean harus menggantikan Daniel di kantor.
Sedangkan mobil di belakang Daniel adalah milik orangtua Daniel. Ketika mobil mereka memasuki parkiran bawah tanah rumah sakit, rasa degup jantung Bella semakin tidak terkondisi. Bella keluar dari mobil dan memeluk lengan Daniel sambil tersenyum. Ia berusaha menutupi kegelisahannya.
"Ayo, Ma, Pa." Kata Bella kepada Bellina dan Henry. Mereka tersenyum sambil menganggukkan kepala dan berjalan mengekori Bella yang bersama dengan Daniel di depan mereka. Bella menekan lantai 12 di rumah sakit saat memasuki lift.
Bellina tidak henti-hentinya tersenyum sembari membawa bingkisan. Meski Bella gugup tapi ia senang kalau keluarga Daniel juga menerimanya.
Sesampainya di lantai dua belas, Bella membawa mereka ke kamar ibunya. Ketika ia mengetuk pintu, ia bisa melihat ibunya sedang berjalan mengitari ruangan ditemani oleh Suster Liana.
"Bella!" Sahut Stella ketika melihat anak perempuannya datang. Namun pandangannya terhenti ketika melihat seorang lelaki dan pasangan yang terlihat sudah berumur. Meski begitu Stella tidak melunturkan senyumannya, ia bahkan menyambut mereka dengan hangat.
"Tidak apa, kami mengerti dengan kondisimu. Yang penting kesehatan kamu. Ini ada bingkisan untuk kamu, semoga kamu suka." Kata Bellina.
"Loh, tidak usah nyonya. Saya tidak bisa menerimanya," tolak Stella. Mereka pasti atasan anaknya, pikirnya. Ia merasa senang jika Bella bisa bertemu dengan pimpinan yang baik, bahkan rela untuk datang menjenguknya. Ia tau kalau tiga orang di hadapannya adalah orang tersohor di New York. Ini karena ia sudah sering melihat wajah mereka di majalah Bisnis. Ayah dan anaknya.
"Sepertinya saya izin pergi dulu, Bu Stella. Nanti jam 5, saya akan kembali lagi untuk membawa Anda jalan-jalan ke taman." Kata Suster Liana. Stella mengangguk paham.
"Terima kasih, Liana."
"Terima kasih, Suster." Kata Bella menambahkan. Liana mengangguk sambil tersenyum ramah. Ketika pintu tertutup, Bellina langsung merangkul lengan Stella sambil tersenyum.
"Kita sebentar lagi menjadi keluarga jadi tidak usah begitu canggung. Benar kan, Bella sayang?" Tanya Bellina kepada Bella.
"Iya, Ma." Jawab Bella sambil tersenyum ke Bellina dan kemudian ia mengalihkan pandangan ke Stella. Ia bisa melihat Stella terlihat kebingungan.
"Keluarga? Apa yang tidak Mama ketahui, Bella?" Tanya Stella kepada anak perempuannya itu.
"Sebelumnya, perkenalkan saya Daniel Malvaro. Anda bisa memanggil saya Daniel. Sebenarnya Saya dengan anak Anda sudah dekat lama karena pertemuan kerja di luar kota." Kata Daniel memperjelas hubungannya.
"Kemudian kami saling mengenal dan akhirnya kami jatuh cinta, Ma. Sekarang dia datang untuk melamarku, bukankah Mama senang jika akhirnya aku bertemu dengan lelaki yang aku cintai?" Sambung Bella sambil berdiri di samping Mamanya. Ia tersenyum hangat, mencoba untuk meyakinkan ucapannya melalui senyuman di wajahnya.
"Tentu Mama senang, Sayang. Tapi kenapa kamu gak pernah kasih tau, Mama?" Tanya Stella kembali.
"Kami memiliki kesibukan masing-masing, Ma. Maafkan Bella karena lupa memberitahu Mama soal ini. Tapi, setelah mengenal Daniel, aku sadar jika dia lelaki yang baik untukku." Ucap Bella sambil menatap Daniel. Hanya sebentar. Ia beralih ke Stella kembali.
Daniel mencoba untuk tersenyum walaupun sangat jarang ia tersenyum. Bagaimana senyuman terbaik itu?
"Benar, Stella. Mereka berdua sangat cocok. Bella anak yang penurut, sangat cantik, dan pintar. Kamu mendidik Bella dengan sangat baik, aku akan sangat senang jika Bella menjadi anakku juga," tutur Bellina.
"Aku pun akan senang menambah anak perempuan yang cantik dan pintar ini." Sambung Henry sambil tersenyum.
"Jadi, bagaimana lamaran anakku untuk Bella? Apa kau setuju dengan pernikahan mereka?" Tanya Bellina. Stella menatap Bellina sebentar dan beralih ke mata Bella yang juga sedang menatapnya. Ia mencari jawaban di mata anaknya itu.
Ia mengulas senyuman. "Selama itu membuat anakku bahagia, maka tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya." Katanya. Matanya tiba-tiba berair, ia tidak bisa berhenti tersenyum.
"Sudah saatnya kamu bahagia, Bella. Anak Mama bukan hanya kamu, masih ada Stevan." Sambungnya. Bella tersenyum getir dan kemudian memeluk mamanya. Entahlah. Apa pernikahan ini akan membuat dirinya bahagia seperti apa yang mamanya bilang? Dia mesti senang atau sedih?
"Pa! Kalau begitu rencana pernikahannya berjalan lancar! Kita harus berbicara kepada designer untuk merancang satu gaun lagi untuk besanku yang cantik ini." Ujar Bellina sangat semangat.
"Loh, memangnya kapan rencananya?"
"Satu bulan dari sekarang akan diadakan pernikahan. Rencana pernikahan sudah berjalan sejak sebulan ini." Jawab Bellina kepada Stella.
"Bella! Kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari Mama? Kalau Mama tidak merestui kalian bagaimana?" Tukas Stella kepada anaknya. Bella meringis pelan.
"Mama kan baru siuman enam hari yang lalu. Jadi...." Bella menunduk dan mengulum bibirnya. Stella mengelus rambut Bella sambil tersenyum.
"Mama tidak akan marah. Mama cuman mau kamu tidak menutupi apapun dari Mama. Lagi pula, Mama tidak akan marah jika soal kamu menemukan lelaki tampan seperti Daniel." Goda Stella kepada anaknya.
"Mama..." Bella menatap Stella dan cemberut. Ketika itu, kedua keluarga di kamar rumah sakit itu penuh dengan tawa. Kedua pihak menyetujui pernikahan mereka. Inilah titik permulaan sebelum awal yang sebenarnya satu bulan lagi. Kehidupan Bella yang biasa akan berubah ketika sudah menyandang nama Malvaro di belakangnya.
Daniel dalam hati merasa senang karena semuanya berjalan dengan lancar. Bahkan tidak ada masalah. Jika dipikir lagi, Mamanya sangat senang dengan kehadiran Bella, sudah bisa dipasgikan jika pernikahan mereka akan menjadi pesta tersohor yang harus di sorot oleh media. Jadi, keinginan untuk pernikahan tertutup harus ia buang jauh-jauh. Yang penting ia bisa mendapat jabatan direktur utana Marvo dan tehindar dari perjodohan, ia sudah senang.
|TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semoga kalian suka sama ceritanya. Thank you karena sudah membaca dan menunggu cerita ini. Jangan lupa untuk memberikan VOTE dan COMMENT sebagai bentuk dukungan ke cerita ini. I love you 💖