1st Love, 2nd Kiss

1st Love, 2nd Kiss
Rencana Kedua Bram



Ha..


Ha..


Ha..


Bram terlihat begitu bahagia saat mendengar bagaimana batu itu memecahkan kaca jendela kamar Dea. Apalagi ada tulisan dengan warna darah atas nama Dea. Hal itu semakin membuat Bram merasa puas dengan teror yang di berikan pada Dea. Dia ingin membuat hidup Dea sama sekali tidak bahagia. Apalagi perceraian yang telah terjadi antara dirinya dengan Dea membuat Bram merasa Dea adalah perempuan yang tidak pantas bahagia di dunia ini. Dia harus merasakan penderitaan seperti yang Bram alami saat ini.


"Apa yang akan pak Bram lakukan untuk membuat Dea kembali merasakan ketakutan. Teror seperti apa yang harus saya lakukan?" tanya pengacara Bram.


"Mungkin teror yang lebih menyeramkan lagi. Kamu harus bisa mengesekusi teror ini dengan baik. Sehingga kamu bisa membuat Dea merasa seperti berada di dalam neraka." jawab Bram dengan wajah marahnya.


Pengacara Bram menatap wajah pria itu dengan tatapan yang sedikit aneh. Dia tidak tahu cara apa yang akan membuat Dea Seperti berada di neraka. Mungkin cara yang lebih kotor lagi harus di lakukan oleh pengacara dari Bram. Tapi seperti apa cara tersebut. Sehingga sesuai dengan rencana dari Bram.


Bram tertawa dengan lepasnya. Dia memegang pundak pengacaranya sendiri. Kemudian Bram berkata dengan tatapan sinisnya.


"Aku akan membuat Dea semakin menderita. Semakin menderita. Jika perlu aku akan melenyapkan dia. Itu yang akan aku lakukan pada dirinya."


Namun pengacara Bram juga membawa sebuah informasi penting akan Dea. Di mana kini Dea sudah memiliki seorang tambatan hati yang baru. Seorang pria yang dewasa yang selalu melindungi Dea. Pria itu adalah seorang psikiater ternama, yang tentunya memiliki nama besar di kota ini. Psikiater itu terlihat begitu bahagia dengan kedatangan dari Dea di hatinya. Hingga Dea selalu dalam pengawasan sang psikiater dalam melakukan apapun.


Bram tentu terkejut, padahal mereka belum lama berpisah. Tapi Dea sudah memiliki tambatan hati yang baru. Itu semakin membuat Bram merasa harus melakukan tindakan yang akan membuat Dea dan pasangan barunya menangis. Dia harus merasakan sakit yang di rasakan oleh Bram. Pasangan Dea juga harus merasakan hal yang sama seperti Dea.


Kini target dari Bram tidak hanya Dea seorang, melainkan ada pasangan Dea yang juga akan menjadi target dirinya dalam melakukan kejahatan yang terstruktur. Mungkin saja Dea dan pasangannya akan merasakan hal yang paling menyakitkan.


Bram sudah tidak sabar untuk melakukan tindakan yang akan membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi. Dia merasa sakit hati akan Dea yang begitu cepat melupakan dirinya. 5 tahun pernikahan yang telah mereka jalani, rasanya tidak ada artinya di mata seorang Dea. Apalagi dengan seorang pria baru yang mulai hadir di hidup Dea. Itu seperti sebuah pengkhianatan yang di lakukan oleh Dea akan Bram. Padahal Bram sendiri memiliki seorang kekasih bernama Imel. Mereka pun sudah siap melangsungkan pernikahan ketika Bram telah bebas dari penjara. Tapi Bram justru merasa paling tersakiti dalam persoalan saat ini.


Rencana Kedua dari Bram tentunya melakukan teror yang semakin masif lagi pada Dea dan Ardi. Bram berharap teror itu akan membuat mereka ketakutan. Hingga mental keduanya akan terjun bebas. Bram ingin pengacaranya itu melakukan tindakan yang tentunya baik untuk dirinya. Tidak sekedar omongan saja, akan tetapi melakukan tindakan nyata yang benar-benar akan membuat Dea dan Ardi merasa tersakiti.


Pengacara Bram tentu siap melakukan apa yang di perintahkan oleh Bram. Selagi ada uang yang besar di berikan pada dirinya. Dia sama sekali tidak keberatan dengan apa yang mungkin akan di lakukan oleh Bram. Apalagi Bram memberikan uang yang banyak pada pengacaranya itu. Hingga tugas seberat apapun dari Bram, siap di lakukan dengan sepenuh hati.


Bram senang dengan semangat yang di tunjukkan oleh pengacaranya tersebut. Bram merasa pengacaranya itu begitu baik dalam melakukan tugas yang di berikan oleh Bram. Padahal tugas itu terasa berat sebenarnya, tapi pengacaranya itu menjalankan tugas dari Bram dengan begitu baiknya. Sebuah apresiasi di berikan pada pengacaranya atas kinerja yang di lakukan.