
Sebuah meja yang sudah di hias cantik, menjadi tempat yang akan di gunakan oleh ibu Ardi dalam acara makan malam di hari ini. Dia terlihat begitu senang dengan apa yang di lakukan oleh pihak restoran. Menciptakan sebuah meja cantik yang akan di gunakan olehnya makan malam dengan dua perempuan cantik serta Ardi.
Siska menjadi orang pertama yang datang menemui ibu Ardi di meja makan. Dia terlihat cantik dengan gaun berwarna biru yang terang. Penampilan dari dirinya semakin sempurna dengan sebuah sepatu hak tinggi yang membuat tubuhnya semakin jenjang. Siska benar-benar terlihat seperti seorang puteri kerajaan yang cantik mempesona. Itu yang membuat ibu Ardi begitu senang dengan penampilan dari dirinya.
Keduanya saling menempelkan wajah, sebelum Siska di minta duduk di samping ibu Ardi. Ibu Ardi tidak berhenti memuji penampilan dari Siska yang begitu elegan dan mempesona. Itu yang membuat Siska semakin yakin, jika dirinya akan menjadi perempuan pilihan dari ibu Ardi untuk di jadikan menantu. Bukan sosok perempuan seperti Dea yang menurut sangat tidak layak bersanding dengan Ardi.
Siska pun mulai bercerita banyak hal akan penampilan yang di dapat oleh dirinya. Bagaimana dirinya dengan usaha yang tinggi, berusaha tampil maksimal. Dia merasa ini adalah penampilan terbaik dari dirinya. Sehingga Siska yakin, penampilan darinya di malam ini akan menjadi penampilan yang paling di sukai oleh Ardi. Siska mungkin lebih percaya diri dari Dea dalam hal apapun.
Ibu Ardi pun menilai penampilan Siska akan menang segala-galanya dari Dea. Ardi akan mengakhiri rasa cintanya pada Dea saat melihat Siska di malam ini. Mungkin saja Ardi akan semakin jatuh hati pada Siska ketika melihat bagaimana perempuan itu memiliki bentuk tubuh yang begitu cantik dan indah.
"Tante pikir kamu akan membuat Ardi di malam ini terperangah. Kamu cantik banget di malam ini Siska." ucap ibu Ardi dengan tatapan tajam.
"Terima kasih Tante. Aku pikir, Tante juga tampil cantik di malam ini." balas Siska.
Tiga puluh menit menunggu kedatangan dari Ardi dan Dea. Siska dan ibu Ardi, mulai merasa jenuh. Obrolan mereka berdua mulai habis. Hingga keduanya hanya saling memperhatikan layar handphone masing-masing. Menunggu kedatangan dari Ardi dan Dea yang akan datang sebentar lagi.
Akhirnya Ardi dan Dea yang di tunggu pun datang. Mereka berdua berjalan berdampingan dengan begitu mesranya dari pintu restoran menuju meja makan yang telah di pesan oleh ibu Ardi. Terlihat keduanya yang saling tersenyum bahagia satu sama lain. Itu menjadi hal yang paling di benci oleh Siska saat melihat keduanya bermesraan di hadapannya.
Ardi dengan penuh perhatian, menarik kursi untuk Dea duduk. Dia mempersilakan Dea untuk segera duduk di kursi yang sudah di siapkan. Sementara Ardi duduk di kursi samping Dea. Dia merasa ini adalah posisi yang cukup baik untuk dirinya dan Dea. Sebab Dea berstatus pacar dari Ardi saat ini. Sementara Siska hanyalah teman semasa kecil dari Ardi. Jadi tidak ada yang salah dengan posisi yang di pilih oleh Ardi untuk saat ini.
Ardi tentu menolak dengan permintaan yang di berikan oleh ibunya. Baginya, ini sudah sangat tepat. Jadi tidak ada yang harus di rubah lagi dengan posisi seperti ini. Semuanya sudah sangat siap dengan posisi yang ada. Ardi menyukai posisi yang telah di pilih oleh dirinya.
Siska mulai marah pada Ardi dan Dea. Dia merasa Ardi dan Dea memang sengaja untuk membuat dia marah. Namun Siska harus bisa mengontrol emosi dari dirinya. Jika tidak, bukan tidak mungkin akan ada keributan yang sebenarnya sama sekali tidak perlu di lakukan. Mungkin saja Ardi dan Dea akan menang di hari ini. Tapi di hari mendatang, Siska yang akan menang dari Dea atas Ardi.
Dea sendiri tidak mempersoalkan dengan apa yang di lakukan oleh Ardi. Bagi Dea ini adalah posisi yang memang sudah tepat. Siska bukan siapa-siapa bagi Ardi. Sehingga dia tidak seharusnya meminta tempat duduk yang berada di dekat dengan Ardi. Cukup duduk bersebelahan dengan ibu Ardi dan Dea, itu sudah cukup untuk Siska.
Dea juga sama sekali tidak merasa minder dengan penampilan dari Dea. Sebab Dea sendiri tampil begitu cantik. Bahkan ibu Ardi di dalam hatinya memuji Dea yang tampil elegan. Walaupun dia tetap membenci Dea yang seorang janda. Itu menjadi catatan penting bagi ibu Ardi. Dia tetap memuji kecantikan dari Dea yang terlihat lebih natural daripada seorang Siska yang di penuhi dengan riasan make up yang tebal.
Ardi terus menunjukkan bagaimana perhatian besarnya pada Dea. Dia memilih menu yang akan di makan oleh Dea. Ardi juga menyamakan menu yang di pilih oleh Dea untuk dirinya juga. Mungkin ini menjadi pilihan yang paling baik untuk Ardi. Sebab dengan begitu Ardi akan semakin dekat dengan Dea. Begitu juga dengan Siska yang kemungkinan besar akan terkena mental dengan apa yang di lakukan oleh Ardi.
Siska yang semakin merasa Ardi sengaja untuk membuat dirinya cemburu berat pada dirinya. Pada akhirnya memilih untuk pergi dari acara makan malam itu. Apalagi saat Ardi membatalkan menu yang sama dengan apa yang Siska pesan. Dia merasa tidak di hargai sama sekali oleh Ardi. Itu yang membuat Siska memilih untuk pergi dari acara makan malam itu.
Ibu Ardi berusaha menahan Siska dengan segala upaya yang ada. Tapi pada akhirnya Siska yang kadung kecewa dengan Ardi, tetap memilih untuk pergi dari hadapan semuanya. Ini adalah cara yang paling baik di lakukan oleh Siska untuk memulihkan mentalnya yang di buat jatuh oleh Ardi dan Dea. Usaha dari ibu Ardi pun nampak sia-sia dengan penolakan Siska yang sudah final. Di mana dia merasa sudah tidak memiliki rada yang baik di malam itu.
Ardi tidak mempersoalkan kepergian dari Siska. Dia merasa kepergian dari Siska saat ini adalah kepergian yang tidak bisa di tolak oleh dirinya. Apalagi ini adalah pilihan dari Siska sendiri. Jadi tidak ada yang harus di sesali oleh Ardi. Dia mempersilakan jika memang Siska tetap ingin pergi dari hadapannya. Tidak ada masalah sedikit pun untuk Ardi dengan keputusan dari Siska di malam ini. Dia tetap membiarkan Siska pergi meninggalkan acara makan malam ini.