
Suasana arisan di hari ini tidak terlihat seperti biasanya. Memang masih ada gelak tawa yang tercipta di beberapa momen. Tapi tidak banyak juga momen di mana terjadi sedikit keributan di antara para anggota arisan. Mereka terlihat tidak pernah mau kalah satu sama lain dalam memamerkan harta mereka. Apalagi ketika mereka mulai bercerita akan pencapaian yang telah di dapat dalam hidup mereka. Itu seperti sebuah kesempatan yang di miliki oleh setiap anggota arisan untuk menceritakan bagaimana mereka bisa mendapatkan pencapaian yang terbaik itu.
Risma yang merupakan ibu dari Ardi, perlahan mulai jengah dengan keributan yang ada. Dia merasa sudah tidak kuat lagi dengan keributan yang terjadi antara teman-temannya itu. Risma pun pada akhirnya memilih untuk pergi dari tempat arisan. Dia merasa harus segera meninggalkan meja makan di restoran itu, sebelum Risma benar-benar merasa semakin pusing dengan tingkah setiap anggota arisan.
Kepergian Risma tentu mengejutkan para anggota arisan. Mereka tidak menyangka Risma akan pergi meninggalkan tempat arisan. Padahal keributan para anggota arisan adalah hal yang wajar. Ini sudah menjadi hal biasa, tapi Risma seperti seseorang yang baru mengenal arisan saja. Dia pergi membawa amarah, meninggalkan semua teman-teman arisannya. Tentu itu menjadi tanda tanya besar bagi seluruh anggota arisan. Mereka tidak menyangka Risma akan semarah itu pada mereka. Apalagi Risma sama sekali tidak pernah merasa kesal dengan keributan kecil yang terjadi.
Tidak ada yang mengejar Risma saat dia mulai berjalan pergi. Mereka mengira amarah dari Risma itu adalah amarah sesaat saja. Mungkin Risma akan kembali melanjutkan arisan yang sedang berlangsung. Semuanya berpikir hal yang sama akan Risma. Apalagi Risma hari ini mendapatkan arisan itu.
Risma yang masih di pusingkan dengan keputusan dari Ardi. Terlihat begitu galau dalam merayu Ardi. Di satu sisi dia tidak ingin Ardi berhubungan dengan Dea yang seorang janda muda. Tapi di sisi lain, Risma juga ingin Ardi segera menikah dengan seorang perempuan. Mengingat usia Risma yang sudah semakin renta. Dia khawatir tidak akan melihat pernikahan anak tunggalnya itu. Ini akan jadi hal yang paling buruk bagi dirinya.
Risma yang tidak fokus saat sedang menyetir, hampir saja menabrak seorang perempuan yang sedang berada di belakang mobilnya. Perempuan yang hampir tertabrak bagian belakang mobil Risma, sontak berteriak keras saat bagian belakang mobil Risma hampir menyentuh tubuhnya.
Untung saja di tengah rasa panik yang ada pada dirinya, Risma masih bisa mengendalikan mobilnya itu. Dia selamat dari musibah yang akan berbuntut panjang itu. Dia pun segera keluar dari dalam mobilnya untuk meminta maaf pada orang yang hendak di tabrak oleh dirinya.
Risma terkejut saat melihat orang yang hampir di tabrak oleh dirinya itu. Ternyata orang itu adalah Siska, yang merupakan teman sekolah Ardi sewaktu SD. Walaupun awalnya Risma tidak mengenali wajah dari Siska. Akan tetapi saat Siksa menyebut nama dari Risma dengan suara serak basah yang keluar dari mulut Siska. Tentu Risma pun akhirnya mengetahui jika orang itu adalah Siska.
Keduanya langsung berpelukan untuk melepaskan rindu. Hampir berpuluh-puluh tahun mereka sudah tidak pernah bertemu. Kini keduanya kembali bertemu dalam sebuah pertemuan yang tidak di sengaja. Tentu ini menjadi hal yang tidak di duga oleh keduanya. Mereka terlihat begitu bahagia saat bertemu satu sama lain. Apalagi Risma yang terlihat senang dengan kecantikan yang ada pada Siska. Mungkin saja Siska akan di gunakan oleh Risma untuk menjauhkan Dea dari Ardi. Mengingat Ardi sejak kecil begitu nyaman untuk bisa bersama dengan Siska. Ardi tentu akan senang saat dirinya berada di dekat seorang siska.