1st Love, 2nd Kiss

1st Love, 2nd Kiss
Amukan Ardi Pada Siska



Tok. Tok.. Tok..


Ardi mengetuk pintu rumah Siska dengan begitu keras. Wajahnya pun terlihat begitu marah pada Siska. Dia tidak menyangka Siska akan melakukan fitnah yang cukup keji pada seorang Kartini. Padahal Kartini sama sekali tidak pernah melakukan kejahatan seperti yang di ceritakan oleh Siska pada ibunya.


Siska yang tidak kunjung membuka pintu rumahnya. Perlahan membuat Ardi semakin emosi. Bukan lagi mengetuk pintu saja, melainkan Ardi juga berteriak dengan keras memanggil nama Siska. Bahkan beberapa kali ancaman di ucap oleh Ardi untuk membuat Siska semakin tidak nyaman. Dengan harapan Siska akan segera datang menghampiri Ardi yang sudah marah di depan pintu rumahnya.


Siska yang di tunggu oleh Ardi pun datang. Dia segera membuka pintu rumahnya, sebelum langsung memeluk tubuh Ardi dengan begitu eratnya.


Ardi yang tidak nyaman dengan pelukan yang di lakukan oleh Siska. Langsung mendorong tubuh Siska dengan begitu kerasnya. Dia merasa apa yang di lakukan oleh Siska adalah tindakan yang menjijikan. Ardi begitu marah pada Siska, hingga dia tidak Sudi tubuhnya di peluk oleh Siska.


Siska tidak mengerti dengan semua amarah yang di tunjukkan oleh Ardi pada dirinya. Siska merasa tidak melakukan kesalahan yang mungkin bisa membuat Ardi marah. Oleh sebab itu Siska merasa tidak ada yang salah dari dirinya.


"Kenapa kamu marah seperti ini Ardi?" tanya Siska dengan wajah bingung.


"Kamu masih tanya kenapa, harusnya aku yang bertanya itu sama kamu. Bukan malah kamu yang seolah-olah baik-baik saja. Harusnya kamu bisa sadar diri." ucap Ardi dengan nada tinggi.


Siska yang masih belum menyadari kesalahan yang telah di lakukan oleh dirinya. Tetap masih bingung dengan apa yang tengah menimpa dirinya. Siska sama sekali tidak melihat ada kesalahan yang di lakukan oleh dirinya. Oleh sebab itu Siska merasa tidak harus berbuat apapun yang tidak seharusnya di lakukan olehnya.


"Kenapa kamu memfitnah Dea seperti itu?" tanya Ardi dengan wajah yang begitu marah.


"Memfitnah apa, aku tidak tahu." jawab Siska dengan wajah polosnya.


"Kamu jangan bohong, kamu yang sudah bilang ke ibu. Kalau Dea yang sengaja menabrak troli belanja miliknya ke kamu. Dia tidak mau minta maaf, makanya kamu emosi pada dia. Padahal semuanya bohong. Itu adalah akal-akalan kamu saja." ucap Ardi semakin marah.


"Aku tidak bohong Ardi, semuanya memang seperti itu. Dia yang bohong, janda muda itu yang bohong." balas Siska dengan tegas.


Ardi yang kalut pada Siska, pada akhirnya menampar wajah Siska dengan begitu kerasnya. Seketika Siska pun merasa sedih dengan tamparan yang di lakukan oleh Ardi tepat di wajahnya. Siska tidak menyangka Ardi akan melakukan hal tersebut pada dirinya. Padahal Siska adalah teman main Ardi sejak kecil. Tapi Ardi yang tidak bisa mengontrol emosi dari dirinya. Pada akhirnya melayangkan tamparan pada wajah Siska. Ini menjadi tamparan pertama yang di lakukan oleh Ardi terhadap seorang wanita. Apalagi yang di tampar oleh Ardi adalah sahabat kecilnya dahulu. Tentu ada perasaan bersalah yang ada di dalam hati seorang Ardi.


Siska yang tidak menyangka dengan apa ya g di lakukan oleh Ardi. Menatap wajah Ardi dengan tatapan yang begitu tajam. Dia merasa apa yang di lakukan oleh Ardi sama sekali adalah perbuatan yang tidak bisa di maafkan. Siska pun marah besar pada Ardi. Dia menutup pintu rumahnya dengan begitu keras. Meminta Ardi untuk pergi dari rumahnya.


Ardi yang menyesali perbuatannya, terlihat begitu bersedih. Dia sama sekali tidak memiliki semangat untuk pulang. Sebab belum ada maaf dari seorang Siska pada dirinya. Pantang bagi Ardi pulang, saat dirinya belum juga meminta maaf pada Siska.


Ardi mengetuk pintu rumah Siska dengan begitu kerasnya. Kini dia meminta Siska untuk membuat pintu rumahnya, sekaligus meminta Siska untuk membuka pintu maaf untuk dirinya. Tidak ada yang salah dengan apa yang di lakukan oleh Ardi. Selama pintu maaf dari seorang Siska masih terbuka lebar untuk dirinya. Ardi akan selalu meminta maaf pada Siska.