(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 8



'Rasa keingintahuanmu bisa membuatmu merasakan sakit dan bisa juga membuatmu senang'


Happy reading


.


.


"Adeeva!" Gumam Arsen melihat Adeeva yang sedang terduduk di lantai karena ada yang menabraknya. Dan pertanyaan yang ada di otak Arsen saat ini adalah kenapa Adeeva bisa ada disini? Bukannya tadi Arsen meninggalkannya di taman. Holy shit! Pasti Adeeva mengikutinya batin Arsen menatap Adeeva yang sudah berdiri dan menatapnya saat ini. Arsen pun menghampiri Adeeva yang masih berdiri kaku tak jauh dari tempatnya saat ini.


"Adeeva, lo ngapain disini?" Tanya Arsen to the point.


"Gu .... gg...gu....gue...gue...ng..." gugup Adeeva.


"Lo ngikutin gue?" Potong Arsen yang membuat Adeeva langsung menunduk dengan tangannya yang saling meremas dan itu tak luput dari pandangan Arsen.


"Kenapa diem, apa emang bener lo ngikutin gue?" Tanya Arsen dingin. Mendengar suara Arsen yang dingin membuat Adeeva langsung mendongkak menatap Arsen.


"Maaf..... maaf.... gue cuman penasaran. Soalnya tadi lo keliatan panik banget setelah ngangkat telpon. Abis itu lo langsung ngasih gue ongkos pulang teris pergi gitu aja. Gue... gue khawatir sama lo. Lo pergi dengan perasaan kacau. Gimana kalau lo kenapa-napa di jalan? Gue gak bisa tenang jadi gue putusin buat ngikitin elo hingga sampai disini," terang Adeeva dengan tangisnya. Ia benar-benar takut sama Arsen saat ini. Katakanlah dia cengeng.


Lama Arsen terdiam, akhirnya ia menarik tangan Adeeva dengan pelan dan membawanya duduk. Mereka duduk dalam keheningan. Arsen yang duduk dengan pandangan kosong sedangkan Adeeva tidak berani mengajak Arsen berbicara dengan perasaaanya yang kacau.


Sebenarnya siapa yang terbaring di dalam sana? Seberapa pentingnya hingga membuat seorang Arsen yang tengil, jahil, petakilan bisa kadi seperti ini. Bahkan tadi Adeeva sempat melihat mata Arsen berkaca-kaca. Baru saja Adeeva membuka hatinya untuk cowok itu dan ia sudah merasakan sakit. Apa tidak bisa ia menikmati hal terindah bersamanya sebelum merasakan sakit?


Akhirnya Adeeva memberanikan diri bicara pada Arsen.


"Arsen gue mau ke toilet dulu," pamit Adeeva.


"Iya," balas Arsen singkat tanpa melihat ke arahnya.


Adeeva pun segera berlalu dari hadapan Arsen. Tak lama kemudian, keluarlah dokter. Sontak saja Arsen segera bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Arsen cemas.


"Mari ikut ke ruangan saya" balas sang dokter. Arsen pun mengikuti dokter ke ruangannya.


Di lain tempat, Adeeva sedang duduk di bangku taman rumah sakit sendirian. Tiba-tiba sesuatu mengagetkan Adeeva. Bagaimana tidak kaget kalau tiba-tiba ada seseorang yang tiduran di pahanya. Gosh! ternyata Arsen.


"Biarin seperti ini sebentar saja," gumam Arsen dengan mata tertutup. Adeeva pun membiarkan Arsen tiduran di pahanya, mungkin Arsen sedang lelah. Adeeva memandangi wajah Arsen yang terpahat sempurna, alis yang tebal bahkan hampir menyatu, bulu mata yang panjang dan lentik Adeeva bahkan iri melihatnya, hidung yang mancung seperti prosotan anak tk, rahang yang kokoh. Namun raut wajahnya sekarang memancarkan kesedihan, kekhawatiran. Tanpa sadar, Adeeva mengelus rambut lebat Arsen dengan lembut. Tapi, tiba-tiba air mata keluar dari sedut mata Arsen. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan itu membuat Adeeva bingung sekaligus cemas. Adeeva menghentikan elusannya pada rambut Arsen dan beralih menepuk kecil pipi Arsen.


"Arsen lo kenapa... Arsen bangun.... Arsen... jangan bikin gue takut," panggil Adeeva masih menepuk pipi Arsen. Perlahan Arsen membuka matanya dan menatap tepat di manik mata Adeeva.


"Jangan berhenti," ucap Arsen dengan suaranya yang serak lalu memindahkan tangan Adeeva ke kepalanya. Adeeva mulai mengelusnya lagi.


"Lo kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Adeeva pelan.


"Perasaan gue kacau, Va. Gue gak bisa tenang. Gue gak tau harus ngapain supaya orang yang paling gue cintai paling gue sayangi yang sedang terbaring lemah bisa cepat bangun dari komanya bisa cepat sehat. Gue nggak sanggup Va ngeliat dia seperti itu. Gue takut kehilangan untuk yang kedua kalinya," ungkap Arsen.


Adeeva yang mendengarnya ikut merasakan kesedihan. Bahkan hatinya pun ikut sakit. Bukan sakit takut kehilangan. Tapi sakit patah hati. Itulah kira-kira. Dipikiran Adeeva dari tadi terus terlintas apa orang yang terbaring didalam sana adalah pacar Arsen?


"Kalau lo ada masalah cerita. Jangan nyimpen sendiri. Karena kadang ketika kita menceritakannya kepada seseorang kita akan merasa sedikit lega setelahnya. Ngeliat lo tadi kek gitu buat gue khawatir tau gak!" Ujar Adeeva membuat Arsen bangun menghadapnya dan menatapnya. Dan Adeeva tidak menduga Arsen akan memeluknya. Ya, sekarang Arsen tengah memeluk Adeeva dengan erat. Tak ada yang Adeeva lakukan selain membalas pelukan Arsen.


"Maaf... gue pikir gue bisa ngabulin permintaan lo. Tapi nyatanya enggak. Karena gue udah buat lo khawatir lagi untuk yang kesekian kalinya. Maafin gue Adeeva," ucap Arsen dengan tulus.


Adeeva hanya diam tidak tau harus mengatakan apa. Perlahan pelukan mereka mengendur dan akhirnya terlepas namun masih dengan jarak yang dekat.


"Okay. Sekarang tanyain apa yang pengen lo tau tentang gue" ucap Arsen.


"Arsen, gue emang pengen tau tentang lo. Tapi gue gak mau lo terpaksa. Gue mau hargai privasi lo," tolak Adeeva halus.


"Tanyain Adeeva. Karena gue gak tau harus mulai ngejelasinnya dari mana."


"Gue ingetin, kalau gue udah nanya bakal susah berhentinya," canda Adeeva yang dibalas senyum kecil oleh Arsen.


"Yang pertama, tadi lo kenapa nangis waktu gue ngelus kepala lo?" Tanya Adeeva pelan takut menyinggung perasaan Arsen.


"Lo tadi ngelus kepala gue buat gue inget sama Bunda. Bunda suka ngelus kepala kepala gue kalau gue sedang baring di pahanya kayak lo tadi. Tapi sekarang udah gak bisa. Entah kapan Bunda bisa ngelus gue lagi. Gue cuman minta Tuhan mau kasih waktu untuk Bunda sama gue. Ngelakuin hal yang biasa kami lakuin meskipun Ayah gak bisa lagi ikut melengkapi kebersamaan itu. Hanya itu yang gue harapin," cerita Arsen lalu terdiam sebentar lalu melanjutkan ucapannya.


"Gue pengen kayak dulu. Rasanya gue pengen memutar waktu kembali ke masa lalu. Masa kebahagiaan."


"Emang Bunda lo kemana?" Tanya Adeeva.


"Yang terbaring lemah tak berdaya itu Bunda," jawab Arsen dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Kalau mau nangis, nangis aja Sen luapin semuanya," ucap Adeeva menepuk pelan bahu Arsen. Arsen pun menundukkan kepalanya ke bahu Adeeva dan menangis.


"Dibalik senyum yang ia tunjukkan dia menyimpan banyak kesedihan," batin Adeeva.


"Gue gak bisa liat Bunda terbaring lemah. Udah 2 tahun lebih Bunda koma," ucap Arsen disela tangisnya.


"Maaf sebelumnya. Tapi bokap lo?"


"Udah meninggal."


"Maaf."


"Iya gpp. Gue cengeng banget ya kalau di depan lo," ucap Arsen sambil mengusap air matanya.


"Cowok nangis bukan berarti dia lemah atau apapun itu. Dengan lo nangis di depan gue justru buat gue senang."


"Kok senang?"


"Iya senang."


"Senang kenapa Adeeva?"


"Mama gue pernah bilang sama gue. Kalau seseorang menangis di depan lo berarti orang itu percaya sama lo. Nah itu artinya lo percayakan sama gue," jelas Adeeva.


"Pertanyaan kedua boleh?" Sambung Adeeva.


"Apa?"


"Lo kenapa ngerokok dan balapan. Dan apa bukan hanya sekedar itu saja?"


"Gue ngerokok dan balapan sebagai pelampiasan dari masalah gue. Lo inget? Waktu gue di roof top? Sialnya gue hampir nangis waktu itu" tanya Arsen.


"Ingat!" Jawab Adeeva cepat.


"Waktu itu, gue dapat telpon dari dokter yang ngerawat Bunda kalau keadaan Bunda semakin memburuk. Gue ke rumah sakit saat itu buat liat keadaan Bunda. Tapi gue selalu nggak sanggup liat Bunda menderita. Gue nggak mau sampai gue kehilangan Bunda. Hari itu gue mau di rumah sakit aja nemenin Bunda. Tapi gue ingat ada seseorang yang bilang sama gue buat sekolah yang bener jangan bolos. Yaudah gue ke sekolah walaupun udah telat banget,"cerita Arsen diakhiri dengan kekehan kecilnya.


"Jadi lo inget sama gue nih? Cieee cieeee. Ingat gue mulu... cie!" Goda Adeeva mencoba mencairkan suasana.


"Tapikan waktu itu gue yang bilang gitu ke elo. Ngaku gak? Ngaku!" Ucap Adeeva mencubit perut Arsen.


"Iya... iya... ngaku. WOI JANGAN CUBIT. HAHAHAH!" Jerit Arsen. Tapi Adeeva malah terus mencubit perut Arsen.


Arsen pun langsung memegang tangan Adeeva.


"Abis cubit-cubitan apa?"


"Senggol-senggolan."


Tawa mereka pun semakin meledak. Dengan Adeeva, Arsen bisa melupakan sejenak. Tak perlu balapan untuk melupakan masalah. Beberapa menit kemudian mereka terduduk di kursi taman dengan napas ngos-ngosan.


"Sen!"


"Hm?"


"Boleh nanya lagi nggak?"


"Boleh, nanya apa?"


"Lo udah temenan sama Resya, Ken, Sevanya sejak sama SMA kan ya?"


"Iya........ terus?" Tanya Arsen bingung sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Kata mereka, mereka nggak pernah sekalipun ke rumah lo. Tau alamat lo aja nggak. Kok bisa?"


"Ya nggak aja."


"Kok lo jawabnya gitu sih? Lo nggak ada niat gitu? Kasih tau alamat lo, ngajak ngumpul ngumpul di rumah lo?"


"Nggak," jawab Arsen singkat.


"Kok gitu sih. Terus kenapa lo ajak gue ke rumah lo kemarin? Padahal kita kenal aja bisa dibilang baru-baru ini. Beda sama Resya Ken Sevanya?" Tanya Adeeva heran.


"Karena lo beda disini," jawab Arsen membawa tangan Adeeva ke dada kirinya sambil menatap Adeeva dengan intens.


***


Adeeva melangkah menuju kelasnya dengan hati berbunga-bunga. Saat di belokan menuju kelasnya, Adeeva menabrak seseorang. Kalau saja ia bisa menahan dirinya ia tidak akan menabrak dada seseorang yang keras kayak tembok beton. Adeeva mendongak melihat orang yang berdiri menjulang di hadapannya ini. Adeeva hanya sebatas dadanya sampai leher Adeeva terasa sakit karena terlalu mendongak.


Adeeva langsung disambut dengan pandangan tajam nan dingin dari sepasang mata coklat orang yang ditabraknya. Tatapan itu membuat Adeeva merinding saja. Adeeva merasa bulu kuduknya berdiri. Entah kenapa Adeeva merasa aura lelaki itu menyeramkan.


"Maaf. Gu.. g.. gu... gue.. gue nggak liat ta... tadi," ucap Adeeva dengan gugup.


"Hm," balas Aldrian singkat dengan senyum ramahnya dan berlalu dari hadapan Adeeva. Ya, cowok yang dimaksud Adeeva adalah Aldrian Gavin Syalendra.


"Serem banget sih. Tatapannya aja udah kayak belati tajam banget kayak mau ngebunuh orang. Badan udah kayak tiang listrik udah gitu kulkas berjalan lagi.Meskipun senyum, tapi senyumnya justru menyeramkan. Bisa-bisanya Resya suka sama cowok kek gitu,"batin Adeeva memandang punggung Aldrian yang mulai menghilang dari balik tangga.


Adeeva menghela napas sejenak lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas dan berusaha melupakan kejadian tadi.


Sesampainya di kelas, Adeeva duduk termenung. Kenapa ia merasa di film horor saja padahal cuma ditatap sama Aldrian. Huuffftt. Adeeva menelungkupkan kepalanya di tangannya yang berada di atas meja.


"Adeeva!" Panggil Resya menggoyangkan tangan Adeeva.


"Apa?" Balas Adeeva dengan lemas.


"Lo kenapa loyoh gitu sih? Kayak gak ada semangat hidup aja," tanya Resya.


Adeeva memandang Resya malas.


"Tadinya gue semangat tapi gara-gara cowok idaman lo itu gue jadi bad mood," gerutu Adeeva.


"Wer?"


"Emang seberapa banyak sih cowok idaman lo," geram Adeeva.


"Banyak lah," jawab Resya dengan santai sambil memperbaiki poninya.


"Males gue ngomong sama lo!" Ngambek Adeeva.


"Lo kok marah sih. Eh karena ngomongin cowok idaman gue. Gue tadi berpapasan sama my prince Aldrian di tangga. Tadinya gue badmood banget dari kemaren dan seketika langsung good mood ditatap Aldrian. Tatapannya ituloh tajemmmm banget nyesssss sampai ke hati gue yang paling dalam," cerita Resya dengan lebaynya.


"Lo ditatap Aldrian, seneng?" Tanya Adeeva.


"Gak usah ditanyain. Udah pasti gue seneng."


"Kebalik ya. Gue langsung badmood ditatap Aldrian. Tatapannya itu kayak mau ngebunuh aja. Senyumnya bikin merinding. Kok lo bisa sih suka sama cowok kek gitu. Ganteng sih iya tapi kalau sifatnya kek gitu lebih baik yang laen!" Cerocos Adeeva dengan kesal.


"Lo ditatap Aldrian tadi? Disenyumi juga? Kok bisa? Kapan? Dimana? Gue aja gak pernah disenyumin!" Tanya Resya menggoyang goyangkan lengan Adeeva.


"Sabar kek. Ya bisa karena dia punya mata. Di samping kelas atau tepatnya di belokan. Gak sengaja nabrak tadi. Udah gitu ya badan dia tuh keras banget sampai sakit nih jidat gue. Udah gitu tingginya udah kayak tiang listrik!" Ucap Adeeva.


"Menang banyak lo Va bisa ngerasain dada bidang seorang Aldrian. Eh tapi dia nggak meluk lo kan? Kayak di film-film atau novel?" Tanya Resya cemas.


"Ya nggak lah. Amit amit."


"Iya, taudeh yang sukanya cowok yang gak dingin, gak tinggi banget. Arsen banget kayaknya ya," ucap Resya yang membuat pipi Adeeva memerah. Ingatannya langsung tertuju pada kejadian kemarin.


"Cieee blushing!" Goda Redya menoel pipi chubby Adeeva.


"Paan sih. Nggak ya!" Elak Adeeva.


"Arsen!" Panggil Resya dan menghampiri Arsen yang baru saja masuk kelas.


Adeeva melihatnya.....


-TBC-


Halo guys...


Gimana ceritanya? Bagus gak?


Ini lebih panjang dari part 5 lho :v


Kritik dan sarannya diperlukan ya


Jangan sungkan😉 gak perlu bayar kok😂


Okay see u next part