
'Lupakan masalah sejenak dan nikmati waktumu'
Happy Reading
.
.
.
Apa lo tau? Siapa yang udah hampir lecehin lo di club? Apa lo bakal percaya sama gue, ADEEVA QUANECIA?" Ucap Arsen.
"Maksud lo?" Tanya Adeeva berbalik menatap Arsen.
"Yang ngelakuin itu Kakak lo Va. Dion," tekan Arsen.
Sedangkan Adeeva menatap Arsen tak menyangka. Arsen pikir Adeeva akan percaya kepadanya. Tapi ternyata pikirannya salah.
"Tadi lo bilang kak Dion suka sama gue. Sekarang malah bilang kalau kak Dion yang hampir lecehin gue di club. Setelahnya apa lagi? Lo udah ngejelek-jelekin Kakak gue Sen. Keluarga gue."
"Gue sama sekali gak ada niat buat ngejelek-jelekin keluarga lo. Yang gue omongin itu bener. Dan tadi apa lo liat kaki Kakak lo itu pincang?" Tanya Asen pada Adeeva. Tapi Adeeva hanya diam dab berpikir bahwa yang dikatakan Arsen memanglah benar. Tapi bisa ajakan Arsen mengarang cerita? Bisa saja Arsen tadi melihat Kakaknya yang jalan pincang. Ya bisa jadi.
"Apa hubungannya kalau kaki kakak gue pincang atau nggak?" Tanya Adeeva menantang sambil melipat tangannya di depan dada.
"Ya karena kakinya pincang karena sakit. Dan itu merupakan bukti Adeeva. Karena waktu di club gue--"
"Cukup Arsen!!!" Potong Adeeva.
"Baru aja gue maafin lo. Baru aja kita baikan. Tapi sekarang lo buat kesalahan lagi. Entah apa alasan lo ngelakuin ini. Tapi yang pasti, untuk kedua kalinya gue kecewa sama lo!" Lanjut Adeeva lalu meninggalkan Arsen.
"Va! Adeeva!! Adeeva tunggu!!" Panggil Arsen tapi tak dihiraukan oleh Adeeva.
Arsen hanya mengacak rambutnya frustasi.
"Gue bakal cari bukti Adeeva. Supaya lo percaya sama gue. Maaf karena gue buat lo kecewa lagi," batin Arsen menatap kepergian Adeeva.
***
Sudah beberapa hari berlalu. Tapi hubungan keduanya masih renggang. Sahabat mereka selalu bertanya tapi Arsen dan Adeeva tak ada yang mau menjelaskan.
Kini Adeeva sudah tinggal di rumah Hendra~Papanya. Selama ia tinggal di rumah itu, tidak ada yang mencurigakan dari Dion. Dion tidak menunjukkan bahwa ia menyukai Adeeva.
Cowok itupun bahkan kadang tidak pulang ke rumah. Ia lebih memilih menginap di apartment miliknya.
Hal itu membuat Adeeva semakin kesal dengan Arsen. Bukannya semakin baik, cowok itu malah ngelunjak sifatnya.
"Kak!" Panggil Dhea menyadarkan Adeeva dari lamunannya.
"Ehh Dhea. Ada apa?"
"Mmmm Kak aku mau tanya sesuatu, bisa?"
"Bisalah. Kamu mah kayak sama siapa aja mau nanya pake izin segala. Emang apa?"
"Heheh. Jadi gini Kak. Temen-temen Kakak waktu resepsi Mama Papa siapa aja Kak? Waktu itu aku cuma nveliat dari jauh. Masa kak Dion kenalan aku nggak."
"Aku mau kenalin kamu sama temen-temen aku tapi kamu nggak tau pergi kemana," jelas Adeeva sambil mengotak-atik hp--nya mencari fotonya bersama temannya saat di acara resepsi pernikahan orang tua--nya.
Setelah dapat ia pun memperlihatkan pada Dhea.
"Ini yang di ujung namanya Kenan biasa dipanggil Ken. Di sebelahnya namanya Sevanya. Di sebelahnya lagi namanya Resya, teman sebangku aku," jelas Adeeva.
"Terus yang di samping Kakak di ujung siapa?" Tanya Dhea.
"Arsen," jawab Adeeva singkat.
"Kok kak Adeeva kayak gak suka gitu pas nyebut nama 'Arsen' kenapa Kak?" Tanya Dhea heran.
"Gue nggak mungkin bilang ke Dhea masalah gue sama Arsen. Nggak. Nggak boleh," batin Adeeva.
"Kak! Kak Adeeva!! Kok malah ngelamun sihh!"
"Ehh maaf ya malah ngelamun," cengir Adeeva.
"Jadi?" Tanya Dhea menatap Adeeva.
"Kakak cuman lagi kesel aja sama Arsen. Biasalah," jelas Adeeva.
"Ohh ya? Pasti kak Arsen orangnya seru ya?"
"Kelewat seru dia mah!" Ucap Adeeva membayangkan Arsen yang sangat jahil dan pecicilan membuat Adeeva tanpa sadar tersenyum kecil.
"Ceritain dong. Kak Arsen itu orangnya gimana kalau di sekolah."
"Pertama kali liat Arsen saat dia telat. Dengan segala tingkahnya membuat guru selalu geram. Arsen orangnya cerialah pasti. Dia juga peduli oranganya suka menolong. Dia baik. Cuman dia juga pecicilan, tengil, jahil yang jadi nilai minusnya," terang Adeeva.
"Yang kakak maksud nilai minus itulah yang membuat seru. Eh terus kalau kak Resya?"
"Bentar, umur kamu berapa?"
"September yang lalu 16 tahun, kenapa Kak?" Tanya Dhea heran.
"Kamu gak usah manggil dia Kakak. Karena kamu tuaan sebulan dari Resya.
"Ohhh gitu yaa. Tapi gak enak ah kan teman Kakak."
"Yaudah terserah kamu. Yang nyaman aja,"balas Adeeva.
"Jadi Resya yang paling muda?"
"He'em. Resya emang yang paling muda diantara kami. Resya itu orangnya asyik sihh sama juga kayak Arsen. Tapi dia sama juga kayak Ken yang mulutnya cerewet. Tapi ciri khas seorang Resya, yaitu lebay. Dia juga suka banget baca novel sampai-sampai bawa ke realita. Tau nggak? Followers-nya di ig udah hampir 300k." Cerita Adeeva panjang.
"Resya emang cantik banget ya Kak. Dia blasteran ya?"
"Iya blasteran Indo-Jerman."
"Resya cocok jadi model. Udah tinggi, cantik, body goals. Kenapa dia gak jadi model?"
"Belum mau katanya. Padahal udah banyak yang nawarin."
"Kalau Kenan?"
"Kalau Ken 11 12 lah sama Arsen dan Resya. Tapi gak terlalu dianya. Ken itu anak Ipa 1 jadi harus ekstra belajar juga. Kesamaan Arsen dan Ken itu pengen jadi dokter tapi paling malas belajar biologi."
"Ohh ya? Mana bisa jadi dokter kalau malas belajar biologi. Okay. Hmmm kalau kak Sevanya gimana orangnya?" Tanya Dhea.
"Tadinya aku pikir sekelas semua. Ternyata enggak."
"Hahahaha!"
"Kenalin dong Kak."
"Kapan-kapan ya."
"Makasih Kak. Mmm malam ini aku mau tidur sama Kakak ya?"
"Iya."
"Yeayy!"
***
"Arsen sebenarnya lo kenapa lagi sama Adeeva?" Tanya Resya.
"Ada masalah kecil," jawab Arsen.
"Masalah kecil? Apa?"
"Lo gak perlu tau!"
"Lo selalu kek gini Sen. Lo selalu gak mau cerita masalah lo sahabat lo sendiri. Terus apa gunanya sahabat kalau lo nggak mau berbagi?" Ucap Resya tersenyum kecut.
"Bukan gitu Sya. Gue cuman gak mau kalian terbebani."
"Ya ampun Arsen! Gak ada yang namanya terbebani kalau sahabat. Sekarang gue mau tanya, kenapa waktu itu lo mukul Fandi? Apa karena Adeeva? Jawab yang jujur Sen. Jangan ngelak!" Tekan Resya.
"Ok gue bakal jawab tali jangan bilang siapa-siapa."
"Gue janji."
"Janji ya. Awas lo kalau bocor!" Ancam Arsen.
"Apaan sih bocor-bocor segala lo kira gue suka bocor? Tenang aja gue kayak no drop no bocor-bocor. Cerita cepet!" Cerocos Resya.
"Jadi, waktu itu tepatnya malam saat kita ngumpul-ngumpul. Ingatkan?"
"Iya. Gue inget."
"Malam itu Fandi bawa Adeeeva ke club. Pake baju kekurang bahan--"
"Bukan kekurangan bahan Arsen tapi emang kem gitu modelnya. Gak tau fashion lo!" Potong Resya yang membuat Arsen kesal.
"Itu kalau lo yang emang suka pake yang begitu lah Adeeva? Gak nyaman. Sekarang gue lanjut. Untung aja waktu itu gue datang tepat waktu. Kalau nggak, Adeeva udah dilecehin sama seseorang."
"Kalau diliat dari sifat Adeeva yang baik-baik kok mau ya diajak ke club gitu aja? Lo juga ngapain ke club? Tumben? Biasanya juga kalau ada yang ngajak, gak mau lo. Sekarang udah sering ya?" Sindir Resya.
"Menurut gue sihh Adeeva dipaksa soalnya waktu itu dia bilang gak mau berada di club. Itu bukan kemauannya untuk berada di tempat itu. Soal gue yang ke club, gue nganterin kunci kosan temen gue yang dia lupa dan gue sama sekali gak clubing. Ngerti?" Balas Arsen.
"Iya gue percaya. Jadi karena itu lo mukul Fandi?"
"Hmmm."
"Tapi setelahnya lo keliatan baik-baik aja deh sama Adeeva. Apa hubungannya hingga sekarang kalian renggang?"
"Segitu aja dulu gue kasih tau lo. Karena gue baru mau cerita kalau gue udah mastiin sesuatu," balas Arsen.
"Mastiin apa sih?" Tanya Resya penasaran.
"Sorry, gue belum bisa kasih tau lo semuanya. Tapi setelah gue udah mastiin dan punya bukti gue bakal kasih tau lo. Karena gue gak mau adek gue nanti kenapa-napa," ucap Arsen menggenggam tangan Resya dan memandangnya serius.
"Duhhh sweet banget sih abang gue ini," ucap Resya dengan senyum cerahnya yang langsung menular ke Arsen. Sontak Arsen mengacak-acak rambut Resya masih disertai dengan senyumnya.
"Terus kapan lo mau nembak Adeeva?" Tanya Resya.
"Entah kapan. Tapi gimana kalau nanti Adeeva nolak gue."
"Lo tuh jadi cowok pesimis banget sih. Adeeva gak mungkin nolak lo Arsen!!! Adeeva tuh cinta sama lo. Masa lo nggak nyadar sih selama ini. Siapapun yang ngeliat kalian berdua pasti langsung tau kalau kalian saling mencintai."
"Serius? Kalau gitu gue mau nembak Adeeva pas ultah gue. Gue mau di ultah gue nanti yang ke 17 adalah ulang tahun yang terindah buat gue. Bantuin gue ya Sya."
"Siap lah. Tenang aja gue pastiin hari itu lo bakal nembak Adeeva dengan cara yang sangat romantis."
***
"Sekarang waktunya kita hangout. Gak pernah kan? Kita jalan bertiga." ucap Resya pada Adeeva dan Sevanya.
"Pas pulang sekolah ya," ujar Sevanya.
"Lo mau kan Va? Ayo dong ikut," bujuk Resya.
"Iya ntar gue ikut. Kalau dizinin tapi," balas Adeeva.
"Ok girls pokoknya nanti kita hangout sepuasnya. Hahaha!" Tawa Resya menggelegar yang langsung mendapat tatapan aneh dari teman-temannya termasuk Adeeva dan Sevanya.
***
Disinilah mereka sekarang, di cliq coffee & kitchen tempat terakhir yang mereka kunjungi. Cliq coffe & kitchen memang cocok muda-mudi buat nongkrong. Hampir setiap sudit di tempat ini instagramable, mulai dari fasad yang unik sampai dengan taletnya. Atmosfer tropikal dengan sentuhan warna hijau muda dan kuning pastelnya juga menyegarkan mata.
Resya memang pandai memilih tempat yang cocok buat nongkrong ataupun santai tentunya instagramable juga. Pantes followersnya banyak. Pikir Adeeva memandangi Resya yang berselfie ria dengan Sevanya.
Tadi Adeeva sudah dipaksa ikut berfoto. Dan ya, Adeeva ikut tapi cuman beberapa kali. Setelahnya, Adeeva memilih duduk menikmati cappuccinonya.
Adeeva mengedarkan pandangannya memandangi sekeliling. Ia mulai merasa bosan dan untungnya Resya dan Sevanya sudah kembali.
"Lo nggak asyik Va. Masa cuman bentaran doang!" Cibir Resya duduk di samping Adeeva sedangkan Sevanya di depan mereka.
"Adeeva bukan lo Sya. Kalian beda!" Celutuk Sevanya tersenyum ke arah Adeeva.
"Beda apanya? Sama-sama makhluk Tuhan kok!" Balas Resya sewot.
"Ya beda lah lo kan kalau selfie gak ada capeknya sama sekali sampe memori hp penuh. Lah Adeeva? Nggak kayak lo!" Ucap Sevanya yang langsung dapat cengesan dari Resya.
"Bener kata Vanya," imbuh Adeeva membenarkan.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Adeeva dan memanggil namanya.
-TBC-