
Happy Reading
.
.
.
Saat dekat di ruang ICU, Adeeva bisa melihat Arsen, Ken, dan Sevanya. Ia menghampiri mereka.
"Arsen."
Semuanya menoleh ke sumber suara. Adeeva menelan salivanya kasar lalu menghampiri mereka. Sevanya langsung memeluk Adeeva disertai isak tangisnya.
"Resya, Va. Resya kritis!" Isak Sevanya. Adeeva tak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes. Meskipun hubungannya dengan Resya kini renggang, Adeeva tidak bisa melupakan bahwa Resya adalah sahabat sekaligus saudara baginya. Adeeva mendiamkan Resya agar Resya sadari kesalahannya. Namun, ia salah. Seharusnya ia lah yang harusnya intropeksi diri. Ia sudah menuduh Resya yang tak salah apa-apa. Menyesal? Tentu saja!
Kini ia hanya berharap gadis itu segera melewati masa kritisnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Resya? Kenapa keadaannya jadi begini?" Tanya Adeeva pada Sevanya. Namun Sevanya masih terisak. Ken mendekat lalu merangkul Sevanya.
"Ada yang menusuknya," jelas Ken lalu membawa Sevanya duduk kembali.
"Siapa?" Tanya Adeeva.
"Kita nggak tau Va. Tadi suster yang nelpon aku pake ponsel Resya dan bilang kalau Resya masuk rumah sakit dan kondisinya parah," jawab Arsen.
"Kata suster ada seseorang yang mengantar Resya ke sini. Setelahnya langsung pergi setelah memberikan ponsel Resya dan menyuruh suster itu menelpon Arsen. Wajah orang itu tidak jelas karena tertutupi." timpal Ken.
"Tapi siapa orang itu? Bukannya ponsel Resya pakai password? Gimana dia bisa tau?" Tanya Adeeva heran.
"Itu juga yang kita pikirin. Mungkinkah orang yang menolong Resya dekat dengan kita," jawab Ken.
"Apa Fandi?" Tebak Adeeva.
"Bukan! Kalau beneran Fandi, dia akan ada di sini bareng kita dan buat apa dia menyembunyikan wajahnya?" Balas Arsen menarik Adeeva duduk di sebelahnya.
"Lagian tadi gue sempat ketemu Fandi di apotik sekitar setengah jam sebelum gue dapat telpon dari Arsen. Gak mungkin kan? Fandi ada di dua tempat dalam waktu yang sama?" Tukas Sevanya yang masih berada dalam rangkulan Ken.
"Iya juga. Lalu siapa?" Gumam Adeeva.
"Itu urusan belakangan. Sekarang kita berdoa saja semoga Resya dapat melewati masa kritisnya," ucap Arsen mengusap bahu Adeeva.
"Aamiin."
Tepat saat itu pintu ruang ICU terbuka dan keluarlah dokter yang menangani Resya. Semua langsung berdiri.
"Keluarga pasien?" Tanya sang dokter.
"Kami hanya sahabatnya Dok. Orang tuanya sedang berada di luar negeri. Gimana keadaannya? " jawab Sevanya.
"Baikalah saya mengatakannya saja pada kalian. Pasien masih dalam keadaan kritis. Tusukan itu menggores sedikit organ vitalnya. Pasien harus segera ditangani sesegera mungkin. Kalian kabari keluarga pasien secepatnya agar kami bisa bertindak lebih lanjut setelah dapat persetujuan keluarga. Saya permisi dulu." Dokter itu segera meninggalkan mereka.
"Gue. Telpon orang tua Resya dulu," pamit Sevanya. Setelahnya hanya sunyi. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak menyangka kondisi Resya sangatlah parah.
Tak lama kemudian Sevanya telah kembali.
"Bagaimana?" Tanya Adeeva.
"Bokap nyokap Resya gak bisa ke sini. Mereka saat ini ada di Italia. Kata mereka, orang suruhan mereka akan datang membawa Resya ke Jerman untuk pengobatan yang lebih baik. Mereka menunggu di sana," jawab Sevanya.
"Kapan?" Tanya Ken lesu.
"Secepatnya. Saat ini bokap Resya sedang mengurusnya," jawab Sevanya.
Adeeva kembali meneteskan air matanya. Ia ingin meminta maaf pada sahabatnya itu yang saat ini tengah terbaring lemah di bangsal.
Sedangkan Arsen mengacak rambutnya frustasi. Ia kembali dilanda ketakutan. Takut kehilangan untuk yang ke sekian kalinya. Resya sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Ia tak mau kehilangan orang yang disayanginya lagi. Baru beberapa minggu yang lalu bundanya meninggalkannya. Ia tak ingin adiknya ikut meninggalkannya.
Resya, gadis periang yang selalu membuat suasana lebih berwarna. Ia tak pernah diam. Segala tingkahnya kadang membuat orang gemas sekaligus kesal. Mereka tau bahwa Resya kesepian di rumahnya yang besar. Karena itu mereka selalu menemani cewek itu jika dilanda bosan. Adik kecil mereka yang tengah berjuang untuk hidup saat ini.
***
Fandi meringis mengusap darah di sudut bibirnya. Ia habis dipukuli preman. Fandi bisa menebaknya jika preman itu suruhan Dion. Jelas saja, tadi preman itu mengambil flashdisk yang diberikan Resya. Untung saja saat preman itu ingin memukulnya pakai balok, tiba-tiba ponsel preman itu berdering dan setelahnya preman terburu-buru meninggalkannya.
Kini ia dan Resya tak punya bukti lagi. Fandi tak bisa apa-apa lagi. Video itu saja ada seseorang yang berbaik hati memberikannya. Tapi apakah orang itu akan berbaik hati memberikannya lagi? Coba saja ia dan Resya kenal orang itu pasti ia akan menghampiri orang itu.
Ia segera menaiki motornya dan menjalankannya dengan pelan hingga ia sampai di apotik. Fandi membuka helmnya dengan pelan. Rasanya tulang-tulangnya remuk semua. Ia lebih memilih berkutat dengan pelajaran sekolah daripada adu jotos.
Sesampainya di dalam apotik, ia segera meminta obat merah dan plester dan juga obat pereda nyeri. Setelah membayar, ia segera berbalik. Ia melihat Sevanya yang baru masuk namun ia abaikan. Ia segera kembali ke motornya.
Tapi sebelum menjalankan motornya, ia menelpon Resya terlebih dahulu. Namun tak diangkat.
"Ck. Padahal mau gue kasih tau kalau flashdisknya diambil orang," kesal Fandi lalu memakai helmnya dan melajukan motornya kembali dengan pelan.
***
Tengah malam yang sunyi. Tampak seorang pria tertidur dengan posisi miring. Ia tak menyadari bahwa seseorang berpakaian perawat memasuki ruangan itu.
Perawat itu nampak mencurigakan namun Dion tak menyadari. Ia masih tertidur. Ia baru terbangun setelah merasakan perih di telapak tangannya.
Dion tersentak dan langsung bangun. Namun sebuah pisau bedah langsung tertancap di tangannya hingga pisau itu tembus hingga ke kasur. Dion menjerit kesakitan. Ia bangkit dari posisi tidurnya yang miring. Ia akan menghajar orang yang sudah lancang padanya.
Tiba-tiba orang itu melemparkan pisau. Jika saja Dion tidak menghindar, pisau itu akan tertancap di pahanya. Namun naasnya saat ia menghindar, ia malah terjungkal ke belakang dan terjatuh dari atas bangsal rumah sakit. Selang infusnya tertarik hingga tiang infus ikut menimpanya. Telapak tangannya berdarah. Tangannya yang diinfus pun ikut berdarah. Punggungnya yang belum sembuh kembali mengeluarkan darah segar juga.
Perawat itu mendekat namun terhenti ketika telinganya mendengar suara ketukan sepatu di kejauhan yang perlahan mendekat. Ia segera keluar ruangan itu dan meninggalkan Dion yang bersimbah darah.
***
Pagi ini suasana kelas XI IPA 2 begitu sunyi. Semua siswanya sudah mengetahui keadaan Resya saat ini. Bagaimanapun juga Resya adalah siswa yang aktif di kelas. Bukan hanya di kelasnya tapi hampir seluruh penghuni syalend high school bahkan mengenalnya. Bagaimana tidak? Resya salah satu siswi famous meskipun tidak mengikuti organisasi apapun.
Tadi, pagi-pagi sekali Resya telah dibawa ke Jerman menggunakan jet pribadi. Tak ada dari mereka yang jenguk Resya pagi tadi.
Tangan kanan bokap Resya baru mengabari beberapa menit sebelum take off. Itupun hanya lewat sms. Katanya takut mengganggu.
Adeeva menghela napas lalu menatap Arsen yang berada di sebelahnya. Tatapan cowok itu terlihat kosong. Adeeva mengerti. Karena Resya lagi. Tapi Adeeva tidak kesal atau marah. Karena ia pun merasakan hal yang sama mayak Arsen.
Bell yang ditunggu sejak tadi akhirnya berbunyi. Sebagian siswa berhambur keluar. Sebagiannya lagi tetap tinggal di kelas. Termasuk Arsen dan Adeeva.
Fandi melangkah dengan pincang keluar kelasnya menuju kelas di sampingnya. Kelas XI IPA 2. Ia melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangannya namun tak menemukan apa yang dicarinya.
Tempat duduk Resya pun malah diisi oleh Arsen. Fandi pun mendekati Arsen dengan langkah pincangnya.
"Sen! Resya mana?" Tanya Fandi mengembalikan Arsen dari lamunannya.
Ternyata Fandi adalah sebagian kecil siswa syalend high school yang belum tau keadaan Resya.
"Lo belum tau?" Tanya Adeeva mengerutkan alisnya.
"Tau apa?" Tanya Fandi heran.
"Apa sih? Kenapa diam? Woiyy!" Kesal Fandi karena merasa terabaikan oleh Arsen dan Adeeva yang hanya diam.
"Resya sakit kali Fan. Masa lo gak tau. Beritanya udah tersebar di grup sekolah. Dasar kudet!" Celutuk Yoga yang berada tak jauh dari posisi Fandi, Arsen, dan Adeeva saat ini.
"Masa sih? Kemarin gue ketemu baik-baik aja kok," tukas Fandi menatap Yoga lalu beralih menatap Arsen meminta penjelasan.
"Resya emang sakit. Saat ini sedang perjalanan ke Jerman," jelas Arsen.
Fandi tersentak kaget lalu menarik Arsen berdiri lalu mengajaknya keluar.
"Lo gak serius kan?" Tanya Fandi gak sabaran.
"Lo pikir gue bercanda? Resya beneran sakit! Ada yang nusuk dia kemarin! Dan tadi lo bilang kemarin Resya baik-baik aja. Lo ketemuan kemarin?" Kesal Arsen karena Fandi malah menganggapnya bercanda. Mana mungkin ia menjadikan sakitnya Resya candaan?
"Iya. Kemarin gue janjian ketemu sama Resya di kafetaria. Resya ngasih gue bukti. Rekaman cctv di club. Setelah dari kafe, gue ke toko buku. Tapi pas di perjalanan pulang, ada yang jegat gue dan keroyokin gue. Lo bisa liat sendiri kan luka gue? Mereka mukulin gue dengan penuh nafsu tapi untung aja ada yang nelpon mereka hingga mereka pergi." Cerita Fandi.
"Terus mana buktinya?" Tanya Arsen.
"Flashdisk yang dikasih Resya diambil sama preman-preman itu. Mungkin preman itu suruhan Dion. Resya emang sempat bilang ke gue kalau Dion bakal berusaha hancurkan bukti kalau dia tau. Dan ternyata benar."
"Arghhhh! Terus gimana kita bisa ambil bukti itu lagi? Ouhhh gimana kalau kita minta lagi rekaman itu. Dimana Resya mendapatkannya?" Tanya Arsen penuh harap.
"Itu masalahnya! Resya mendapatkan rekaman itu dari seseorang. Saat mengikuti Dion di club, ada yang tiba-tiba bekap dia dan setelah sadar ia sudah berada di kamarnya sendiri."
Penjelasan Fandi membuat kerutan di dahi Arsen. Pertanda bahwa cowok itu sedang bingung saat ini.
"Siapa orang itu? Apa dia juga yang nolong Resya kemarin?"
-TBC-