
Happy Reading
.
.
.
"Apa benar? Dion yang udah nyekap dan nusuk lo?" Tanya Arsen menatap Resya lekat.
Resya yang ditatap seperti itu menelan salivanya kasar. Lalu ia mengangguk mengiyakan.
"Kita emang harus jeblosin dia di penjara. Dia udah kelewatan tau gak. Lagian udah ada Resya saksinya!" Ucap Ken yang sejak tadi di perpus merasa emosi.
"Kan tadi gue udah bilang. Kita cari waktu yang pas. Dion masih sakit. Dan kata Adeeva dia baru membaik kemarin. Karena saat lukanya masih parah, ada yang menyerangnya lagi," ungkap Arsen.
"Gak mati aja sekalian," celutuk Ken melongoskan wajahnya.
"Sebenernya bonyok gue mau laporin Dion. Tapi gue cegah dulu. Gue mau nunjukin video itu dulu sama Adeeva," ucap Resya.
"Tapi flashdisk itu udah gak ada di gue Sya," ringis Fandi.
"Tenang aja. Sebelum gue kasih ke elo, gue udah copy," balas Resya tersenyum menaik-turunkan alisnya.
"Serius lo?" Tanya Fandi sumringah.
"Iya lah. Gue udah tebak kalau mereka pasti berusaha ambil bukti itu. Makanya gue copy sebanyak-banyaknya."
"Pinter juga lo," sahut Arsen mengacak poni Resya membuat cewek itu mendelik kesal.
"Terus rencana lo kapan mau ngasih ke Adeeva?" Tanya Ken tak sabaran.
"Kalau gue udah benar-benar sembuh. Sekarang gue mesti bed rest dulu," jawab Resya.
"Gue nggak sabar hari itu tiba," ucap Ken tersenyum miring.
"Tunggu aja," imbuh Resya.
Pintu terketuk. Resya mempersilahkan masuk dan ternyata seorang maid yang membawa minuman dan camilan.
"Jadi percuma dong kita minta bantuan Aldrian nyari si pelaku kalau ujungnya Resya juga udah mau laporin Dion. Kita udah ganggu waktu Aldrian," celutuk Fandi saat maid telah keluar.
"Heh! Lo pikir siapa yang bilangin ke kita kalau Resya udah balik dari Jerman?" Arsen menabok kepala Fandi membuat sang empunya kepala meringis kesakitan.
"Aldrian?" Tanya Resya memastikan ia tak salah dengar.
"Iya. Aldrian sekelas nih cunguk dua," jawab Arsen menunjuk Ken dan Fandi.
"Kok bisa?" Tanya Resya.
"Jadi gini. Gue ama Fandi minta bantuan Aldrian untuk ngelacak nomor lo. Dan wahh Aldrian itu benar-benar jenius. Dia bisa tau tempat dimana lo disekap. Bahkan dia bisa ngertas cctv jalan," decak kagum tak terhindar oleh Arsen.
"Serius?" Resya masih tak percaya apa yang didengarnya.
"Iya. Lo gak percayaan banget sih. Kalau lo gak sakit udah gue timpuk lo!" Ken menatap kesal Resya yang langsung dapat balasan timpukan boneka oleh Resya.
"Anjirrrrr tadi bilangnya mau nimpuk malah kena timpuk. Rasain tuhhh," ejek Fandi dengan tawanya. Jangan lupakan Arsen karena ia sudah memegang perutnya dengan tawa membahana.
"Sialan lo!" Ken langsung melemparkan boneka itu ke arah Fandi.
"Maksud gue tuh kok tumben Aldrian mau? Gitu!" Tukas Resya.
"Ya maulah. Aldrian kan baik. Dia itu cuman pendiem kalau gak diajak bicara. Kemarin aja dia ngomong panjang kok," jelas Fandi.
"Tapi kenapa kalau gu--" ucapan Resya terpotong oleah Arsen.
"Ya jelas lah! Aldrian itu gak suka ama cewek-cewek ganjen nan alay. Kalau lo kalem dan sopan pasti diladenin. Ya gak Ken? Fan?" Potong Arsen membuat wajah Resya berubah masam.
***
Sudah beberapa hari Resya istirahat di rumahnya. Akhirnya hari ini ia bisa masuk sekolah lagi. Resya sepakat dengan para cowok untuk tidak memberitahu siapapun kalau ia sudah balik dari Jerman. Termasuk Sevanya dan Adeeva.
Resya melangkah menuju kelasnya sesekali berhenti ketika ada yang menyapanya. Banyak yang kaget Resya yang tak ada kabar tiba-tiba sudah masuk sekolah. Mereka bersyukur tentunya, karena teman mereka sudah sembuh.
Resya memang sengaja berangkat pagi. Namun tak ia sangka sudah ramai begini. Ia duduk di bangkunya. Rupanya teman sekelasnya baru datang beberapa orang saja. Itupun terlihat dari tas mereka yang di atas meja namun sang emlunya tas tidak terlihat. Aryinya hanya Resya sendiri di dalam kelasnya. Kelasnya tak seramai kelas lain.
Resya tiba-tiba mencium aroma wangi. Apa pengharum kelasnya? Ia memandang AC namun belum menyala. Tapi ia merasa aroma itu alami. Semacam bunga beneran, bukan pengharum ruangan.
Resya melihat isi lacinya. Matanya terbelalak melihat setngkai bunga mawar berwarna peach. Ia segera mengambilnya.
Selama seminggu Resya dirawat, selama itu pula orang itu memberinya bunga mawar. Di hari pertama dan kedua orang itu memberikan bunga mawar hitam. Saat itu kondisi Resya masih kritis. Lalu hari ketiga dan seterusnya bunga mawar yang diberikan selalu berganti warna. Entah, apakah setiap bunga yang diberikannya berisi makna?
Resya tersenyum lalu menghirup aroma bunga itu dalam-dalam. Ia memang begitu suka dengan bunga mawar. Jenis apapun asalkan mawar. Di belakang mansionnya ada banyak tanaman mawar. Minus juliet rose ya. Resya maih waras untuk tidak memiliki bunga itu. Meskipun ia kaya, tapi ia tidak akan menyianyiakan uang 71 miliar hanya untuk bunga.
Resya menghentikan kegiatannya saat ia mendengar ada yang memanggil namanya. Ia menoleh ke arah pintu kelas. Ada Adeeva di sana.
"Resya?!" Panggil Adeeva lalu berlari memeluk Resya dengan erat. Bahkan Resya mendengar isakan tangis sahabatnya ini. Resya membalas pelukan Adeeva.
"Hiksss gue takut lo kenapa-napa. Gue seneng lo udah sembuh sekarang. Dan maafin gue juga," isak Adeeva.
"Lo kok jadi cengeng gini, Va? Iya lo udah gue maafin. Senyum dong," balas Resya.
"Lo emang sahabat terbaik gue. Nggak. Tapi adik terbaik gue," ujar Adeeva tersenyum senang.
"Gue seneng lo anggap gue seperti itu. Oh ya, sesuai apa yang gue bilang waktu itu. Ini buktinya lo liat aja nanti," ucap Resya setelah merogoh flashdisk dari dalam tasnya.
Adeeva tertegun menatap tangan Adeeva yang memegang flashdisk terulur padanya. Lalu ia menatap Resya.
"Gue harap setelah lo liat rekaman itu, lo bisa lega. Gue juga tentunya. Meskipun kita udah saling memaafkan tapi lebih bagus kan kalau ada bukti," lanjut Resya.
"Sya," lirih Adeeva.
Resya tersenyum menatap Adeeva. Tiba-tiba pintu kelas mereka di ketuk. Adeeva mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Sedangkan Resya kembali menikmati aroma bunga mawar yang menyejukkan hatinya.
Adeeva menyenggol lengan Resya namun tak digubris oleh Resya.
"Bu Diah tidak sempat masuk hari ini. Sebagai gantinya kalian mengerjakan ini," ucap Aldrian memberikan selembar kertas yang berisi soal-soal dengan tulisan yang butuh perjuangan pula untuk membacanya. Kalian tau lah tulisan siapa.
Mendengar suara Aldrian sontak membuat Resya mendongak. Mata mereka langsung bertemu. Aldrian menatap manik mata Resya lalu turun menatap tangan Resya yang memegang bunga.
"Ah iya makasih ya," balas Adeeva mengambil kertas itu. Aldrian tersenyum kecil lalu berbalik menuju kelasnya.
Senyuman itu.....
Resya merasa jantungnya berdetak kencang. Ouh ada apa dengannya?
***
Adeeva telah sampai di rumahnya. Ia segera mandi dan berpakaian. Hari ini Dion sudah bisa pulang. Dan ia harus segera membantu mamanya memasak. Kata mamanya, Dion suka masakan Adeeva. Awalnya Adeeva merasa heran. Masakannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masakan mamanya atau ART di rumahnya. Adeeva memang tidak mengerti apa-apa dalam soal memasak. Jika masakannya ada rasa yang aneh, dia tidak bisa membedakan apakah karena kekurangan garam atau kelebihan garam?
Adeeva segera turun setelah merapikan rambutnya. Ternyata Mamanya sudah berada di dapur dan tengah mencuci sayuran.
"Adeeva kerjain apa, Ma?" Tanya Adeeva saat sudah berada di dekat mamanya.
"Kamu potong-potong wortel ini sama kayak waktu itu," balas Intan memberikan wortel yang sudah di cucinya.
Acara masak-memasak itu berlangsung dengan baik. Sesekali Adeeva harus bertanya apa yang harus di lakukannya lagi, berapa garam yang harus dimasukkan, bagaimana halusnya bumbu, berapa lama menumisnya, dan masih banyak lagi.
Tak lama kemudian sebuah deru mobil terdengar disusul suara langkah kaki yang lerlahan mendekati ruang makan yang kini di isi beberapa masakan yang telah dimasak Adeeva dan mamanya.
"Wah sepertinya enak nih. Dari aromanya saja sudah menggoda," ucap Hendra saat sudah duduk di kursi yang diikuti oleh Dhea dan Dion.
"Ini semua Adeeva yang masak lho," balas Intan mengambilkan makanan untuk sang suami.
"Dibantu Mama juga kok," tukas Adeeva.
Adeeva makan dengan tenang. Padahal hatinya tengah ketar-ketir. Ia terus kepikiran bukti yang diberikan Resya. Ia mulai mengingat saat Arsen mengatakan padanya bahwa Dion lah yang melakukan itu.
Adeeva memandangi Dion yang makan dengan lahapnya dalam kesunyian. Adeeva mulai berpikir lagi, "Apa benar?"
***
Adeeva mengunci pintu kamarnya lalu dengan cepat mengambil laptopnya dan mencolokkan flashdisk yang diberikan Resya padanya.
Ia mulai memandangi video rekaman itu dengan serius. Di mulai dari orang yang asyik dengan dunianya sendiri. Berlalu lalang. Asyik bersenang-senang. Namu fokusnya ke arah lorong menuju toilet.
Seorang pria keluar dari toilet itu. Tak lama kemudian disusul oleh seorang wanita. Lorong itu memang harus dilewati jika ingin ke toilet. Baik toilet pria maupun wanita.
Tak lama, Adeeva melihat dirinya sendiri memasuki lorong itu. Di susul seirang pria. Adeeva memicingkan matanya. Ouh ternyata Arsen. Arsen melangkah dengan santai memasuki loring itu.
Adeeva menunggu sekitar 3 menit lalu seorang pria berjas memasuki lorong itu. Ia tak bisa melihat wajahnya demgan jelas karena sedikit membelakangi kamera cctv.
Adeeva menunggu lagi hingga ia melihat kembali dirinya yang keluar dari lorong itu bersama Arsen. Setelah itu terdapat beberapa orang yang memasuki lorong itu dengan terburu-buru. Ketika mereka keluar, Adeeva langsung mempause video itu. Ia memicingkan matanya memandang lekat seorang pria berwajah babak belur dan kaki pincang dirangkul pria yang terburu-buru tadi.
Ternyata benar. Orang itu......
DION, kakak tirinya.....
-TBC-