
Happy Reading
.
.
.
"Kenapa mereka masih baik-baik aja sekarang? Bukannya kak Dion bilang udah ngirim itu?" Tanya Dhea bersidekap dada memandang Dion yang sibuk dengan ponselnya.
"Bisa nggak? Hilangin sifat workaholic kak Dion dulu?" Lanjut Dhea yang kesal tak diacuhkan oleh sang kakak.
Sekarang ini mereka sedang berada di salah satu restoran untuk makan siang. Tentu saja hasil paksaan dari Dhea. Karena jika tidak dipaksa, maka Dion tidak akan mau. Dion lebih memilih melanjutkan pekerjaannya. Dia akan memerintahkan sekertarisnya untuk membelikannya makanan jika ia lapar.
"Amplop itu sudah diterima oleh Adeeva. Kakak melihatnya sendiri di cctv. Bibi yang memberikannya," balas Dion.
"Terus kenapa mereka masih adem-adem aja?"
"Apa mungkin Adeeva belum membuka surat itu?" Tebak Dion.
"Hmm. Bisa jadi. Terus kita harus ngapain?" Tanya Dhea terdengar putus asa.
"Kita harus pastiin Adeeva buka amplop itu. Kamu kan dekat dengannya. Kamu masuk di kamar Adeeva dan kamu lakuin sesuatu supaya Adeeva bisa buka maplop itu," jelas Dion.
"Apa aku belum cerita? Kalau aku lagi ribut sama kak Adeeva?"
"Why?"
"Gara-gara aku nggak bilang kalau ibunya kak Arsen meninggal dan pergi melayat tanpa bilang ke kak Adeeva," ungkap Dhea.
"Kamu sengaja?" Tanya Dion memandang adiknya lekat.
"Tentu saja. Aku nggak mau kak Adeeva yang ada di saat kak Arsen butuh sandaran. Hanya aku!" Jawab Dhea santai.
Dion yang mendengarnya mengerutkan alisnya memandang adiknya. Dhea, adiknya yang lugu, polos, baik hati kini berubah. Sama seperti dirinya. Semua itu hanya karena satu hal yang bernama cinta.
"Baiklah. Biar kakak yang mengurusnya," Dion mengelus lembut kepala Adeeva.
"Oh iya Kak. Ada satu penghalang lagi."
"Siapa?"
"Resya."
"Resya? Siapa dia?"
"Itu loh temannya kak Adeeva yang narik-narik kak Dion di pesta pernikahan mama papa."
"Dia? Gadis gila itu?"
"Iya kak. Dia selalu sinis sama aku. Bahkan tadi pagi dia ngusir aku di rumah sakit. Dia ngelarang aku dekat-dekat kak Arsen," adu Dhea pada kakaknya.
"Nanti kakak akan mengurusnya. Jangan pikirkan lagi nanti kamu sakit. Sekarang kamu makan," ucap Dion saat makanan pesanan mereka sudah datang dan ditata di meja.
***
Resya melangkah menuju kamar Adeva setelah dipersilahkan oleh ART Adeeva. Resya memang sudah dikenal oleh ART rumah Adeeva jadi ia langsung dipersilahkan ke kamar Adeeva. Tanpa mereka tau bahwa hubungan pertemanan Resya dan Adeeva saat ini renggang.
Resya mengetuk pintu kamar Adeeva. Tak ada respon. Resya mengetuk lagi hingga ia mulai kehilangan kesabarannya. Ia membuka pintu kamar Adeeva tanpa izin.
Tak ada siapapun. Tapi ART Adeeva tadi bilang bahwa Adeeva ada di kamarnya. Hingga ia mendengar suara gemercik air. Resya bisa menebak bahwa Adeeva sedang mandi.
Resya berkeliling melihat-lihat kamar Adeeva yang bernuansa biru. Di ranjangnya terdapat boneka doraemon. Di nakas terdapat pula dua buah foto yang dibingkai. Satu dibingkai kecil yang satunya lagi di bingkai besar. Resya tersenyum menatap foto itu, fotu yang terbingkai itu foto Arsen dan Adeeva.
Resya melanjutkan acara melihat-lihatnya. Ia mendekati meja belajar Adeeva. Terdapat beberapa note yang ditempel Adeeva yang berfungsi mengingatkannya. Seperti akan ada ulangan besok, tugas-tugas yang akan dikumpul hari apa, dll. Resya tersenyum lagi. Adeeva memang anak yang teladan.
Tiba-tiba pandangan Resya tertuju pada sebuah amplop coklat. Ia penasaran apa isi amplop itu. Resya segera membukanya. Dan apa yang dilihatnya? Ia melihat ia dalam foto itu bersama Arsen. Itu foto kalau tidak salah dua minggu lalu sebelum Arsen kecelakaan.
"Resya? Lo ngapain di situ?" Tanya Adeeva yang berdiri di depan kamar mandingan tubuh yang segar setelah mandi.
Resya berbalik dan tersenyum menatap Adeeva yang balik menatapnya penasaran.
"Ahhh. Gue? Gue hanya sedang memandang seorang gadis yang sedang bersama sahabat karibnya dalam sebuah foto," jawab Resya tersenyum manis.
"Nihh lihat! Cantik banget kan gue?" Resya menunjukkan foto itu pada Adeeva.
"Kalau mau liat foto lo, kenapa lo susah-susah bawa foto itu ke kamar gua? Lo bisa liat di rumah lo sendiri," judes Adeeva.
"Heiiiy! Lo pikir gue yang bawa nih foto? Asal lo tau gue dapet ini di meja belajar lo. Nihhh!" Resya menunjukkan amplop coklat tadi kepada Adeeva.
Tentu saja Adeeva tidak merasa asing dengan amplop itu. Ya, Adeeva mengingatnya. Amplop itu yang diberikan bibi padanya. Ia lupa akan keberadaan amplop itu.
Adeeva merebug foto itu dari tangan Resya. Ia memandang lekat foto itu lalu mendongak menatap Resya.
Resya yang ditatap seperti itu lantas berseru "Apa? Lo mau nuduh gue lagi? Nuduh Arsen selingkuh sama gue? Yang benar aja!"
Adeeva terdiam. Ia akan percaya kali ini. Arsen itu pacarnya. Bukankah dalam mempertahankan sebuah hubungan harus ada kepercayaan?
"Terus kalau bukan karena ini, tujuan lo apa ke sini?" Tanya Adeeva mengangkat dagunya ke arah Resya.
Resya membuka mini bagnya lalu mengeluarkan sebuah hardisk dan memberikannya pada Adeeva.
"Ini bukti kalau gue sama Fandi gak ada rencana apapun buat nyelakain lo. Bahkan saat itu kita bertiga kok sama Arsen. Kita ngebahas tentang Arsen yang mau nembak lo. Lo perhatiin baik-baik deh itu video. Dan kalau lo masih gak percaya, terserah lo. Tapi yang pasti, gue bakal terus buktiin semua tuduhan lo itu salah! Camkan itu!" Jelas Resya memandang Adeeva tajam.
"Sampe sekarang gue masih gak nyangka lo sebodoh ini. Huh!" Ucap Resya sebelum pada akhirnya meninggalkan Adeeva.
Adeeva terus menonton video hasil rekaman cctv itu hingga akhir. Adeeva merutuki kebodohannya yang tak menyadari bahwa lokasi foto Resya bersama Fandi yang bersalaman sama dengan foto Arsen dan Resya. Di meja yang sama. Bahkan di situ tertera nomor meja. Dan lebih parahnya, Resya sama sekali tidak berpindah tempat, baju yang dikenakan masih sama.
Sudah pasti orang yang mengirim foto itu padanya ingin hubungan mereka hancur. Dengan sengaja memfoto bagian yang pas untuk membuat Adeeva curiga, marah.
Benar apa yang dikatakan Resya. Ia memang bodoh. Sangat bodoh.
Tapi... kalau bukan mereka, lalu siapa?
***
Tak terasa sudah hari sabtu saja. Kini Adeeva tengah bersiap-siap ke acara pernikahan sepupu Arsen, sesuai janjinya.
Setelah selesai memoleskan lipstick matte di bibirnya, ia segera mengambil hand bag-nya lalu turun. Ternyata sudah ada Arsen yang menunggunya.
Arsen sedang berbincang ria dengan mama papanya. Nampaknya Arsen semakin akrab dengan keluarganya. Dan Adeeva senang akan itu.
"Wah Princess papa sudah siap," sambut Hendra yang pertama kali menyadari kehadiran Adeeva.
Ratna dan Arsen yang mendengarnya segera mengalihkan pandangannya ke arah Adeeva.
Arsen kembali terpesona. Ini kedua kalinya ia melihat Adeeva memakai make up. Adeeva benar-benar wahhh.
"Dduhhh Arsen jadi tidak bisa berkedip," goda Intan membuat Arsen malu. Ohh ternyata bukan Arsen saja. Tapi Adeeva juga. Benar-benar pasangan yang kompak.
"Ehm... kalau begitu Arsen sama Adeeva berangkat dulu Om Tante," pamit Arsen.
"Jagain Adeeva ya."
"Siap tan."
***
"Kamu cantik," ucap Arsen saat mereka telah sampai di gedung hotel tempat acara diadakan.
"Oh ya? Makasih. Kamu juga ganteng," balas Adeeva sambil mencolek dagu Arsen.
"Ouh genit ya sekarang? Pacar siapa sih?"
"Pacarnya....... Fan--di." Tawa Adeeva pun meledak saat melihat muka masam Arsen.
"Idiihhh gitu aja ngambek. Pacarnya siapa sih? Hmm?" Goda Adeeva.
Arsen yang tak tahan pun akhirnya tertawa lalu mengapit kedua pipi Adeeva dengan satu tangannya.
"Pacarnya Adeeva Quanecia." Balas Arsen.
Mereka melangkah masuk ke dalam hotel ditemani dengan tawa bahagia.
"Arsen!!!" Panggil seseorang.
Arsen dan Adeeva berbalik. Arsen tersenyum lalu melepaskan rangkulan tangannya pada Adeeva dan beralih memeluk wanita di depannya.
"Akhirnya kamu datang juga. Tante kangen sama kamu," ucap Vina memeluk Arsen.
"Arsen juga,Tan."
"Wahh ternyata kamu tidak datang sendiri. Siapa ini? Gak kamu kenalin sama tante?" Tanya Vina.
"Hehehe. Kenalin,tan ini Adeeva pacarnya Arsen. Va, ini tante Vina yang aku ceritain," ucap Arsen memperkenalkan kedua perempuan yang disayanginya.
"Wah cantik ya. Vina, tantenya Arsen. Arsen gak cerita yang jelek-jelek tentang tante kan?" Canda Vina.
"Adeeva. Nggak kok, Tan" balas Adeeva tersenyum manis.
"Dduhhh manisnya. Tapi tante minta maaf soalnya tante harus nyambut tamu yang lain. Kalian nikmati jamuan-jamuan ya. Tante ke sana dulu," pamit Vina yang dibalas anggukan oleh keduanya.
Arsen terus mengikuti Vina lewat pandangannya. Ia teringat mendiang ibundanya.
"Andaikan bunda sama ayah masih hidup. Pasti sekarang udah ada di sini," batin Arsen.
Adeeva yang melihatnya mengerti akan perasaan Arsen. Ia hanya bisa mengusap lengan Arsen berusaha menguatkan.
Arsen mengalihkan pandangannya ke arah Adeeva saat ia sudah tidak melihat tantenya.
Adeeva tersemyum lembut pada Arsen. Hal itu membuat Arsen memiliki semangat dalam hidupnya. Sungguh ia begitu mencintai gadis di depannya ini.
"Sekarang apa?" Tanya Adeeva.
"Kita samperin kakak sepupu aku yuk. Kamu jangan terkejut nanti ya kalau sepupu aku itu bahasanya formal," ucap Arsen merangkul pinggang Aderva membelah kerumunan para tamu undangan. Arsen bahkan heran kenapa tamu bisa sebanyak ini. Padahal tantenya bilang kalau hanya mengundang kerabat. Sebegitu banyakkah kerabat kedua keluarga itu.
"Lho? Kenapa harus kaget?" Tanya Adeeva dengan tawa kecilnya. Menurutnya b aja kalau kakak sepupu Arsen berbicara formal. Mungkin terbawa suasana kantor yang formal. Bisa aja kan?
"Ya karena sifat formalnya sepupu aku itu bukan cuman ke orang lain. Tapi sama keluarganya aja kek gitu. Ada ya orang kek gitu."
"Kamu ngegosip sepupu kamu sendiri?"
"Ahh nggak. Yang aku omongin itu fakta. Ehh itu mereka." Arsen menunjuk ke arah pelaminan tepatnya ke arah sepasang pengantin.
"Itu kakak sepupu kamu?" Kaget Adeeva.
-TBC-