(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 14



'Salah satu kesalahan seseorang adalah ketika selalu berasumsi sendiri tanpa mau mendengar penjelasan'


Happy reading


.


.


Baru saja beberapa langkah Adeeva dari toilet, tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan menghempaskannya di tembok.


"Hai beautiful!  Wanna play with me," desis orang itu dengan suara khas oramg mabuk.


"Lepasin!" Jerit Adeeva meronta.


"Ayolah sayang gak usah malu." Orang itu mulai mendekatkan wajahnya.


Sungguh, aromanya membuat Adeeva merasa mual. Adeeva terus mendorong orang itu tapi tetap kekuatan Adeeva tak sebanding dengan pria di depannya ini.


"TOLONG!!!" Teriak Adeeva.


"Sungguh siapapun tolong," batin Adeeva ketakutan.


"Ssstttt!"


"TOLONG!! TOLONG!!!" Teriak Adeeva dengan tangisnya.


Tiba-tiba ada yang menarik pria di depannya dan memukulnya. Adu jotos pun tak terhindari dan tentu saja pria mabuk itu kalah, alias sudah babak belur.


Baru saja Adeeva mau mengucapkan terima kasih pada orang yang menolongnya tapi orang itu menarik tangannya dengan kencang hingga menabrak dada bidangnya.


Hal itu membuat Adeeva dapat menghirup dengan jelas aroma orang itu. Namun, Adeeva merasa tidak asing dengan aroma ini.


Kemudian Adeeva merasakan sebuah jaket melingkar di kedua bahunya hingga ia tidak merasa kedinginan dengan gaun yang dipakainya. Lalu orang itu menariknya keluar dari tempat terkutuk itu.


"Apa lo udah gila huh!"


"ARSEN!" Adeeva kaget.


"Kenapa? Kaget liat gue disini?"


"Ma--"


"Lo ngapain ke club? Pake baju kekurangan bahan kek gini? Tampilan lo yang kek gini kayak ****** di dalam sana tau nggak!" Potong Arsen dengan makiannya yang langsung mendapat tamparan oleh Adeeva.


"Kalau ngomong tuh dijaga ya!" Ucap Adeeva menatap Arsen dengan nanar.


"Apa? Memang benar kan? Bahkan tadi lo hampir aja--"


"CUKUP! Puas lo ngehina gue sekarang? Dan apa lo pikir gue dengan senang hati masuk ke tempat terkutuk itu? TIDAK! SAMA SEKALI TIDAK ARSEN! Apa di otak lo sekarang cuma ada hal-hal negatif tentang gue!" Potong Adeeva dengan tangisnya yang membuat Arsen mengepalkan tangannya.


"Gue antar lo pulang!" Ujar Arsen dengan dingin. Tapi jawaban Adeeva membuat Arsen geram.


"Nggak perlu! Gue nggak mau dianterin sama orang yang udah ngehina gue!" Tolak Adeeva sambil mengusap air matanya.


"Jangan keras kepala, ini sudah tengah malam!" Ucap Arsen dengan mutlak.


Tak ada pilihan lain akhirnya Adeeva pun masuk ke dalam mobil sport Arsen. Daripada ia pulang sendirian bisa saja ada preman-preman yang mengganggunya.


Setelah sampai di depan rumah Adeeva, tanpa mengucapkan sepata kata, Adeeva langsung keluar dari mobil Arsen.


Sedangkan Arsen memukul stirnya lalu melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan Adeeva  yang masih berdiri di depan rumahnya.


Sejenak Adeeva melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 00.46. Holy shit! Adeeva menghelas napas pelan lalu membuka pelan pintu rumahnya.


Keadaan rumah gelap gulita artinya ibunya sudah tidur. Syukurlah.


Klekk


Tiba-tiba lampu menyala.


"Tau sekarang jam berapa?" Tanya Intan tapi Adeeva hanya menunduk takut.


"Kamu tau kesalahan apa saja yang kamu buat hari ini?" Adeeva masih diam.


"Mama kecewa sama kamu!" Ucap Intan lalu meninggalkan Adeeva.


Baru saja melewati Adeeva, tiba-tiba Intan berhenti.


"Renungkan kesalahan kamu," ucap Intan lalu melanjutkan langkahnya.


Sedangkan Adeeva hanya terisak. Setelah itu berlalu ke kamarnya disertai dengan tangisnya.


***


Beberapa saat sebelumnya....


Arsen meninggalkan cafe dan menuju ke arena balap. Kali ini bukan balap motor tapi balap mobil. Arsen ingin menenangkan pikirannya dari Adeeva yaitu dengan mengikuti balapan.


Karena Arsen pikir, dengan bertemu dengan teman-temannya akan membuatnya tenang tapi yang terjadi malah sebaliknya.Ia semakin panas mendengar cerita Resya. ****.


Setelah sampai tujuan, Arsen langsung keluar dari mobilnya untuk menemui teman-temannya.


"Woi Sen baru dateng lo!" Sapa teman Arsen sambil salaman ala laki-laki.


"Mau tanding gak Bro? Hadiahnya lumayan loh," tawar Hendrick teman Arsen yang merupakan leader disitu.


"Sure."


"Ok Bro ambil posisi. Bentar lagi mulai. Good luck!" ucap Hendrick menepuk bahu Arsen dan berlalu.


Arsen pun masuk kembali ke mobilnya dan mengambil posisinya. Tak lama, terdapat suara deruman mobil lain di sampingnya pertanda lawannya sudah datang.


Seorang cewek dengan pakaian minim ke tengah jalan lalu melemparkan sebuah kain pertanda pertandingan telah dimulai.


Mobil Arsen dengan lawannya telah melaju dengan kencang saling menyalip satu sama lain. Dan pada akhirnya pun Arsen yang memenangkan balapan kali ini.


"Selamat Bro. Lo emang gak pernah ngecewain," ucap Hendrick memberi selamat dan diikuti yang lainnya.


"Uangnya mau diapain Bro?" Tanya Hendrick.


"Seperti biasa aja." seperti biasa yang dimaksud Arsen adalah menyumbangkan sebagaian ke panti asuhan atau pada yang lebih membutuhkan dan sebagiannya lagi digunakan temannya untuk pesta kecil-kecilan


"Okay, thanks Bro."


"Hmm."


Arsen pun pergi duduk bersama teman-temannya. Harusnya Arsen ikut senang-senang bersama teman-temannya. Tapi entah kenapa pikirannya terus tertuju pada Adeeva.


Merasa suntuk, akhirnya Arsen memutuskan untuk pulang.


"Gue pulang dulu," pamit Arsen.


"Sen! Nitip kunci kosannya Hendrick. Dia lupa ngambil. Gue udah nelpon dia tadi dan Hendrick minta tolong dibawain ke club. Gpp kan Sen? Sekalian kan lo mau pulang."


"Iya. Sini kuncinya," ucap Arsen.


Setelah menerima kunci, Arsen memasuki mobilnya dan melaju ke club tempat Hendrick berada.


Sesampainya, Arsen langsung masuk dan menemui Hendrick yang sedang berada di pojokan. Lantas Arsen pun segera menghampirinya dan memberikan kunci kosan hendrick.


"Nihh kunci kosan lo!" Ucap Arsen.


"Thanks Bro dan sorry udah ngerepotin," balas Hendrick.


"No problem. Kayak sama siapa aja lo."


"Minum?" Tawar Hendrick.


"Nggak," tolak Arsen halus.


"Tau deh  yang alim gak mau minum," canda Hendrick yang hanya dibalas senyum kecil dari Arsen.


"Padahal malam ini minuman gratis loh. Soalnya ada yang ultah," lanjut Hendrick sedangkan Arsen hanya ber-oh-ria saja.


Lalu tak sengaja Arsen melihat ke arah sofa di sudut lain. Pandangannya tertuju pada sepasang manusia yang berdiri membelakanginya. Arsen merasa tidak asing pada kedua punggung itu.


Kening Arsen bahkan mengerut berusaha menebak siapa kedua orang itu. Lama tak bisa menebak akhirnya Arsen mengalihkan pandangannya pada Hendrick.


"Rick! Toilet dimana?" Tanya Arsen.


"Dari sini lurus aja terus belok kanan lalu kiri," jawab Hendrick.


Setelah mendapat jawaban, Arsen segera ke toilet. Beberapa saat kemudian, Arsen keluar dan berjalan keluar tapi tiba-tiba Arsen mendengar teriakan minta tolong di lorong toilet wanita.


Arsen pun segera ke lorong itu dan menemukan pria yang sedang berusaha mencium gadis di depannya dengan paksa.


Tak mau membuang waktu, Arsen segera menarik cowok itu dan memukulnya membabi buta. Beberapa kali cowok itu membalas pukulan Arsen juga.


Namun, pada akhirnya cowok itu dikalahkan oleh Arsen dan pingsan setelah mendapatkan tendangan kuat di kakinya.


Dengan napas terengah-engah, Arsen menghampiri cewek yang berdiri gemetar. Arsen kaget melihat cewek yang berdiri di depannya adalah cewek yang selalu berada di dalam pikirannya, Adeeva.


Arsen tak habis pikir, apa yang dilakukan Adeeva di club dengan baju minim. Berbagai pikiran negatif mulai bermunculan di dalam otak Arsen.


Amarah Arsen langsung memuncak hingga Arsen menarik tangan Adeeva hingga tubuh Adeeva menabrak dada bidangnya. Arsen lalu membuka jaketnya dan melingkarkannya di bahu Adeeva untuk menutupi bahunya yang terbuka.


Setelah itu, Arsen menarik tangan Adeeva untuk keluar dari club.


Sesampainya di samping mobil Arsencowok itu langsung mengeluarkan kata-kata yang dipendamnya sedari tadi.


"Apa lo udah gila huh!"


"ARSEN!" Adeeva kaget.


"Kenapa? Kaget liat gue disini?"


"Ma--"


"Lo ngapain ke club? Pake baju kekurangan bahan kek gini? Tampilan lo yang kek gini kayak ****** di dalam sana tau nggak!" Potong Arsen dengan makiannya yang langsung mendapat tamparan oleh Adeeva.


"Kalau ngomong tuh dijaga ya!" Ucap Adeeva menatap Arsen dengan nanar.


"Apa? Memang benar kan? Bahkan tadi lo hampir aja--"


"CUKUP! Puas lo ngehina gue sekarang? Dan apa lo pikir gue dengan senang hati masuk ke tempat terkutuk itu? TIDAK! SAMA SEKALI TIDAK ARSEN! Apa di otak lo sekarang cuma ada hal-hal negatif tentang gue!" Potong Adeeva dengan tangisnya yang membuat Arsen mengepalkan tangannya.


"Gue antar lo pulang!" Ucap Arsen dengan dingin.Tapi jawaban Adeeva membuat Arsen geram.


"Nggak perlu! Gue nggak mau dianterin sama orang yang udah ngehina gue," tolak Adeeva sambil mengusap air matanya.


"Jangan keras kepala, ini sudah tengah malam!" Ucap Arsen dengan mutlak.


Tak ada pilihan lain akhirnya Adeeva pun masuk ke dalam mobil sport Arsen. Daripada ia pulang sendirian bisa saja ada preman-preman yang mengganggunya.


Setelah sampai di depan rumah Adeeva, tanpa mengucapkan sepata kata, Adeeva langsung keluar dari mobil Arsen.


Sedangkan Arsen memukul stirnya lalu melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan Adeeva  yang masih berdiri di depan rumahnya.


***


Eaoknya, Adeeva bangun kesiangan. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Untungnya hari ini adalah hari minggu jadi tidak sekolah.


Baru kali ini Adeeva bangun setelat ini. Biasanya, dia selalu cepat bangun walaupun hari libur.


Adeeva segera turun menuju dapur karena jebetulan perutnya sudah minta diisi.


Saat sampai di depan meja makan, Adeeva bingung melihat note kecil yang tertempel di meja.


"Mama pergi dulu. Makanan sudah disiapkan di meja"


Adeeva merasa sedih membaca note itu. Seakan Mamanya membuat jarak dengannya. Adeeva akui memang kesalahan bersumber darinya. Sekarang Adeeva bingung mencari cara agar Mamanya kembali seperti dulu. Pasalnya ini adalah kali pertama Mamanya seperti ini.


***


Hari senin pagi Adeeva lagi-lagi bangun kesiangan. Dia hampir terlambat padahal akan diadakan upacara. Saat Adeeva mencari topi di tasnya, dia kelimpungan karena tidak menemukannya.


"Duhh kayaknya gue lupa bawa deh. Pasti nanti  gue dihukum karena gak pake atribut lengkap," batin Adeeva cemas sambil mencari topinya di laci mejanya.


Terdengar bel pertanda upacara akan segera dimulai sudah berbunyi. Namun Adeeva tak kunjung menemukan topinya.


Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Adeeva berjalan keluar menuju lapangan dengan rasa khawatir.


Namun Adeeva tiba-tiba merasakan sebuah tangan memasangkan topi di atas kepalanya.


Adeeva pun mendongkak dan...


-TBC-


yuhhuuuu akhirnya selesai juga...


Jangan lupa like and comment yaa