(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 35



Happy Reading


.


.


.


"Siapa orang itu? Apa dia juga yang nolong Resya kemarin?" Ucap Arsen ragu.


"Kalau benar iya. Apa orang itu emang nguntit Resya?"


"Mungkin. Apa lagi dia tau password ponsel Resya. Apa dia hacker?"


"Tapi tujuannya apa? Kita gak tau niatnya baik atau buruk."


"Lo kan pinter nih, Fan. Lo lacak kek kemana aja Resya setelah dari kafe," pinta Arsen.


"Ck gue gak secerdas itu kali, Sen," keluh Fandi.


"Sekelas lo! Aldrian! Dia kira-kira bisa gak?" Sahut Arsen.


"Kayaknya bisa deh. Gue akuin dia cerdas banget. Jenius. Tapi apa dia mau?" Fandi mulai ragu. Pasalnya, Aldrian itu orangnya pendiam di kelas. Baru berbicara ketika kita yang mulai. Dikatakan dingin juga tidak. Dia tidak jarang tersenyum asalkan orang itu sopan. Ia akan dingin jika ia dihadapkan dengan cewek-cewek alay. Tidak nyaman mungkin.


"Tapi gak ada salahnya kita coba kan?"


"Yaudah iya ntar gue tanya Aldrian kalau dia udah masuk. Dia gak ke sekolah hari ini," jelas Fandi.


***


Sepulang sekolah, Adeeva singgah membeli buah untuk dibawah ke rumah sakit. Ia akan menjenguk kakaknya. Setelah membeli buah, Adeeva segera meminta sang Supir mengantarnya ke rumah sakit.


Setelah sampai, Adeeva mendapati kedua orang tuanya dan Dhea di depan ruang rawat Dion. Adeeva mulai was-was saat melihat ekspresi mereka. Bahkan mereka tak menyadari kehadiran Adeeva. Semua larut dalam pikiran masing-masing.


"Pa, Ma, Dhea. Kalian kenapa di luar? Kak Dion baik-baik aja kan?" Tanya Adeeva.


"Kakak kamu kritis. Tadi malam ada yang menyerangnya. Baru tadi pagi seorang suster yang menemukannya tergeletak di lantai bersimbah darah," jelas Hendra.


Adeeva tertegun. Kemarin Resya, sekarang kakaknya. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa semua seperti ini. Siapa yang mencelakakn keduanya?


Adeeva lalu duduk di samping mamanya. Menunggu dokter yang masih menangani kakaknya. Tak lama kemudian dokter pun keluar.


"Gimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya Intan mendekati sang Dokter.


"Anak Ibu sudah melewati masa kritisnya. Sekali lagi saya sebagai dokter di rumah sakit ini memohon maaf karena kurangnya keamanan rumah sakit hingga seseorang bisa melukai putra Anda," ucap Dokter itu.


"Iya Dok. Saya hanya minta menangani anak saya agar cepat sembuh," ucap Hendra. Ia tak mau menyalahkan siapapun di sini. Karena ia pikir dimanapun Dion berada pasti orang itu akan tetap melukai Dion.


"Itu sudah pasti, Pak."


"Apa kami bisa menjenguknya sekarang?" Tanya Intan.


"Bisa Bu. Tapi hanya 1 2 orang demi menjaga ketenangan pasien."


"Iya Dok."


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter itu.


Hendra dan isyrinya pun masuk untuk melihat keadaan Dion. Sedangkan Adeeva dan Dhea hanya saling diam. Tak ada yang berniat memulai percakapan.


***


Sudah beberapa hari berlalu keadaan Dion mulai membaik. Orang itupun tak pernah membali lagi. Mungkin sudah puas. Tapi Dion tidak diam saja. Ia akan membalas orang itu. Ia sudah meminta orang-orangnya untuk mencari orang itu.


Dion yakin. Orang yang menolong Resya dan menyerangnya di rumah sakit adalah orang yang sama. Orang itu menggores tangannya lalu menusuknya. Hanya pada satu tangan. Tepatnya tangan yang telah menampar Resya.


Asyik dengan lamunannya hingga Dion tak menyadari kehadiran Adeeva dan Intan.


"Dion!" Panggil Intan yang ke sekian kalinya hingga Dion tersentak dari lamunannya.


"Ah iya Ma," balas Dion memandang Intan dengan senyum tipis lalu memandangi Adeeva yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Ini Mama bawakan kamu makan siang. Ini Mama sama Adeeva lho yang masak," ucap Intan sambil membuka rantang makanan yang dibawanya.


"Va, jangan main hp mulu. Sini bantu kakak kamu makan. Mama mau ke toilet dulu," lanjut Ratna setelah makanan tertata.


Adeeva segera menghentikan aktivitasnya lalu mendekati mamanya dan kakaknya.


"Nih kamu suapin kakak kamu," pinta Intan.


"Gak usah repot-repot Ma. Dion bisa sendiri," tolak Dion halus yang bertolak belakang dengan hatinya yang ingin Adeeva mau menyuapinya.


"Gpp Dion lagian Adeeva gak ada kerjaan lain. Udah ya, Mama ke toilet dulu," sela Intan.


"Iya kak gpp. Tangan kanan Kakak juga belum sembuh kan? Pasti susah makan dengan tangan kiri aja. Jadi biar Adeeva bantu," ucap Adeeva lalu mulai menyuapi Dion.


Dion menatap makanan yang disodorkan Adeeva lalu menatap Adeeva. Mengingat bahwa Adeeva juga ikut memasak untuknya membuat ia senang. Karena ia tahu kalau Adeeva tak pandai memasak. Jadi saat Adeeva rela memasak untuknya membuat ia merasa begitu senang ditambah lagi disuapi. Dion tersenyum lalu menerima suapan dari Adeeva.


Tak lama kemuadian Intan telah kembali dari toilet. Makanan Dion pun telah habis.


"Oh iya Va, gimana keadaan Resya? Apa dia masih kritis?" Tanya Intan pada Adeeva yang telah membereskan rantang.


Tepat saat itu, Dion yang tengah minum langsung tersedak.


"Kak Dion gpp?" Tanya Adeeva khawatir yang dijawab gelengan oleh Dion.


"Resya gak ada kabar, Ma. Entah dia udah membaik atau malah sebaliknya," jawab Adeeva pada pertanyaan mamanya tadi.


Dion yang mendengarnya tersenyum tipis. Tak ada yang menyadari bahwa Dion sedang senang saat ini. Satu pengganggu telah ia singkirkan. Yah walaupun belum sepenuhnya. Tapi tak apa menurut Dion.


"Iya, Ma. Kita berdoa saja semoga Resya cepat sembuh," balas Adeeva.


"Aamiin."


Tapi Dion malah berharap sebaliknya.


***


"Ini udah hampir dua minggu tapi Resya belum ada kabar," ucap Sevanya menopang dagunya sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Lo gak coba telpon gitu, Nya?" Tanya Arsen sambil makan mie ayam.


"Udah. Tapi sibuk terus. Kalau gak sibuk ya gak diangkat. Kesel gue. Nah kalian sendiri udah coba?" Balas Sevanya menatap Ken, Arsen, dan Adeeva.


"Udah. Tapi sama kek lu."


"Gue juga. Makanya gue nanya elo. Kan pas di rumah sakit di nerima telpon elo tuh."


"Gue nggak kenal sama orang tua Resya."


Jawaban berbeda-beda namun hasilnya sama. Tidak ada yang menerima kabar dari orang tua Resya.


"Eh Fan! Sini gabung!" Teriak Arsen memanggil Fandi yang kebetulan sedang membawa makanan pesanannya tak jauh dari meja Arsen dkk. Cara berjalan Fandi sudah seperti semula. Kakinya sudah sembuh mungkin.


"Gpp nih gabung?" Tanya Fandi saat telah dekat.


"Gpp lah. Daripada lo makan sendiri," balas Arsen tanpa menghiraukan teman-temannya. Ken dan Sevanya mengerutkan alisnya bingung. Sejak kapan Arsen akrab begitu sama Fandi?


Beda dengan Adeeva yang tersenyum. Tak menyangka Arsen bisa dekar dengan Arsen. Senang, tentu saja. Ia sudah melupakan apa yang terjadi dulu. Berkat Resya. Ia, Arsen, dan Fandi kini berteman baik.


"Bener tuh Fan. Lo kayak sama siapa aja," imbuh Adeeva dengan senyumnya.


"Thanks." Fandi langsung duduk di samping Arsen yang berhadapan dengan Sevanya.


Fandi meminum minumannya setelah makan. Namun ia langsung tersedak saat Arsen menendang kakinya. Fandi memandang Arsen dengan protes.


"Lo makan kayak nggak dikasi makan setaun aja!" Celutuk Ken melihat teman sekelasnya yang pintar itu makan dengan rakus.


"Sehari berasa setahun!" Balas Fandi.


"Lo kayak orang yang ldr-an tau gak. Sehari berasa setahun. Anjayyyy," cibir Arsen yang disebelah Fandi yang disambut tawa oleh Ken.


"Hai Nya," sapa Fandi saat tak sengaja menatap Sevanya yang juga tengah menatapnya. Tapi cewek itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


"Pssttt! Gimana?" Bisik Arsen menendang kecil kaki Fandi.


"Gimana apanya?" Balas Fandi balik berbisik.


"Ituloh si Aldrian udah masuk?" Kesal Arsen masih berbisik.


"Ohh iya dia udah masuk tadi. Ntar gue samperin deh," balas Fandi.


"Kalian ngapa bisik-bisik sih?" Tanya Ken penasaran melemparkan kulit kacangnya pada Arsen dan Fandi.


"Jorok lo Ken. Ada liur lo nih nempel di pipi gue!" Kesal Fandi mengusap kasar pipinya.


Arsen dan Ken tertawa melihat wajah kesal Fandi. Lalu Ken melempar lagi kulit kacangnya dan saat ini tepat mendarat di dalam mulut Arsen yabg tertawa.


Kali ini gantian Fandi yang menertawakan Arsen.


"Sialan lo Ken!" Arsen mengeluarkan kulit kacang dalam mulutnya lalu melemparkannya pada Ken. Namun Ken langsung menangkisnya hingga kulit kacang itu nyangkut di rambut Sevanya.


"Oops!"


"Arsen! Ken!" Geram Sevanya dengan wajah yang sudah memerah. Kalian tau kan? Kalau orang pendiam marah kek gimana?


Arsen dan Ken sudah mengambil ancang-ancang untuk lari sebelum Sevanya menganiaya mereka berdua.


Adeeva hanya geleng-geleng melihat kelakuan pacar dan sahabatnya. Fandi? Ia malah tercengang melihat kelakuan mereka. Sekocak itu kah persahabatan mereka?


***


Pelajaran terakhir telah selesai di kelas XI IPA 1. Semua siswa telah membereskan buku-buku mereka untuk dimasukkan ke dalam tas. Fandi dengan cepat memasukkan buku-bukunya saat ia melihat Aldrian telah berjalan menuju pintu kelas.


"Al!" Panggil Fandi membuat Aldrian menghetikan langkahnya dan berbalik menatap Fandi.


"Ya?"


"Gue boleh minta tolong gak?" Tanya Fandi pelan.


"Apa?" Balas Aldrian heran. Ia merasa heran. Tumben Fandi meminta tolong padanya.


"Ehm jadi gini. Lo kan bisa ngelacak. Lo bisa bantuin gue sama Arsen ngelacak ponsel Resya sebelum kecelakaan. Lo pasti udah tau kan berita Resya yang masuk rumah sakit. Sebenarnya dia ditusuk sama seseorang. Gue sama Arsen mau nyari tau," ucap Fandi yang berakhir dengan bisikan.


Aldrian terdiam. Hal itu membuat Fandi ketar-ketir. Ia mulai berpikir kalau Aldrian akan menolak.


"Kalau lo gak mau gpp. Nan--"


"Gue mau," potong Aldrian.


"Eh serius? Thanks ya. Kita ketemu dimana?"


"Terserah lo aja. Gue ngikut aja. Lo kabarin gue aja kapan dan dimana. Gue pulang dulu,"


Fandi segera menghubungi Arsen bahwa Aldrian menyetujuinya. Fandi begitu semang sampai ia jingkrak-jingkrak. Sepertinya ia telah tertular kegilaan Arsen dan Ken.


-TBC-