
'Masalah ada untuk diselesaikan,bukan dibiarkan begitu saja'
Happy Reading
.
.
.
"Iya hehe kayak sama siapa aja lo. Kan gue adek lo. WOOIIYYY!!!"
"Sini lo!" Perintah Resya dengan tegas dan jangan lupakan dengan muka garangnya.
"Ada apa Sya?" Tanya Fandi mendekat.
"Duduk!" Fandi pun duduk di samping Resya.
"Lo tau kan kesalahan lo apa? Apa lo udah minta maaf sama Adeeva?"
"Belum," jawab Fandi.
"Kenapa belum?" Tanya Resya mengintrogasi Fandi.
"Gue belum berani ketemu sama Adeeva."
"Berani buat kesalahan berani minta maaf dong. Cemen banget sih jadi cowok."
"Kejadian di club, gue sama sekali gak ada maksud apapun!" Fandi mulai naik pitam karena Resya terus menyalahkan/memojokkannya.
"Terus apa?" Balas Resya dengan suara naik 1 oktaf.
"Gue cuma mau ngasih kado sama temen gue yang ultah dan ngobrol sebentar terus Adeeva pamit ke toiletNamun udah lama gak balik-balik. Akhirnya gue nyusul tapi Adeeva gak ada,gak tau kemana. Lo nggak tau gimana kalutnya gue saat itu.Rencana gue yang mau nembak Adeeva setelah dari club gagal! Batal!" Tekan Fandi.
Resya melirik Arsen yang masih menampilkan muka datarnya. Tapi tangannya terkepal kuat.
"Lo mau nembak Adeeva?" Tanya Resya memastikan.
"Gak jelas yang gue bilang tadi?!" Balas Fandi sengit.
"Gue cabut dulu!" Pamit Arsen meninggalkan Resya dan Fandi.
"Lo masih suka sama Adeeva?"
"Masih lah."
"Terus lo masih berharap sama Adeeva?"
"Ya masih lah!" Jawab Fandi kesal.
"Emang lo yakin Adeeva suka juga sama lo?" Tanya Resya yang langsung meruntuhkan harapan Fandi.
"Lo nggak peka atau gimana ya. Lo gak bisa baca gerak-gerik Adeeva suka ama siapa gitu," ucap Resya pelan.
"Ok gue nyerah."
"Nah gitu dong!" Balas Resya senang yang langsung dapat pelototan dari Fandi.
"Nah sekarang kan lo tau Adeeva sukanya sama siapa. Nah berarti lo ikhlas dong Adeeva jadian ama Arsen?" Tanya Resya menaik turunkan alisnya.
"Iya. Adeeva lebih baik sama Arsen yang bisa ngejaga dia."
"Beneran?"
"Bener."
"Nah kalau gitu lo mau bantuin gue sama Arsen?" Tanya Resya menaikkan sebelah alisnya.
"Sure!"
***
Adeeva dengan riang melangkah keluar dari kamarnya. Namun saat ia berbalik setelah mengunci pintu kamarnya, ia dikagetkan dengan Dion yang sudah berdiri di depannya.
"Ehh? Kak Dion? Selamat pagi Kak," sapa Adeeva pada Dion.
"Pagi," balas Dion dengan senyum kecilnya.
Adeeva tercengang melihatnya. Pasalnya baru pertama kalinya ia melihat kakaknya itu tersenyum.
"Mau turun ke bawah kan? Barengan aja," ajak Dion menarik tangan Adeeva turun ke ruang makan.
"Duhh senangnya kalau keluarga kita lengkap begini," ucap Intan saat Adeeva dan Dion sudah duduk.
"Sering-seringlah Dion kamu pulang ke rumah atau tinggal saja sekalian disini, gak usah tinggal di apartemen kamu," ucap Hendra pada anak sulungnya itu.
"Dion mau mandiri Pa," jawab Dion.
"Tapi ntar aku kangen sama kak Dion," sahut Dhea.
"Ntar kakak sering-sering deh pulang ke rumah," balas Dion.
"Janji lho ya."
"Hmm."
"Udah sekarang kita sarapan."
Setelah sarapan, Adeeva memakai tasnya.
"Ma, Pa, Adeeva berangkat dulu," pamit Adeeva menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Kamu pakai mobil aja Va," ucap Hendra yang kesekian kalinya pada Adeeva.
"Gak usah Pa," balas Adeeva.
"Kalau gitu kamu dianterin sopir ya."
"Gak perlu juga Pa. Adeeva nyaman kek gini."
"Yasudah kalau kamu belum mau. Tapi kalau kamu sudah mau jangan sungkan bilang sama Papa & Mama ya."
"Siap, Pa."
"Hati-hati ya."
Adeeva segera keluar dari rumah. Tapi baru saja ia menutup pintu, Dhea sudah menariknya ke sebuah mobil.Ternyata mobil itu adalah mobil milik Dion.
"Pagi ini kita dianter sama kak Dion ke sekolah. Gak boleh nolak!" Ucap Dhea yang membuat Adeeva pasrah.
Selama di perjalanan, Dhea terus berceloteh ini itu dengan Adeeva. Sedangkan Dion hanya jadi pendengar yang baik. Hingga tak sengaja Adeeva bertatapan dengan Dion lewat kaca spion mobil dan tiba-tiba Dion tersenyum kepadanya. Ini sudah yang kedua kalinya Dion tersenyum padanya hari ini. Sungguh tak terduga.
Tak terasa mereka sudah sampai di pekarangan sekolah Dhea.
"Makasih, Kak," ucap Dhea mengecup pipi Dion yang dibalas kecupan pula dikeningnya dari dang kakak.
Setelahnya, Dhea turun dari mobil dan melambaikan tangan. Sekarang hanya ada Dion dan Adeeva dalam mobil.
"Pindah ke depan," pinta Dion.
"Iya, Kak," balas Adeeva menuruti permintaan Dion.
Tak seperti sebelumnya yang suasana mobil penuh dengan celoteh, kali ini begitu sunyi. Tak ada yang mau memulai pembicaraan. Perjalanan yang hanya memerlukan waktu beberapa menit pun terasa begitu lama bagi Adeeva.
Hingga akhirnya tibalah mereka di depan sekolah Adeeva.
"Makasih Kak udah nganterin Adeeva ke sekolah," ucap Adeeva hendak turun dari mobil. Namun cekalan ditangannnya membuat ia mengurungkan niatnya.
Dan selanjutnya yang terjadi membuat Adeeva begitu terkejut. Yaitu ketika Dion mengecup keningnya.
"Semangat sekolahnya," ucap Dion.
"Iya kak makasih," ucap Adeeva canggung dan segera turun dari mobil.
Adeeva melangkah dengan cepat memasuki gedung sekolahnya. Sesekali Adeeva menengok ke belakang melihat mobil Dion yang masih stay di tempatnya tadi. Akhirnya, mobil itu pun melaju setelah sang pemilik tidak melihat Adeeva lagi.
***
Saat ini Arsen, Adeeva, Resya, Ken, dan Vanya sedang berada di kantin seperti biasanya.
"Sen!" Panggil Ken.
"Hmm."
"Sen!" Panggil Ken lagi.
"Hmm."
"Sen!"
"Apa sih manggil mulu!" Ucap Arsen memandang Ken dengan kesal.
"Nah gitu dong. Kalau diajak ngomong natap lawan bicaranya aturannya kan gitu," balas Ken dengan cengirannya.
"Kan gue lagi makan. Aturannya kan gak boleh ngomong kalau lagi makan," balas Arsen sengit.
"Pokoknya, aturannya disini elu yang salah," ucap Ken yang langsung mendapat tabokan dari Asren.
"Aduuhhh sakit ****!" rutuk Ken.
"Rasain tuh!" Celutuk Resya yang membuat mereka tertawa, kecuali Ken tentunya yang menampilkan muka kesalnya.
"Sen!" Panggil Ken.
"Ckk apalagi sih nyet!"
"Arsen!"
"Manggil gue lagi gue tabok lagi lu!"
"Emang apaan sih Ken. Gue yang denger aja kesel loh!" Celutuk Resya.Sedangkan Sevanya dan Adeeva hanya diam menikmati makaanan masing-masing.
"Kan lo besok ultah nih!" Ucap Ken.
"Ya terus?" Tanya Arsen heran hingga menimbulkan kerutan di dahinya.
Arsen masih memandang Ken yang sedang menyuapkan suapan terakhirnya untuk mendengar apa yang akan dikatakan sahabatnya itu.
"Jadi...." ucap Ken sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Jadi...?" Ulang Arsen, Resya, Sevanya, dan Adeeva sambil memandang Ken menunghu jawaban.
"Jadi lo yang bayar!" Teriak Ken yang sudah berlari menjauh dari teman-temannya.
Arsen hanya dibuat melongo melihat Ken yang sudah berlalu. Setelah sadar...
"Sialan lo Ken!! Awas lo ya!!!" Balas Arsen dengan teriakannya.
"Gue juga ya Sen!" Ucap Resya dan Sevanya yang sudah ikutan ngacir meninggalkan Arsen dan Adeeva berdua.
Hal itu membuat suasana canggung mulai terasa.
"Gue bayarin juga ya!" Ucap Atsen pada Adeeva dengan senyumannya.
"Nggak usah. Makasih," tolak Adeeva melanjutkan makannya.
"Itu tadi pernyataan bukan pertanyaan," balas Arsen dengan cengirannya.
"Tadi sama yang lain marah-marah disuruh bayar," cibir Adeeva pada Arsen.
"Kan lo beda!" Balas Arsen memandang Adeeva dengan intens.
Mendengar itu, Adeeva langsung tersedak makanannya. Sontak Arsen segera memberikan Adeeva dan membantunya.
"Makanya pelan-pelan makannya," nasihat Arsen mengusap sudut bibir Adeeva yang terkena sisa makanan.
Adeeva balas menatap Arsen yang kini kembali memandangnya. Hal itu memberi efek pada jantung Adeeva yang sejak tadi sudah berdetak kencang. Tapi Adeeva berusaha menjaga raut mukanya agar tetap terlihat datar.
"Kayaknya lo masih marah ya sama gue," ucap Arsen memperbaiki posisi duduknya. Tak ada respon dari Adeeva, Arsen pun berdiri dari duduknya.
"Nanti ke rooftop ya, gue tunggu," ucap Arsen dan berlalu untuk membayar makanan mereka tadi. Sedangkan Adeeva hanya menghela napas. Entah ia akan datang atau tidak.
***
Jam ketujuh di kelas XI MIPA 2 sedang kosong. Karena hal itu, Arsen segera berjalan keluar kelas setelah bertatapan dengan Adeeva.
Adeeva yang mengerti isyarat dari Arsen langsung mengikuti cowok itu. Yah, Adeeva memutuskanuntuk datang dan menyelesaikan masalah mereka. Ia akan membicarakan dengan kepala dingin hingga tidak menimbulkan perselisihan lagi. Tiba-tiba Adeeva menghentikan langkahnya...
-TBC-