
Happy Reading
.
.
.
"Sepertinya ada yang menghapus bagian itu Fan," ucap Arsen.
"Ehh iya bener. Ck," balas Fandi mengacak rambutnya kesal.
"Yang ini, Pak!" Tunjuk Resya pada monitor yang memperlihatkan lorong menuju toilet.
Lagi-lagi penjaga cctv itu melakukan apa yang disuruh.
"Kok malah liat itu sih Sya. Apa hubungnnya coba. Itu bukan lorong ke toilet cewek. Lorong toilet cewek di dalemnya lagi," ucap Fandi.
"Ya gue tau. Katanya lo pinter. Ini bisa jadi petunjuk. Siapa yang masuk ke toilet. Dan itu patut dicurigai," balas Resya sambil menabok Fandi.
Tampaknya tabokan Resya lumayan keras hingga Fandi meringis dibuatnya.
"Barbar banget sih jadi cewek!" Gerutu Fandi mengusap lengannya yang ditabok Resya.
"Apa lo? Mau lagi?" Tanya Resya mengangkat tangannya.
"Lo berdua bisa diem gak?" Kesal Arsen melihat Resya dan Fandi yang selalu saja tidak bisa akur.
Akhirnya Resya dan Fandi diam sambil memandangi layar monitor di depan mereka. Tampak seperti biasa orang silih berganti ke toilet. Hingga tak lama kemudian tampak Adeeva memasuki lorong itu. Setelahnya tampaklah Arsen lagi yang masuk. Tak lama kemudian seorang wanita masuk ke lorong itu dan tak lama lagi keluarlah wanita itu.
"Bentar deh. Kayaknya ada part yang dihapus lagi," ucap Arsen.
"Tampaknya ini memang sudah direncanakan. Gimana kita dapat barang bukti coba," keluh Resya.
"Ehh **** ya kita. Kenapa kita gak cek cctv cafe juga? Kan Adeeva salah paham juga pas kita di cafe," celutuk Fandi.
"Iya bener. Kita ke cafe sekarang," seru Resya.
"Tapi iya gak sih gak dihapus juga?" Ucap Fandi mengusap kasar wajahnya.
"Gak boleh pesimis. Kita ke sana sekarang juga," ucap Arsen.
"Besok aja," ucap Fandi sambil berjalan keluar dari ruang cctv.
"Lho? Kenapa harus besok? Sekarang aja!" Protes Resya menyusul Fandi.
"Cafe buka cuman sampe jam 10 malem. Lo liat gih udah jam berapa," balas Fandi.
"Jam 1.15 pagi," gumam Arsen memandangi jam tangannya.
"Astaga! Yodah kita pulang sekarang. Anterin gue, Fan!" Ucap Resya menggandeng tangan Fandi.
"Sama gue aja, Sya!" Ucap Arsen.
"Gak ah. Ntar pacar lo salah paham lagi. Kuy lah Fan!" Balas Resya mempercepat langkahnya dengan Fandi.
"Pacar ya? Gue masih gak nyangka gue udah jadiaan ama Adeeva," gumam Arsen menggaruk tengkuknya sambil senyum-senyum gak jelas.
"Bisa gila gue. Adeeva I love U."
***
"Kak Arsen?" Kaget Dhea saat membuka pintu rumahnya dan mendapati Arsen dengan bunga di tangannya.
"Iya. Selamat pagi Dhea," sapa Arsen dengan senyumnya.
"Kak Arsen ngapain ke sini? Mau jemput aku ya, Kak?" Tanya Dhea dengan senyum kecilnya.
"Ah? Lo bisa aja bercandanya. Gue ke sini mau jemput Adeeva," balas Arsen tak memperhatikan perubahan wajah Dhea.
"Ouh kalau gitu kak Arsen masuk dulu. Kak Adeeva masih siap-siap kayaknya. Aku ke atas dulu Kak," ucap Dhea mempersilahkan Arsen masuk.
"Makasih." Arsen memasuki rumah yang sama besar dengan rumahnya. Namun ada yang beda. Rumah ini dihuni oleh keluarga yang lengkap. Sedangkan di rumahnya? Hanya ia sendiri yang ditemani ART.
"Arsen hei. Aku manggilin kamu dari tadi!" Panggil Adeeva membuat Arsen menghentikan lamunannya tentang keluarga yang utuh.
"Ah maaf," sesal Arsen.
"Ikut sarapan yuk," ajak Adeeva memegang lengan Arsen.
"Eh ada Arsen. Kok kamu nggak bilang sih nak kalau ada Arsen," ucap Intan yang tiba-tiba ada di ruang tamu.
Arsen hanya tersenyum lalu menyalim tangan Intan.
"Selamat pagi tante," sapa Arsen.
"Pagi juga Arsen. Kamu mau jemput Adeeva ya?" Tanya Intan.
"Iya tan. Kalau boleh?" Balas Arsen.
"Tentu saja boleh. Tapi kamu ikut sarapan dulu yuk."
"Iya. Makasih tan."
Akhirnya Intan berlalu ke ruang makan dengan Adeeva dan Arsen yang menyusul di belakangnya.
"Mama yah kalau ada kamu. Akunya dicuekin!" Kesal Adeeva.
"Gpp lah kan itu artinya mama kamu restuin kita," bisik Arsen menaik-turunkan alisnya.
"Apaan sih!" Balas Adeeva yang wajahnya sudah memerah.
"Aku suka liat pipi kamu merah kek gini. Kamu pake blush on-nya ketebelan ya?" Goda Arsen.
"Jangan godain aku. Maluuuu," rengek Adeeva menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Arsen! Adeeva! Ayo sini," panggil Intan di ruang makan.
"Iya ma," sahut Adeeva.
Arsen dan Adeeva telah sampai di meja makan yang telah ada Intan dan Hendra di situ.
"Selamat pagi om," sapa Arsen menyalim tangan Hendra.
"Wahh ini yang namanya Arsen?" Seru Hendra dengan senyum yang merekah.
"Iya om," balas Arsen.
"Kamu pacarnya Adeeva?" Tanya Hendra.
"Iya om," jawab Arsen dengan senang.
"Oh udah pacaran? Adeeva lok nggak bilang sama mama," ucap Intan pura-pura marah.
"Hehe maaf, Ma" ucap Adeeva.
"Ayo Arsen sarapan."
"Iya Om."
"Mau selai apa?" Tanya Adeeva pada Arsen.
"Coklat aja," jawab Arsen.
Adeeva pun segera mengoleskan roti itu dengan selai coklat sesuai yang diinginkan Arsen. Lalu memberikannya pada cowok itu.
"Nih."
"Makasih ya."
"Sama-sama." Tepat setelah Adeeva bicara, datanglah Dion dan Dhea dari lantai atas lalu duduk di tempatnya masing-masing. Tak sengaja pandangan Dion dan Arsen bertubrukan. Keduanya saling menatap datar.
"Mau nambah lagi?" Tanya Adeeva pada Arsen.
"Ah nggak usah," jawab Arsen menggelengkan kepalanya.
"Dion kenalin ini Arsen pacarnya Adeeva," ucap Hendra pada Dion yang baru saja selesai makan rotinya.
"Udah kenal kok pa," balas Dion melanjutkan makannya.
"Om, Tante. Arsen sama Adeeva pamit berangkat sekolah dulu. Assalamualaikum," ucap Arsen menyalim tangan Hendra dan Intan yang kemudian disusul Adeeva.
***
"Pj pj!" Sahut Ken mendekati Adeeva dan Arsen yang duduk berdampingan. Memang hari ini Resya gak ke sekolah. Entah mengapa. Ditelopon pun gak dijawab.
"Lo tau darimana?" Tanya Adeeva.
"Gak usah nanya gue tau darimana. Pokoknya gue ama Seva nagih pj!" Ucap Ken merangkul bahu Sevanya.
"Seva? Ouh panggilan kesayangan nih?" Goda Adeeva.
"Lha? Lo baru ngeh kalau gue manggilnya Seva?" Balas Ken.
"Yaudah gue manggilnya Seva juga ya," ucap Adeeva.
"Nggak boleh. Cuman gue doang. Sen lo jangan nularin jahil lo sama cewek lo lah!" Kesal Ken.
"Udah sayang jangan godain Ken. Mending sekarang kita ke kantin," ucap Arsen menarik lembut Adeeva menuju kantin mendahului Ken dan Sevanya.
"Cieelah sayang. Tau deh yang udah jadian manggilnya sayang-sayangan," goda Ken yang menyusul Arsen dan Adeeva.
"Sama kaya lo kan? Lo panggilan kesayangan lo ke Vanya itu Seva. Eh tali kita beda dikit ya. Gue kan pacaran ama Adeeva. Nah elo?" Ejek Arsen.
"Sialan lo!" Kesal Ken.
"Gihh pacarin Vanya. Udah mesra gitu juga," ucap Arsen.
"Apaan sih Sen. Gak lucu!" Ucap Sevanya yang sedari tadi diam.
"Ehh kok dari tadi gue gak liat Resya? Dia bolos?" Tanya Ken sambil duduk di bangku kantin.
"Dia gak ke sekolah. Kesiangan kali!" Celutuk Arsen.
"Nanti ke rumahnya yuk. Kita tengokin," ajak Sevanya.
"Nggak usah!" Sahut Arsen cepat membuat yang lain keheranan.
"Lho? Kenapa?" Tanya Ken heran.
"Ya lo tau sendiri kan Resya jarang di rumah. Kalau kita dateng dan gak kabarin, percuma kita dateng kalau gak ada Resya," jawab Arsen.
"Ouh kirain ada apa, udah ah gue mau mesen makan banyak-banyak. Mpokkk sini! Gue mau mesen banyak Mpok!!!" Teriak Ken membuat Arsen dan Adeeva menutup telinga mereka. Lain dengan Sevanya, mungkin ia sudah kebal.
***
"Lo kenapa gak ke sekolah?" Tanya Arsen saat Resya telah turun dari kamarnya.
"Males ah. Lebih baik tidur. Baca novel!" Balas Resya sambil memperbaiki poninya.
"Lo jangan males-males sekolah. Lo itu anak satu-satunya orang tua lo. Lo harus banggain mereka," nasihat Arsen.
"Idiihhh sok-soan nasihatin gue padahal kita sama aja," cibir Resya.
"Fandi mana?" Tanya Resya karena tak melihat Fandi di rumahnya.
"Fandi gak bisa ikut. Katanya ada tugas yang harus dia kerjain," jawab Arsen sambil memakan camilan di depannya.
"Ck orang pintar mah gitu ya. Udah yuk berangkat," ucap Resya setelah merasa siap.
Akhirnya sampailah mereka di cafe yang dituju. Mereka berharap kali ini mereka mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan.
"Gimana, Pak? Bisa?" Tanya Resya yang sudah ketar-ketir.
"Bisa. Mari ikut saya," balas penjaga cctv cafe itu.
"Huuffttt makasih, Pak," ucap Resya dengan lega.
"Pak boleh minta rekaman ini?" Tanya Arsen saat menemukan apa yang dicari.
"Boleh."
"Wah terima kasih banyak Pak, Sya hardisknya," ucap Arsen mengadahkan tangannya pada Resya.
Resya pun segera mengambil hardisk yang berada di tasnya. Dengan cepat Arsen mengcopy data yang diinginkannya. Setelah selesai Arsen dan Resya segera keluar dari ruang cctv tak lupa mengucapkan terima kasih pada penjaga cctv yang telah berbaik hati membantu mereka.
"Akhirnya dapet juga. Kita bisa punya bukti buat Adeeva percaya sama kita," ucap Resya legah lalu meminum chocolate drinknya.
"Kapan kita ngasihnya?" Tanya Arsen.
"Kapan ya? Ntar deh gue pikirin. Tapi biar gue aja ya. Lo gak usah ikut-ikutan. Kan lo baru aja baikan sama Adeeva. Ntar kalau berantem lagi kan berabe."
"Yaudah terserah elo."
"Sen, gue masih heran deh. Menurut lo ini semua rencananya kak Dion?"
"Kemungkinan iya. Dia bisa lakuin apapun. Dia sudah kerja, punya penghasilan. Apa sih yang nggak kalau ada uang. Tadi malem aja lo harus nyogok dulu kan penjaga cctv itu," jelas Arsen.
"Segitu cintanya ya sama Adeeva. Eh tapi beneran cinta gak sih? Bukan semacam obsesi kan? Serem ihh," Resya bergidik setelah mengucapkan kalimat itu.
"Entahlah. Yang penting sekarang gue pacaran sama Adeeva. Gue bakal laluin badai dalam hubungan kita. Gue anggap ini sebagai tantangan menuju cinta sejati."
"Cielah seorang Arsen jadi puitis nih sekarang," goda Resya.
"Suatu saat lo akan ngerasain apa yang gue rasa sekarang. Ketika lo udah menemukan cinta lo yang sebenarnya."
"Semoga."
-TBC-
Jangan lupa like yaaa
See u next part...
Mwahh