
'Cinta bukan hanya sekedar kata,tapi sesuatu yang perlu diperjuangkan'
Happy reading
.
.
Tanpa sadar tangan Arsen terkepal.
"Minggir!" Desis Arsen saat akan menghampiri keduanya namun terhenti karena Ken menghadangnya.
Ken bisa merasakan aura tidak bersahabat dari temannya ini. Ken lalu mendudukkan Arsen di kursinya
"Lo kenapa Bro?" Tanya Ken sembari duduk di samping Arsen.
Arsen berpikir sejenak tak mungkin dia menceritakan masalahnya pada orang gesrek macam Ken.
Ken yang tau Arsen ada masalah. Terlihat jelas dari wajahnya yang menegang dan nafasnya yang memburu. Serta akhir-akhir ini Arsen jarang bergabung dengannya dan lain.
"Apa karena Adeeva?" Tebak Ken yang membuat Arsen tercekat.
Melihat perubahan muka Arsen, Ken bisa menyimpulkan walaupun Arsen tak berminat menjawab pertanyaannya. Ken menghela napas.
"Sen, kalau lo kayak gini terus Adeeva bakal lebih jauh dari lo. Jangan samperin Adeeva kalau lo lagi emosi. Tenangin dulu pikiran dan hati lo. Karena dengan emosi semuanya akan jadi petaka yang akan sangat lo sesali!" Ucap Ken menasehati Arsen. Jangan pikir kalau Ken tidak tau mengenai Arsen dan Adeeva. Karena Ken tau bagaimana keduanya selama ini. Hanya saja Ken tidak mau ikut campur. Tapi sekarang demi hubungan mereka agar membaik, Ken rela ikut campur.
Arsen memukul meja yang membuat Ken tersentak kaget.
"Lalu gue harus gimana Ken? Apa gue harus rela ngeliat Adeeva diambil orang lain? Gue gak bisa!" Balas Arsen.
"Gue nggak bilang kek gitu, Sen. Gue cuman bilang buat tenangin hati lo dulu baru samperin Adeeva karena kalau lo nyamperin dengan keadaan penuh amarah kek gini bisa bikin tambah kacau!" Seru Ken.
"Terus apa? Gue harus apa? Gue--gue nggak tau harus ngapain. Gue emang ****," balas Arsen meremas rambutnya.
"Lo harus perbaiki apa yang menjadi masalah diantara kalian." Ken berujar pelan, terkadang sifat gesreknya menghilang ketika menghadapi masalah yang serius.
"Ckk.. lo nggak ngerti masalahnya Ken," ucap Arsen lalu kembali menghempaskan diri di kursi lalu menaikkan kakinya di atas meja.
"Kenapa sih dari tadi lo ngomong gak nyambung terus??? Lo emang bener. Lo itu ****! Pantas aja Adeeva gak suka!" Hina Ken yang merasa greget pada Arsen.
"Maksud lo apa? Huh?" Arsen terpancing emosi.
Sedangkan Ken berniat keluar kelas sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Ia tak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena masalah sepele kek gini. Bagaimana pun juga Arsen sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.
Ken akhirnya beranjak dari duduknya.
"Percuma ngomong sama orang kayak lo. Lo terlalu egois, Sen. Begitupun dengan Adeeva. Kalian berdua hanya mementingkan ego. Dan apa lo mau tau? Selama ego lo masih menang dalam diri lo, maka hubungan kalian gak akan baik seperti yang lo harapin!" Terang Ken lalu keluar dari kelas.
Apa benar yang dikatakan Ken barusan? Lalu apa yang harus dilakukannya untuk menghilangkan egonya yang tingginya selangit ini? Arsen menyambak rambutnya frustadi. Kekesalannya pada Adeeva menguap. Malah sekarang ia kesal. Pada dirinya sendiri.
"Hari ini gue bakal minta maaf sama Adeeva. Tapi gimana caranya? Ngeliat gue aja dia langsung berpaling gak mau liat gue. Aarrrgggghhhhh! Kenapa juga gue harus suka sama Adeeva! Kenapa gak cewek lain aja yang lebih mudah gue gapai?" Batin Arsen dan menendang meja di depannya.
"Adaaauuuwwww sakit!" Jerit Arsen memegang kakinya sebelah yang sakit.
"Sialan nih meja!" Maki Arsen.
"Arsen gila gaess!!" Teriak teman sekelas Arsen yang melihat kejadian itu dan langsung mendapat lemparan sepatu dari Arsen.
"Makan tuh sepatu HAHAHAHAHAH! Emang enak! Sukurin lu!" Ejek Arsen.
"Anjirrrr bau!!! Lo nggak pernah cuci sepatu lo seminggu ya, Sen? Sumpah bau banget. Hueekkk!" Ucap Rico mual seketika.
"Bukan seminggu lagi. Tapi setaun. Keren gak tuh!" Balas Arsen dengan asyiknya tertawa di atas penderitaan Rico.
"Anjirrrr! Parah lo. Apanya yang keren coba? Jorok baru iya!" Ucap Rico membuang sepatu Arsen di tong sampah.
Arsen yang melihatnya sontak saja mengejar Rico hanya memakai sepatu sebelah kiri.
"Njirrr! Berani banget lo ya buang sepatu gue! Awas aja lo kalau gue tangkep, gue sumpel mulut najis lo sama kaos kaki gue yang gak pernah gue cuci selama sekolah. Huh?"
Adeeva tengah bersiap-siap untuk pergi ke mall. Bukan dengan Resya ataupun Arsen. Tapi Fandi. Memang beberapa minggu ini Adeeva selalu bersama Fandi.
Menurut Adeeva, gak ada salahnya berteman dengan Fandi. Dia baik, pintar. Selalu ngajak belajar bareng dan alhasil nilai Adeeva semakin membaik.
Dan karena itu pula Adeeva menerima ajakan Fandi untuk menemaninya ke mall membeli kado untuk temannya yang akan ulang tahun. Tak ada salahnya kan? Sekalian ia bisa refreshing juga.
Baru saja Adeeva selesai bersiap-siap, suara klakson mobil psrtanda Fandi sudah sampai di depan rumahnya.
Tak ingin membuat Fandi menunggu lama, Adeeva segera keluar menemui Fandi.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di salah satu mall.
"Va kira-kira aku kasih kado apa ya?" Tanya Fandi.
"Teman kamu cewek apa cowok?" Tanya balik Adeeva.
"Cewek," jawab Fandi.
"Dia sukanya apa?"
"Nggak tau,"jawab Fandi yang membuat Adeeva menepuk jidatnya.
"Temen kamu tomboy atau feminim?"
"Feminim."
"Temen kamu sukanya pakai barang-barang apa?"
"Gak tau juga sih tapi yang jelas dia suka pakai barang-barang yang branded."
"Kalau gitu beliin tas aja atau hand bag gitu. Pokoknya yang branded," Usul Adeeva.
"Yaudah ayo!" Ajak Fandi dengan semangat menarik tangan Adeeva ke toko tas.
"Bagusan yang mana? Yang ini atau yang ini?" Tanya Fandi menunjukkan dua tas pada Adeeva.
"Teman kamu sukanya pake tas yang warna apa?" Tanya Adeeva.
"Gak tau," jawab Fandi dengan cengirannya.
"Yaudah yang hitam aja," pilih Adeeva dengan lesu.
"Ok." Fandi pun segera pergi membayar ke kasir.
"Nahhh sekarang ikut aku," ajak Fandi menarik tangan Adeeva dengan semangat. Adeeva jadi heran dibuatnya.
"Kok Fandi-nya yang excited gini belanja? Malah gue yang malas-malasan," batin Adeeva.
"Kita ngapain disini?"
"Gak usah banyak nanya. Sekarang kamu pilih gaun yang kamu suka. Gak boleh ngebantah".
"Tapi Fan. Kamu gak perlu ngamburin uang buat beliin aku gaun segala," tolak Adeeva halus.
"Aku bakal sedih loh Va kalau kamu nolak," ucap Fandi dengan muka murungnya. Akhirnya pun Adeeva luluh juga meskipin masih merasa gak enak.
Adeeva mulai mencari gaun yang gak terlalu mahal. Tapi naasnya, Fandi membawanya ke toko dengan brand ternama.
Masih terus memilih-milih tiba-tiba ada yang memegang pundaknya.
"Adeeva!"
-TBC-
Jangan lupa like ya