
'Banyak yang menyepelekan kepercayaan. Tidak kah kau sadar seberapa penting kepercayaan itu?'
Happy Reading
.
.
.
"Arsen," lirih Adeeva dengan mata yang memanas memandang foto di depannya.
"Kalian tega sama gue. Arsen, Resya. Harusnya gue tau kalau gue cuman mainan buat orang populer kayak kalian. Arsen, lo bertingkah seakan-akan lo cinta sama gue. Resya, lo bertingkah sebagai seorang sahabat yang layaknya saudara. Tapi apa? Itu semua cuma palsu. Dan bodohnya gue terpedaya sama kalian sampai gue lupa niat awal gue di kota ini."
***
Ketukan di pintu utama membangungkan Adeeva dari tidurnya. Saat ini Adeeva memang berada di rumah lamanya. Jadi tidak ada yang bisa membuka pintu selain dirinya. Namun Adeeva heran.
"Siapa yang bertamu di rumahnya ini? Bukannya kerabat-kerabat sudah tau kalau aku sama mama gak tinggal di sini lagi," batin Adeeva heran sambil melangkah menuju pintu.
Adeeva pun membuka pintu. Namun, saat melihat siapa yang ada di balik pintu, Adeeva langsung menutupnya.
"Pindahin kaki lo!" Ucap Adeeva dengan datar saat kaki Arsen mencekal pintu. Tapi Arsen tetap bergeming dengan posisinya. Pertanyaannya, apa Arsen tidak merasa kesakitan? Entahlah.
"Mau lo tuh apa sih?" Kesal Adeeva membuka pintu lebar.
"Va!" Panggil Arsen dengan suara seraknya.
"Arsen. Lo kenapa?" Tanya Adeeva khawatir sambil mendekati Arsen. Semarah-marahnya Adeeva, ia tidak akan sanggup melihat orang yang disayanginya sedih.
"Va... bunda.." Arsen tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah memeluk Adeeva dengan erat. Tak ada pilihan lain. Adeeva harus menelan semua kekesalannya dulu. Karena entah kenapa Arsen jadi seperti ini. Apa yang terjadi pada ibunya. Hal itu membuat Adeeva merasa was-was.
"Bunda lo kenapa?" Tanya Adeeva membalas pelukan cowok itu sambil mengusap punggungnya bermaksud menenangkan.
"Bunda udah nggak ada Va. Bunda ninggalin gue," jawab Arsen disertai tangisnya. Sedangkan Adeeva yang mendengarnya langsung menegang.
"Bunda Arsen meninggal? Satu-satunya orang tua yang ia punya meninggal," batin Adeeva mengeratkan pelukannya pada Arsen tanpa sadar bulir air mata ikut menetes.
"Gue turut berduka cita. Kapan Bunda lo meninggal? Apa tadi pagi? Kalau gitu gue ganti baju dulu. Tapi kita ke rumah ortu gue dulu ya?" Tanya Adeeva melepaskan pelukan mereka setelah mengusap air matanya.
"Va."
"Ya?" Jawab Adeeva sambil mengusap pipi Arsen yang basah.
"Bunda sudah dikebumikan. Dan bunda meninggalnya bukan tadi," ucapan Arsen membuat Adeeva menghentikan kegiatannya mengusap pipi Arsen dan beralih mencengkramnya.
"Ouhh dan lo baru bilang ke gue sekarang? Sebegitu gak pentingnya gue ya? Harusnya gue sadar posisi gue. Maaf," ucap Adeeva menurunkan tangannya dan berbalik ingin memasuki rumah.
"Bunda meninggal di malam gue mau nembak lo Va. Gue kalut saat itu. Satu-satunya orang tua yang gue punya saat itu ninggalin gue Va. Ninggalin gue selamanya. Gue coba nelpon lo kemarin tapi gak aktif. Dan asal lo tau Va. Lo sangat penting bagi gue. Kalau lo gak ada di samping gue. Siapa yang akan jadi semangat hidup gue? Va, lo harus tau kalau gue... gue cinta sama lo Va," ucap Arsen memeluk Adeeva dari belakang.
"I love u so much Va" ucap Arsen dengan lirih di samping telinga Adeeva.
Adeeva memejamkan matanya lalu berbalik memeluk Arsen. Tangisnya ikut tumpah. Benar apa yang dikatakan Resya kalau ia akan menyesal setelah mendengar alasan Arsen. Adeeva tak bisa membayangkan seperti apa dirinya bila ia yang di posisi Arsen.
"Gue juga cinta sama lo."
***
"Sya. Posisi?" Tanya Adeeva via telpon.
"Rumah!" Jawab Resya di seberang sana.
"Gue otw!" Ucap Resya lalu segera memesan ojol ke rumah Resya. Ada yang ingin ia tanyakan. Tentang seseorang dan foto.
***
"Ada apa?" Tanya Resya agak datar. Jangan tanyakan kenapa. Karena tentu saja Resya masih kesal pada Adeeva.
"Sebelumnya gue mau minta maaf sama lo," jawab Adeeva. Ya meskipun Adeeva kecewa sama Resya, ia akan tetap mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
"Kenapa? Oh apa soal Arsen?" Tanya Resya sinis.
"Ya," jawab Adeeva tercekat.
"Gue bilang juga apa. Lo pasti nyesel. Gue tau Arsen tuh kek gimana."
"Iya karena itu gue minta maaf. Gue tau gue salah. Gue nggak mau denger penjelasan dulu. Gue selalu berasumsi sendiri."
"Baguslah kalau lo bisa intropeksi diri!"
"Sya."
"Ja."
"Lo melayat kemarin?"
"Ja, dan lo gak dateng padahal lo jelas tau rumahnya Arsen dimana. Sedangkan gue? Gue harus keliling dulu nyari alamat yang dikasi Arsen setelah gue paksa!" Tekan Resya.
"Gue gak datang karena gue gak tau kalau ibunya Arsen meninggal," bela Adeeva.
"Itu karena lo keras kepala. Egois. Gak mau dengar penjelasan dulu. Lo bertingkah seakan-akan lo yang paling tersakiti. Huh!" Balas Resya dengan suara naik satu oktaf.
"Ya. Ada lagi yang mau ditanyakan miss Adeeva?"
"Sejak kapan lo dekat sama Fandi?"
"Perlu lo tau? Perlu gue izin sama lo harus dekat sama siapa? Suka-suka gue dong!" Balas Resya dengan judesnya.
"Gue cuma nanya. Gak usah judes gitu bisa? Gue tekankan sama lo. Gue emang udah percaya sama Arsen. Tapi tidak dengan lo. Kepercayaan gue dulu udah hilang. Terganti dengan perasaan lain. Kecewa. Gue kecewa sama lo. Gue nggak nyangka lo ngelakuin ini ke gue!" Ungkap Adeeva dengan mata berkaca-kaca sambil melemparkan foto yang didapatkannya.
"Maksud lo apa?" Tanya Resya mengernyitkan alisnya lalu memungut foto yang dilemparkan Adeeva.
Resya terkejut melihat foto di tangannya. Siapa yang sudah mengambil gambar dirinya saat ia bersama Arsen di cafe saat itu. Dan satu lagi. Saat ia berjabat dengan Fandi di cafe yang sama.
"Lo selalu gini Va. Selalu salah paham. Baru saja lo minta maaf. Bakal berubah lah. Tzz das ist aber nur quatsch!"
"Omong kosong? Gimana gue bisa percaya sama orang yang udah nyelakain gue!"
"Echt? Siapa yang nyelakain lo? Gue? Heyyyy apa gunanya gue nyelakain lo!"
"Lo nggak usah ngelak deh. Di club waktu itu. Lo kerja sama kan sama Fandi? Ohh dan juga tentang kak Dion. Kalian yang ngehasut Arsen juga kan?"
"Terserah lo mau percaya sama gue atau nggak. Ini penghinaan buat gue. Gue bakal cari bukti kalau gue gak bersalah. We'll see. Siapa yang benar dan siapa yang salah. Sekarang lo pergi. Gue muak liat temen macam lo di rumah gue. Geh weg!" Usir Resya.
"Okay. Good luck!" Balas Adeeva lalu berlalu dari hadapan Resya.
***
"Kenapa sih lo manggil gue ke sini? Gue mau belajar buat ulangan besok!" Kesal Fandi sambil duduk di hadapan Resya.
"Gue juga nggak bakal manggil lo kalau gak penting!" Balas Resya.
"Buset. Judes amat. Pms lo?"
"Ck. Tadi Adeeva ke rumah gue," cerita Resya.
"Ya bagus dong. Pasti Adeeva datang minta maaf kan? Adeeva emang baik. Coba aja saat itu gue berhasil nembak dia," balas Fandi yang langsung dapat tampolan dari Resya.
"Gue tau lo suka sama Adeeva tapi gak usah segitunya juga kali. Ya emang sih Adeeva minta maaf tapi dia juga nuduh kita!" Ungkap Resya.
"Nuduh? Nuduh apa?" Tanya Fandi heran.
"Sorry telat!" Ucap Arsen yang baru datang lalu duduk di samping Fandi dengan wajah cerahnya.
"Ceria amat pak?" Tanya Resya sinis.
"Ah masa sih? Muka lo tuh yang terlalu muram jadi gue kek bersinar ceria gitu!" Balas Arsen mengacak poni Resya.
"Ckk!" Kesal Resya yang poninya diacak.
"Pasti ada sesuatu nih!" Celutuk Fandi.
"Tau aja lo. Akhirnya gue jadian sama Adeeva," ujar Arsen dengan senyum yang tak pernah luntur. Resya yang mendengarnya hanya menanggapi dengan menaikkan sebelah alisnya. Berbeda dengan Fandi yang langsung memberi selamat.
"Congrats Bro!"
"Yo'i."
"Lo kok diem aja Sya? Ehh tadi lo bilang Adeeva nuduh kita kan? Nuduh apa?" Tanya Fandi pada Resya yang hanya diam.
"Nuduh? Adeeva nuduh kalian? Kok bisa?" Timpal Arsen menegakkan duduknya.
"Adeeva nuduh gue sama Fandi yang ngerencanain kejadian di club waktu itu. Bahkan Adeeva nuduh kalau gue sama lo Fan yang ngehasut elo Sen pasal kak Dion. Gue gak habis pikir sama otak cewek lo itu Sen. Lo tau kan gimana senengnya gue bisa kenal Adeeva. Gue ngnggap dia saudara tapi apa balasannya? Di luar ekspekrasi gue Sen. Sudah berapa kali dia nuduh gue. Gue kecewa," ungkap Resya dengan napas tercekat.
"Gue juga nggak nyangka Adeeva kek gitu!" Timpal Fandi menyisir rambutnya ke belakang.
"Tapi kok bisa Adeeva nuduh lo. Pasti ada alasannya," ucap Arsen.
"Sebenarnya kemarin gue sempet adu mulut di sekolah. Sebelum lo nelpon. Lalu tadi Adeeva nyamperin gue di rumah dan nuduh-nuduh gue. Dia ngelemparin ini," ucap Resya sambil mengeluarkan foto di atas meja.
"Bukannya ini foto pas kita di cafe ini kan?" Tanya Fandi memandangi foto satu per satu.
"Keknya Adeeva ngira kita ada hubungan lebih," ucap Resya.
"Tapi gue udah jelasin dan Adeeva keliatan percaya kok!" Sahut Arsen.
"Maksud lo?" Tanya Resya heran.
"Tadi Adeeva bilang kalau dia ngeliat kita di cafe pegangan tangan. Dan gue ngomong jujurlah. Dan Adeeva percaya," jawab Arsen.
"Tapi masa sih cuman karena foto ini Adeeva marah-marah sampe nuduh segala. Jelas-jelas kita di cafe bareng saat itu."
"Nah itu. Keknya ada yang sengaja lakuin ini. Adeeva gak nyadar kalau di foto ini kita di tempat yang sama. Nomor mejanya juga terpampang jelas 'kan?" Ucap Resya mengeluarkan pendapatnya.
"Kira-kira siapa yang ngelakuin ini. Pasti orang berkuasa. Sampe buntutin kita segala!" Timpal Fandi.
"Dion."
-TBC-