
'Karena cinta. Seseorang bisa begitu mudah memaafkan. Meskipun untuk yang kesekian kalinya.'
Happy Reading
.
.
.
Adeeva yang mengerti isyarat dari Arsen langsung mengikuti cowok itu. Yah, Adeeva memutuskan untuk datang dan menyelesaikan masalah mereka. Ia akan membicarakan dengan kepala dingin hingga tidak menimbulkan perselisihan lagi.
Tiba-tiba Adeeva menghentikan langkahnya. Ia merasa ada yang memanggilnya. Adeeva pun berbalik. Namun nihil, tidak ada siapapun di situ.
Adeeva mengerutkan alisnya pertanda ia sedang bingung. Adeeva mengedarkan pandangannya ke sekitar. Namun tidak ada siapapun. Ia segera berjalan dengan langkah cepat menuju rooftop.
Ditemukannya Arsen yang sedang berdiri membelakanginya. Adeeva segera mengahampiri cowok itu.
"Arsen!" Panggil Adeeva.
Arsen pun berbalik menghadap Adeeva dan memegang tangan Adeeva.
"Gue minta maaf. Gue udah ngomong yang enggak-enggak tentang keluarga lo. Gue nggak janji tapi gue bakal usahain gak buat lo marah lagi sama gue. Maafin cowok bodoh di depan lo ini Va," ungkap Arsen memandang mata Adeeva lekat.
"Jujur Sen, gue nggak pengen kita ngejauh kek gini. Gue masih nggak ngerti mau lo tuh apa sebenernya," balas Adeeva.
"Please, Va. Maafin gue. Gue bakal ngelakuin apapun yang lo mau asalkan lo mau maafin gue. Apapun Va. Apapun it--" ucapan Arsen terhenti ketika telunjuk Adeeva menempel di bibirnya.
"Gak perlu. Karena gue udah maafin lo. Gue sadar, selama ini gue egois. Selalu merasa benar. Cukup mulai sekarang kita tidak saling mengecewakan lagi. Hanya itu."
"Makasih Va," ucap Arsen memeluk Adeeva erat yang langsung dapat sambutan dari cewek itu.
***
"Va, gue udah di depan rumah lo nih!" Ucap Resya via telpon.
"Lo masuk aja. Gue masih siap-siap nih!" Balas Adeeva.
Resya pun segera mengetuk pintu rumah Adeeva. Tapi tak ada sahutan dari dalam rumah.
"Langsung masuk aja deh. Toh Adeeva udah nyuruh masuk tadi," batin Resya memegang knop pintu. Namun, tiba-tiba pintu tertarik dari dalam hingga membuatnya ikut tertarik dan menabrak sesuatu.
"Scheiß!!! ****** gue!!! Malah nabrak pintu. Ehh tapi kok pintunya nyaman gini yak? Harum lagi," batin Resya.
"Ehm!" Deheman seseorang membuat Resya perlahan membuka matanya.
"Ehh kak Dion. Guten morgen bruder," sapa Resya dengan muka sok imutnya.
"Pagi," balas Dion dan berlalu dari hadapan Resya menuju mobilnya.
"Ciihhh sok cool. Muka ganteng aja belagu. Sok-soan dingin kayak Aldrian. Ihhh cakepan juga Aldrian yang gantengnya kebangetan!" Cibir Resya sambil masuk ke dalam rumah Adeeva.
Tak lama kemudian, tampaklah Adeeva yang sedang menuruni tangga.
"Yukk berangkat!"
"Yukk!"
***
"Duhhh capek banget gue. Panas banget. Ac-nya gak mempan," cerocos Resya sambil mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajahnya.
"Gelang baru?" Tanya Adeeva pada Resya.
"Ini gelang yang waktu itu gue ceritain," jawab Resya.
"Yang dari temen kecil lo itu kan?"
"He'em."
"Tumben lo pake. Biasanya nggak."
"Gak tau kenapa hari ini gue pengen banget pake. Bagus kan?" Ucap Resya memutar-mutarkan tangannya untuk memperlihatkan gelangnya.
"Bagus kok."
"Iya doms. Ehh ini mana sih kok lama banget. Udah laper juga."
"Ya sabar kek!" Balas Adeeva. Ya, Resya dan Adeeva baru saja mencari kado untuk Arsen.
Huuffttt Adeeva merasa akhir-akhir ini belanjanya meningkat. Ia sering hangout sama teman-temannya. Meskipun Resya selalu ingin membayarkan belanjaannya, tapi Adeeva tentu saja menolaknya karena merasa tidak enak.
***
Seperti biasa Adeeva berangkat bersama Dion dan Dhea. Adeeva mulai merasa tidak canggung lagi. Memang benar bahwa 'tak kenal maka tak sayang'. Awalnya ia begitu canggung dengan kakaknya. Namun setelah tinggal bersama, mereka jadi akrab.
Ternyata Dion sangat perhatian pada keluarganya. Adeeva merasa senang akan itu. Semua ketakutan akan saudara tirinya yang tidak suka sama Mamanya kini telah sirna.
Sesampainya di sekolah, Adeeva segera memasuki kelasnya.Tapi ia urungkan karena kebelet. Akhirnya ia berbelok ke arah toilet yang berada di lantai dasar.
Setelah menuntaskan panggilan alamnya, Adeeva melangkah menuju kelasnya sesuai dengan niat awalnya tadi. Tak sengaja pandangan Adeeva tertuju pada sesorang yang ia kenal tengah ditarik menuju taman belakang.
"Resya," gumam Adeeva lalu mengikuti Resya yang ditarik oleh cowok berparas tinggi yang sungguh tak disangka Adeeva.
"ALDRIAN GAVIN SYALENDRA. OMG!! Ada urusan apa Resya sama tuh cowok kulkas sampe ditarik-tarik begitu," batin Adeeva cemas.
Dengan bersembunyi dibalik dinding, Adeeva melihat Resya dihempaskan di tembok.
"Ooppss pasti Resya kesakitan tuh. Ngehempasnya keras banget. Dasar cowok kulkas. Gak ada lembut-lembutnya sama cewek. Keras kayak es!" Cibir Adeeva.
Adeeva melihat mereka berdebat tapi sayangnya ia tidak bisa mendengarnya.
Tiba-tiba Adeeva menutup mulutnya melihat kepala Aldrian yang semakin menunduk mendekati Resya. Saat Aldrian memiringkan kepalanya spontan Adeeva menutup matanya tak mau melihat apa yang terjadi setelahnya.
"Berani amat tuh anak berdua ngelakuin itu. Di sekolah pula. Hmmm kira-kira udah selesai gak ya?" Batin Adeeva masih menutul matanya.
Dengan perlahan Adeeva membuka matanya, namun tak didapatinya Aldrian. Hanya Resya yang kini sedang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
"Adeeva!!" Panggil Resya.
"Ehh Resya. Lo darimana?"
"Dari taman."
"Sama siapa? Abis ngapain? Hayoooo ngakuuu!" Goda Adeeva.
"Lo liat?" Tanya Resya kaget dengan suara oktafnya.
"Ahh? Ehh! Anuu. Gue nggak liat lo ciuman sama Aldrian kok!" Balas Adeeva yang langsung dapat pelototan dari Resya.
"Siapa juga yang ciuman. Baru hampir. Tinggal dikit lagi tadi!" Balas Resya kesal yang sekarang gantian Adeeva yang memberikan pelototan pada Resya.
"Lo ngomongnya santai bener. Emang udah sering ciuman?"
"Heheheheh nggak pernah sihh," cengir Resya.
"Btw ngasib kado ke Arsen gimana?"
"Ya ampun ngasih kado aja pake nanya segala. Emang ya kalian tuh cocok. Yang satu gak tau cara ngasih kado yang satunya lagi gak tau cara nyat...nyat..."
"Nyat...apa?"
"Nyat? Ehh nyatt...nyantun maksudnya. Hehehe" cengir Resya.
"Aneh!"
"Siapa yang lo katain aneh?"
"Elo lah siapa lagi!"
"Sialan lo. Gak kebalik tuhh. Bukannya elo yang aneh? Ngasih kado aja pake nanya segala. Padahal nih ya,ngasih kado itu cuman hal sepele. Tinggal kasih aja udah selesai. Ribet amat lu!" Cibir Resya.
"Lo yah. Sekalinya ngomong gak bisa ngerem. Nyerocos mulu!" Balas Adeeva sengit.
"Gue bakal dapat berenti nyerocos kalau.." ucap Adeeva segaja menggantungkan ucapannya yang membuat Adeeva penasaran.
"Kalau apa?" Tanya Adeeva penasaran.
"Kalau dicipok sama Aldrian," bisik Resya cekikikan yang langsung dapat geplakan manis daei Adeeva.
"Astagfirullah. Otak lo yah, kayak udah cukup umur aja ngomong begituan!" Omel Adeeva.
"Yaudah sih santuy 'kan gue cuma becanda."
"Bahan bercandaan lo gak ada yang lain apa."
"Duuhhh sorry deh. Kakak gue tersayang jadi kesel," maaf Resya.
"Hmmm."
"Dihhh. Dingin amat Mba."
"Biarin!"
"Arsen nitip pesen. Kalau nanti malem lo harus datang ke taman xxx. Tambahan dari gue, lo harus dandan yang cantik. Nahh sekalian 'kan lo ngasih kado ke Arsen," ucap Resya yang langsung dapat perhatian dari Adeeva.
"Beneran?"
"Iya," balas Resya menganggukkan kepalanya.
"Pokoknya lo harus dateng jam 19.30 okay?" Lanjut Resya.
***
Kini Resya dan Fandi tengah sibuk mendekor taman secantik mungkin. Ini semua demi Arsen yang akan menyatakan perasaannya malam ini. Di taman ini.
Resya sangat bersemangat mempersiapkan semuanya. Karena memang ia sudah lama menantikan kedua manusia itu bersatu. Ia selalu merasa greget dengan keduanya yang selalu malu-malu kucing.
Tinggal sedikit lagi semua dekorasi selesai. Jam pun sudah menunjukkan pukul 19.00.
"Fandi cepetan natanya lama amat sihh!" Omel Resya.
"Ini udah cepet Resya!" Balas Fandi kesal.
"Kok lo gitu sih. Gak ikhlas ngebantu? Jahat banget lo!"
"Kurang baik apa sih gue? Gue udah nvebantu ngedekor nih taman buat Arsen yang mau nembak cewek yang gue juga suka!" Balas Fandi sengit.
"Fan. Sorry gue gak maksud," ringis Resya.
"Ini demi Adeeva. Ngeliat orang yang kita cintai bahagia walaupun bukan sama kita adalah cinta yang sesungguhnya 'kan? Itu yang gue lakuin sekarang. Dulu emang gue ngedeketin banyak cewek. Tapi setelah ketemu Adeeva, ia berhasil ngerubah gue," ungkap Fandi.
"Gue salut sama lo. Sekarang lo ngebuktiin kalau lo itu pria sejatih. Gak kayak dulu," balas Resya.
"Sya. Lo 'kan tau kalau gue gak--"
"Iya iya gue tau. Maafin sikap gue ya. Selama ini gue selalu sinis sama lo!"
"Santai aja lagi!"
"Hmmm. Fan udah selesai?" Resya melap keringatnya.
"Tinggal nyalain lilinnya doang."
"Biar Arsen aja ntar. Lagian Arsen mana sih gak nyampe-nyampe."
"Tuhh orangnya udah dateng," ucap Fandi.
"Sorry telat dan makasih Bro udah ngebantuin dan lo juga adek gue tersayang!" Ucap Arsen mengacak poni Resya yang tentunya membuat sang pemilik loni kesal.
"Udah ah gue mau pulang. Viel Glück Bruder. Yukk Fan pulang."
-TBC-