
Sebelum baca like dulu ya
Happy Reading
.
.
.
"Kak Dion baik-baik aja kan? Harusnya kak Dion nggak senekat itu. Hikssss. Aku nggak mau kak Dion di sini," isak Dhea di depan sel kakaknya.
"Dhea nggak boleh gitu. Kamu jangan nangis. Kakak baik-baik aja di sini," hibur Dion mengusap pipi Dhea yang basah oleh air mata.
"Tapi mana mungkin kak Dion baik-baik saja sedangkan di sini tempatnya aja kek gini. Kak Dion akan gatal-gatal digigit nyamuk," ucap Dhea.
"Kakak gpp. Kamu pulang ya. Kak Dion gak bakal lama di sini," balas Dion mengusap rambut Dhea.
"Janji?"
"Iya janji."
Dhea akhirnya pergi meninggalkan Dion yang kini menunduk. Entah ia menyesali perbuatannya atau tidak. Sebenarnya, ia bisa saja keluar dari penjara. Tapi ayahnya tidak membiarkannya. Hendra ayahnya yang tercinta itu ingin membuatnya jera. Apalagi yang dilakukan Dion sangatlah memalukan. Rasa yang dimiliki haruslah dihilangkan. Karena bagaimanapun juga kini Adeeva adalah adiknya. Ya. Tepatnya adik tirinya.
***
Dhea termenung menopang dagunya di kafe. Saat ini ia sedang menunggu Arsen, Adeeva, dan Resya. Ia sudah membuat janji dengan mereka. Tadi malam ia hanya berdiam diri di kamarnya. Lalu tadi pagi ia sengaja tidak bangun pagi seperti biasanya. Ia menghindari Adeeva.
"Dhea!" Panggil Adeeva memegang bahu Dhea. Dhea tersentak lalu tersenyum menatap Adeeva.
"Silahkan duduk kak," balas Dhea.
Arsen, Adeeva, dan Resya akhirnya duduk dengan posisi Dhea diapit oleh Adeeva dan Resya tepat di hadapan Arsen.
Salah satu waiters mengahpiri meja mereka. Setelah memesan, Dhea memulai pembicaraan.
"Kalian pasti heran tiba-tiba aku ngajak kalian ketemu kek gini," ucap Dhea.
"Ya," balas Resya.
"Tujuan aku ingin minta maaf sama kalian. Atas nama kak Dion juga," ucap Dhea menatap orang di meja itu satu per satu.
Baru saja Dhea mau berbicara lagi, waiters sudah mengantar pesanan mereka hingga Dhea mengurungkan niatnya.
"Kak Adeeva. Atas nama kak Dion aku minta maaf karena kak Dion hampir lecehin kak Adeeva. Dan juga karena kak Dion mencintai kak Adeeva yang seharusnya tidak boleh dilakukannya," lanjut Dhea menatap Adeeva lalu beralih menatap Resya.
"Dan juga Resya. Atas nama kak Dion aku minta maaf. Kak Dion sudah membahayakan nyawa kamu. Aku nggak tau kalau kak Dion bisa senekat itu. Maafin aku. Aku yang bilang ke kak Dion kalau kamu itu pengganggu. Sekali lagi maaf." Mata Dhea sudah nampak berkaca-kaca menatap Resya.
Resya menghela napas pelan. Sedari tadi ia menatap lekat Dhea. Sepertinya cewek di depannya ini tulus mengucapkan itu. Cewek ini begitu lugu. Ia bisa melihatnya. Mungkin dulu ia kesal pada Dhea karena cewek itu menyukai Arsen dan akan mengancam hubungan Arsen dan Adeeva. Sebagai sahabat tentunya ia tak akan membiarkan hal itu.
Dhea dikendalikan oleh cinta. Ditambah lagi kakaknya yang menurut Resya gila itu membuat Dhea berbuat jahat. Tapi vewek ini tetaplah cewek lugu yang takut berbuat buruk. Buktinya ia sekarang mengakui semuanya. Sepertinya setelah ini mereka akan berteman baik.
Resya mengambil tissue di mini bagnya dan memberikannya pada Dhea yang air matanya kini membasahi pipinya.
Dhea menatap tissue itu lalu mendongak menatap Resya. Resya tersenyum.
"Nih hapus air mata lo. Gue udah maafin elo kok. Ouh dan juga kakak lo. Dengan dia dipenjara udah cukup bagi gue," ucap Resya masih tersenyum.
"Nih ambil!" Lanjut Resya karena Dhea masih bergeming. Akhirnya Dhea menerima tissue itu.
"Makasih." Dhea tersenyum sambil mengusap air matanya.
"Makasih udah maafin aku dan kak Dion. Dan juga tissuenya," lanjut Dhea.
"Ya," balas Resya sambil meminum chocolate drinknya
"Hmmm kak Arsen. Sebenarnya waktu kak Arsen kecelakaan, itu semua ide kak Dion," ucap Dhea memainkan tangannya di atas pahanya.
"Jadi benar Dion yang buat gue kecelakaan?" Tanya Arsen yang dijawab anggukan pelan oleh Dhea.
"Kak Dion nyuruh orang untuk buat kak Arsen kecelakaan lalu aku dateng untuk menolong. Ak... aku... aku nggak tau kalau bakal separah itu. Aku sudah bilang sama kak Dion. Tapi kak Dion seakan tidak peduli. Dia ngelakuin hal diluar kesepakatan kami," ungkap Dhea.
"Kesepakatan?" Tanya Adeeva yang lagi-lagi dijawab anggukan oleh Dhea.
"Kesepakatan apa?" Tanya Resya meletakkan gelas minumnya yang isinya kini tinggal setengah.
"Kesepakatannya yaitu memisahkan kak Arsen dengan kak Adeeva supaya kak Adeeva bisa sama kak Dion dan kak Arsen sama aku," jelas Dhea.
"Lo... hmm kamu masih cinta sama Arsen?" Tanya Adeeva.
"Nggak... aku sudah nggak cinta sama kak Arsen. Nggak," jawab Dhea cepat. Ya. Arsen bisa merasakanya. Kemarin Dhea menatapnya penuh kebenciaan. Namun saat ini tatapan benci itu sudah tak ada lagi.
"Apa kalian mau maafin aku?" Tanya Dhea pelan.
Arsen hanya mengangguk.
"Tentu saja. Bagaimanapun juga kamu itu adikku. Mana mungkin seorang kakak tidak memaafkan adiknya?" Adeeva memeluk Dhea yang berada di sampingnya.
"Makasih kak," balas Dhea.
"Yang penting lo gak ngulangin lagi. Kalau lo mencintai seseorang, cintailah dengan cara yang benar," ucap Resya.
***
Arsen saat ini mengantar Adeeva pulang. Setelah acara maaf-maafan tadi, mereka ke mall dan asyik bermain time zone. Dan lihatlah saat ini. Pacarnya yang mungil itu tengah tertidur pulas. Mungkin dia kelelahan. Tadi Adeeva begitu hiperaktif bermain bersama Dhea dan Resya.
Kini mobil Arsen telah berhenti di depan rumah Adeeva. Arsen melepaskan seatbeltnya dan beralih menatap Adeeva. Ia tersenyum lalu mengusap kepala Adeeva.
"Sayang, bangun. Kita sudah sampai," ucap Arsen pelan. Bukannya bangun, Adeeva malah mencari posisi yang nyaman setelah berdehem sebagai balasan pada Arsen. Bagaimana bisa bangun jika Arsen malah mengusap kepalanya dengan lembut? Yang ada ia makin susah bangun.
"Bangunnn sayanggg!!" Arsen menjepit hidung Adeeva hingga pacarnya itu kesulitan bernapas dan akhirnya terbangun.
"Kamu mau bunuh aku?" Adeeva mengusap hidungnya dengan jengkel.
"Astagfirullah, Va. Sudzon amat ama pacar sendiri. Mana mungkin aku mau bunuh kamu. Aku nggak mau jadi duda. Awwwww!" Adeeva mencubit perut Arsen dengan keras hingga membuat sang empu kesakitan.
"Omongannya ya. Apaan duda-duda!"
"Ampunnnn sakit, sayang. Lepasin ya??" Rengek Arsen memegang tangan Adeeva yang berada diperutnya.
"Ok aku lepasin," balas Adeeva melepaskan cubitannya. Namun sebelum itu ia memutar tangannya hingga Arsen kembali menjerit kesakitan.
"Ini namanya kdrt," gerutu Arsen dalam batinnya.
"Aku turun dulu. Mampir dulu?"
"Nggak. Aku ada perlu habis ini."
"Yaudah aku turun dulu ya." Adeeva hendak membuka pintu mobil namun ditahan oleh Arsen.
"Tunggu!" Arsen mengambil sesuatu di jok belakang. Sebuah kotak. Lalu memeberikannya pada Adeeva.
"Buat kamu. Kamu pake ya nanti malam," ucap Arsen.
Adeeva merasa de javu. Dulu Fandi pernah melakukan hal yang sama namun berakhir tidak baik.
"Ah iya nanti aku pake. Emang buat apa?"
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Secret!"
"Ishh yaudah aku turun dulu. Kamu hati-hati nyetirnya."
"Siap sayang."
***
Adeeva mematut dirinya di depan cermin. Ia baru saja selesai mandi. Handuk masih melilit di kepalanya.
Pintu kamarnya diketuk disusul oleh suara pintu terbuka.
"Kak. Aku mau pinjam gunting. Gunting aku lupa simpan dimana," ucap Dhea berjalan menuju di ranjang Adeeva lalu duduk sila di situ.
"Ini."" Adeeva memberikan guntingnya yang berada di atas meja belajarnya.
"Makasih kak."
"Iya."
"Ehh ini kado dari siapa kak? Aku tebak. Pasti dari kak Arsen ya?" Tebak Dhea memegang kotak yang diberikan Arsen tadi.
"Iya dari Arsen. Tadi nyuruh aku pake. Katanya mau diajak keluar tali gak tau dimana. Arsen gak mau kasih tau," jelas Adeeva.
"Jam berapa kak Arsen jemput kak?" Tanya Dhea.
"Jam 7 katanya," jawab Adeeva.
"Ya ampun kak. Ini udah jam 6 lewat. Kakak harus siap-siap. Biar aku bantu kak." Dhea langsung melompat dari kasur lalu menarik Adeeva ke depan meja rias. Ia bahkan lupa dengan tujuannya tadi yang hanya meminjam gunting untuk menyelesaikan tugas prakaryanya.
Adeeva pasrah didandani oleh Dhea. Entah kenapa Dhea begitu bersemangat mendandaninya. Ia bahkan dilarang membuka mata sebelum Dhea selesai mendandaninya.
"Nah kak Adeeva coba buka matanya," ucap Dhea.
Perlahan Adeeva membuka matanya. Dan wow ia hampir saja tidak mengenali dirinya. Dhea begitu berbakat.
"Gimana kak? Cantik kan?"
"Ya. Aku sampai gak bisa kenal muak aku sendiri," balas Adeeva.
"Hehehe. Kalau gitu aku balik ke kamar aku ya Kak. Aku mau lanjut kerja tugas," pamit Dhea.
"Ya ampun jadi kamu ada tugas. Tapi kamu malah sibuk mendandaniku?"
"Hehehe gpp, Kak. Sekali-kali."
***
"Masih jauh gak?" Tanya Adeeva pada Arsen.
"Nggak kok udah deket. Kamu pelan-pelan jalannya awas," balas Arsen.
"Makanya mata aku gak usah ditutupin," rengek Adeeva.
Arsen memang sengaja menutup mata Adeeva. Biar surprise katanya.
"Nggak bisa dong, sayang. Bentar lagi sampe kok."
"Kita di lift ya?" Tanya Adeeva saat mendengar suara dentingan.
"Iya."
"Sebenarnya kamu bawa aku kemana sih?"
"Tar juga kamu tau kok. Sabar aja, sayang."
Adeeva mendengus saja. Hingga mereka keluar dari lift. Dan kembali melangkah. Adeeva merasa dingin karena terpaan angin yang lembut.
"Aku hitung mundur ya lalu kamu buka. Sepuluh--"
"Kelamaan!" Protes Adeeva yang tak diindahkan oleh sang pacar.
"Sembilan... delapan... tujuh... enam... lima... empat... tiga... duaaaa... saaaaatuuuuu!"
Arsen melepaskan kain yang menutup mata Adeeva. Perlahan Adeeva membuka kelopak matanya. Ia mengerjab untuk memfokuskan penglihatannya.
"Arsen... ini? Oh my god!" Adeeva tak menyangka Arsen akan mengajaknya dinner romantis di rooftop sebuah gedung tinggi.
"Gimana? Kamu suka?" Tanya Arsen di belakang Adeeva.
"Suka. Suka banget!" Adeeva mengangguk berkali-kali.
Tiba-tiba sebuket bunga mawar merah besar menghalangi pandangan Adeeva.
"For you," bisik Arsen di samping telinga Adeeva. Adeeva segera menerima buket bunga yang berisi 33 tangkai mawar itu.
"Makasih." Adeeva berbalik memeluk Arsen yang langsung dibalas cowok itu.
"Kamu tau nggak kenapa aku kasih kamu 33 tangkai bunga mawar merah?" Tanya Arsen.
"Nggak. Emang ada maknanya?" Tanya balik Adeeva.
"Aku pernah membaca kalau Mawar merah dinyatakan sebagai sebuah ekspresi cinta yang nyata. Intinya, mawar merah artinya Aku Cinta Kamu. Selain itu, mawar merah dapat mengekspresikan emosi atau perasaan yang mendalam, baik itu cinta, kerinduan atau keinginan. Dan 33 tangkai memiliki arti Aku mencintaimu dari dasar hati yang terdalam. Aku sangat mencintaimu Adeeva. Cowok yang jauh dari kata perfect ini begitu mencintaimu." Arsen mengeratkan pelukannya.
"Aku juga mencintaimu."
"Makasih. Makasih sudah mencintaiku. Aku nggak akan menyia-nyiakan rasa itu."
Mereka melepaskan pelukannya lalu mendekati meja yang diatasnya terdapat hidangan dan lilin yang menyala membuat kesan romantis semakin kentara.
Inilah secuil kisah tentang mereka. Arsen yang freak karena keluarganya meninggalkannya. Dan Adeeva cewek yang keras kepala.
Awalnya Adeeva ingin mencari pacar yang good boy agar ia bisa menikah dan hidup dengan nyaman. Ia tak ingin salah memilih seperti Ibunya. Namun bagaimana jika takdir malah mempertemukannya dengan cowok yang jauh dari kata sempurna? Suka bolos. Jahil. Pakaian jauh dari kata rapi. Tapi yang tidak diketahuinya yaitu cowok itu memiliki akhlak yang baik.
Hmmm bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini? Adeeva baru menyadarinya. Setiap makhluk pasti memiliki kekurangan. Seperti mawar yang begitu indah namun memiliki duri yang tajam. Begitu pun Arsenio Juvenal Candrakanta.
-THE END-
Cerita ini akan aku remake. Judulnya aku ganti juga. Kurang greget soalnya. Feelnya ga dapet. Maklumlah buatnya ga ada persiapan sama sekali. Dan nanti mungkin Arsen akan lebih nadboy dan Adeeva makin ngeselin. Cuek juga. Benci lah sama Arsen yang bad boy.
*However He Is ~Adeeva & Arsen
*Wherever He Is ~Sevanya & Ken
*Whoever He Is ~Resya & whom?