(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 19



'Intropeksi diri dulu  masing-masing baru menentukan langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan'


Happy reading


.


.


.


Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Adeeva dan memanggil namanya.


"Kak Adeeva!" Panggil seseorang yang ternyata Dhea.


Adeeva membalikkan badannya untuk melihat Dhea.


"Hai Dhea. Kamu disini juga."


"Iya kak. Kebetulan banget ya."


"He'em. Eh ayo gabung!" Ajak Adeeva.


"Gapapakan guys?" Tanya Adeeva pada Resya dan Sevanya.


"Iya gpp kok. Biar makin rame," jawab Sevanya dengan senyumnya.


Berbeda dengan Resya yang malah balik bertanya.


"Emang dia siapa?"


"Kenalin dia Dhea, adik gue," ucap Adeeva memperkenalkan.


"Sevanya."


"Dhea, Kak,"


"Gue Resya," ucap Resya dengan ceria.


"Dhea mmm--"


"Panggil Resya aja. Kata Adeeva kita seumuran," potong Resya.


"Iya... Resya," balas Dhea.


"Kamu sama siapa ke sini?" Tanya Adeeva pada Dhea.


"Sendiri Kak. Btw Kakak enggak bareng teman cowok Kakak?" Tanya Dhea.


"Nggak. Khusus hari ini cuman kita bertiga cowok nggak ikut. Girls time."


"Oh gitu ya. Kapan-kapan aku boleh ikut kalian gak Kak?" Tanya Dhea lagi.


"Boleh kok," jawab Sevanya.


"Makasih ya, Kak."


"Iya sama-sama."


Dering hp Resya mengalihkan perhatian mereka ke arah meja yang terdapat hp Resya. Tertera di layar nama Arsen. Sontak saja Resya langsung mengambil cepat ponselnya.


"Gue angkat telpon dulu," pamit Resya pada teman-temannya lalu agak menjauh mengangkat telponnya.


"Arsen yang nelpon? Kenapa Resya menjauh? Tumben Resya kek gitu. Kira-kira ada apa ya Adeeva?" Ucap Sevanya pada Adeeva dengan senyumnya.


Sejak tadi Adeeva mulai geram. Sevanya terus memanas-manasinya.


"Ya. Gue tau gue beda dalam segala hal dengan Resya. Kalaupun emang hubungan Resya dan Arsen lebih dari sahabat, gue gpp. Gue nyadar diri. Gue udah melangkah terlalu jauh. Harusnya gue nggak terperosok ke dalam hal yang namanya cinta," batin Adeeva.


Tak lama kemudian, Resya sudah kembali ke meja mereka.


"Sorry ya lama," ucap Resya meminta maaf.


"Iya gpp. Tapi tumben banget lo ngangkat telpon  pake ngejauh segala. Emang ada apa sih?" Tanya Sevanya.


"Secret!" balas Resya.


"Ishhh nyebelin deh. Ehh Arsen gak lama lagi ultah kan?" Tanya Sevanya yang dijawab anggukan oleh Resya.


"Kak Arsen gak lama lagi ultah? Kapan Kak?" Tanya Dhea excited.


"5 hari lagi kalau gak salah. Emang kenapa? Tanya Resya.


"Aku mau kasih kado juga," jawab Dhea malu-malu.


"Ohh gitu ya," balas Resya manggut-manggut.


"Emang udah kenalan sama Arsen? Kapan?" Lanjut Resya dengan pertanyaannya.


"Ya belum sihh," jawab Dhea lesuh.


"Terus kok bisa tau Arsen?"


"Kak Adeeva yang kasih tau."


"Udah lah Sya gak usah tanya-tanya Dhea mulu. Lagian gpp juga 'kan kalau mau ngasih kado," sela Sevanya.


"Iya emang gpp sih cuman... udah ah lupain aja. Hehehe," balas Resya.


"Hmm...Arsen mau ngerayain ultahnya?" Tanya Adeeva yang sedari tadi diam.


"Kayaknya nggak deh. Tapi gak tau juga sih kali aja dia mau. Soalnya tahun sebelumnya nggak. Bahkan dia nggak pernah bahas ultahnya. Ya 'kan Sya?" Jawab Sevanya.


"Iya," ucap Resya membenarkan.


"Kak! Kak Arsen sukanya warna apa?" Tanya Dhea pada Sevanya.


"Ngapain tanya warna *f*avorite Arsen?" Tanya Adeeva memicingkan matanya.


"Ya 'kan supaya beli kadonya yang sesuai warna favorite kak Arsen," jawab Dhea sambil menyeruput jus--nya.


"Jadi apa Kak?" Lanjut Dhea.


"Arsen sih sukanya warna hitam kalau gak salah," jawab Sevanya.


"Hitam sama merah," koreksi Resya.


"Kamu tau banget ya tentang kak Arsen," puji Dhea pada Resya dengan muka cerianya tapi justru membuat Resya muak.


"Haha nggak juga kok," balas Resya dengan tawa paksaannya.


"Lama-lama gue cakar juga nih anak satu. Sok polos banget njirr dasar muka dua. Beneran gue cakar muka lo hingga tersisa satu aja baru tau rasa lo!" Maki Resya dalam hati.


"Gue ke toilet dulu yan" pamit Adeeva dan beralu.


"Kak Adeeva dekat sama cowok gak?" Tanya  Dhea kepo.


"Nihh anak kayak Dora aja nanya-nanya mulu dari tadi," batin Resya kesal.


"Iya emang ada apa?" Balas Resya dengan senyum paksanya.


"Ohh ya? Siapa Kak?"


"Masa gak tau, lo 'kan adiknya!" Cibir Resya yang mendapat cubitan kecil dari Sevanya.


"Emang sih. Tapi kak Adeeva gak pernah mau cerita tentang kedekatannya sama cowok. Kan sebagai adek aku kepo," ujar Dhea.


"Masa sih gak pernah cerita tentang cowok?" Tanya Resya.


"Ya pernah sih. Tapi palingan cuma cerita tentang kak Kenan sama kak Arsen. It--"


"Nah itu!" Potong Resya.


"Itu apa?" Tanya Dhea heran.


"Ya... itu... Arsen. Mereka tuh deket banget di sekolah. Satu kelas lagi, jadi kemana-mana bareng mulu. Mereka itu best couple. Kalau lagi mesra-mesraan bikin iri yang ngeliat," cerita Resya dengan  menambah-nambahkan ceritanya yang lanhsung mendapat pelototan dari Sevanya yang seakan mengatakan kepadanya 'maksud lo apa ngomong kek gitu'.


"Tapi emang bener 'kan? Gpplah nambah cerita dikit," batin Resya tersenyum senag melihat perubahan ekspresi Dhea.


"Wah jadi friendzone dong ya," balas Dhea.


"Mungkin. Tapi bisa aja 'kan mereka backstreet," balas Resya sengit.


"Udahlah ngapain bahas mereka mulu. Mending kita selfie. Say cheese!" Sela Sevanya mengangkat ponselnya.


'Cekrekk'


Seperginya Resya, tak lama kemudian barulah Adeeva balik dari toliet.


"Loh? Resya mana?" Tanya Adeeva saat tak melihat Resya.


"Udah pulang duluan Kak. Ada urusan penting katanya," jawab Dhea.


"Iya soalnya pas dapet pesan dari Arsen,Resya langsung pamit. Buru-buru gitu," tambah Sevanya dengan senyum manisnya kepada Adeeva.


***


"Sen lo kenal sama adeknya Adeeva?" Tanya Resya pada Arsen.


"Nggak. Emang napa?"


"Dia kayaknya suka sama lo!" Tutur Resya.


"Masih kayaknya 'kan?" Balas Arsen kelewat santuy.


"Lo tuh ya dibilangin. Awas aja kalau nanti tuh cabe ngerusak hubungan lo sama Adeeva!" Cibir Resya.


"Lo serius?" Tanya Arsen.


"Lah serius lah. Lo pikir gue becanda apa!" Kesal Resya.


"Ok sekarang gue mau jujur sama lo," ucap Arsen serius.


"Ya ampun Arsen lo suka sama gue? Maaf banget tapi gue gak suka sama lo. Gue gak bisa jadi pacar lo," balas Resya sok kaget yang membuat Arsen sangat jengkel.


"Awwsss sakit ******!" Ringis Resya  saat Arsen menggeplak kepalanya.


"Makanya jangan becanda. Siapa juga yang nembak lo. Najisss!" Cetus Arsen.


"Wah wah wahh najis lo bilang? Tega ya lo sama gue."


"Jangan lebay lagi deh!"


"Hehehe abis tadi lo ngomong kek gitu kayak di film-film aja yang mau nyatain perasaannya," ungkap Resya dengan cengirannya.


"Kebanyakan nonton film sih lo," ujar Arsen menyentil kening Resya.


"Ihh yaudah apaan? Cerita cepet! Seorang Resya Anandita Atmaja tidak punya banyak waktu," ucap Resya sambil melihat memperbaiki poninya.


"Lo inget kan yang pernah gue ceritain tentang Adeeva  yang hampir di lecehin di club?"


"Iya, terus?"


"Saat itu Adeeva hampir dicium di lorong toilet. Ad--"


"Ganteng gak orangnya?" Potong Resya.


"Ck. Emang kalau ganteng kenapa? Mau dicium sama tuh cowok?" Balas Arsen sengit.


"Ya mau lah!" balas Resya meniup poninya.


"Tapi Adeeva bukan lo. Adeeva berusaha melawan tapi  tangannya dicekal--"


"Dan akhirnya lo datang nolongin?" Tebak Resya.


"Yeah dan gue yakin seyakin-yakinnya yang ngelakuin itu kakak Adeeva."


"Kak Dion maksud lo?" Tanya Resya kaget.


"Yeah."


"Kenapa lo bisa seyakin itu kalau kak Dion yang ngelakuin itu?" Tanya Resya masih tak percaya.


"Gue liat mukanya walaupun dalam cahaya temaram. Gue udah buat kakinya cedera dan lo liat gak? Pas di pesta, kakinya pincang sebelah kiri."


"Ya. Gue inget waktu gue narik dia terseok-seok gitu."


"Nah kan! Tapi gue belum punya bukti."


"Tinggal bilang aja sama Adeeva. Ribet amat."


"Udah gue lakuin. Tapi Adeeva gak akan percaya kalau gak ada bukti yang akurat."


"Apa karena ini Adeeva marah sama lo?"


"Ya."


"Okay. Kalau gitu kita sama-sama cari buktinya sebelum ultah lo."


"Gimana kalau kita belum dapat buktinya?"


"Lo tetep harus nembak Adeeva. Kasih dia kepastian. Ada atau nggaknya bukti."


"Tapi gue gak tau cara nyatainnya," balas Arsen mengacak rambutnya frustasi.


"Ya ampun Arsen lo kayak nggak pernah pacaran aja deh!" Kesal Resya.


"Emang gak pernah," balas Asren polos.


"Hah?........... Hahahahaha sama dong berarti!" Kelakar Resya.


"Yeeee ngatain gue ternyata sama aja. Gak nyadar diri lu!" Cibir Arsen.


"Yaudah sih kalau cuma nyatain mah kecil. Tinggal bilang aja 'aku cinta kamu' udah kan? Gampang!"


"Gitu?"


"Ckk iya Arsen. Nah tapi ya, kalau lo mau yang romantis lo buat kata-kata puitis saat nyatain perasaan lo. Biar Adeeva makin klepek-klepek sama lo," usul Resya.


"Tapi gak bisa buat karangan-karangan begitu!" Ucap Arsen bergidik.


"Ya lo usaha dong gimana sih lo. Denger ya kakakku tersayang. Segala sesuatu itu butuh yang namanya usaha. Sebagaimana gaya harus bersama perpindahan untuk mengahsilkan suatu usaha. Nah elo? Gak perlu itu untuk menghasilkan usaha. Usaha Arsen. Berjuang sampai titik darah penghabisan. Go Arsen!!!" Teriak Resya yang langsung mendapat tatapan aneh dari para pengunjung cafe area outdoor dan tentunya toyoran dari Arsen.


"Lebay lo *****!" Cetus Arsen.


"Lo gimana sih. Dikasih masukan juga!" Cibir Resya.


"Ya gue tau harus usaha tapi susah ngomongnya Sya. Tiga kata aja susah, apalgai puluhan kata."


"Yaudah sekarang lo coba ngomong. Anggap aja gue ini Adeeva. Tatap mata gue dengan intens dan genggam tangan gue. CEPET!"  Perintah Resya.


"Kayak berpengalaman banget aja lo ya," ejek Arsen.


"Inilah hikmah suka baca nove,l" balas Resya memperbaiki poninya.


"Udah cepetan!" Lanjut Resya.


"Ckk!" Dengan lesuh Arsen menggenggam tangan Resya dan menghela napas lalu menatap Resya.


"Aa...aa..a...aku...aku...a--"


"Lo bukan anaknya Aziz Gagap 'kan? Jadi gak usah gagap gitu deh. Ulang ulang. Yang bener. Pilih kata-kata yang sederhana tapi bisa bikin klepek-klepek!"


"Okay. Va selama ini."


"Stop! Stop! Stop!!!"


"Ckk apa lagi sih!" Kesal Arsen.


"Natapnya yang intens dong. Gimana sih!"


"Lo kok bawel sih."


"Mau diajarin gak."


"Ck. Ok ok. Huuufffttttt.... Sebenarnya, selama ini aku suka sama kamu. Entah kamu menyadarinya atau tidak. Karena itu aku mau kita bisa bersama dalan suatu hubungan, yaitu sepasang kekasih. Kamu mau? Jadi pacar aku?"


"Nah gitu! Tinggal kata-katanya doang yang  masih perlu difilter dikit. Good job!"


"Ok. Thanks udah bantuin."


"Iya hehe kayak sama siapa aja lo. Kan gue adek lo. WOOIIYYY!!!"


-TBC-


Gimana part ini? Bagus gk?


Jangan lupa like yaa


See u next part😊